NovelToon NovelToon
AKU MILIKMU

AKU MILIKMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:422
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Di masa perkuliahan, di sela petualangan dan kebersamaan, benih cinta tumbuh tulus di antara Doni dan Kristin. Hati mereka saling tertaut, menyusun janji dan harapan akan masa depan. Namun setelah lulus, takdir masing-masing membawa mereka berdua ke jalan yang berbeda. Cinta yang sempat bersemi indah pun terpaksa terhenti, dan mereka berpisah — membiarkan waktu dan jarak memisahkan raga, meski perasaan itu tak sepenuhnya hilang. Beberapa tahun kemudian, takdir kembali menyatukan mereka. Saat mata mereka saling bertemu, kenangan lama bangkit seketika. Perasaan yang sempat terpendam seakan kembali menyapa, utuh seperti sedia kala. Namun kini keduanya bukan lagi anak muda yang dulu tanpa beban. Banyak hal telah berubah, banyak hal telah mengisi hidup mereka masing-masing. Di hadapan perasaan yang kembali menyapa, satu pertanyaan menggantung di udara: apakah kali ini mereka akan bersatu, atau justru kembali melanjutkan jalan masing-masing dengan kenangan yang tersimpan rapi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DONI ATAU BUKAN

Suasana di dalam kafe terasa nyaman dan hangat. Mereka duduk di meja yang letaknya agak ke sudut, tempat yang cukup tenang untuk berbicara sambil menikmati hidangan nanti. Setelah pelayan selesai menyerahkan buku menu kepada mereka, Ari tersenyum ramah ke arah Kristin.

"Silakan pesan apa saja yang kau inginkan, Kristin. Kali ini biar aku yang mentraktirmu," ucap Ari dengan nada yang tulus dan menyenangkan.

Kristin yang sejak tadi memang sudah menahan rasa lapar sejak pagi, tak lagi sungkan. Ia tersenyum lebar, lalu menunjuk beberapa hidangan di dalam buku menu dengan semangat.

"Kalau begitu aku tidak akan menolak kebaikanmu, Ari. Aku pesan ini, ini, dan ini... semuanya dengan porsi yang besar ya," ucap Kristin sambil menunjuk jari telunjuknya ke beberapa halaman menu secara bergantian. "Dan tambahkan satu porsi es krim yang dicampur dengan potongan buah-buahan segar."

Ari yang mendengar pesanan itu tak kuasa menahan tawanya. Ia menatap Kristin dengan pandangan yang penuh rasa kagum sekaligus geli. "Wah, selera makanmu ternyata luar biasa besar ya, Kristin. Aku sama sekali tidak menyangka gadis sehalus dan selembut dirimu bisa makan dengan porsi sebesar itu. Kau benar-benar gadis apa adanya, tidak peduli pandangan orang lain yang mungkin melihatmu."

Kristin tersenyum santai mendengar ucapan itu, lalu menatap Ari dengan tatapan yang tenang namun tegas. "Ya, biarlah orang berkata apa saja. Selama aku tidak merugikan mereka, tidak mengambil hak mereka, dan tidak menyusahkan siapa pun, buat apa aku harus peduli dengan pandangan mereka? Yang penting aku merasa nyaman dan kenyang," jawab Kristin dengan santai.

Ari tertawa mendengar jawaban itu. "Kau memang unik, Kristin. Aku semakin merasa nyaman berteman denganmu." Ari pun memesan sepiring nasi goreng lengkap dengan minuman dingin untuk dirinya sendiri. Tak lama kemudian, pesanan mereka pun datang satu per satu. Suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring terdengar lembut di antara percakapan ringan yang terus mengalir di antara mereka berdua.

Sambil menikmati suapan demi suapan makanannya, Ari perlahan menata kembali ucapannya. Wajahnya yang tadi penuh tawa kini tampak sedikit lebih serius, namun tetap lembut dan sopan.

"Kristin..." panggil Ari pelan namun jelas. "Sejujurnya, ada hal yang ingin aku sampaikan padamu sejak beberapa waktu lalu."

Kristin mengangkat wajahnya sejenak sambil mengunyah makanannya, menatap Ari dengan tatapan yang seakan sudah mengerti ke mana arah pembicaraan itu. Ia menelan makanannya perlahan, lalu menyeka sudut bibirnya dengan tisu sebelum menjawab dengan tenang.

"Aku sudah bisa menebak apa yang hendak kau katakan, Ari," ucap Kristin pelan. "Namun maafkan aku sebelumnya. Aku sebenarnya belum terlalu mau menjalin hubungan khusus dengan siapa pun saat ini. Bukan karena ada orang lain, melainkan karena aku tidak ingin perkuliahanku terganggu. Aku ingin menyelesaikan studiku dengan baik dan tepat waktu. Itu adalah prioritas utamaku saat ini."

Ari mengangguk pelan, seakan sudah menduga jawaban itu akan terlontar dari mulut Kristin. Ia tidak terlihat kecewa atau marah sedikit pun. Justru senyum tipis masih tersungging di bibirnya.

"Aku paham sepenuhnya alasanmu, Kristin. Dan aku sangat menghargai keteguhan hatimu," ucap Ari dengan nada yang tulus. "Justru begitulah seharusnya hubungan itu dibangun. Jika kita saling menyukai, seharusnya kita saling mendukung agar sama-sama berhasil, bukan saling menahan dan mengganggu satu sama lain."

Kristin tersenyum lega mendengar jawaban Ari yang begitu dewasa dan pengertian. "Terima kasih sudah mengerti, Ari. Sebenarnya sejak awal kita berkenalan, aku sudah menganggapmu seperti saudaraku sendiri. Seseorang yang bisa aku percaya dan aku anggap sebagai saudara dekatku."

Ari tertawa renyah mendengar perbandingan itu. "Jadi begini rupanya... Di dalam hatimu yang luas itu ternyata sudah terbagi menjadi banyak kotak, ya? Dan aku sudah kau masukkan ke dalam salah satu kotak yang bertuliskan 'Saudara'. Baiklah, aku terima dengan senang hati tempat itu."

Kristin ikut tertawa mendengar perkataan Ari yang santai itu. "Ya, begitulah kenyataannya. Semoga kau tidak keberatan menempati kotak itu."

"Sama sekali tidak keberatan," jawab Ari sambil tersenyum tulus. "Aku justru merasa senang bisa berada di hatimu meski hanya sebagai saudara. Aku suka caramu tertawa lepas dan bersikap apa adanya seperti ini. Jangan pernah berubah ya, Kristin."

Namun di balik senyumnya yang tulus itu, terselip sesuatu yang lain di dalam hati Ari. Ia tahu, sesekali ia melihat Doni memperhatikan Kristin dengan tatapan yang berbeda dari tatapan kepada orang lain. Sesekali terlihat perhatian-perhatian kecil yang diberikan Doni kepada Kristin, hal-hal yang mungkin tak disadari oleh Kristin sendiri. Hal itu membuat hati Ari merasa cemburu, namun ia memilih untuk memendam perasaan itu dalam diam. Ia tidak ingin Kristin salah paham, dan ia tidak ingin sikapnya justru membuat Kristin menjadi menjauh darinya.

Ari pun kembali tersenyum cerah seakan tak ada beban apa pun di hatinya. "Kalau begitu, bagaimana kalau sehabis makan ini kita pergi ke pusat perbelanjaan di Plaza? Kita bisa berjalan-jalan sebentar, bermain, sekalian menonton film di bioskop. Aku yang traktir."

Wajah Kristin seketika berubah cerah mendengar tawaran itu. Matanya berbinar penuh kegembiraan. "Benarkah? Wah, aku sudah sangat lama sekali tidak menonton film di bioskop! Aku mau, Ari, aku mau sekali!"

Mereka pun segera menghabiskan hidangan di hadapan mereka dengan semangat yang kembali menyala. Sepanjang sisa waktu makan itu, mereka terus berbicara dan tertawa membahas hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan perkemahan yang baru saja mereka pelajari, saling bercerita tentang hal-hal lucu yang mungkin terjadi, hingga membayangkan bagaimana suasana di alam bebas nanti. Suasana kebersamaan mereka terasa begitu hangat dan menyenangkan.

 

Sementara itu, tak jauh dari sana, di sebuah warung sederhana yang berdiri tepat di pinggir jalan raya yang cukup ramai, terlihat beberapa sepeda motor berukuran besar terparkir berjejer rapi di halaman depannya. Bangunan itu tampak sederhana, terbuka ke arah jalan, dan menjadi tempat berkumpulnya sekelompok anak muda yang penampilannya cukup mencolok. Rambut yang berantakan, pakaian yang lusuh, dan tata sikap yang kasar membuat siapa pun yang melintas segan untuk mendekat. Mereka duduk berkelompok sambil tertawa keras dan berbicara dengan nada yang tinggi, tampak tidak peduli dengan siapa pun yang melintas di depannya.

Tak lama kemudian, sesosok pemuda mengendarai sepeda motor melaju pelan menuju tempat itu, lalu memarkirkan kendaraannya di samping motor-motor lainnya. Pemuda itu kemudian melepas helmnya, menyisir rambutnya ke belakang dengan jari, lalu melangkah masuk ke dalam tempat itu dengan langkah yang tenang namun mantap. Itu adalah Doni.

Begitu melihat kedatangannya, salah seorang pemuda yang duduk di tengah-tengah kelompok itu langsung menyambutnya dengan tepukan keras di bahu Doni. Pemuda itu bernama Raka, wajahnya terlihat garang dengan tato yang melingkar di lengannya.

"Dari mana saja loe, Doni?" tanya Raka dengan nada bercanda namun terdengar kasar. "Emangnya hari Sabtu ada kegiatan kampus sampai sesiang ini?"

Doni menatap Raka sekilas dengan tatapan yang datar, lalu melepaskan tangan Raka dari bahunya perlahan. "Terlalu banyak urusan yang tidak perlu kau ketahui, Raka. Lebih baik kau urus saja urusanmu sendiri," jawab Doni singkat dan tegas.

Salah seorang pemuda lainnya yang duduk di ujung meja ikut menyahut dengan nada yang penuh semangat untuk memulai pertikaian. "Biarkan saja dia, Raka. Malam ini kita punya urusan yang lebih penting. Kita akan menyerang geng lawan yang selama ini sok berkuasa di wilayah utara. Mereka harus tahu siapa yang sebenarnya berkuasa di sini."

Doni sama sekali tidak menanggapi perkataan itu. Ia tidak menoleh, tidak menjawab, dan tidak memberikan reaksi apa pun. Ia hanya berjalan menuju kursi yang paling ujung, lalu duduk dan bersandar dengan posisi membelakangi arah jalan masuk. Tangannya mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya dengan tenang, lalu mengeluarkan sebuah buku dari dalam jaket yang dikenakannya. Di tengah keramaian dan kebisingan kelompok anak muda itu, Doni justru tampak sangat tenang, asyik membaca halaman demi halaman buku yang dipegangnya sambil sesekali menghembuskan asap rokoknya perlahan ke udara. Wajahnya tampak begitu damai, seakan bisingnya suara di sekelilingnya sama sekali tidak mampu mengganggunya sedikit pun.

 

Tak berapa lama kemudian, dari arah kafe tadi, terlihat Kristin berjalan beriringan bersama Ari. Mereka berjalan santai menuju gedung pusat perbelanjaan yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka makan siang tadi. Saat hendak melintas di depan warung tempat Doni berada, langkah Kristin perlahan melambat. Matanya tanpa sengaja menyapu pandangan ke arah sekelompok anak muda yang tampang dan penampilannya terlihat seperti berandalan sedang duduk berkumpul di sana.

Ari menyadari hal itu, lalu ikut melirik sekilas ke arah mereka sambil berkata dengan nada yang merendahkan. "Untuk apa kau memperhatikan mereka, Kristin? Apa bagusnya melihat orang-orang yang tidak jelas pekerjaannya? Mereka tidak belajar, tidak bekerja, dan hanya menghabiskan waktu siang dan malam hanya untuk berkelahi dan membuat keributan. Tidak ada masa depan yang baik dari jalan hidup seperti itu."

Kristin mengangguk pelan menyetujui perkataan Ari. "Aku memang tidak suka dengan orang-orang yang hidupnya tidak teratur dan suka mencari masalah seperti itu," ucap Kristin pelan.

Namun seketika itu juga, pandangan Kristin tertuju pada salah satu sosok yang duduk di bagian paling dalam, membelakangi arah jalan. Sesuatu dalam dirinya seakan bergetar hebat. Postur tubuh itu, cara duduknya, cara memegang benda di tangannya... semuanya terasa begitu akrab di matanya.

Itu... siapa orang itu? batin Kristin bertanya-tanya. Kenapa sosok punggungnya terlihat begitu mirip dengan Doni?

Kristin menatap lekat-lekat sosok itu. Ia tidak bisa melihat wajahnya karena posisinya membelakangi jalan, namun ia melihat buku yang sedang dibaca oleh sosok itu. Cara memegangnya, cara sesekali membalik halaman, dan cara sosok itu mengangkat tangannya untuk menghembuskan asap rokok... semuanya terasa persis seperti Doni.

Apakah itu benar-benar Doni? tanyanya dalam hati penuh keheranan. Tapi bagaimana mungkin Doni bisa berada di tempat seperti ini? Di tengah-tengah sekelompok anak muda yang berpenampilan kasar dan tidak teratur seperti itu? Atau mungkin itu hanya orang yang kebetulan mirip saja?

Pikiran itu membuat hatinya menjadi gelisah. Ia semakin ingin melihat wajah sosok itu dengan jelas, namun posisi duduknya membuatnya mustahil untuk dilihat dari arah jalan.

Saat Kristin masih terpaku menatap penuh keraguan, Ari tiba-tiba menarik perlahan lengan Kristin sambil mempercepat langkahnya. "Ayo kita berjalan agak cepat, Kristin. Tidak baik berlama-lama melintas di depan tempat seperti ini. Aku khawatir mereka akan menggangguku atau bahkan mengganggumu," ucap Ari dengan nada yang penuh perhatian sekaligus waspada.

Kristin pun ikut melangkah mengikuti langkah Ari yang dipercepat, namun kepalanya terus menoleh ke belakang sesekali menatap sosok yang duduk membelakangi jalan itu. Hatinya penuh tanda tanya yang begitu besar. Apakah itu Doni? Atau aku hanya salah lihat saja?

Sepanjang perjalanan menuju pusat perbelanjaan, sepanjang mereka berjalan-jalan, bermain, hingga menonton film di dalam gedung bioskop, pikiran Kristin sama sekali tak bisa tenang. Matanya menatap layar, namun pikirannya tetap tertinggal di warung pinggir jalan itu. Ia tak lagi menikmati tawa, tak lagi menikmati ceritanya, dan tak lagi benar-benar melihat apa yang sedang ditayangkan di hadapannya. Di dalam hatinya, satu tekad mulai menguat perlahan-lahan.

Aku akan mencari tahu kebenarannya, batin Kristin berjanji dalam hati. Aku akan mencari tahu di mana rumah Doni, lalu aku akan datang dan bertanya langsung padanya. Aku akan menatap matanya dan menanyakan hal itu dengan jujur. Sekalian saja... biar bukan hanya dia yang tahu alamat rumahku, tapi aku juga tahu di mana tempat tinggalnya. Seimbang begitu, kan?

Penasaran itu kini telah tumbuh menjadi sesuatu yang tak lagi bisa ia pendam. Sesuatu yang awalnya hanya sekadar keraguan sekilas, kini telah berubah menjadi keinginan kuat untuk mengetahui siapa sosok Doni yang sebenarnya. Sosok yang tampak begitu lembut, sopan, dan penuh perhatian di satu sisi, namun mungkin menyembunyikan sisi lain yang sama sekali tak diketahui siapa pun di sisi yang lain. Dan Kristin bertekad dalam hatinya, ia akan menemukan jawaban itu sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!