NovelToon NovelToon
Warisan Hati & Si Kecil Berbakat

Warisan Hati & Si Kecil Berbakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Anak Genius / Cintapertama
Popularitas:223
Nilai: 5
Nama Author: Andi diana Nana anggrini

CEO dingin Lin Yicheng meninggalkan Su Wan lima tahun lalu tanpa tahu ia mengandung anaknya. Kini Su Wan kembali membawa Lin Xiaoqi, putra jenius berusia lima tahun yang bertekad menyatukan orang tuanya. Si kecil perlahan mencairkan hati batu sang ayah, namun ancaman bisnis dan penolakan keluarga menguji cinta mereka. Warisan terbesar bukanlah harta, tapi keluarga yang akhirnya bersatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertanyaan Xiaoqi yang Tak Pernah Habis

Rumah baru mereka kecil, namun hangat. Dindingnya dicat warna krem lembut, lantai kayu yang halus terasa nyaman di telapak kaki, dan di setiap sudut ruangan tercium aroma bunga melati — aroma yang sengaja Su Wan taburkan, agar tempat baru ini terasa seperti rumah, bukan sekadar tempat berteduh. Jendela-jendelanya besar, membiarkan cahaya matahari pagi masuk dengan bebas, menyinari ruang tamu sederhana yang hanya berisi sofa kain berwarna biru muda, meja kopi kayu, dan rak buku yang sudah mulai diisi oleh buku-buku milik Xiaoqi.

Xiaoqi berdiri di tengah ruangan, memutar tubuhnya perlahan ke kiri dan ke kanan, matanya meneliti setiap benda, setiap sudut, setiap detail kecil seolah sedang memetakan tempat ini ke dalam ingatannya. Ia menyentuh permukaan meja, mengetuk pelan dinding, lalu berlari kecil menuju jendela depan, membuka gordennya lebar-lebar, dan menatap ke luar — ke arah jalan yang sepi, ke arah pepohonan yang bergoyang ditiup angin pagi.

Su Wan berdiri di ambang pintu kamar tidur, menatap punggung kecil putranya dengan senyum lembut yang tak lepas dari sedikit kecemasan. Ia meletakkan tas punggungnya di atas meja, lalu berjalan mendekat, duduk di tepi jendela, dan menarik Xiaoqi ke dalam pelukannya. Anak itu langsung bersandar di dadanya, tangan kecilnya melingkar di pinggang Su Wan, menempel erat seakan takut ibunya akan menghilang jika ia melepaskan pelukannya.

"Bagaimana? Suka rumah barunya?" tanya Su Wan pelan, mencium puncak kepala anaknya.

"Suka," jawab Xiaoqi, suaranya terdengar sedikit teredam di kain baju Su Wan. "Tapi Bu… rumah ini hanya ada kita berdua. Kalau Ayah ke sini, di mana dia tidur? Apakah ada kamar untuknya?"

Su Wan tertegun. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan muncul begitu cepat. Ia menghela napas pelan, lalu tersenyum memaksakan diri, mengusap rambut hitam anaknya dengan lembut.

"Xiaoqi, kita belum tahu apakah Ayah mau ke sini atau tidak. Dan kita tidak boleh memaksanya, ingat? Rumah ini untuk kita berdua dulu. Kalau nanti Ayah mau datang, Ibu akan siapkan kamar untuknya. Tapi sekarang, kita harus belajar hidup di tempat baru ini dulu, ya?"

Xiaoqi mengangkat wajah, menatap ibunya dengan mata besar yang berbinar penuh harap. "Tapi Ayah pasti mau datang, kan? Karena aku anaknya. Bukankah semua ayah ingin bertemu anaknya?"

Pertanyaan sederhana itu menembus hati Su Wan lebih tajam daripada pisau. Ia menatap wajah polos anaknya, dan rasa bersalah kembali menyeruak — rasa bersalah karena memisahkan mereka selama lima tahun, rasa bersalah karena tidak memberi tahu Yicheng, rasa bersalah karena membuat Xiaoqi tumbuh dengan pertanyaan yang seharusnya tidak perlu ia tanyakan berulang kali.

Su Wan menangkup pipi anaknya dengan kedua tangan, menatap lurus ke mata cokelatnya yang jernih. "Iya, Xiaoqi. Semua ayah pasti ingin bertemu anaknya. Hanya saja… kadang-kadang, orang dewasa punya alasan yang rumit. Alasan yang mungkin belum kamu mengerti sekarang. Tapi percayalah, Ibu akan berusaha semampu Ibu agar kamu bisa bertemu Ayah. Tepat waktu."

"Kapan tepat waktu?" tanya Xiaoqi cepat, seakan takut kehilangan kesempatan.

"Belum tahu pasti. Tapi tidak akan lama, Ibu janji."

Xiaoqi tersenyum puas, seakan jawaban itu sudah cukup untuk membuatnya tenang. Ia memeluk ibunya lebih erat, lalu berbisik, "Terima kasih, Bu. Aku tahu Ibu yang terbaik."

Su Wan memejamkan mata, menahan air mata yang hampir jatuh. Ia memeluk anaknya erat, berdoa dalam hati agar keputusannya benar, agar ia tidak menyesal, agar semuanya berjalan baik-baik saja.

 

Hari-hari berikutnya berlalu dengan tenang. Su Wan membuka toko bunga kecil tidak jauh dari rumah — tempat yang sederhana, di pinggir jalan yang sepi, tapi penuh warna dan keharuman. Ia bangun pagi-pagi sekali, merangkai bunga, melayani pelanggan, lalu pulang sore hari tepat saat Xiaoqi pulang dari sekolah barunya. Kehidupan ini sederhana, tenang, jauh dari hiruk-pikuk dunia bisnis yang dulu ia kenal — dan itulah yang ia cari.

Tapi bagi Xiaoqi, ketenangan itu tidak berarti ia berhenti bertanya.

Setiap hari, tanpa lelah, tanpa bosan, pertanyaan itu selalu muncul — di meja makan saat sarapan, di jalan pulang sekolah, sebelum tidur, bahkan di tengah bermain.

"Bu, Ayah suka makan apa?"

"Bu, Ayah tinggi atau pendek?"

"Bu, Ayah suka warna apa?"

"Bu, Ayah pintar matematika seperti aku?"

"Bu, kenapa Ayah tidak tinggal bersama kita? Apakah dia tidak suka aku?"

Su Wan selalu menjawab dengan sabar, berusaha memberikan jawaban yang menenangkan, berusaha menyembunyikan rasa sakit setiap kali pertanyaan itu terucap. Tapi semakin banyak Xiaoqi bertanya, semakin ia menyadari bahwa anaknya tidak hanya ingin tahu — ia ingin memiliki. Ia ingin merasakan kehadiran sosok yang selama ini hanya ia lihat di foto.

Sore itu, setelah makan malam, mereka duduk bersama di sofa ruang tamu. Xiaoqi memeluk bantal peluk, menatap ibunya dengan serius, lalu mengeluarkan sebuah buku gambar dan pensil dari tasnya. Ia mulai menggambar — dengan garis-garis tegas dan cepat, menggambar sosok pria tinggi, sosok wanita, dan sosok anak kecil di tengahnya. Di atas kepala mereka, ia menggambar tiga hati berwarna merah. Di bawah gambar, ia menulis dengan tulisan tangan yang masih belajar: KELUARGAKU YANG LENGKAP.

Xiaoqi menunjukkan gambar itu pada Su Wan, matanya berbinar bangga. "Bu, ini kita. Ayah, Ibu, dan aku. Kita harus seperti ini, kan? Berdiri berdekatan, tidak terpisah."

Su Wan menerima gambar itu, menatapnya lama, dan air mata akhirnya jatuh — bukan karena sedih, tapi karena terharu. Gambar sederhana itu, dengan garis yang belum sempurna, mewakili harapan paling murni yang dimiliki anaknya. Harapan yang seharusnya mudah didapat, namun terasa begitu jauh.

"Gambarnya bagus sekali, Xiaoqi," ucap Su Wan dengan suara bergetar, menyentuh gambar sosok pria yang digambar anaknya — tinggi, berjas, persis seperti Yicheng. "Sangat bagus."

"Kalau kita sudah lengkap, boleh aku berikan gambar ini pada Ayah?" tanya Xiaoqi tiba-tiba.

Su Wan tertegun. Ia menatap mata anaknya yang penuh harap, dan kata-kata penolakan terasa tersangkut di tenggorokan. Bagaimana bisa ia mematahkan harapan yang begitu murni ini?

"Boleh," jawab Su Wan pelan, akhirnya mengangguk. "Kalau nanti kamu bertemu Ayah, kamu boleh berikan gambar ini padanya."

Xiaoqi bersorak gembira, melompat dari sofa, lalu menyimpan gambar itu dengan hati-hati di dalam laci meja kecilnya, seolah itu adalah harta paling berharga di dunia. "Aku akan menyimpannya dengan baik. Supaya saat bertemu Ayah, gambarnya tidak kusam."

Su Wan menatap punggung anaknya, lalu menatap tangannya sendiri — tangan yang memegang gambar itu sebentar tadi. Ia merasa terjebak di antara dua pilihan: melindungi anaknya dari kemungkinan terluka, atau membiarkannya mengejar apa yang menjadi haknya. Dan semakin ia melihat keteguhan di mata Xiaoqi, semakin ia menyadari — anak ini tidak akan menyerah. Xiaoqi bukan anak yang mudah menyerah. Ia memiliki keteguhan hati yang sama dengan ayahnya — sesuatu yang bahkan mungkin lebih kuat.

 

Minggu itu, cuaca cerah. Su Wan mengajak Xiaoqi ke taman kota — tempat yang tenang, penuh pohon rindang dan bunga bermekaran. Xiaoqi berlari ke sana kemari, mengejar kupu-kupu, tertawa lepas, suara tawanya menggema di antara pepohonan. Su Wan duduk di bangku kayu di bawah pohon besar, memperhatikan anaknya dengan senyum — melihatnya bahagia adalah hal yang paling berharga.

Namun tak lama kemudian, Xiaoqi berhenti berlari. Ia berdiri diam di tengah jalan setapak, menatap ke arah sebuah bangunan tinggi yang terlihat dari kejauhan — gedung berfasad kaca yang sama, gedung yang selalu ia lihat di foto ponsel ibunya. Ia berjalan perlahan kembali ke arah Su Wan, duduk di sampingnya, menatap gedung itu tanpa berkedip.

"Bu, itu gedung Ayah, kan?" tanyanya pelan, menunjuk ke arah bangunan itu.

Su Wan mengikuti arah pandangan anaknya, dadanya terasa sesak melihat gedung itu kembali. "Ya, Xiaoqi. Itu tempat Ayah bekerja."

"Gedungnya tinggi sekali," bisik Xiaoqi, matanya berbinar kagum. "Ayah pasti orang hebat, ya?"

Su Wan mengelus rambut anaknya dengan lembut. "Iya, Ayahmu orang hebat. Tapi kehebatannya bukan karena gedung itu, bukan karena kekayaannya. Kehebatannya sesungguhnya… belum tentu orang lain tahu."

Xiaoqi menoleh, menatap ibunya dengan bingung. "Lalu kenapa Ayah tidak datang? Apakah dia terlalu hebat, sampai tidak punya waktu untukku?"

Pertanyaan itu — pertanyaan yang paling Su Wan takutkan. Ia menatap anaknya, melihat keraguan mulai muncul di mata jernih itu, dan hatinya terasa sakit. Ia menarik Xiaoqi ke dalam pelukan, membiarkan anak itu bersandar di dadanya, merasakan detak jantungnya yang tenang namun kuat.

"Xiaoqi, dengar Ibu," ucap Su Wan dengan nada tegas namun lembut, kedua tangannya memegang bahu anak itu. "Ayah tidak tidak datang karena dia terlalu hebat. Dia tidak datang karena keadaan dulu yang rumit. Karena Ibu yang pergi, karena Ibu yang tidak memberi tahu dia tentang keberadaanmu. Jadi jangan pernah berpikir bahwa Ayah tidak menginginkanmu, atau tidak menyayangimu. Itu bukan salahnya, dan bukan salahmu. Ini… hanya hal yang rumit bagi orang dewasa. Dan suatu hari nanti, semuanya akan jelas."

"Jadi bukan salahku?" tanya Xiaoqi pelan, matanya berkabut.

"Bukan salahmu, sama sekali bukan salahmu," jawab Su Wan yakin, mencium kening anaknya. "Kamu adalah anugerah terindah untuk kami berdua. Jangan pernah meragukan itu."

Xiaoqi mengangguk pelan, seakan kata-kata itu menenangkan sesuatu di dalam hatinya. Ia kembali menatap gedung tinggi di kejauhan, lalu berbisik, "Aku akan menunggu. Tapi aku juga akan mencari tahu."

Su Wan tidak mendengar bisikan itu. Ia hanya tersenyum, berpikir bahwa anaknya akhirnya menerima penjelasannya. Tapi di dalam hati kecil Xiaoqi, tekadnya sudah mengeras. Ia sudah menunggu cukup lama. Ia sudah bertanya cukup banyak. Sekarang, ia akan mencari jawabannya sendiri.

 

Malam itu, saat Su Wan sudah tertidur di kamarnya, Xiaoqi bangun diam-diam. Ia berjalan berjinjit ke ruang tamu, mengambil ponsel ibunya yang ditinggal di atas meja — ia tahu kata sandinya, Ibu selalu menggunakan tanggal ulang tahunnya sendiri. Dengan jari-jarinya yang kecil namun cekatan, ia membuka galeri foto, mencari foto gedung itu, memperbesar gambarnya, membaca nama perusahaan yang tertera di papan nama di bagian bawah — Grup Lin.

Xiaoqi menatap nama itu lama, menghafalkannya. Lalu ia membuka peta digital, mengetik nama perusahaan itu, dan melihat alamatnya — Jalan Pusat Bisnis, Nomor Satu, Lantai Empat Puluh. Ia menghafal alamat itu juga, menyimpannya rapat-rapat di kepalanya.

Ia tahu Ibu melarangnya terburu-buru. Tapi ia juga tahu bahwa menunggu saja tidak akan menyatukan mereka. Ia harus bertindak. Tidak sekarang, tidak besok — tapi tidak akan lama lagi. Ia akan pergi ke sana. Ia akan menemui ayahnya. Dan ia akan membuat ayahnya tahu — bahwa ia ada di sini, menunggunya.

Xiaoqi menutup peta, mengembalikan ponsel ibunya ke tempat semula, lalu berjalan berjinjit kembali ke kamarnya. Di bawah bantalnya, ia menyimpan gambar keluarga yang ia buat — gambar dengan tiga sosok berdiri berdekatan, tiga hati berwarna merah. Ia memegang gambar itu erat-erat sebelum memejamkan mata, tersenyum kecil dalam kegelapan.

"Jangan khawatir, Bu," bisiknya pelan. "Aku akan menyatukan kita. Aku janji."

 

Sementara itu, di lantai teratas gedung Grup Lin, Lin Yicheng masih duduk di meja kerjanya, menatap tumpukan dokumen yang seolah tak pernah habis. Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas malam, tapi ia belum berniat pulang. Di tangannya ada sebuah pena emas yang berhenti bergerak di atas kertas — pikirannya melayang lagi, ke tempat yang sama, ke wajah yang sama.

Su Wan.

Ia tidak tahu mengapa nama itu terus muncul di kepalanya belakangan ini. Mungkin karena ia kembali ke kota ini. Mungkin karena udara sore kemarin terasa sama dengan lima tahun lalu. Mungkin karena ia kesepian — kesepian yang tidak bisa diisi oleh uang, kekuasaan, atau pekerjaan apa pun.

Yicheng meletakkan pena, berdiri, berjalan ke arah jendela besar, menatap kota yang sudah gelap, dipenuhi lampu-lampu yang berkelap-kelip seperti bumi langit. Ia bertanya-tanya — di mana kamu sekarang, Su Wan? Apakah kamu bahagia? Apakah kamu pernah memikirkan aku, seperti aku memikirkanmu setiap hari?

Ia tidak tahu bahwa takdir sudah menjawab pertanyaannya. Bahwa wanita yang ia cari selama lima tahun sudah kembali. Bahwa di antara mereka, ada seorang anak kecil yang sedang menyusun rencana — rencana yang akan mengubah segalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!