NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Menantu Benalu

Rahasia Di Balik Menantu Benalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RDBMB 9

Yevone terus menarik tangan Theodore melintasi halaman depan rumah besar itu, langkahnya tergesa-gesa seolah sedang dikejar hantu. Ia hanya ingin cepat-cepat masuk ke dalam sedan tuanya dan pergi sejauh mungkin dari keluarganya yang sudah gila harta, serta dari Zico yang menjijikkan.

Namun, baru saja Yevone hendak membuka pintu mobilnya, sebuah tangan menahan pintu itu dari belakang dan membantingnya hingga tertutup kembali.

"Buru-buru amat, Sayang. Kita kan belum selesai ngobrol," Zico menyeringai licik, berdiri tepat di belakang Yevone dengan kedua pengawalnya yang berjaga tak jauh dari sana.

"Singkirkan tanganmu! Aku nggak ada urusan lagi sama kamu!" Yevone membentak kasar, berusaha menepis tangan Zico dari pintu mobilnya.

"Oh, jelas kamu punya urusan sama aku," Zico tertawa meremehkan, tubuhnya sengaja dimajukan untuk mengintimidasi Yevone. "Kamu pikir uang lima puluh miliar itu gratis? Malam ini kamu harus temani aku makan malam, lalu kita bicarakan tanggal pernikahan. Kalau kamu nolak, besok pagi pabrik rongsokanmu itu bakal benar-benar rata sama tanah."

Yevone memalingkan wajahnya dengan jijik. Ia mundur selangkah, namun Zico justru semakin berani. Pemuda arogan itu mengangkat tangan kanannya, berniat membelai pipi dan dagu Yevone secara paksa.

"Makin galak makin cantik aja sih kamu," Zico berucap dengan nada menggoda yang murahan.

Namun, sebelum jari-jari kotor Zico berjarak satu sentimeter dari kulit Yevone, sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangannya. Cengkeraman itu terlihat biasa saja, seperti orang yang sedang menahan lengan temannya. Tapi bagi Zico, rasanya seperti pergelangan tangannya baru saja dijepit oleh mesin pres baja bermuatan puluhan ton.

"Argh! Bangsat! Sakit!" Zico memekik keras, wajahnya yang tadi sok berkuasa mendadak pucat pasi menahan sakit yang luar biasa. Lututnya sampai sedikit menekuk.

Theodore berdiri di sana, menahan tangan Zico dengan ekspresi wajah yang benar-benar datar. Tidak ada kilatan amarah yang meledak-ledak, namun hawa dingin yang menguar dari tubuhnya membuat dua pengawal Zico tiba-tiba merinding dan ragu untuk melangkah maju.

"Telingamu sepertinya bermasalah," Theodore berucap dengan suara rendah yang mengiris. "Sudah kubilang, jaga sikapmu."

Theodore tidak memukul Zico. Ia hanya memutar sedikit pergelangan tangan pemuda itu ke sudut yang tidak wajar, lalu menghempaskannya dengan sekali sentakan pelan. Namun efek dari sentakan bertenaga dalam itu membuat tubuh Zico terhuyung mundur hingga punggungnya menabrak kap mobil pengawalnya dengan keras.

"Sialan! Berani-beraninya lo nyentuh gue, gembel!" Zico mengumpat kasar sambil memegangi pergelangan tangannya yang kini memerah dan membengkak seperti mau patah. Ia menatap para pengawalnya dengan murka. "Kalian ngapain diam aja, hah?! Hajar dia sampai mati!"

"Ayo masuk, Yev," Theodore mengabaikan teriakan Zico. Ia membukakan pintu mobil untuk istrinya, seolah ancaman tadi hanya angin lalu.

Yevone yang masih syok segera masuk ke dalam kemudi. Theodore menyusul duduk di kursi penumpang. Mesin mobil menderu dan mereka langsung melaju meninggalkan pekarangan rumah, meninggalkan Zico yang terus mengumpat dan menendang ban mobilnya sendiri.

"Tuan, mau kami kejar?" Salah satu pengawal bertanya takut-takut.

"Nggak usah! Biarin mereka malam ini," Zico meludah ke tanah, matanya berkilat penuh dendam. "Tangan gue sakit banget gara-gara anjing itu. Besok pagi, kerahkan semua koneksi kita! Gue mau perusahaan Yevone hancur lebur sebelum makan siang, dan gue mau si benalu itu diseret ke hadapan gue dalam keadaan cacat!"

***

Malam berlarut. Di apartemen sewaan kecil Yevone, suasana terasa hening. Yevone sudah tertidur pulas di kamar setelah menangis karena kelelahan emosional yang menderanya seharian ini.

Theodore berdiri di balkon sempit apartemen itu. Tangannya memegang ponsel hitam khusus dengan layar terenkripsi. Angin malam menerpa wajahnya, namun matanya menatap tajam ke arah gedung-gedung tinggi di pusat kota, tepat ke arah kawasan industri tempat Keluarga Z membangun kekayaan mereka.

Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Bakar pabrik perakitan elektronik utama milik Keluarga Z di distrik barat," Theodore memberi instruksi dengan suara yang sangat tenang dan dingin, seolah sedang memesan kopi.

"Baik, Tuan Besar. Apakah ada instruksi tambahan? Perlu kami tinggalkan jejak untuk peringatan?" Suara Exel terdengar dari seberang saluran, tegas dan penuh kepatuhan.

"Tidak perlu jejak. Buat seolah itu kecelakaan korsleting listrik berskala besar. Pastikan tidak ada korban jiwa dari kalangan buruh pabrik. Bunyikan alarm kebakaran sebelum api membesar. Aku hanya mau mesin-mesin dan gudang penyimpanan utama mereka rata dengan tanah," jelas Theodore.

"Dimengerti, Tuan. Eksekusi akan dilakukan dalam waktu kurang dari satu jam."

Theodore mematikan panggilannya. Ia menyalakan sebatang rokok, mengisapnya perlahan, lalu menghembuskan asapnya ke udara malam.

"Kau yang meminta permainan ini, Zico," gumam Theodore sambil menjentikkan abu rokoknya.

***

Keesokan paginya, matahari baru saja mengintip dari ufuk timur ketika pintu kamar *penthouse* mewah Zico digedor dengan sangat brutal dari luar.

"Tuan Muda! Tuan Muda Zico! Buka pintunya, Tuan!" Suara asisten pribadi ayahnya terdengar berteriak histeris di balik pintu tebal itu.

Zico terbangun dengan wajah kusut dan mata setengah tertutup. Tangannya yang masih dibalut perban gara-gara cengkeraman Theodore kemarin terasa berdenyut nyeri. Ia berjalan gontai membukakan pintu.

"Apaan sih pagi-pagi udah teriak-teriak?! Lo mau gue pecat, hah?!" Zico membentak tepat di depan wajah asisten tua itu.

"Gawat, Tuan Muda! Tuan Besar menyuruh saya menjemput Anda sekarang juga! Pabrik perakitan utama kita di distrik barat... terbakar habis semalam!" Asisten itu melapor dengan napas terengah-engah dan wajah sepucat mayat.

Rasa kantuk Zico mendadak hilang tak berbekas. Matanya melotot lebar.

"Apa lo bilang?! Terbakar gimana maksud lo?! Sistem pemadam otomatis di sana kan pakai standar internasional!" Zico mencengkeram kerah kemeja asistennya dengan panik.

"I-itu dia masalahnya, Tuan. Kamera CCTV mati secara misterius lima menit sebelum kejadian, dan sistem air pemadam otomatis tiba-tiba tidak berfungsi sama sekali. Pemadam kebakaran kota baru bisa memadamkan api subuh tadi, tapi mesin produksi dan seluruh stok barang di gudang sudah jadi abu. Kerugian kita ditaksir lebih dari empat ratus miliar rupiah!"

Zico melepaskan kerah asistennya. Tubuhnya terhuyung ke belakang hingga menabrak dinding lorong. Jantungnya berdetak liar. Kepalanya mendadak pusing membayangkan murka ayahnya. Empat ratus miliar bukan jumlah yang main-main; itu adalah urat nadi utama penghasilan Keluarga Z tahun ini.

Di tengah kepanikan dan kebingungannya, otak Zico tiba-tiba memutar ulang kejadian kemarin sore di teras rumah Keluarga Mahendra. Ia teringat jelas wajah datar Theodore dan bisikan dingin yang keluar dari mulut pria yang selalu dianggapnya sampah itu.

*Hati-hati kalau bicara. Bisa jadi besok pabrik keluargamu yang malah hangus terbakar gara-gara omongan besarmu hari ini.*

Bulu kuduk Zico seketika meremang. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya.

"Nggak... nggak mungkin," Zico bergumam dengan bibir gemetar, menatap kosong ke arah lantai. "Pasti cuma kebetulan. Gembel benalu itu nggak mungkin bisa ngelakuin ini... nggak mungkin!"

1
Glastor Roy
update
Fery Oktavian: update tiap hari 5 bab
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!