NovelToon NovelToon
Damian: Jerat Sang Iblis

Damian: Jerat Sang Iblis

Status: tamat
Genre:Iblis / Romansa Fantasi / Hantu / Tamat
Popularitas:279
Nilai: 5
Nama Author: cinnamon girl

Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.

Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29

Jauh di dalam celah dimensi yang terisolasi dari ruang dan waktu dunia fana, pertempuran antara Damian dan sang Panglima Pangilon telah melampaui batas kewajaran mahluk gaib. Lorong dimensi itu kini dipenuhi serpihan energi hitam yang memadat dan percikan lahar dingin yang membeku. Tidak ada lagi keanggunan. Yang tersisa hanyalah keganasan murni dari dua entitas yang menolak untuk tumbang.

CLANGGG!

Benturan kapak besar berlumur api dan pedang mata dua Damian menciptakan riak gelombang yang meretakkan dimensi sekitarnya. Tubuh jangkung Damian sudah tidak lagi sesempurna dulu. Jubah linen aristokratnya telah robek di berbagai tempat, memperlihatkan kulit porselennya yang kini dipenuhi guratan luka bakar yang menganga dan memancarkan cahaya biru keperakan mengeluarkan darah gaibnya yang terus merembes. Namun, sepasang sayap hitam raksasa di punggungnya tetap kokoh mengepak liar, menjadi satu-satunya bagian yang ia lindungi dengan seluruh sisa energinya agar ia tetap bisa terbang kembali ke pelukan Cindy.

Di hadapannya, sang Panglima Pangilon bernasib sama buruknya. Zirah besi kunonya telah hancur separuh, menampakkan dada legamnya yang retak-retak laksana tanah liat yang terbakar kering. Sayap apinya yang compang-camping tetap mengepak paksa, memercikkan bara merah yang mulai meredup.

"Kau... tidak akan pernah... bisa keluar dari sini, Van De Ver!" geram sang Panglima, napasnya berupa embusan asap hitam yang pekat. Ia mengangkat kapaknya dengan kedua tangan yang bergetar, bersiap menghantamkan seluruh sisa kekuatannya. "Tubuhmu sudah hampir hancur! Menyerahlah dan jadilah budak di singgasana Yang Agung!"

Damian menyeka darah hitam yang mengalir dari sudut bibirnya dengan punggung tangan. Sepasang mata birunya yang semula sedingin es kini menyala merah pekat oleh amarah yang tak terpadamkan. Seringai dingin yang penuh keangkuhan kembali terukir di wajah tampannya yang terluka.

"Raga saya mungkin bisa terkoyak, mahluk jelek," desis Damian, suaranya parau namun tetap bergema penuh otoritas mutlak. "Namun, sukma saya telah terikat mati dengan belahan jiwa saya di dunia fana. Selama dia masih menghembuskan napas di sana, tidak akan ada satu pun kekuatan di dimensi busuk ini yang bisa menahan saya. Bersiaplah untuk benar-benar lenyap!"

Dengan satu hentakan sayapnya yang luar biasa kuat, Damian melesat maju, membelah kabut lahar panas untuk kembali mengadu senjatanya dalam pertarungan hidup dan mati yang tampaknya tak akan pernah usai.

Sementara di dimensi manusia, sang waktu bergulir tanpa belas kasihan. Hari-hari telah berganti, dan kini sudah sebulan penuh Damian menghilang tanpa meninggalkan jejak atau getaran energi sedikit pun di rumah kolonial tua itu.

Malam kembali turun dengan hawa dingin yang menusuk. Di dalam kamar utama yang remang-remang, hanya diterangi sebatang lilin dan pendaran lampu gantung kuno yang meredup, Cindy duduk bersimpuh di tepi ranjang. Di atas pangkuannya, Helena yang kini matanya semakin bulat dan cerdas tertidur tenang.

Cindy tidak bisa lagi menahan sesak yang menghimpit dadanya selama tiga puluh hari ini. Air matanya menetes satu demi satu, membasahi pipinya yang kian tirus karena kurang tidur dan duka yang mendalam. Ia menangis tanpa suara, bahunya berguncang hebat.

"Damian... kamu di mana?" bisik Cindy dengan suara yang teramat serak dan hancur. "Kamu janji bakal pulang sebelum fajar... tapi ini sudah sebulan. Aku harus bagaimana, Damian? Aku gak tahu harus berbuat apa tanpa kamu di sini..."

Rasa frustrasi dan ketakutan bahwa suaminya telah musnah membuat jiwa Cindy terasa kosong. Di tengah isak tangisnya yang memilukan, tiba-tiba sebuah keajaiban kecil terjadi.

Helena yang semula terlelap perlahan membuka kedua kelopak matanya. Manik mata bulat sebiru malam itu menatap lurus ke arah wajah ibunya yang basah. Bayi mungil itu tidak menangis atau gelisah justru sebaliknya, dengan gerakan yang teramat halus dan sadar, tangan mungil Helena yang hangat bergerak naik, perlahan mengelus pipi Cindy, menghapus bulir air mata yang hendak jatuh ke dagunya.

Helena menyunggingkan sebuah senyuman cerah yang teramat imut, memamerkan gusi merah mudanya tanpa dosa. Tatapan matanya begitu dalam dan hidup, seolah-olah melalui mata biru itu, ia sedang berbicara dan meyakinkan ibunya bahwa, 'Bunda, jangan menangis. Semuanya akan baik-baik saja. Papa akan pulang.'

Cindy tertegun, tangisnya seketika terhenti. "H-Helena... sayang?"

WUSSHHHH!

Sedetik kemudian, dari dalam tubuh kecil Helena yang mungil, mendadak meledak keluar, sebuah gelombang cahaya biru pekat berbalut pendaran keemasan yang teramat terang. Cahaya itu tidak panas, melainkan memancarkan energi spiritual yang begitu murni, suci, dan luar biasa kuat hingga memenuhi seisi kamar kolonial.

Cahaya itu berputar-putar di udara, memadat, lalu perlahan turun ke atas lantai tegel di samping ranjang. Semburat magis itu membentuk manifestasi sesosok mahluk yang teramat besar dan agung yang berwujud seekor Harimau Putih Raksasa. Bulunya putih bersih berkilau laksana perak, dengan garis-garis hitam keemasan yang memancarkan pendaran cahaya magis. Matanya berwarna biru malam yang persis seperti milik Helena dan Damian, memancarkan aura kekuatan purba yang sangat disegani.

Sosok harimau agung itu yang ternyata adalah mahluk khodam pelindung bawaan lahir yang tercipta dari perpaduan darah peri suci Cindy dan kekuatan iblis Damian, dia menunduk patuh seolah-olah tidak menunjukkan kebuasan sedikit pun di hadapan Cindy.

Dengan perlahan dan penuh hormat, sosok harimau raksasa itu menekuk kedua kaki depannya, berlutut rendah di hadapan Cindy, menundukkan kepalanya yang besar hingga nyaris menyentuh jemari kaki Cindy. Sebuah suara gaib yang dalam, berwibawa, namun penuh takzim menggema langsung di dalam pikiran Cindy.

'Wahai Nyonya, sang pemilik sukma Tuan Agung... ijinkan hamba, penjaga darah dagingmu, untuk melintasi batas dimensi dan membawa bantuan bagi Tuan Agung Damian yang tengah tertahan di jalur Pangilon. Kekuatan hamba adalah bagian dari putri kecilmu, dan hamba butuh izin darimu untuk menggunakannya.'

Melihat kemunculan mahluk agung yang berlutut di depannya, Cindy tidak merasa takut sama sekali. Sebaliknya, harapan yang sempat mati di dadanya seketika menyala berkobar-kobar. Ia menggenggam tangan kecil Helena dengan satu tangan, sementara tangan kirinya terulur, dengan gemetar menyentuh kepala besar sang harimau putih yang berbulu halus-dingin tersebut.

"Pergilah... aku mohon padamu, pergilah!" ucap Cindy dengan semangat yang menggebu-gebu, air mata haru kini membanjiri wajahnya. "Bantu Damian! Bawa dia pulang dengan selamat! Katakan padanya bahwa aku dan Helena selalu menunggunya di sini! Tolong selamatkan suamiku!"

Harimau putih raksasa itu mendongak sedikit, mata birunya berkilat memahami perintah mutlak dari sang ratu rumah.

'Segala titahmu adalah sumpah bagi hamba, Nyonya.'

SLAPPPPP!

Dalam sekejap mata, sosok harimau putih raksasa itu melenyap dari dalam kamar menjadi kepulan cahaya biru keemasan yang langsung melesat menembus langit-langit rumah, meninggalkan kamar kembali sunyi namun kini dipenuhi oleh rasa hangat yang menenangkan hati Cindy.

Kembali ke ruang hampa di dimensi antara, pertempuran Damian dan sang Panglima telah mencapai titik kritis yang melelahkan. Damian baru saja terdorong mundur beberapa meter setelah kapak sang Panglima menggores bahu kirinya. Napasnya tersengal parah, dan pedang bara apinya mulai bergetar.

"Ini akhir dari kesombonganmu, Van De Ver!" raung sang Panglima, mengangkat kapaknya tinggi-tinggi untuk memberikan tebasan terakhir yang mematikan ke arah dada Damian.

Namun, tepat sebelum bilah kapak itu turun, sebuah auman dahsyat yang membelah keheningan dimensi bergema dengan kekuatan yang belum pernah terdengar sebelumnya.

ROARRRRRRRRRRRR!

Sebuah terkaman kilat berwarna biru keemasan melesat dari atas ruang hampa, langsung menghantam tubuh besar sang Panglima Pangilon hingga mahluk itu terpental puluhan meter ke belakang, membuat kapak besarnya terlepas dan jatuh ke dalam kegelapan.

Damian terbelalak, menahan napasnya saat melihat sesosok harimau putih raksasa berpendar emas kini berdiri dengan gagah di depannya. Mahluk itu menapakkan cakar-cakar tajamnya di udara kosong, memamerkan taring peraknya yang berkilau, bertindak sebagai perisai hidup yang melindungi tubuh Damian yang terluka.

Getaran energi dari harimau itu terasa sangat familiar di jiwa Damian seolah ada kehangatan Cindy dan ada jejak es murni miliknya di sana.

"Kau..." bisik Damian tertegun, menatap mata biru sang harimau yang persis seperti mata putrinya. "Helena...?"

Harimau putih itu tidak menoleh, namun suara gaibnya mengalun tegas di benak Damian. 'Tuan Agung, Nyonya Cindy mengirim hamba untuk membantumu. Beliau memohon agar Anda segera pulang. Mari kita hancurkan rintangan ini bersama-sama.'

Mendengar nama Cindy disebut dan menyadari bahwa putri kecilnya telah mengirimkan kekuatan pelindung sedahsyat ini, seluruh rasa lelah di tubuh Damian menguap seketika. Amarah dan kekuatannya meledak kembali ke titik tertinggi, bahkan lebih dahsyat dari sebelum-sebelumnya.

Damian menggenggam erat pedang mata duanya yang kembali menyala dengan kobaran api neraka yang membumbung tinggi, sementara sayap hitamnya mengepak sempurna di samping sang harimau putih.

"Baiklah," seringai Damian kembali muncul, penuh dengan aura kepuasan mutlak dan kepastian kemenangan. "Mari kita ratakan mahluk buruk rupa ini dan kembali ke rumah kita!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!