Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
Karena menjadi CEO itu mudah.
Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 : SAAT TAK DI SISI
Flash back.
Hari kedua Bintang di Sidoarjo.
Di gudang, Bintang sibuk.
Panas, debu kayu jati, bau politur. Ia serius mengecek bahan kayu mentahan di Gudang juga berpikir keras merangkum untuk membuat laporan hasil dinas luarnya.
Bintang tidak tau, di Surabaya.
Ponsel Angkasa bergetar.
Nama di layar: Jingga.
Angkasa yang sedang di ruangan Dirut sendirian menatap layar itu lama. Setelah memberikan kunci apartemen untuk Jingga, ia bagai lenyap di telan bumi. Bumi dan Damar yang sakit maksudnya. Ada tertinggal notif panggilan tak terjawab dari Jingga. tetapi Angkasa sungguh tak punya waktu menanggapinya. Hingga hari itu, hari yang senggang namun masih tegang, karena Bintang masih tidak berada di sisinya.
Jingga: "Kassa, boleh ketemu sebentar?"
Angkasa : " Ada apa?" ketik Angkasa.
Jingga menghembuskan nafas lega, akhirnya Angkasa meresponnya.
Tak sabar mengetik. Jingga memilih menghubungi Angkasa via call.
"Kassa, kamu lupa aku ini istri orang yang lagi kabur? Ku bisa mati sendiri di sini." Setengah menghardik Jingga menyemprot Angkasa.
"Maaf ... maaf Jing. Aku lupa. Kemarin anak temenku sakit. Butuh aku banget."
"Iya superhero, aku ngerti. Serius bisa tolong aku lagi kan?" Jingga itu cinta pertamanya Angkasa. Walau jia sudah klaim Bintang adalah cinta terakhirnya. tetap saja Jingga itu pernah lama bertahta di hatinya. Selagi ia mampu, kenapa tidak untuk berbuat baik. Menurut Angkasa membantu mantan pacar itu bukan zinah juga bukan suatu pengkhianatan.
"Aku ke apartemenmu atau gimana?" Tawarnya dengan sagat luwes.
"Jangan di sini. Di cafe saja." Jingga menentukan tempat.
"Oke." Singkat padat dan jelas.
Setengah jam kemudian, di sebuah cafe cozy Jingga sudah duduk cantik menunggu Angkasa datang. Lebam di pelipisnya sudah tidak terlihat. Wajahnya jauh berbeda dari Jingga yang dulu genit. Sekarang pucat, rambut diikat asal, baju daster.
Angkasa datang dengan kemeja kerja, topi, dan masker. Sengaja menyamar agar tidak dikenali orang yang mungkin kenal dengannya.
"Kok pucet?" Angkasa menelisik tampilan Jingga.
"Aku lapar." Jawabnya frontal.
"Tinggal makan ini, kenapa sih?"
"Ku ga ada uang, Ka." lanjutnya.
Angkasa tepuk jidat.
"Maaf, lupa ..." angkasa buru-buru menyuruh Jingga memilih menu makanan yang di sediakan di cafe itu.
"Pilihlah. Setelah ini kita ke market. Beli stok makanan buat kamu banyak-banyak." Tawa Angkasa, baik sekali suami Bintang ini.
Jingga patuh, karena memang dia butuh makan banget.
Memesan, kemudian melahap hingga tandas semua yang di suguhkan untuknya. Angkasa hanya menggeleng. Semacam terhibur ia sudah bisa membuat perempuan itu makan sampai kenyang.
"Terus kamu mau gimana?" tanya Angkasa.
Jingga mengumpulkan keberanian. "Ka ... aku mau minta kerjaan. Di kantor kamu. Apa saja. Jadi admin, jadi cleaning service, jadi apa saja. Aku butuh uang buat bertahan hidup di sini. Aku sudah gak punya siapa-siapa lagi." Angkasa terdiam lama.
Di pikirannya, Bintang sedang berjuang di Sidoarjo untuk perusahaan mereka. Beberapa hari sebelumnya Bintang bilang ingin resign dan akan mencari penggantinya.
Kalau ia membawa Jingga ke kantor sebagai asisten sekretaris? Itu akan jadi bom.
"Jingga, di kantor memang lagi buka lowongan asisten sekretaris," kata Angkasa jujur.
"Tapi posisi itu... terlalu dekat dengan ruangan saya. Bintang yang mungkin nanti memfinalkan seleksi itu. Dan Bintang maunya laki-laki." Mata Jingga berkaca-kaca.
"Bintang tau hubungan kita di masa lalu?" tanya Jingga.
"Bintang ... sejak kami dekat. Tidak pernah bertanya tentang masa laluku pernah sama siapa aja. Lebih tepatnya, kami berdua sama-sama tidak pernah menggali tentang hal di masa lalu. Kedekatan kami waktu itu terlampau sibuk, untuk bangkit demi mencerahkan masa depan kami." Jawab Angkasa mengingat masa-masa PDKTnya bersama Bintang.
"Aku tau kerja di sekitarmu beresiko, tapi aku beneran butuh kerja banget. Ka."
Angkasa mengangguk.
"Gak harus di kantormu juga Ka. Dimana saja aku mau, yang penting ada kerjaan yang menghasilkan uang. Aku gak mungkin bergantung padamu terus kan." Urai Jingga paham posisinya.
"Kalo di kantor lain aku gak punya link, Jing."
"Ya ... di kantor mu saja. sedang ada loker kan?" ulangnya lagi.
"Iya ada, sedang di buka. Ini alamat email daftar. Berkas fisik antar saja ke kantor. Tapi Jing ..." Angkasa tertahan untuk bicara.
"Tapi apa?"
"Aku gak bisa janji kamu bisa ke terima ya. Aku memang Dirutnya, tapi keputusan Ibu Negara harga mati. Bukan aku takut istri. Tapi aku sangat menghargainya sebagai istriku." Ugh... kalimat itu sungguh menohok Jingga. Dia datang itu untuk cari kerja ya, bukan mau rebut Angkasa lagi. Tapi, belum apa-apa. Angkasa sudah masang label bahwa dia adalah suami setia untuk Bintang.
"Iya Kassa. Aku sangat mengerti bagaimana caramu memperlakukan orang yang kamu cintai. Pasti sangat beruntung menjadi orang yang kau pilih itu. Dulu ... aku memang bodoh." Kenang Jingga tentu sangat menyesal.
"Bukan aku yang memilih dia. Tetapi dia yang sungguh tulus menerimaku. Jadilah Bintang satu-satunya yang paling aku cinta." Tegas Angkasa.
Iya, baik hati maupun logikanya Angkasa sungguh tidak ada niat untuk mempermainkan Bintang. Hanya karena kebaikkannya pada sesama manusia yang kadang membawanya seolah menjadi lelaki yang sayang sana, sayang sini.
"Iya bucin." Jingga pura-pura meledek Angkasa, seolah ia sungguh paham rasa cinta Angkasa pada Bintang tidak kaleng-kaleng.
"Tidak butuh alasan apapun untuk bucin dengan seorang Bintang. Huh, jadi kangen istri nih." Kekeh Angkasa yang walau bersama Jingga tetapi masih ingat pada Bintang.
"Haduh... kok bisa kangen dengan orang yang tiap hari juga bisa di dekap." Masih saja Jingga meledeknya.
"Ini sudah hari ke dua dia dinas ke Sidoarjo." Jawab Angkasa memegang ponselnya. Baru sadar ternyata sejak kemarin ia tidak saling bertukar kabar dengan Bintang. Saat itulah, gambar Bintang bersalaman drngan lelaki berkulit gelap agak brewok masuk ke Hpnya lewat grup kantor.
"Jing, maaf kita tidak jadi belanja bersama. Ku harap ini cukup." Lanjut Angkasa mengeluarkan amplop coklat dari tas kerjanya. Isinya uang 2 juta.
"Ini bukan karena aku masih ada rasa. Tapi kamu jangan mati hanya karena kelaparan, itu memalukan. Paham ya?" tegas Angkasa.
Jingga mengangguk sambil menangis. Ia menerima amplop itu dengan tangan gemetar.
"Paham, Kassa... makasih..." Angkasa berdiri. Ia tidak berani berlama-lama. Karena pikirannya sudah bulat.
Ia akan menjemput Bintang hari ini juga.
Bersambung ....
Pas5ikan selesai baca kasih jempol
Okeeee
Makasih
bagus Tang......biarkan angkasa merasakan kesendiriaannya tanpa bintang......masihkah Bintang diperlukan atau semakin bebas dengan para wanitanya......
siapa tahu.....mah kamu awal kehamilan.....bulan depan ga datang tuh tamu bulanan mu......