NovelToon NovelToon
Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:378
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.

Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16. Bayangan di Istana

Tiga bulan setelah Tang Hyun kembali dari ibu kota dengan status sebagai orang yang "dibebaskan karena kurang bukti", suasana di Klan Tang menjadi lebih sunyi dari biasanya, bukan karena tidak ada aktivitas, melainkan karena setiap orang berjalan lebih pelan, berbicara lebih hati-hati, dan menatap ke belakang setiap beberapa langkah, karena semua orang tahu bahwa ketika istana dan Sekte Iblis mulai bergerak di waktu yang bersamaan, maka yang berada di tengah, dalam hal ini Klan Tang, biasanya adalah orang pertama yang hancur berkeping-keping tanpa ada yang sempat bertanya siapa yang memulai.

Tang Hyun tidak diberi tugas membunuh selama tiga bulan itu, Tetua Ketiga secara pribadi melarangnya, dengan alasan bahwa "Anak Racun" sekarang terlalu terkenal untuk digunakan sebagai pisau tersembunyi, sehingga Tang Hyun menghabiskan waktunya di Paviliun Racun Dalam, membaca buku, menyuling racun baru, dan sesekali melatih murid-murid baru yang semuanya menatapnya dengan campuran hormat dan takut seperti menatap dewa dan iblis dalam satu tubuh.

Namun ketenangan itu pecah pada malam hari ke-89, ketika seekor burung pembawa pesan jatuh mati di halaman paviliun Tang Hyun, di kakinya ada tabung bambu kecil berisi surat yang tidak memiliki segel, tidak memiliki nama, dan hanya berisi empat kata yang ditulis dengan tinta merah: "Dia masih di sana."

Tang Hyun membakar surat itu dan tidak mengatakan apa-apa kepada siapa pun, tetapi malam itu dia tidak tidur, karena dia tahu siapa "dia" yang dimaksud, dalang di balik pembunuhan Menteri Wei Zhong, orang di dalam istana yang bekerja sama dengan Sekte Iblis dan yang hampir membuat Klan Tang dihancurkan.

Keesokan paginya dia menemui Tetua Ketiga dan Tang So-yeon di ruang rahasia, "Aku harus kembali ke Chang'an," katanya langsung.

"Tidak," jawab Tetua Ketiga cepat, "istana sedang mengawasi setiap gerakan Klan Tang. Jika kau muncul lagi, mereka akan menangkapmu."

"Maka aku tidak akan muncul sebagai Tang Hyun," jawab Tang Hyun, "aku akan muncul sebagai orang lain."

Tang So-yeon menatapnya lama, "Kau ingin menyelidiki sendiri?"

"Aku harus," jawab Tang Hyun, "karena jika kita menunggu, maka berikutnya yang mati bukan Menteri, tapi Ketua Klan."

Tetua Ketiga menghela napas panjang, "Tiga puluh hari. Jika dalam tiga puluh hari kau tidak kembali, maka aku akan menganggap kau mati dan akan membalas dendam ke istana."

Kesepakatan itu dibuat, dan tiga hari kemudian Tang Hyun pergi lagi, kali ini tanpa bendera Klan, tanpa pengawal, hanya dengan wajah baru yang dia buat dengan ramuan pengubah rupa yang dia racik sendiri, wajah seorang tabib tua berusia empat puluh tahun dengan janggut tipis dan mata lelah, identitas yang tidak akan menarik perhatian siapa pun di Chang'an.

Perjalanan ke ibu kota kali ini jauh lebih berbahaya, karena di setiap pos pemeriksaan ada poster dengan wajahnya yang lama, dan hadiah seribu tael emas masih berlaku bagi siapa pun yang bisa menangkap "Anak Racun Klan Tang", sehingga dia harus tidur di hutan, makan roti basi, dan menghindari kota besar selama dua puluh hari penuh.

Setibanya di Chang'an, dia tidak masuk melalui gerbang utama, melainkan melalui saluran air yang sama seperti saat melarikan diri dulu, dan dia langsung menuju distrik kumuh di selatan, tempat para pengemis, pencuri, dan informan berkumpul, karena di tempat seperti itu informasi dijual lebih murah daripada nasi.

Tiga hari dia habiskan hanya untuk mendengarkan, duduk di kedai teh murah, berpura-pura tuli dan pikun, dan dia mendengar banyak hal, tentang kenaikan harga garam, tentang putri selir yang akan menikah, dan tentang seorang pejabat tinggi bernama Wakil Menteri Li Shan yang baru saja dipromosikan setelah kematian Menteri Wei Zhong dan yang sekarang menguasai seluruh jalur perdagangan obat di utara.

"Li Shan," gumam Tang Hyun malam itu di kamar penginapan murah, "namanya tidak pernah muncul di laporan, tapi semua orang takut padanya."

Dia mulai mengikuti Li Shan, bukan secara langsung, karena itu bodoh, melainkan dengan menyamar sebagai pelayan tua di rumah majikan salah satu pelayan Li Shan, sebuah pekerjaan yang dia dapatkan dengan meracuni majikan sebelumnya agar dipecat dan posisinya kosong.

Selama dua minggu dia bekerja di dapur, mencuci piring, menyapu lantai, dan mendengarkan setiap percakapan, dan dia menemukan pola yang aneh, setiap hari ketujuh, Li Shan akan keluar larut malam, tanpa pengawal, dengan kereta sederhana, dan pergi ke sebuah kuil terbengkalai di luar kota.

Kuil itu disebut Kuil Dewa Tanpa Nama, sudah lama ditinggalkan, dan di siang hari tidak ada siapa-siapa di sana, tetapi di malam hari, ketika bulan purnama, ada lampion merah yang menyala di dalamnya.

Tang Hyun mengikuti pada malam hari ketujuh, bersembunyi di balik pohon, dan dia melihat Li Shan masuk ke dalam kuil, dan lima menit kemudian, masuklah tiga orang bertopeng hitam, pakaian mereka sama dengan pakaian "Jari Besi" Han Luo, pembunuh dari Sekte Iblis.

Mereka berbicara selama satu jam, dan meskipun Tang Hyun tidak bisa mendengar jelas, dia bisa melihat Li Shan menyerahkan sebuah kotak kecil dan menerima sebuah kantong uang, transaksi yang jelas-jelas bukan transaksi resmi pemerintah.

"Kerja sama," bisik Tang Hyun, "jadi ini dalangnya."

Dia seharusnya langsung kembali ke Klan dan melapor, tetapi sebelum dia bisa pergi, dia melihat satu orang lagi keluar dari balik kuil, seorang wanita berpakaian putih, dan jantung Tang Hyun hampir berhenti karena wanita itu adalah Baek Seolhwa.

Baek Seolhwa tidak ikut berbicara, dia hanya berdiri di luar, berjaga, dan ketika pertemuan selesai, dia mengawal Li Shan kembali ke kota, tetap dalam jarak yang aman.

Tang Hyun bingung, marah, dan terluka, karena dia tidak percaya bahwa Baek Seolhwa, orang yang menyelamatkannya di pengadilan, adalah mata-mata Sekte Iblis, sehingga dia memutuskan untuk mengikutinya secara pribadi malam berikutnya.

Dan malam itu dia menemukan sesuatu yang lebih mengejutkan, Baek Seolhwa tidak masuk ke markas Sekte Iblis, melainkan ke sebuah rumah kecil di distrik timur, rumah yang dijaga oleh dua murid Emei, dan di dalamnya ada seorang anak kecil berusia sekitar delapan tahun yang terbaring sakit, wajahnya pucat dan tubuhnya penuh ruam ungu, tanda keracunan.

"Adikku," bisik Baek Seolhwa sambil memberi anak itu obat, "maafkan kakak. Kakak melakukan ini agar kau bisa hidup."

Tang Hyun mengerti saat itu juga, Baek Seolhwa diperas, Sekte Iblis menculik adiknya dan mengancam akan membunuhnya jika Baek Seolhwa tidak membantu mereka, dan itulah kenapa dia berada di sana malam itu.

Tang Hyun tidak muncul, dia hanya meninggalkan sebuah botol kecil di depan pintu rumah itu, botol berisi penawar untuk racun yang diderita adik Baek Seolhwa, racun yang hanya bisa dibuat oleh Klan Tang, dan dia menulis di selembar kertas: "Minumkan ini. Jangan percaya siapa pun. -T"

Keesokan paginya, anak itu sembuh, dan Baek Seolhwa tahu siapa yang menolongnya, karena hanya ada satu orang yang bisa membuat penawar itu.

Tiga hari kemudian, Baek Seolhwa mengirim pesan melalui burung, pesan yang hanya berisi alamat dan waktu: "Tengah malam. Kuil Dewa Tanpa Nama. Datang sendiri."

Tang Hyun datang, dan Baek Seolhwa sudah menunggu di dalam, tanpa pedang, tanpa pengawal.

"Kau," kata Baek Seolhwa, "kenapa kau menolongku?"

"Karena aku tidak ingin adikmu mati karena urusan orang dewasa," jawab Tang Hyun.

Baek Seolhwa terdiam, lalu dia berlutut, "Aku minta maaf. Aku berbohong padamu. Aku dipaksa."

"Aku tahu," kata Tang Hyun, "aku sudah melihatnya."

Baek Seolhwa mengangkat kepala, matanya merah, "Li Shan adalah dalangnya. Dia yang memerintahkan pembunuhan Menteri Wei. Dia bekerja sama dengan Sekte Iblis karena dia ingin menguasai perdagangan obat dan menyalahkan Klan Tang agar bisa mengambil alih semua bisnis kalian."

"Kenapa kau memberitahuku ini sekarang?"

"Karena adikku sudah sembuh," jawab Baek Seolhwa, "dan karena aku tidak bisa hidup dengan rasa bersalah lagi."

Tang Hyun mengangguk, "Bantu aku membuktikan ini. Kita butuh bukti."

Mereka bekerja sama selama sepuluh hari, Baek Seolhwa mencuri dokumen dari rumah Li Shan, sementara Tang Hyun menyusup dan menaruh racun pelacak di tinta segel resmi Li Shan, racun yang akan meninggalkan bekas di tangan siapa pun yang menyentuhnya selama tujuh hari.

Pada hari kesepuluh, mereka punya cukup bukti, surat perjanjian antara Li Shan dan Sekte Iblis, cap resmi, dan juga catatan pembayaran, dan Tang Hyun menyelundupkan semua itu keluar kota melalui pedagang yang dia kenal.

Dia mengirim bukti itu ke Klan Tang, dan Tetua Ketiga langsung mengirim utusan ke istana, bukan untuk menuntut, melainkan untuk "memberi informasi" kepada Putri Mahkota, yang ternyata diam-diam sudah membenci Li Shan karena dia korupsi.

Tiga hari kemudian, Li Shan ditangkap di tengah rapat istana, dan ketika tangannya diperiksa, tangannya berwarna ungu, bekas racun pelacak Tang Hyun, dan tidak ada yang bisa membelanya.

Li Shan dieksekusi satu minggu kemudian, dan kasus pembunuhan Menteri Wei resmi ditutup, dengan pernyataan bahwa itu adalah konspirasi pejabat korup dan Sekte Iblis, bukan Klan Tang.

Berita itu sampai ke Klan Tang, dan seluruh klan bersorak, karena untuk pertama kalinya dalam seratus tahun, Klan Tang menang melawan istana tanpa harus membunuh satu pun pejabat tinggi secara langsung.

Tang Hyun kembali ke Klan dua hari setelah eksekusi, dan dia disambut seperti pahlawan, tetapi dia tidak merasa seperti pahlawan, dia merasa lelah.

Malam kepulangannya, Baek Seolhwa datang diam-diam ke tembok luar Klan Tang dan menemuinya.

"Terima kasih," kata Baek Seolhwa.

"Jangan berterima kasih," jawab Tang Hyun, "kau yang menyelamatkanku dulu."

Baek Seolhwa tersenyum tipis, "Adikku sudah sehat. Dia bertanya tentang paman tabib yang memberinya obat."

Tang Hyun tidak menjawab, dia hanya menatap bulan.

"Kau akan baik-baik saja?" tanya Baek Seolhwa.

"Aku tidak tahu," jawab Tang Hyun jujur, "tapi aku akan mencoba."

Baek Seolhwa mengangguk, "Jaga dirimu. Jianghu ini kejam."

Dia pergi, dan Tang Hyun kembali ke paviliunnya.

Setibanya di kamar, Tetua Ketiga sudah menunggu.

"Kau melakukan pekerjaan yang baik," kata Tetua Ketiga, "tapi kau juga membuat musuh baru. Sekte Iblis tidak akan melupakan ini."

"Aku tahu," jawab Tang Hyun.

"Mulai sekarang, kau bukan lagi Tangan Bayangan," lanjut Tetua Ketiga, "kau adalah Pedang Klan Tang. Pedang yang terlihat, bukan yang tersembunyi."

Itu adalah promosi tertinggi untuk seorang murid, dan artinya mulai sekarang setiap gerakannya akan diawasi, setiap keputusannya akan dipertanyakan, dan setiap musuhnya akan menargetkannya secara langsung.

Tang Hyun menerima itu tanpa ekspresi.

Malam itu, dia duduk di atap lagi, dan Tang So-yeon datang seperti biasa.

"Kau berhasil," kata Tang So-yeon.

"Ya," jawab Tang Hyun.

"Kau terlihat berbeda," kata Tang So-yeon, "lebih... tua."

Tang Hyun tertawa kecil, "Mungkin karena aku akhirnya tahu siapa musuhku."

"Dan siapa?"

"Dunia ini," jawab Tang Hyun, "dunia yang membuat anak kecil harus sakit agar kakaknya mau berkhianat, dan membuat orang harus membunuh agar bisa hidup."

Tang So-yeon tidak menjawab, dia hanya menuangkan teh untuk mereka berdua.

Mereka duduk diam sampai fajar, dan ketika matahari terbit, Tang Hyun berdiri.

"Ada tugas baru?" tanyanya.

"Ada," jawab Tang So-yeon, "Sekte Iblis mengirim surat tantangan. Mereka ingin duel terbuka, satu lawan satu, di Lembah Setan, satu bulan dari sekarang."

"Siapa lawannya?"

"'Jari Besi' Han Luo."

Tang Hyun mengangguk, "Aku terima."

"Kenapa?" tanya Tang So-yeon.

"Karena kalau aku tidak membunuhnya sekarang, maka dia akan membunuh orang lain nanti," jawab Tang Hyun, "dan juga karena... aku ingin tahu seberapa kuat aku sekarang."

Tang So-yeon tidak membantah, karena dia tahu bahwa Tang Hyun yang sekarang bukan lagi Gu Cheol yang dulu, dia adalah Tang Hyun, Pedang Klan Tang, dan pedang tidak punya pilihan selain menebas ketika dihunus.

Malam itu, Tang Hyun menulis di buku catatannya: "Aku membunuh untuk bertahan hidup. Aku bertahan hidup untuk membunuh. Dan di antara itu, aku mencoba untuk tetap menjadi manusia."

Dia menutup buku itu dan meletakkannya di bawah bantal, lalu dia tidur, dan untuk pertama kalinya dalam setahun, dia tidak bermimpi tentang darah.

Karena mimpi buruk yang sebenarnya sudah menjadi kenyataan, dan kenyataan itu adalah dirinya sendiri.

1
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
Mengesankan... 🤗
Oppojaya
👍👍👍👍
Arni Arlinawati Pratiwi💃
punya banyak dendam thor.. mc nya di bikin kesiksa dulu, lanjutan nya balas dendam.. kebiasaan author urban nih, sekali kali ada cinta cinta an nya thor kasian mc nya taku metong gak ngerasaain mencintai seseorang.. kan sian. /Facepalm/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
baru aja masuk thor.. tiba tiba nyesek, /Facepalm/
Chandra Arbara
seorang pemuda yang terlehir kembali, untuk menjadi seseorang yang layak berdiri didunia murim
the virtuso
saling support thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!