Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.
Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."
Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.
Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Janji untuk Pergi
Di sebuah rumah yang terletak di pinggir kota, terdengar suara musik dari sebuah ponsel. Dentuman musik itu berasal dari ruang keluarga, tempat seorang gadis sibuk berjoget di depan kamera.
Rumah itu bukan rumah mewah, tetapi juga tidak bisa disebut sederhana. Di sanalah Jayadi tinggal bersama Cepi, istri keduanya, serta kedua putrinya. Aynara Ayu Puspita (Nara), anak dari pernikahan pertamanya, dan Carissa Cahyani Puspita (Caca), putri Cepi dan Jayadi.
Jayadi merupakan pemilik toko sembako grosir yang cukup besar. Usaha itu merupakan peninggalan keluarga mendiang istri pertamanya dan kini menjadi sumber penghasilan utama keluarga mereka.
Sore itu, suara Cepi terdengar mulai meninggi. Wanita itu mendengus kesal ketika melihat lantai ruang keluarga yang belum disapu dan tumpukan piring kotor memenuhi wastafel.
"Nara!" seru Cepi.
Aynara yang duduk di meja makan hanya mengangkat wajah sebentar.
"Kamu ngapain aja sih seharian?" Cepi berkacak pinggang. "Lantai kotor, cucian piring numpuk. Cepetan disapu sama dicuci!"
Aynara kembali menatap layar ponselnya. "Aku lagi ngelamar kerja, Bu."
"Kerja?" Nada suara Cepi terdengar mencibir. "Kerja, kerja, kerja. Dari tadi yang kamu pegang cuma HP. Rumah berantakan begini masih sempat-sempatnya main HP."
"Aku bukan main HP, Bu." Suara Aynara tetap tenang. "Aku lagi ngisi formulir lamaran."
Cepi langsung menoleh ke arah Jayadi yang sedang duduk santai menikmati kopi. "Yah!"
Jayadi tersentak kecil hingga hampir menumpahkan air putih di tangannya. "Apa sih, Bu?"
"Lihat anakmu itu," Cepi menunjuk Aynara. "Disuruh beres-beres malah banyak alesan. Dibilangin juga gak didengar. Rumah berantakan gini malah mantengin HP mulu." Cepi beralih menatap Aynara. "Kamu pikir Ibu tidak capek seharian jagain oko?"
Jayadi menghela napas panjang sebelum menoleh kepada Aynara. "Nara, cuci piring sama nyapu sana."
Aynara mendesah pelan. "Yah, aku benar-benar lagi ngelamar kerja."
"Nanti lagi juga bisa." Jayadi meletakkan gelasnya. "Kalau kuotanya habis, nanti Ayah beliin."
Aynara terdiam beberapa saat. "Yah... Kuota paket data memang bisa dibeli lagi. Tapi kuota lamaran kerja belum tentu."
Jayadi mengernyit. "Maksudnya?"
"Lowongan ini cuma nerima sejumlah pelamar. Kalau kuotanya sudah penuh, aku gak bisa ngirim lamaran lagi."
Aynara menunjukkan layar ponselnya. "Ini tinggal beberapa orang lagi."
Cepi mendengus. "Halah. Itu cuma alesan biar kamu bisa malas-malasan."
Aynara menggeleng. "Aku benar-benar sedang nyari kerja, Bu."
Ia kemudian menoleh ke arah Caca. Adiknya itu masih sibuk berjoget di depan ponsel yang diletakkan di atas tripod kecil. Musik terdengar cukup keras hingga memenuhi ruangan.
"Itu Caca dari tadi juga gak ada kerjaan. Kenapa gak suruh dia dulu?"
Caca yang mendengar namanya disebut langsung menghentikan gerakan. "Aku?"
Cepi menoleh kepada putrinya. "Caca, matiin dulu musiknya."
Caca langsung mengerucutkan bibir. "Kenapa aku?"
"Bantu kakakmu," ujar Jayadi.
"Aku lagi bikin video, Yah." Caca menunjuk ponselnya dengan kesal. "Ini bukan main HP."
Cepi mengerutkan kening. "Video apa?"
"Konten TikTok." Caca kembali berdiri di depan kamera. "Kalau videoku viral, aku bisa dapet uang banyak."
Aynara menatapnya beberapa detik. "Kamu sudah punya berapa penghasilan dari TikTok?"
Caca langsung menoleh tajam. "Belum ada. Memangnya kenapa?"
"Berarti sekarang bantu dulu," ujar Aynara.
"Aku bukan pembantu!" Caca membuang muka. "Aku punya cita-cita jadi content creator."
Aynara menahan napas.
Sementara itu, Jayadi hanya diam. Ia tahu Aynara sedang berjuang mendapatkan pekerjaan. Ia juga tahu putrinya itu membiayai sekolah hingga kuliah dengan beasiswa dan hasil kerja sambilan.
Tetapi seperti biasa, Jayadi memilih tidak memperpanjang masalah. "Nara," katanya akhirnya, "bantu Ibu dulu. Lamaran kerja itu bisa kamu lanjutkan nanti malam."
Aynara menatap ayahnya. "Tapi..."
"Nara." Nada suara Jayadi kali ini lebih tegas.
Aynara terdiam. Ia melihat kembali layar ponselnya, waktu pendaftaran tinggal beberapa menit. Dengan berat hati, ia menyimpan ponselnya.
"Ya sudah." Aynara berdiri.
Namun sebelum berjalan menuju dapur, matanya kembali jatuh pada Caca yang sudah melanjutkan joget di depan kamera. Ia hanya bisa menghela napas.
Ada hal-hal yang tidak pernah berubah di rumah ini. Ketika Caca melakukan apa yang dia suka, semua orang harus memakluminya. Ketika Aynara berusaha membangun masa depannya, ia selalu dianggap sedang mencari alasan untuk bermalas-malasan.
Aynara mengambil penyapu dari sudut ruangan. Dalam hati, ia kembali berjanji pada dirinya sendiri.
"Suatu hari nanti, aku akan pergi dari rumah ini."
Bukan karena diusir, tetapi karena ia sudah mampu berdiri dengan kedua kakinya sendiri.
Cepi sedang duduk santai di ruang keluarga. Ia mengerutkan kening ketika melihat mobil mengilap berhenti.
"Yah," panggilnya kepada sang suami yang sedang menyeruput kopi. "Ada mobil mewah berhenti di depan rumah kita."
Jayadi mengambil sepotong pisang goreng dari piring. "Ya biarin saja, Bu. Asal jangan berhenti tepat di depan gerbang sampai menghalangi jalan."
Cepi hendak menjawab, tetapi perhatiannya teralihkan ketika pintu pengemudi mobil itu terbuka.
Seorang pria keluar dari balik kemudi, lalu buru-buru berjalan ke sisi lain dan membukakan pintu penumpang. Dari dalam mobil, seorang pria tua turun dengan tenang.
Kemeja sederhana dan celana panjang yang dikenakannya sama sekali tidak terlihat mencolok, namun pembawaannya berbeda. Tubuhnya masih tegap dan terlihat bugar meski usianya telah lanjut. Di tangan kanannya tergenggam sebuah tongkat yang lebih tampak seperti kebiasaan daripada alat bantu berjalan. Tangan kirinya memegang sebuah map berwarna coklat.
Langkahnya mantap. Ia bahkan tidak terlihat bertumpu pada tongkat tersebut. Sesekali ujung tongkat itu hanya mengetuk permukaan jalan, menghasilkan bunyi kecil yang justru membuat kehadirannya terasa semakin berwibawa. Pria tua itu kemudian berjalan menuju pekarangan rumah Jayadi.
Cepi kembali memanggil suaminya. "Yah."
Jayadi masih sibuk dengan pisang gorengnya. "Apalagi?"
"Pria tua yang tadi turun dari mobil itu menuju rumah kita." Perhatian Cepi tak beralih dari pria itu.
Jayadi akhirnya menoleh ke arah jendela. Gerakannya terhenti, ia bahkan tidak jadi mengunyah pisang goreng yang masih berada di mulutnya. Matanya menyipit ketika mengenali sosok yang kini hanya berjarak beberapa meter dari pintu rumahnya.
"Pak Wicaksono..." gumamnya.
Cepi langsung menoleh. "Wicaksono? Siapa?"
"Beliau sahabat ayah mertuaku." Jayadi bangkit dari duduknya.
Cepi kembali menatap ke arah pria tua yang semakin mendekati pintu. "Mau apa dia datang ke sini, Yah?"
Jayadi tidak menjawab. Wajahnya yang semula santai berubah serius. Ia segera meletakkan pisang goreng di atas piring, kemudian beranjak menuju ruang tamu.
"Ada urusan apa Pak Wicaksono ke sini?" batin Jayadi. "Datang tanpa ngabarin dulu. Kok aku ngerasa beliau gak sekadar datang buat bertamu, ya?"
...🔸🔸🔸...
..."Terkadang, keinginan untuk pergi bukan karena kita membenci rumah, tetapi karena kita terlalu lama merasa tidak dihargai di dalamnya."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
yang berbicara depan Resepsionis dengan Karyawan?
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Sekarang, Aksa telah resmi menjadi CEO. Dan Aynara, juga sudah menjadi Istri CEO. 😂😂😂 Istri CEO memesona. 😂😂😂
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏