Di dunia mafia Italia, putri seorang Capo tidak pernah berhak memilih.
Di hari pernikahannya—dengan pria yang belum pernah ia lihat—Alessia Castelli justru diculik. Bukan oleh perampok jalanan, melainkan oleh Fabiano Conti, Capo La Corona yang paling ditakuti di seluruh negeri. Bagi Fabiano, Alessia hanyalah kartu tawar: satu-satunya cara merebut kembali saudari kembarnya dari tangan kakak Alessia yang kejam.
Tapi ada yang salah dengan penculikan ini.
Pintu kamarnya tak dikunci. Tak ada yang memaksanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang berkata bahwa tubuhnya adalah miliknya sendiri—keputusannya sendiri. Lelaki paling berbahaya yang pernah ia temui ternyata memperlakukannya jauh lebih lembut daripada keluarganya sendiri.
Alessia tahu ia seharusnya membenci penculiknya. Ia tahu ia seharusnya melarikan diri. Jadi kenapa, di wilayah musuh, untuk pertama kalinya ia justru merasa aman?
Namun perang antar-klan tak mengenal cinta. Ketika pertukaran tak terhindarkan dan darah mulai tumpah, Alessia harus memilih antara keluarga tempatnya dilahirkan dan pria yang mengajarinya arti kebebasan—sementara Fabiano bersumpah akan membakar seluruh Italia sebelum membiarkan seorang pun merenggutnya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yesenia Stefany Bello González, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlambat
Fabiano
Pintu ruang kerja terbuka tanpa seorang pun mengetuk.
Aku langsung berdiri.
Viola muncul dengan mata sembap dan sehelai kain berlumur darah di tangannya.
Mattheo menghampirinya lebih dulu dariku.
"Apa yang terjadi?"
"Tidak ada," jawabnya cepat. "Nona Cloe membuka lagi luka di pergelangan tangannya saat tidur. Ia sedang menggaruk-garuk."
Pandanganku mengabur.
"Dia terbangun?"
"Tidak. Masih tertidur."
Aku melangkah ke pintu, tapi Viola menghalangi.
"Jangan masuk."
Kutatap dia dengan tak percaya.
"Minggir."
"Dia baru saja tenang. Setiap kali seseorang mendekat, bahkan dalam tidurnya, ia mulai gemetar. Biarkan dia beristirahat sebentar."
"Aku kakaknya."
"Dan dia tahu Bos ada di sini. Bahwa Bos menjaganya."
"Bagaimana bisa?"
"Karena ia tak mau minum obat penenang sampai Bos berjanji padanya."
Aku terdiam. Itu sempat kulupakan.
Cloe setengah memejamkan mata saat ia menggenggam tanganku dan memintaku untuk tidak pergi dari rumah. Aku bersumpah tak akan pergi. Bahwa aku akan berada di seberang lorong jika ia membutuhkanku.
"Aku akan kembali kepadanya."
"Fabiano." Mattheo menahanku. Aku berbalik, siap menyuruhnya pergi ke neraka. "Viola benar."
"Jangan ikut campur."
"Kalau kamu masuk sekarang, itu untuk menenangkan dirimu sendiri, bukan Cloe."
Aku melangkah maju ke arahnya.
"Hati-hati."
"Dia tak menyuruhmu menjauh darinya," Viola menengahi. "Ia hanya meminta agar kamu membiarkannya tidur. Itu yang ia butuhkan sekarang."
Mattheo menatap kain di tangan Viola.
"Dia makan sesuatu?"
"Sedikit sup."
"Bisa ia tahan?"
Aku mengerutkan kening. Viola juga.
"Ya."
"Apa ia pusing? Demam?"
"Tidak," jawab Viola. "Ia hanya kelelahan."
"Dan pendarahannya?"
"Pendarahan apa?" tanyaku.
Mattheo terdiam. Viola menunduk.
"Aku tak bisa memeriksanya sepenuhnya. Ia tak mau melepas pakaian dalamnya."
Sesuatu terpelintir di perutku.
"Jangan pernah memintanya lagi," tegas Mattheo.
"Tidak akan."
"Tak seorang pun akan memintanya," perintahku. "Saat ia bangun, ia boleh mandi, berganti pakaian, atau tetap seperti sekarang. Apa pun yang ia putuskan."
Viola mengangguk. Mattheo juga.
Seolah perintah itu ditujukan untuknya.
"Temani dia," kataku kepada Viola. "Dan suruh Gianna dan Francesca ke lorong. Bawa senjata, tapi sembunyikan."
"Baik, Bos."
"Kalau Cloe membuka mata, cari aku."
"Akan kulakukan."
Viola keluar dan kututup pintu di belakangnya.
Mattheo masih menatap tempat Viola tadi berdiri.
"Kamu bisa pergi istirahat," kataku.
"Aku tidak lelah."
"Kamu sudah hampir dua hari tak tidur."
"Kamu juga."
"Aku tinggal di sini."
"Lalu?"
"Kamu tak harus tinggal."
Matanya menghunjam ke mataku.
"Aku tak berniat pergi."
Jawaban itu keluar seketika. Begitu seketika hingga sepertinya ia bahkan tak sempat memikirkannya.
"Mattheo…"
"Kita harus membicarakan Lucio."
"Itu bisa menunggu."
"Aku tak sedang bicara soal jalur atau perusahaan-perusahaannya."
Ia mendekat ke meja dan menumpukan kedua tangan di atasnya.
"Cloe yang harus memutuskan apa yang ingin ia lakukan."
"Apa maksudmu?"
"Saat ia bangun. Saat ia bisa bicara. Kita harus mendengarkannya dulu sebelum bergerak melawan Lucio."
"Aku akan membunuhnya," aku bersumpah.
"Aku juga ingin membunuhnya." Ada sesuatu yang gelap di matanya. Sebuah janji. "Tapi kita tak bisa memulai perang selagi ia dalam keadaan seperti ini. Kalau Cloe perlu bicara, kita dengarkan. Kalau ia mau Lucio mati, kita bunuh. Kalau ia mau melakukannya dengan tangannya sendiri, kita bantu. Dan kalau ia tak mau lagi mendengar nama itu, kita tak akan menyebutnya di depannya."
Kupandangi dia lekat-lekat.
Ia tak bilang kamu yang putuskan.
Ia bilang kita dengarkan.
Kita bunuh.
Kita bantu.
Seolah Cloe juga tanggung jawabnya.
Seolah luka Cloe adalah miliknya.
"Kamu bicara seolah kamu bagian dari ini."
Ekspresinya berubah sedikit.
"Aku memang bagian dari ini."
Keheningan merentang di antara kami.
Mattheo tampak menyadari bahwa ia telah mengatakan lebih dari yang ia maksudkan, karena ia memalingkan pandangan.
"Aku sahabatmu," tambahnya. "Cloe tumbuh bersamaku. Lucio menyerang keluargaku saat ia menyentuhnya."
Keluargaku.
Di sanalah penjelasannya.
Selalu ada.
Mattheo menjadi bagian dari rumah ini sejak kami masih kecil. Cloe seperti adik baginya. Karena itu ia tak berhenti mengawasinya di dalam mobil. Karena itu ia mengikuti langkahku sampai ke kamar Cloe. Karena itu ia rela berhadapan denganku demi melindungi Cloe, bahkan dari keputusasaanku sendiri.
Tak ada yang aneh dalam hal itu.
"Kita bicara saat ia bangun," aku menyetujui. "Tidak sebelumnya."
Mattheo mengangguk.
"Dan kamu sebaiknya ada di dekatnya saat itu terjadi."
"Pasti," aku bersumpah.
"Bagus."
Ia melangkah ke pintu.
"Kamu mau ke mana?" tanyaku bingung.
"Meminta Gianna dan Francesca untuk berjaga di lorong."
"Aku sudah memberi perintah itu."
"Aku ingin memastikan mereka mengerti."
Aku nyaris tersenyum.
"Kamu tak percaya siapa pun."
Mattheo membuka pintu.
"Tidak untuk hari ini." Ia melangkah, tapi berhenti sebelum keluar. "Oh iya, ada satu hal lagi."
"Apa?"
Ia ragu.
Itu saja cukup untuk membuat tubuhku menegang.
"Ibu Alessia meninggal."
Ruang kerja jatuh sunyi sepenuhnya.
"Apa katamu?"
"Ia meninggal pagi ini."
Bayangan Alessia langsung muncul di kepalaku.
Senyumnya.
Rambut pirangnya yang berantakan.
Tangannya yang berlumuran tepung.
Cara ia menatapku sebelum Lucio menaikkannya ke mobil itu.
"Alessia sudah tahu?"
"Sudah. Mereka sedang memakamkan ibunya saat ini juga."
Kukatupkan gigi.
Lucio yang membawanya pergi.
Pria yang baru saja menghancurkan adikku itu kini berada di samping Alessia sementara ia memakamkan ibunya.
"Ada satu hal lagi," lanjut Mattheo.
"Bicara."
"Pernikahannya tetap berlangsung." Seluruh tubuhku membeku. "Besok ia menikah dengan Adriano Greco."
"Tidak."
"Fabiano…"
"Kubilang tidak."
"Kamu tak bisa pergi."
"Aku tak minta izin darimu."
"Cloe baru saja kembali. Ia bahkan hampir tak tahan saat Viola mendekat. Kamu tak bisa pergi sekarang."
Kupandangi pintu.
Di atas sana ada adikku. Tertidur setelah bertahan hidup dari neraka.
Dan di suatu tempat di Italia ada Alessia, menangisi kematian ibunya, tinggal beberapa jam lagi sebelum diserahkan kepada seorang pria yang tak ia kenal.
Aku tak bisa meninggalkan Cloe.
Aku pun tak bisa membiarkan Alessia sendirian.
"Setelah upacara mereka akan pergi," tambah Mattheo. "Greco berniat membawanya keluar dari Italia."
Udara meninggalkan paru-paruku.
"Ke mana?"
"Kami belum tahu."
"Cari tahu."
"Sedang kami usahakan."
Mattheo keluar dan menutup pintu.
Aku diam tak bergerak selama beberapa detik.
Lalu kuambil ponselku.
Kucari nomornya.
Ia menjawab di deringan ketiga.
"Fabiano."
Kupejamkan mata.
"Dylan."
"Dari nada suaramu, kutebak kamu tak menelepon untuk mengajakku minum-minum."
"Aku perlu minta tolong."
"Bicara."
Kupandang ke arah pintu, memikirkan Cloe.
Lalu yang bisa kulihat hanyalah Alessia… tersenyum padaku. Memercayaiku.
"Aku perlu kamu menghadiri sebuah pernikahan besok."
"Pernikahan Alessia Castelli?"
Tanganku mengepal di sekeliling ponsel.
"Ya. Bagaimana kamu tahu? Tak usah jawab. Mattheo."
"Tebakanmu tepat."
"Aku tak bisa membiarkan Alessia menikah dengan Adriano Greco tanpa seseorang di sana yang bisa melindunginya," lanjutku. "Aku perlu kamu pergi menggantikanku."
"Kamu mau aku melakukan apa?"
Kualihkan pandangan ke meja.
"Jangan lepaskan pandangan darinya barang sedetik pun. Jangan bertindak kecuali benar-benar perlu."
Dylan terdiam.
"Kamu tahu aku ada di Tokyo, kan? Aku harus naik jet sekarang juga untuk bisa sampai ke pernikahan sialan itu, dan mungkin saja aku tak berhasil."
"Kamu akan sampai."
"Ini akan mahal harganya," katanya, dan aku bersumpah aku hampir bisa melihatnya sedang memikirkan cara membalasku dengan meminta sesuatu yang mustahil. "Nanti akan ada waktu untuk menagihmu, kawan."
"Ingat. Jangan ikut campur kalau tidak perlu. Alessia berhak memilih."
Dylan tertawa.
"Kulihat Mattheo tak melebih-lebihkan," ucapnya sebelum memutus sambungan.
Kuletakkan ponsel di atas meja.
Sekarang aku hanya perlu menunggu.
Menunggu selagi Cloe tidur di lantai atas.
Menunggu selagi Dylan melintasi separuh dunia.
Menunggu selagi Alessia bersiap menikah dengan pria lain.
Dan menunggu, meski itu membunuhku, agar Adriano Greco bisa membuatnya bahagia.
Karena jika Alessia memilihnya… Aku harus merelakannya pergi.