NovelToon NovelToon
Satpam Penjaga CEO

Satpam Penjaga CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.

Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.

Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Panggilan untuk Sang Pembawa Topeng

Hening kembali merayapi meja privat di sudut kedai kopi Sunyi. Nadia masih bertahan duduk bergeming di kursinya, menatap Bimo yang tertunduk lesu seraya meratapi nasibnya. Di mata Nadia, pria gempal di depannya ini begitu menyedihkan. Seorang tuan muda penerus takhta bisnis keluarga yang tidak memiliki keberanian, gampang panik, dan selalu melarikan diri dari tanggung jawab.

Nadia merenung sejenak, memandangi Bimo dengan tatapan makin dingin. Memang benar, pernikahan ini demi menyenangkan Kakek dan menjaga stabilitas saham perusahaan. Tapi kalau saya harus menikah kontrak selama satu tahun dengan pria pengecut dan cengeng seperti ini... jangankan satu tahun, satu bulan saja saya sudah pasti mual, batin Nadia dalam rasa enggan yang mendalam.

Nadia membetulkan posisi duduknya, menyilangkan tangan di dada seraya mengambil keputusan baru yang lebih terukur.

"Bimo," panggil Nadia dengan suara tenang namun penuh wibawa.

Bimo mendongak pelan, matanya masih sembap dan merah. "K-kenapa lagi, Bu Nadia? Saya kan udah nurut, saya enggak bakalan kabur lagi..."

"Telepon sahabatmu sekarang," perintah Nadia tanpa basa-basi. "Suruh Dewa datang ke kedai kopi ini detik ini juga."

Bimo melotot kaget, dadanya mendadak sesak kembali. "L-loh?! Kenapa harus manggil Dewa ke sini lagi, Bu?! Jangan, Bu! Kasihan Dewa!"

"Saya bilang telepon, ya telepon," pangkas Nadia tegas, matanya menajam.

Bimo menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut muka panik, menolak perintah tersebut. "Enggak mau, Bu! Biarkan Dewa tenang! Dia tuh udah banyak bantu saya, saya enggak tega kalau dia harus makin dalam terlibat dalam masalah konyol saya ini! Lagian... Bu Nadia mau ngapain manggil dia ke sini?! Bu Nadia mau nuntutnya secara hukum ya?!"

"Kamu tidak perlu tahu alasan saya," sahut Nadia dingin, mengetukkan jarinya ke atas meja. "Tugas kamu cuma satu, angkat ponselmu dan suruh dia ke sini."

"Enggak bisa gitu dong, Bu Nadia!" sergah Bimo tidak terima, memberanikan diri menentang. "Kalau Bu Nadia enggak mau kasih tahu maksud dan tujuannya, saya enggak bakalan mau telepon Dewa! Saya emang pengecut, tapi saya enggak mau numbalin sahabat sendiri buat ditangkap polisi!"

Rina yang berdiri di sebelah Nadia melangkah maju satu tindak, menatap Bimo dengan raut menyindir. "Mas Bimo, mending ikuti saja kata Bu Nadia dari pada masalahnya makin panjang. Mas ini dalam posisi enggak bisa menawar, tahu."

"Tapi Mbak Rina, ini menyangkut nasib Dewa!" cetus Bimo frustasi. Ia menatap Nadia kembali dengan tatapan memohon. "Bu Nadia, tolonglah... kasih tahu saya dulu, Bu Nadia mau ngapain Dewa? Mau dimarahi? Mau disuruh bayar denda? Kasihan dia, Bu, dia cuma rakyat biasa!"

Nadia mendengus pelan, helaan napasnya terdengar sangat mengintimidasi. "Bimo, sabar saya ada batasnya. Kalau dalam tiga detik kamu tidak mengeluarkan ponselmu, saya telepon sekarang juga pengacara keluarga Nugroho untuk memproses kasus pemalsuan dokumen pernikahan ini."

"A-aduh! Iya, iya! Jangan, Bu!" jerit Bimo panik setengah mati.

Dengan tangan gemetaran hebat, Bimo merogoh saku celana pendeknya, mengambil ponsel pintarnya, lalu mencari nama kontak Dewa. Sebelum Bimo menekan tombol panggil, Nadia menunjuk wajah Bimo dengan jarinya.

"Ingat, Bimo. Jangan pernah beri tahu dia kalau saya dan Rina ada di sini. Cukup suruh dia datang karena kamu butuh bantuan darurat. Kalau kamu membocorkan kehadiran saya sedikit saja, perjanjian kita batal dan perusahaanmu hancur hari ini juga," ancam Nadia dengan tatapan membunuh.

Bimo menelan ludah yang terasa sekeras batu. "I-iya, Bu... enggak bakal saya bocorin..."

Bimo menekan tombol panggil dan menempelkan ponsel ke telinganya. Nadia dan Rina menyimak dengan saksama dalam keheningan total.

Di tempat lain, Arga baru saja menyelesaikan shift lamanya sebagai Satpam di area parkir luar Menara Utama Nugroho Group. Ia sedang berjalan menuju loker untuk mengganti seragamnya, masih dengan masker hitam tebal yang menutupi separuh wajahnya. Saat mendengar nada dering di ponselnya, Arga merogoh saku dan melihat nama Bimo tertera di layar.

Arga menggeser tombol hijau. "Halo, Bim? Lu ke mana aja sih?! Ponsel lu dikontak dari tadi susah banget! Lu tahu enggak, gue di kantor ini udah kayak buronan gegara dicariin si CEO es batu itu!"

"D-Dewa..." suara Bimo terdengar bergetar dan lesu di seberang telepon.

Arga mengerutkan alisnya di balik masker. "Suara lu kenapa gembos gitu? Lu habis menangis ya, Bim?"

"Enggak... gue enggak apa-apa," alibi Bimo berusaha menahan getar suaranya. "Lu... lu udah kelar kerja belum, Wa?"

"Baru banget kelar ganti shift nih. Kenapa? Lu ada di mana sekarang?" tanya Arga seraya menyampirkan tas punggungnya.

"Gue... gue ada di kedai kopi 'Kopi Sunyi', dekat area jalan utama," jawab Bimo menuruti instruksi. "Bisa enggak lu ke sini sekarang juga? Gue... gue butuh bantuan lu banget, Wa. Darurat."

Arga menghela napas panjang, menepuk dahi seraya mengira Bimo kembali bertengkar dengan orang tuanya soal baju pengantin. "Aduh, Bim... lu tuh beneran bikin pusing ya. Ya udah, tunggu di situ. Gue meluncur sekarang pakai motor. Jangan ke mana-mana lu!"

"Iya, Wa... makasih ya," bisik Bimo pelan sebelum memutus sambungan telepon.

Bimo menurunkan ponselnya dan meletakkannya di atas meja dengan lemas. Ia menatap Nadia yang masih duduk santai menunggunya. "Udah, Bu... Dewa lagi jalan ke sini."

"Bagus," balas Nadia singkat, lalu kembali menyesap cangkir minumannya dengan tenang.

Sekitar dua puluh menit berlalu. Suara deru mesin sepeda motor terdengar berhenti di pelataran parkir kedai Kopi Sunyi. Tak lama kemudian, denting bel pintu kaca kedai berdenting halus.

Arga melangkah masuk ke dalam kedai kopi. Ia masih mengenakan jaket kain kasual yang menutupi pakaian dalamnya, tetapi celana kain hitam dan sepatu pantofel dinas keamanannya masih melekat. Masker kain hitam tebalnya pun belum dilepas karena rasa waswas yang masih tersisa.

Arga mengedarkan pandangan mata ke sekeliling ruangan kedai yang sepi itu untuk mencari sosok sahabatnya. Matanya akhirnya menangkap keberadaan Bimo di meja privat bagian belakang. Namun, langkah Arga seketika terhenti kaku di tengah jalan. Pupil matanya melebar sempurna di balik masker.

Di meja privat itu, Bimo tidak duduk sendirian. Di hadapan Bimo, duduk seorang wanita berparas jelita berbalut mantel abu-abu formal yang sangat ia kenali, Nadia Nugroho, bersama sekretarisnya, Rina, yang berdiri anggun di sampingnya.

Bimo menatap Arga dengan pandangan penuh rasa bersalah dan keputusasaan, tidak berani mengucapkan sepatah kata pun.

Arga membeku di tempatnya berdiri, jantungnya berdegup kencang bagai dihantam palu. Otaknya berputar keras memproses pemandangan yang sama sekali tidak masuk akal di depannya. Beribu tanda tanya langsung membanjiri benaknya, Kenapa CEO Nugroho Group bisa ada di sini bersama Bimo? Dan kenapa mereka berdua menatap ke arahnya seolah-olah sudah menunggu kedatangannya sejak tadi?

1
Dian Paramita Dewi
Salam kenal, bantu like ya Kak 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!