NovelToon NovelToon
Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Romansa
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Alexander "Alex" Ar-Rasyid (30 Tahun)

Seorang CEO muda yang dingin, perfeksionis, dan workaholic. Ia memegang kendali penuh atas Ar-Rasyid Group, sebuah konglomerat raksasa di bidang properti dan investasi. Baginya, pernikahan adalah bentuk kerja sama bisnis yang tidak penting, hingga sebuah perjodohan keluarga memaksa hidupnya jungkir balik.

Keisha Azalea Pramesti (25 Tahun)

Seorang fashion designer berbakat, mandiri, dan memiliki idealisme tinggi. Ia pemilik butik haute couture Azalea Label. Di balik senyum lembutnya, Keisha adalah wanita tangguh yang menolak dipandang sebelah mata dan sangat mencintai dunianya—sketsa, kain, dan jarum jahit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29

Tiga bulan berlalu sejak malam pembukaan butik internasional di Paris yang sukses besar dan penangkapan akhir sisa-sisa jaringan bayangan Marc Laurent. Langit Jakarta menyambut pagi dengan terik matahari yang hangat, memantulkan bias cahaya keemasan ke atas hamparan kaca gedung-gedung pencakar langit di kawasan segitiga emas Sudirman.

Di lantai 50 penthouse utama Ar-Rasyid Tower, suasana pagi itu terasa jauh lebih dinamis. Keisha Azalea Pramesti berdiri di dekat jendela kaca besar sambil mengenakan jubah tidur sutra panjang berwarna champagne. Di tangan kanannya, ia memegang cangkir berisi teh herbal hangat, menikmati pemandangan kota yang mulai sibuk.

Namun, fokus perhatiannya sesekali teralihkan ke arah meja kerja mini di sudut ruang keluarga, di mana puluhan sketsa desain baru, sampel bahan kain sutra impor dari Swiss, dan dokumen ekspansi regional Azalea Label berserakan rapi.

Langkah kaki tegap terdengar mendekat dari arah koridor kamar tidur utama. Alexander Ar-Rasyid melangkah masuk dengan mengenakan kemeja kerja putih tanpa jas, lengan kemejanya digulung setengah lengan, memperlihatkan aura dominasi korporat yang begitu memikat. Aroma segar cedarwood dan parfum maskulin langsung menguar di udara sekitar mereka.

Alex berjalan tanpa suara, lalu melingkarkan kedua lengannya dari belakang, memeluk pinggang Keisha dengan erat. Dagunya bersandar nyaman di atas bahu kanan istrinya, sementara matanya ikut menatap hamparan pemandangan kota di luar sana.

"Kau sudah bangun pagi-pagi sekali dan langsung memikirkan sketsa desain lagi, Nyonya Ar-Rasyid?" bisik Alex parau, suaranya yang rendah dan hangat membelai lembut indra pendengaran Keisha. "Padahal semalam kita baru tidur pukul dua malam setelah merayakan laporan kuartal pertama perusahaan."

Keisha menyandarkan punggungnya pada dada bidang sang suami, menikmati kehangatan tubuh Alex yang selalu berhasil meluluhkan sisa ketegangan di tubuhnya. Bibirnya mengukir senyuman tipis.

"Bagaimana aku bisa tidur nyenyak jika tim produksi di Paris dan Milan terus mengirimkan draf kolaborasi musim semi yang meminta persetujuanku secepatnya?" jawab Keisha ringan, lalu memutar tubuhnya perlahan di dalam dekapan Alex agar menghadap suaminya. "Lagi pula, menjadi direktur kreatif sekaligus pemegang saham utama tidak memberiku banyak waktu untuk bersantai lama-lama di tempat tidur, Tuan CEO."

Alex terkekeh kecil—suara bariton rendah yang sangat merdu di telinga Keisha. Ia meraih tangan kanan istrinya, mengangkatnya, lalu mengecup lembut punggung tangan wanita itu di mana cincin pernikahan mereka bertahta indah.

"Kalau begitu, bagaimana jika hari ini CEO-mu ini mengambil alih sebagian jadwal kerjamu?" tawar Alex dengan nada serius namun menggoda. "Kita batalkan seluruh jadwal rapat sore, dan kita habiskan waktu siang ini untuk mengunjungi lokasi pembangunan galeri seni terbaru kita di kawasan Menteng."

Keisha mengerjap kaget, menatap suaminya dengan alis terangkat sebelah. "Galeri seni Menteng? Bukankah itu proyek gabungan antara Ar-Rasyid Group dan yayasan seni nasional yang baru akan diluncurkan tahun depan?"

"Aku mempercepat jadwalnya," balas Alex tenang. "Karena aku ingin tempat pertama di Jakarta yang memamerkan koleksi pribadi gaun haute couture-mu secara permanen adalah galeri tersebut. Dan aku ingin kita memeriksanya bersama-sama siang ini."

Keisha merasakan dadanya bergemuruh hangat. Gelombang kelembutan yang begitu kuat menyusup ke relung hatinya, mengingatkannya bahwa di balik sosok dingin dan tegas seorang Alexander Ar-Rasyid di ruang rapat dewan direksi, suaminya adalah pria paling romantis dan perhatian di dunia ini.

"Baiklah, Tuan Ar-Rasyid," jawab Keisha dengan binar mata yang memancarkan kebahagiaan tulus. "Aku akan menerima tawaranmu. Tapi ingat, jangan harap kau bisa mendikte desain interior galeriku nanti."

Alex tersenyum lebar—senyuman langka yang membuat ketampanannya berkali-kali lipat lebih memukau. "Tenang saja, Ratu-ku. Urusan estetika dan seni sepenuhnya berada di bawah kekuasaanmu. Aku hanya bertugas memastikan istanamu berdiri megah tanpa cela."

Pukul sebelas siang, mobil sedan sport hitam milik Alex melaju meninggalkan kawasan pusat perkantoran, menuju ke kawasan bersejarah Menteng di Jakarta Pusat. Bangunan galeri seni baru tersebut berdiri megah di atas lahan seluas dua ribu meter persegi, memadukan arsitektur kolonial Belanda yang elegan dengan struktur baja modern berlapis kaca transparan.

Begitu mobil mereka berhenti di depan pintu masuk utama, beberapa arsitek proyek dan manajer lapangan telah menunggu untuk menyambut kedatangan sang CEO dan istrinya.

Keisha melangkah keluar mengenakan setelan blazer putih gading berpotongan klasik yang dipadukan dengan celana panjang bahan senada, memancarkan wibawa profesionalisme tingkat tinggi. Di sampingnya, Alex berjalan tegap dengan setelan jas abu-abu arang tanpa dasi, tangannya dengan sigap merangkul pinggang Keisha untuk melindunginya dari terik matahari siang kota Jakarta.

"Selamat siang, Tuan Alexander, Nyonya Keisha," sapa sang kepala arsitek proyek sambil membungkuk hormat. "Struktur utama bangunan sudah seratus persen selesai. Kami tinggal memasang panel etalase kaca khusus anti-UV di galeri lantai dua tempat koleksi gaun utama Nyonya Keisha dipajang."

"Bagus," ucap Alex tegas. "Periksa kembali sistem pengamanan sirkulasi udara dan kelembapan ruangan. Kain haute couture sutra tidak boleh terpapar fluktuasi suhu sedikit pun."

"Baik, Tuan. Kami sudah memasang sistem pendingin otomatis berstandar museum internasional," jawab sang arsitek dengan sigap.

Keisha melepaskan rangkulan suaminya sejenak untuk berjalan menyusuri aula utama galeri yang luas dan terang. Cahaya matahari alami membanjiri ruangan melalui kubah kaca besar di langit-langit bangunan, menyinari lantai marmer putih bersih yang memantulkan bayangan megah di sekitarnya.

Ia berhenti di tengah ruangan, membayangkan bagaimana gaun-gaun mahakarya rancangannya akan berbaris indah di sepanjang galeri ini dalam beberapa bulan ke depan. Tidak ada lagi bayang-bayang ancaman, tidak ada lagi ketakutan akan pengkhianatan keluarga, dan tidak ada lagi intrik kotor dunia korporat yang mencoba merusak impiannya. Yang ada hanyalah masa depan cerah yang terbentang luas.

Alex berjalan mendekat, berdiri tepat di belakang Keisha, lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang wanita itu dari belakang. Kepalanya bersandar di dekat rambut Keisha.

"Tempat ini indah sekali, Alex," bisik Keisha takjub, manik matanya berbinar-binar menatap sekeliling ruangan. "Ini jauh lebih besar dan megah dari apa yang kubayangkan saat pertama kali kita merencanakan ekspansi butik dulu."

"Ini bukan sekadar galeri fesyen, Keisha," balas Alex lembut, suaranya berbisik tepat di dekat telinga istrinya. "Ini adalah monumen ketangguhan kita. Tempat di mana dunia seni dan dunia bisnis bersatu, membuktikan kepada siapa pun bahwa cinta dan kerja keras kita mampu meruntuhkan segala rintangan."

Keisha membalikkan tubuhnya di dalam dekapan Alex, lalu melingkarkan kedua tangannya ke leher suaminya. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata hitam pria yang telah mengubah seluruh jalan hidupnya dari sebuah kontrak pernikahan di atas kertas menjadi sebuah kisah cinta abadi.

"Terima kasih, Alexander," ucap Keisha tulus. "Terima kasih karena tidak pernah melepaskanku, bahkan saat badai paling mengerikan mencoba memisahkan kita."

Alex tersenyum hangat, lalu merunduk untuk mengecup bibir istrinya dalam sebuah ciuman yang manis, lembut, dan penuh janji abadi di bawah cahaya matahari Jakarta yang hangat.

"Aku mencintaimu, Keisha," bisik Alex penuh pemujaan. "Kemarin, hari ini, dan selamanya."

"Aku juga mencintaimu, Alexander," balas Keisha tersenyum manis. "Selamanya."

Di dalam galeri seni yang megah itu, di bawah naungan masa depan yang cerah dan penuh kemenangan, babak baru dalam kehidupan mereka resmi dimulai—sebuah perjalanan panjang tanpa akhir, berjalan beriringan sebagai raja dan ratu di atas imperium yang mereka bangun bersama dengan seluruh jiwa dan raga.

1
Exo L
kakk tulisannya, fashion gak sih?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!