NovelToon NovelToon
Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.

Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.

Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.

Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.

Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.

Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.

📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Dunia

Penthouse itu gelap kecuali satu lampu meja di sudut ruang tamu, dan Madoc sudah duduk di sofa yang sama selama hampir satu jam, segelas wine di tangan yang isinya nyaris tidak berkurang sejak pertama kali dia tuang.

Kalimat ibunya masih terngiang di kepalanya, berulang-ulang seperti rekaman yang tidak bisa dia matikan.

Cara kamu ngomong sama dia. Lebih bersemangat.

Dia tahu ibunya bukan orang yang bicara tanpa maksud tertentu. Sera Kane tidak pernah melontarkan komentar sekadar basa-basi—setiap kalimat yang keluar dari mulutnya selalu punya lapisan makna yang lebih dalam, sebuah cara halus untuk menyampaikan sesuatu tanpa harus terang-terangan mengucapkannya. Dan kalimat sore tadi, meski terdengar sederhana, adalah bentuk peringatan yang cukup jelas bagi siapa pun yang mengenal Sera cukup lama.

Semoga kariernya lancar.

Kalimat penutup itu, yang di permukaan terdengar seperti harapan baik biasa, terasa seperti ancaman terselubung bagi Madoc—seolah ibunya sedang berkata, saya tahu ada sesuatu, dan saya akan mengawasi.

---

Dia menatap gelas wine di tangannya, mencoba mengurai pikiran yang berkecamuk sejak sore tadi.

Selama bertahun-tahun, dia sudah terbiasa dengan ekspektasi keluarganya—warisan Kane Group yang harus dia besarkan, calon pasangan yang "sesuai" secara status sosial, keputusan-keputusan besar yang selalu dipertimbangkan bukan cuma dari sisi personal, tapi dari dampaknya terhadap nama keluarga dan stabilitas perusahaan.

Dia sudah pernah melewati satu hubungan yang berakhir karena tekanan itu, lima tahun lalu—seseorang yang cukup dia sukai, tapi tidak pernah cukup "cocok" di mata keluarganya karena latar belakangnya yang dianggap tidak setara. Dia ingat betapa mudahnya waktu itu dia menyerah, membiarkan hubungan itu berakhir tanpa perlawanan berarti, karena saat itu dia belum benar-benar merasakan sesuatu yang cukup kuat untuk dipertahankan mati-matian.

Tapi sekarang berbeda.

Dia berdiri, berjalan ke jendela besar yang menghadap kota, mencoba menata pikirannya dengan lebih jernih. Gwen bukan cuma seseorang yang dia sukai secara sepintas—perasaan ini sudah tumbuh selama berbulan-bulan, diam-diam, lewat setiap detail kecil yang dia perhatikan, setiap momen kolaborasi yang membuatnya merasa lebih hidup dari yang pernah dia rasakan sebelumnya.

Kalau dia maju, kalau dia benar-benar mengejar perasaan ini, dia tahu konsekuensinya akan jauh lebih besar dari sekadar hubungan personal biasa. Ada hierarki di kantor yang bisa jadi masalah—dia CEO, Gwen bawahannya, dan meski hubungan seperti itu bukan hal yang belum pernah terjadi di dunia korporat, tetap saja ada risiko yang harus dipertimbangkan matang-matang: reputasi Gwen yang bisa dipertanyakan, tuduhan favoritisme yang bisa merusak kredibilitasnya sebagai profesional yang sudah dia bangun susah payah, dan tentu saja, ekspektasi keluarganya yang sudah mulai mengendus sesuatu sejak sore tadi.

Kalau saya maju, pikirnya, saya bukan cuma pertaruhkan diri saya sendiri. Saya pertaruhkan karier dia juga.

Pikiran itu membuat dadanya terasa berat, dilema yang tidak bisa dia selesaikan semudah masalah bisnis yang biasa dia hadapi dengan analisis data dan strategi terukur. Ini bukan soal angka atau proyeksi pasar—ini soal perasaan seseorang, soal risiko yang harus ditanggung orang lain kalau dia gagal mengambil keputusan yang tepat.

---

Di sisi lain kota, jauh dari kemewahan penthouse yang sunyi itu, apartemen kecil Gwen dipenuhi suara tawa dan bunyi bidak catur yang diketuk-ketuk ke papan kayu.

"Skak," kata Nadya, menggerakkan gajahnya dengan gerakan dramatis, seolah baru saja memenangkan turnamen dunia. "Rasain."

Gwen menatap papan itu, menganalisis posisi dengan serius, tidak terlalu terpengaruh oleh gestur berlebihan sahabatnya. "Belum kelar," katanya, memindahkan bentengnya dengan tenang. "Skak lo bisa gue blok."

"Anjir." Nadya mengerang, menatap papan dengan frustrasi. "Kenapa lo selalu bisa liat solusi yang gue gak kepikiran."

"Karena gue mikir tiga langkah ke depan, lo cuma mikir satu langkah."

"Sombong banget."

Gwen tertawa, mengambil segelas es teh dari meja, menikmati momen santai yang jarang dia dapatkan di tengah jadwal kerja yang biasanya padat.

"Gimana kerjaan minggu ini?" tanya Nadya, sambil memikirkan langkah selanjutnya di papan catur.

"Lumayan lancar. Proyek Sintesis udah disetujui board, sekarang tinggal implementasi ke divisi lain."

"Berarti makin sibuk dong."

"Iya, tapi seru," kata Gwen, jujur. "Gue suka tantangan kayak gini. Bikin kerjaan gak monoton."

Nadya menggerakkan kudanya, mencoba strategi baru, tapi tetap tidak berhasil menembus pertahanan Gwen yang sudah tersusun rapi sejak beberapa langkah lalu.

"Eh, ketemu ibunya Pak Kane gak minggu ini?" tanya Nadya, tiba-tiba, mengingat cerita singkat yang Gwen sebutkan beberapa hari lalu.

"Iya, sekilas doang. Beliau dateng ke kantor, kebetulan gue lagi mau update soal Meridian."

"Gimana orangnya?"

"Formal banget. Tegas juga kayaknya. Tapi sopan, sih." Gwen mengangkat bahu, tidak menganggap pertemuan itu lebih dari sekadar interaksi singkat dengan tamu penting. "Cuma ketemu bentar, gak sempet ngobrol panjang."

Nadya mengangguk, tidak melanjutkan topik itu lebih jauh, tapi dalam hati menyimpan detail kecil itu—ibu CEO yang datang ke kantor, bertemu langsung dengan Gwen, meski singkat. Sesuatu tentang itu terasa seperti langkah lain yang, cepat atau lambat, akan jadi bagian dari cerita yang lebih besar.

---

Malam terus berjalan, papan catur mereka berpindah dari satu permainan ke permainan lain, diselingi obrolan ringan soal drama kantor, rencana weekend, dan hal-hal remeh lain yang mengisi persahabatan mereka sejak kuliah.

Gwen tidak tahu, dan malam itu sama sekali tidak terpikirkan olehnya, bahwa di sisi lain kota, seseorang sedang duduk sendirian di ruangan gelap, memikirkan keputusan besar yang berhubungan langsung dengan hidupnya—keputusan yang, kalau diambil dengan cara yang salah, bisa mengubah segalanya, mulai dari kariernya sampai hubungan profesionalnya dengan orang-orang di sekitarnya.

Baginya, malam itu cuma malam biasa—main catur, minum es teh, ketawa bareng sahabat, lalu tidur dengan pikiran ringan tentang rencana kerja minggu depan.

Sementara di penthouse yang jauh lebih sunyi, Madoc masih berdiri di depan jendela, menatap kota yang sama, memikirkan orang yang sama, tapi dengan beban yang jauh berbeda—beban seorang CEO yang harus mempertimbangkan setiap langkah dengan hati-hati, beban seorang anak yang tahu keluarganya sudah mulai curiga, beban seseorang yang jatuh cinta tapi tidak yakin apakah dia punya hak untuk mengejar perasaan itu tanpa merugikan orang yang dia sayangi.

Dia menghabiskan sisa wine-nya dalam satu tegukan, menatap lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan, dan sejak dia mengakui perasaannya sendiri beberapa minggu lalu, dia mulai bertanya-tanya apakah versi terbaik dari cintanya justru adalah dengan tidak pernah mengucapkannya sama sekali—membiarkan Gwen terus melangkah maju dalam kariernya tanpa beban tambahan yang tidak seharusnya dia tanggung, tanpa risiko yang seharusnya tidak pernah dia hadapi kalau saja bosnya sendiri tidak jatuh cinta padanya.

Pikiran itu terasa menyakitkan, tapi juga terasa seperti satu-satunya pilihan yang benar-benar bertanggung jawab, di tengah kekacauan perasaan yang sejak sore tadi tidak berhenti berputar di kepalanya.

Dia mematikan lampu meja terakhir di ruang tamu, membiarkan kegelapan sepenuhnya menyelimuti penthouse-nya, dan berjalan ke kamar dengan langkah berat—membawa dilema yang belum menemukan jawabannya, sementara di sisi lain kota, dunia Gwen terus berputar dengan ringan, sepenuhnya belum tersentuh oleh badai yang mulai terbentuk di kejauhan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!