Miskin seumur hidup, ia bahkan harus mengakhiri hidupnya karena penyakit yang tak mampu ia obati.
Namun, ketika membuka mata, ia justru mendapati dirinya telah masuk ke dalam novel sebagai seorang wanita yang baru saja melompat dari sebuah gedung demi melarikan diri dari pernikahan perjodohan.
Seharusnya ia ikut kabur.
Tapi setelah mengetahui bahwa pria yang akan menjadi suaminya adalah seorang pewaris kaya raya, pikirannya berubah.
“Melarikan diri? Untuk apa? Bukankah lebih baik aku menikah dan hidup nyaman?”
Kini, ia bertekad mempertahankan pernikahan yang bahkan tidak diinginkan oleh pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Pintu ruang keluarga terbuka, dan seorang pria tinggi melangkah masuk. Suasana yang tadinya ramai langsung sunyi.
Elena, yang sedang duduk di sofa, mengangkat wajah. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat pria yang akan menjadi suaminya.
Sebastian Hale.. Pria itu jauh lebih tampan daripada yang ia bayangkan. Rambut hitam tertata rapi, rahang tegas, bahu lebar.
Setelan hitam yang dikenakannya sederhana, tapi Elena tahu dari ingatan pemilik tubuh ini bahwa pakaian itu bukan barang sembarangan.
Tatapan Sebastian berhenti tepat padanya, terlihat begiru dingin, tenang, sulit ditebak. Elena tersenyum dalam hati.
'Yes!, Calon suamiku benar-benar kaya!'
Ayah Elena segera berdiri. "Sebastian, silakan duduk."
Sebastian mengangguk singkat. "Terima kasih, Paman." Ia duduk di sofa berhadapan dengan Elena.
Tatapan mereka kembali bertemu. Elena tersenyum. Sebastian justru mengerutkan keningnya karna merasa aneh senyuman itu.
Beberapa jam lalu, wanita ini nekat melompat dari gedung demi menghindari pernikahan dengannya. Sekarang ia duduk di hadapannya dengan wajah tenang, bahkan terlihat senang.
"Aku dengar kondisimu sudah membaik," suara Sebastian rendah dan dingin.
Elena mengangguk. "Sudah dong.. hanya dapat empat jahitan disini.. Nggak terlalu sakit kok"
Elena menunjukkan bagian belakang kepalanya yang sudah tertutupi dengan rambut, sehingga luka itu tak terlihat
"Dan kau masih ingin membatalkan pernikahan?" Elena hampir tersedak.
"Tidak.. mana mungkin? Buktinya aku sekarang disini.." Jawabannya terlalu cepat.
Sebastian menatapnya lebih dalam. "Tidak?"
Elena menggeleng. "Aku tidak ingin membatalkannya."
"Kenapa?" Pertanyaan sederhana, tapi Elena mendadak buntu.
'Haruskah aku bilang karena dia kaya? Tentu saja tidak mungkin..'
Ia tersenyum canggung. "Aku hanya berubah pikiran."
Sebastian tetap menatapnya. "Kau berubah pikiran setelah melompat dari lantai dua puluh?" Elena terdiam.
'Benar juga, situasiku memang mencurigakan..'
"A..Aku... setelah hampir mati, aku menyadari hidup terlalu singkat untuk memikirkan hal-hal yang tidak penting."
Sebastian mengangkat alis. "Pernikahan denganku termasuk hal yang tidak penting?"
"Bukan!" Elena buru-buru menggeleng. "Justru sangat penting."
"Kenapa?"
Elena tersenyum. "Karena pernikahan adalah sesuatu yang harus dijalani dengan serius."
Sebastian tidak menjawab, hanya menatapnya dalam diam sehingga Elena mulai gugup.
'Apakah dia curiga?'
Tapi setelah beberapa saat, Sebastian akhirnya mengalihkan pandangan. "Aku akan menghormati keputusanmu."
Elena langsung merasa lega.
Tapi Sebastian melanjutkan, "Tapi setelah ini kau tidak boleh berubah pikiran lagi."
Elena mengangguk cepat. "Tidak akan."
'Selama kau tidak tiba-tiba jatuh miskin, tentu saja aku tidak akan berubah pikiran!' batinnya.
Sebastian berdiri. "Kalau begitu ayo berdiri.. kita akan melanjutkan pesta pertunangan ini.."
Tanpa menunggu lama, Elena langsung mengikuti langkah kaki Sebastian menuju ruangan yang sudah disediakan untuk pesta pertunangan mereka.
Seharusnya pesta itu sudah di mulai dua jam yang lalu, namun karna kekacauan yang ia buat, pesta baru di mulai sekarang.
Tentu saja Sebastian harus membayar lebih untuk ganti rugi pada pasangan yang seharusnya memakai ruangan itu namun itu tak masalah bagi seorang Sebastian yang memiliki aset ratusan Milyar itu.
Pintu ruang pesta terbuka lebar saat Elena dan Sebastian melangkah masuk. Suara percakapan yang sempat ramai perlahan mereda, dan puluhan pasang mata langsung tertuju pada mereka.
Elena yang berjalan di samping Sebastian merasakan tekanan luar biasa,;beberapa tatapan penuh rasa ingin tahu, ada yang terkejut, bahkan ada yang sinis.
'Jangan gugup. Ingat tujuanmu.. Menikah dengan pria kaya. Sesederhana itu..'
Di sisi lain, Sebastian berjalan dengan wajah datar. Tiba-tiba ia mengulurkan tangan kepadanya. Elena sempat tertegun.
"Pegang," ucap Sebastian datar.
"Oh." Elena segera menggenggam lengannya. Begitu tangannya menyentuh lengan Sebastian, pria itu sedikit menunduk. "Apa kau baik-baik saja?"
"Baik."
"Kalau pusing, katakan."
"Aku tidak akan pingsan lagi."
Elena terdiam. 'Kenapa dia tiba-tiba perhatian?'
Musik kembali bergema, dan semua tamu bertepuk tangan. Ayah Elena yang berdiri tak jauh dari sana tampak menghela napas lega, setidaknya putrinya tidak membuat masalah lagi. Seorang pria tua berjalan mendekat.
"Selamat, Sebastian. Akhirnya pertunangan ini tetap dilanjutkan."
"Terima kasih, Tuan Anderson."
Pria tua itu lalu menatap Elena. "Dan kau, Elena. Kau benar-benar membuat semua orang terkejut hari ini."
Elena tersenyum kaku. "Maaf."
"Yang penting kau baik-baik saja."
Namun di tengah keramaian itu, Elena merasakan tatapan tajam dari wanita cantik yang memakai gaun merah muda elegan dengan rambut panjang tergerai sempurna.
Elena mengerutkan kening lalu membelalak mata ketika mengingatnya..
'Oh my God.. bukankah itu Isabella Moore?.. mantan kekasih Sebastian.'
Elena menelan ludah. 'Waduh.. Bukankah dia adalah tokoh utamanya? yang langsung menggantikan tempat Elena begitu Elena menghilang setelah di bawa ke rumah sakit hari ini? Untung saja aku masuk ke tubuh ini lebih cepat..'
...tp trus lanjuuut💪💪😘😘