Di malam ia ingin mengabarkan kehamilannya, Amelia justru menyaksikan suaminya memamerkan kekasih yang sedang hamil, dengan kembang api yang dulu dijanjikan untuknya.
Arga Wiratama sang miliarder teknologi tak sekadar mengkhianati. Rekening Amelia diblokir, kariernya dihapus diam-diam, dan rumah mewah mereka dipasangi kamera di setiap sudut. Maka Amelia kabur membawa satu tas kecil, satu rahasia di dalam perutnya, dan nama yang masih ia punya.
Di Surabaya, pintu yang selama tiga tahun terkunci tiba-tiba terbuka. Di baliknya berdiri Fariz Mahardika, mantan aktor, pewaris keluarga berpengaruh, lelaki tenang yang selalu memutar tasbih di jarinya dan seolah mengenal Amelia jauh sebelum mereka bertemu. Ia menolong tanpa menagih. Tapi dunia di sekelilingnya tidak sebersih senyumnya.
Arga tak mau melepaskan. Ibunya punya rencana lain. Dan ada kebenaran tentang siapa Amelia sebenarnya, yang mulai merembes dari rumah-rumah bersalin tua dan foto-foto yang wajahnya begitu mirip dengannya.
Bisakah seorang perempuan yang pernah dikurung merebut kembali hidupnya, melindungi anak yang ia sembunyikan, dan memilih siapa yang pantas dicintai, tanpa lagi menjadi sandera siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
POV: Arga
Aku datang terlambat. Seumur hidup aku akan memikul tiga kata itu. Aku datang terlambat.
Aku masuk ke rumah Mama tepat saat Lia menghantam lantai aula di bawah, dan Mama berdiri di puncak tangga dengan tangan masih terulur di udara, wajahnya sedang berubah dari kemenangan menjadi panik. Kulihat semuanya, dan aku tak sempat mencegah apa pun, tak sempat, sekali saja seumur hidup, menjadi lelaki yang datang lebih dulu.
Aku berlari. Kuturuni anak tangga tiga-tiga. Kuangkat Lia ke pangkuanku, darah hangat menembus kemejaku, dan aku berteriak minta tolong, berteriak pada Mama, berteriak hal-hal yang tak kuingat, kata-kata yang bukan kata. Kupanggil ambulans dengan tangan gemetar. Dan selagi menunggu brankar, kupeluk perempuan yang pernah kukurung di rumah dingin dan kumohon dia jangan mati. Dia tak mendengarku. Tasbih lelaki lain terlilit di tangannya, dan bahkan saat itu aku sempat menyadarinya, dan itu menyakitkan.
Di rumah sakit mereka mencegatku. Fariz tiba setelahku, tapi dialah yang diloloskan, dialah yang dibiarkan tinggal oleh keluarga Lia, yang akan diinginkan Lia di sisinya. Aku berdiri di lorong ICU, bersandar di dinding.
Dan di sana, di sebuah atrium rumah sakit, uangku tak membeli apa pun, hal yang tak pernah terjadi dalam seluruh hidupku. Bukan kursi, bukan informasi, bukan hak untuk melihat. Miliaran, dan aku tak sanggup membeli hak untuk tahu apakah putriku hidup.
Fariz keluar dari ruangan di suatu saat dan berhenti di depanku, wajahnya batu.
"Salah satu anak tidak selamat," katanya, suaranya kering oleh amarah yang ditahan. "Perempuan."
Perempuan. Aku punya seorang putri, dan baru tahu dia ada pada saat yang sama aku tahu dia sudah meninggal. Aku tak pernah menggendongnya. Tak pernah melihat wajahnya. Dia datang dan pergi dalam satu kalimat, dan aku tidak ada untuk keduanya.
"Dan Lia?" tanyaku, suaraku pecah. "Dan anak yang satunya?"
"Itu bukan urusanmu."
"Itu anakku, Fariz. Darahku."
"Kamu kehilangan hak mengatakan itu ketika membiarkan ibumu berkeliaran dekat dia." Dia mendekat, dan aku tak mundur karena sudah tak ada lagi yang bisa hilang dariku, bahkan takut. "Pergi dari sini, Arga. Selagi aku masih ingat bahwa kita di rumah sakit."
Aku pergi. Bukan karena dia menyuruh. Karena aku tak sanggup lagi di sana tanpa bisa berbuat apa-apa, tanpa berguna, lelaki kaya dan tak berguna di lorong rumah sakit.
Aku pulang. Dan dari sana, sendirian, kuurus pemakaman putriku, karena Lia tak punya tenaga dan tak menginginkanku di dekatnya, dan seseorang harus melakukannya, dan seseorang itu aku, ayah yang tak pernah dia punya. Kupilih kain kafan sekecil itu. Itu hal tersulit yang pernah kulakukan seumur hidup, memilih ukuran liang untuk anak yang tak pernah kugendong, mendengar petugas pengurus jenazah bicara tentang ukuran dan perlengkapan seakan mungkin menaruh harga pada itu.
Di pemakaman, dalam gerimis halus, kami sedikit. Aku, Dimas, seorang ustaz yang tak mengenal siapa pun di sana. Lia tidak datang, dan dia benar.
Dalam pangkuanku, di antara pingsan dan sadar, dia sempat menggumamkan sebuah nama, pelan, nyaris tanpa suara, dan aku mendengarnya. Anin. Itu nama yang dia simpan untuk si bayi perempuan, aku tahu dari caranya mengucapkan. Maka kutulis nama itu di nisan, nama dari ibunya, bukan dari aku. Anindita. Anin.
Dan di sana, berdiri di depan gundukan tanah kecil itu, dalam hujan, sesuatu dalam diriku yang mengeras bertahun-tahun akhirnya patah. Bukan harga diri terluka, bukan rasa memiliki. Duka murni, duka seorang ayah, terlambat untuk berguna bagi apa pun.
Aku pulang dan berhadapan dengan Mama. Dia pindah ke rumahku, mengira keluarga akan melindunginya seperti selalu, seperti selalu melindunginya dari segalanya.
"Itu kecelakaan," katanya, bahkan sebelum aku bicara. "Dia terpeleset. Kamu lihat sendiri, dia terpeleset sendiri."
"Mama mendorongnya."
"Mama lakukan demi keluarga, Arga. Dia akan mengambil semuanya darimu, uang, cucu-cucu, perusahaan. Mama selalu melakukan segalanya demi keluarga. Semua yang Mama lakukan seumur hidup demi kamu."
Kupandangi perempuan itu dan akhirnya kulihat ukurannya. Dan ukuran diriku sendiri karena telah menurutinya seumur hidup, karena membiarkannya bebas, karena membangun sangkar tempat dia masuk dan berbuat apa yang dia perbuat.
"Mama membunuh putriku," kataku, dan suaraku keluar kosong. "Dan aku membantu, karena aku yang membangun sangkar tempat Mama masuk. Kita membunuh Anin bersama-sama, Ma. Mama dengan tangan, aku dengan rumah."
Polisi datang mengambil rekaman kamera rumahnya pada minggu yang sama. Kamera. Selalu kamera. Kamera yang dulu kucintai berubah, satu demi satu, jadi bukti melawan keluargaku sendiri.
Malam hari, sendirian, aku masuk ke sebuah ruangan di rumahku yang tak diketahui siapa pun. Kamar yang diam-diam kusiapkan berbulan-bulan lalu, ketika kecurigaan akan kehamilan itu mulai muncul. Kamar bayi. Dua boks. Dua dari segalanya, wallpaper, gantungan musik, karpet, karena di sudut hatiku yang bodoh dan tersembunyi, aku sudah memimpikan sebuah keluarga yang kuhancurkan sendiri sebelum sempat ada.
Aku duduk di lantai kamar dengan dua boks kosong itu dan menangis seperti lelaki yang kehilangan segalanya, karena memang kehilangan segalanya, dan itu salahku, dan tak ada yang bisa kulimpahi.
Dan di sana, membolak-balik map dokumen kiriman rumah sakit, kertas yang entah kenapa dikirim padaku, kubaca hasil pemeriksaannya. Kubaca sekilas tanpa paham, hati remuk, sampai satu kata menahanku di tengah halaman.
"Janin yang tersisa, dirujuk untuk pemantauan."
Tersisa.
Kubaca lagi. Tersisa. Kata dingin, teknis, jenis yang dipakai dokter. Kata yang hanya masuk akal kalau selain yang meninggal, ada satu lagi.
Kutatap kata itu di kertas, dalam remang kamar dua boks, jantungku berdetak dengan cara baru, dan kalimat itu belum selesai membentuk makna mengerikan dan bercahaya yang mulai muncul.
Kalau satu janin disebut "tersisa"... berarti yang lain bertahan. Bertahan dari tangga, dari marmer, dari Mama, dari aku.
Salah satu anakku mungkin masih hidup.
Dan aku, berlutut di kamar kosong itu, tak tahu apakah itu harapan atau vonis terburuk. Karena kalau ada anakku yang hidup di dunia ini, berarti Lia menyembunyikannya dariku. Dan dia punya segala alasan di dunia untuk menyembunyikannya.