Hampa, itulah yang dirasakan Tristan dengan rumah tangganya. Sampai suatu hari, dia kedatangan sekretaris baru yang cantik jelita. Saat itulah tiang kesetiaan Tristan goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32 - Memergoki
Kecupan-kecupan hangat dan basah berlanjut turun membasahi bahu Nayla yang licin diterpa air shower. Tangan Tristan bergerak makin intim, mengusap lekuk-lekuk tubuh sekretarisnya tanpa memberi celah sedikit pun.
Nayla menarik napas panjang, menikmati ciuman lembut yang kini merambat kembali ke rahangnya sebelum akhirnya berbalik menghadapi pria itu secara utuh. Kehangatan yang tercipta di dalam kamar mandi itu seakan membuat kucuran air dingin yang menyiram kulit mereka tak lagi terasa membekukan. Keduanya bercengkerama dan menikmati momen mesra tersebut di bawah guyuran air hingga energi mereka benar-benar terkuras. Setelah menyelesaikannya dengan tuntas dan rasa puas yang membuncah, mereka berganti pakaian dengan rapi untuk bersiap menghadapi agenda kerja krusial hari itu.
Pukul delapan pagi tepat, Tristan dan Nayla sudah berada di ruang rapat privat sebuah restoran eksklusif untuk menemui Jono, seorang pengusaha lokal yang berhasil membudidayakan dan mengolah serat kaktus menjadi bahan tekstil berkualitas tinggi.
Jono, pria paruh baya yang sangat antusias dan bersemangat, sibuk memaparkan lembaran sampel bahan kaktus di atas meja kayu tebal. Penjelasannya sangat terperinci, mulai dari proses pemanenan hingga ketahanan material tersebut terhadap gesekan.
Namun, fokus sang CEO Nebula Fashion Group itu jelas terbagi. Pikiran Tristan sama sekali tidak tertuju pada persentase ketahanan bahan di atas kertas.
Di tengah-tengah penjelasan serius Jono mengenai keunggulan serat kaktus yang ramah lingkungan, sebuah ujung sepatu pantofel mahal milik Tristan bergerak perlahan di bawah meja. Dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat, Tristan menyenggol ujung sepatu hak tinggi milik Nayla.
Nayla yang sedang sibuk mencatat poin-poin penting di layar tabletnya mendadak tersentak kaget. Jemarinya membeku di atas layar. Matanya terbelalak lebar, lalu kepalanya terangkat untuk menatap Tristan. Di balik gulungan berkas laporan yang sengaja dipegangnya tinggi-tinggi untuk menutupi wajah dari pandangan Jono, Tristan dengan sangat santai menyunggingkan senyum miring. Pria itu bahkan sempat mengerlingkan sebelah matanya ke arah Nayla, sebuah gestur genit, nakal, dan sangat tidak mencerminkan setelan jas mewahnya.
Nayla buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia menggigit bibir bawahnya erat-erat demi menahan tawa renyah yang hampir saja meledak di tengah-tengah rapat formal tersebut. Pipi mulusnya merona merah padam, menahan kegelian sekaligus sensasi aneh yang menjalar di dadanya akibat ulah kekanak-kanakan atasannya itu.
Jono, yang sempat menangkap pergerakan aneh dan jeda mendadak di meja rapat, mendadak menghentikan pemaparannya. Pria paruh baya itu membetulkan letak kacamata tebalnya, lalu menatap Tristan dengan dahi berkerut penuh selidik.
"Apakah ada yang salah atau kurang berkenan dengan sampel bahan kaktus nomor tiga ini, Pak Tristan? Saya lihat Anda dari tadi sepertinya agak kurang fokus..." tanya Jono ragu-ragu.
Sontak, refleks dan jam terbang tinggi Tristan sebagai pimpinan tertinggi perusahaan menyala penuh. Ia menetralkan ekspresi wajahnya hanya dalam hitungan milidetik. Tatapan matanya yang tadi penuh godaan berubah menjadi tajam dan dingin seketika. Ia berdeham kencang guna menguasai pita suaranya, memasang kembali raut CEO berwibawa yang disegani seluruh mitra bisnis.
"Ah, tidak, Pak Jono. Sama sekali tidak ada masalah. Saya sangat fokus mendengarkan," jawab Tristan dengan nada suara mantap dan meyakinkan. "Justru saya sedang membayangkan betapa luar biasanya tekstur bahan kaktus ini jika diolah menjadi koleksi jaket limited edition kita. Luar biasa! Tolong lanjutkan pemaparannya, kita akan mengambil kuota produksi tahap pertama sebanyak sepuluh ribu meter."
Jono tersenyum lebar, merasa sangat puas dan lega mendengar pujian dari CEO papan atas tersebut. Pria tua itu langsung melanjutkan presentasinya dengan bersemangat, sama sekali tidak menyadari aksi nakal bawah meja yang baru saja terjadi persis di hadapannya.
Begitu kesepakatan bisnis bernilai miliaran rupiah itu selesai ditandatangani oleh kedua belah pihak, jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Perut mereka mulai memberikan sinyal rasa lapar setelah melewati pagi yang cukup menguras tenaga dan emosi.
Saat mereka melangkah keluar dari area gedung tempat rapat diselenggarakan, Tristan berniat mengajak Nayla makan siang di sebuah restoran fine dining mewah yang direkomendasikan aplikasi di ponselnya. Namun, Nayla menggeleng pelan dan menolak tawaran itu secara halus.
"Bos, bagaimana kalau kita makan di warung pinggir jalan saja?" usul Nayla seraya menunjuk ke arah deretan warung kuliner lokal yang berjejer rapi di bawah pepohonan rindang di sepanjang trotoar, tak jauh dari posisi mereka berdiri. "Di sana ada makanan khas daerah sini yang terkenal sangat enak dan otentik. Mumpung kita sedang ada kunjungan kerja di luar Jakarta."
Tristan sempat menaikkan sebelah alisnya, sedikit heran dengan selera sederhana yang dimiliki sekretarisnya. Pria yang terbiasa dengan hidangan restoran berbintang itu tampak ragu sejenak. Namun, rasa penasaran dan keinginan untuk menghabiskan waktu lebih lama dengan Nayla akhirnya menang.
"Boleh juga. Ayo, kita jalan kaki ke sana," tanggap Tristan.
Kedua insan yang kini telah resmi terikat dalam hubungan terlarang itu melangkah berdampingan di atas trotoar yang cukup lengang. Angin siang berembus sepoi-sepoi, meniup lembut helai-helai rambut panjang Nayla yang terurai indah. Suasana canggung di antara mereka kini telah berganti menjadi keakraban yang sarat akan percikan asmara.
"Oh ya, Bos," celetuk Nayla seraya menolehkan kepalaNya sedikit ke arah Tristan. Ia melipat kedua tangannya di belakang punggung, berjalan dengan gaya santai. "Aksi main kaki di bawah meja rapat tadi... jujur saja, menurutku itu sangat kuno dan picisan sekali untuk ukuran CEO Nebula."
Tristan terkekeh renyah mendengarnya. Ia melipat kedua tangannya di dada tanpa ada raut malu sedikit pun di wajah tampannya. "Biarkan saja. Lagipula, aksi kuno dan picisan itu sukses membuat kamu hampir tertawa dan salah tingkah di depan Pak Jono, kan? Harus kuakui, aku memang agak kuno kalau soal menggoda wanita yang kusukai."
Nayla tertawa pelan, lalu menyenggol bahu Tristan secara manja menggunakan bahunya sendiri. "Dasar... alasan saja."
Namun, tawa dan senyuman Tristan mendadak terhenti seketika. Langkah kaki pria itu mematung kaku di tengah trotoar, seolah-olah kedua kakinya baru saja dipaku ke semen.
Nayla yang menyadari perubahan sikap drastis dari atasannya ikut menghentikan langkah. Ia menoleh bingung pada Tristan, yang kini tengah menatap lurus ke arah area parkir sebuah boutique hotel mewah di seberang jalan dengan pandangan yang mendadak membeku dan dipenuhi aura dingin yang mencekam.
"Bos? Ada apa?" tanya Nayla cemas, melihat rahang Tristan menegang keras.
Pandangan mata Tristan terkunci rapat pada dua sosok manusia yang baru saja melangkah keluar dari pintu kaca utama hotel megah tersebut.
Seorang wanita tampil sangat mencolok dan anggun dengan balutan gaun desainer haute couture, kacamata hitam berbingkai emas mahal, dan tas brand ternama yang melingkar di tangannya. Wanita itu adalah Olivia, istri sah Tristan yang seharusnya berada di luar negeri atau sibuk berkumpul dengan rombongan sosialitanya.
makasih Thor cerita nya bagus dan menghibur
klo diselingkuhin?????masih enak????
jgn senang dulu,zay mungkin saat ini masih sama kmu krn masih bituh,klo dia sdh mandiri apa ga dibuang kmu oliv????