NovelToon NovelToon
Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Fantasi
Popularitas:805
Nilai: 5
Nama Author: Arya Walker

[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]

Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Geralt Sang Pemburu Iblis

Setelah melihat-melihat keseluruhan Pasar Gelap Lune yang suram dan tidak teratur ini, Simon akhirnya berhenti dan memperhatikan tempat di depannya.

Simon mendadak terpaku pada sebuah plat besi mencolok yang tertanam di dinding sebuah bangunan batu yang tampak lebih kokoh dari bangunan di sekitarnya.

"Tempat apa ini?" gumam Simon dengan pelan.

Ia memperhatikan arus pria yang berperawakan tangguh, serta banyak di antara mereka membawa senjata tersembunyi pada tubuhnya, seringkali Simon melihat mereka keluar masuk dari pintu kayu ek besar di bawah plat besi itu.

Tempat ini memancarkan aura yang sangat berbeda dari tempat lain yang ia lihat di kota lune ini.

"Biarkan, aku melihatnya sendiri."

Simon memperbaiki posisi topeng gagaknya yang agak miring dan melangkah masuk, dirinya menyelinap di antara kerumunan yang beraroma keringat serta besi.

Begitu melewati ambang pintu, Simon disambut oleh suasana aula yang remang-remang namun tertata rapi, sangat kontras dengan suasana kota lune.

Disana Simon melihat seorang perempuan berambut pirang dengan kacamata, sekilas memberikan kesan intelektual namun tajam, ia berdiri di balik meja konter tinggi.

"Tuan ini... tertarik bergabung dengan Serikat Pembunuh Lune?" tanya wanita itu sembari menatap Simon dari balik kacamatanya.

Simon menghentikan langkahnya sejenak.

'Ah, ternyata perkumpulan pembunuh' pikirnya dengan dingin.

"Tidak, saya hanya melihat-lihat saja. Mohon maaf Nona, saya masih ada urusan," jawab Simon yang berniat segera pergi untuk menghindari masalah yang tidak perlu.

Namun, wanita itu dengan cepat menghalangi jalannya.

"Tunggu, Jagoan. Apakah kamu tidak ingin mendengar manfaat apa yang didapat jika bergabung dengan perserikatan kami?"

Godanya dengan senyum tipis. Ia menyesuaikan letak kacamatanya sebelum melanjutkan,

"Hehehe, Tuan ini pasti seorang Ksatria, kan?" Wanita memperhatikan postur tubuh Simon yang berbeda dari orang biasa.

Simon terdiam, dia tidak menyangka bahwa wanita ini begitu tiba-tiba menghalanginya, dan ada apa dengan tatapan aneh itu?

"Tenang Jagoan, di serikat kami juga banyak ksatria yang bergabung," lanjut wanita itu dengan nada yang meyakinkan.

"Hoo... Jadi manfaat yang kau sebutkan itu apa?" tanya Simon.

"Tentu saja Ramuan Ksatria, Koin Emas, serta... Teknik Pernafasan," jawab wanita itu dengan mantap.

"Teknik Pernafasan!? Benar-benar ada teknik pernafasan?" Simon sedikit terkejut.

Ia mengira perserikatan ini hanya memberinya uang sebagai hadiah, makanya dia bersiap untuk pergi, namun yang tidak di sangka ada juga teknik pernafasan?

Bahkan untuk manusia biasa godaan ini sangat kuatt dan sulit untuk tidak menerimanya!

"Nona, Tolong jelaskan kepadaku."

"Seperti yang kamu dengar, ada teknik pernafasan yang bisa di tukar di serikat pembunuh kami, namun...." Wanita itu meluruskan kacamatanya.

"Untuk menukarnya kamu membutuhkan poin pembunuhan yang cukup serta akses tingkat tinggi." Jawab wanita itu.

"Serikat akan merilis misi pembunuhan untuk target tertentu, bila pembunuh berhasil menyelesaikan misinya ia akan memperoleh poin pembunuhan ini"

"Jadi, apakah Tuan tertarik?"

"Sebentar, biarkan aku berpikir." Simon merenung sejenak.

Meskipun membunuh terdengar kejam, ia telah lama membuang moralitas fana sejak dikhianati oleh temanya yang dulu.

Dan sekarang, hanya ada satu hal penting yang selalu dia pegang untuk dirinya, di dunia yang kejam ini pilihannya hanya dimakan atau memakan!

Dan Simon jelas memilih yang terakhir, untuk menjadi pemangsa!

"Baiklah, aku setuju!" tegas Simon.

Wanita itu tersenyum puas ketika mendengar jawaban simon.

"Pilihan bijak! Untuk memulai, pertama kamu akan berada di Tingkat Kayu, lalu naik ke Tingkat Besi, dan yang tertinggi adalah Tingkat Emas."

"Tingkatan ini menentukan kualitas hadiah yang bisa ditukar. Di tingkat kayu, kamu mungkin hanya mendapatkan ramuan tingkat rendah," kata wanita itu.

Simon jelas tidak tertarik dengan ramuan, ataupun koin emas, yang ia tertarik adalah teknik pernafasan, sebenarnya teknik pernafasan ular hitam sudah cukup.

Ksatria biasa mungkin cukup dengan satu teknik pernafasan, selain membutuhkan waktu hampir seluruh hidupnya untuk berlatih, tapi Simon jelas tidak puas, dia punya sistem kemahiran yang dapat membantu mempertahankan poin dalam ketrampilan, jadi melatih teknik pernafasan lain mungkin tidak akan membutuhkan waktu yang lama dan ini membuatnya menjadi jauh lebih kuat dari ksatria lain.

1+1\=2 ! Seperti itu.

Dengan kekuatan itu jelas ia akan merasa aman untuk berjalan sendiri di dunia ini.

"Bagaimana cara meningkatkan peringkatku?" tanya Simon dengan lugas.

"Kami akan mengevaluasi setiap misi yang kamu jalankan, Dan karena ini adalah bisnis yang berbahaya, jangan gunakan nama asli Anda." Kemudian ia melanjutkan.

Saran saya kamu harus menggunakan nama samaran, jika terjadi sesuatu pada kamu serikat tidak akan bertanggung jawab.

"Nama samaran ya...?"

Simon memikirkan nama samaran apa yang harus ia gunakan.

Menelurusi Ingatannya kembali ke masa lalunya sebagai Agus di Bumi, kemudian ia teringat bahwa ia sering memainkan game The Witcher waktu SMK.

Ia sudah menamatkan the Witcher 1 hingga 3.

"Panggil saja Geralt," jawab Simon sambil memikirkan kenangan nostalgia yang mungkin tidak bisa dia dapatkan lagi.

"Geralt?" Wanita itu tampak terpaku sejenak sebelum mengangguk.

Ia pergi sebentar dan kembali membawa sebuah plakat kayu bertuliskan nama tersebut.

"Terima ini. Ini adalah identitasmu di serikat. Jika hilang, poin pembunuhan yang kamu peroleh akan lenyap sebagai denda"

Simon mengambil plakat kayu itu dan menyimpannya di balik jubah.

"Aku mengerti."

"Jadi, aku harus memanggilmu apa?"

"Panggil saja aku Rose. Tentu saja ini bukan nama asliku," jawab Rose sembari terkekeh.

"Untuk misi, kamu bisa melihat di papan buletin di sana. Jika butuh sesuatu, tanyakan pada penjaga itu," tunjuk Rose ke arah wanita lain yang sedang duduk.

Simon melihat bahwa papan buletin itu sudah di kerumuni oleh orang-orang random, dan wanita yang di tunjuk Rose, ia melihatnya agak gimana ya, tampilan wanita itu sangat berotot dan tinggi.

Simon mengangguk pelan, "Aku mengerti. Terima kasih. Rose" Ia kemudian melangkah menuju papan buletin di sana.

Simon Berdiri di depan papan buletin kayu besar yang permukaannya dipenuhi bekas sayatan senjata dan noda darah kering.

Dirinya melihat kontrak pembunuhan itu dan di sekelilingnya, beberapa pembunuh bayaran dengan jubah kasar dan topeng yang beragam sedang berdiskusi dengan nada rendah, mata mereka terus memindai deretan kontrak yang tertempel di atas.

Simon menajamkan pendengarannya sembari tetap menjaga sikap yang biasa aja agar tidak mencolok.

"Lihat, misi Ksatria Pengawal Pengkhianat ini," bisik seorang pria bertubuh kekar dengan bekas luka melintang di lehernya kepada rekannya.

"Hadiahnya 5 koin emas dan sebuah gulungan Pernafasan Dasar Menengah. Sangat menggiurkan bagi kita yang berada di tingkat Besi".

"Kau gila?" balas rekannya, seorang pria kurus yang terus memegangi belati di pinggangnya.

"Ksatria itu bukan sembarang target. Kabarnya dia menguasai Qi Pertempuran yang cukup padat. Terakhir kali tiga orang dari tingkat Kayu mencoba mengambil kepalanya, mereka berakhir menjadi tumpukan daging di pinggiran wilayah Wilde"

Pria kurus itu kemudian menunjuk ke sebuah perkamen yang tampak lebih baru namun sedikit kusam.

"Lebih baik ambil misi Pedagang Rempah Korup di distrik barat ini saja. Hadiahnya hanya 3 koin emas, tapi risikonya jauh lebih kecil. Hanya perlu menyelinap di malam hari dan memastikan tenggorokannya terpotong sebelum dia sempat memanggil penjaga"

"Benar," pria kekar itu setuju. "Dan hindari wilayah Utara untuk sementara waktu. Para pelancong di Kedai Minuman Bersinar bilang bahwa serangan orang bar-bar disana semakin agresif. "

"Benarkah itu bro? Apa yang di lakukan pihak kerajaan, jelas pihak asing telah menginvasi kita, namun tidak ada tindakan lanjut dari ibu kota?"

"Apa yang kamu tau, jelas kerajaan ini sendiri akan hancur, masalah bar-bar di utara mereka tidak peduli lagi."

Mendengar itu, Simon memikirkan dirinya sendiri, walau dia telah mencapai ksatria magang tingkat 2, namun dengan itu sjaa tidak cukup untuk menjaga diri, menyadari bahwa dunia luar sudah cukup kacau dia sekarang seperti di kejar oleh waktu.

Waktu seakan mengingatkannya untuk cepat berkembang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!