[Bukan Novel Terjemahan] [Original Karya Penulis]
Seorang mahasiswa melakukan penelitian di hutan, saat dia merasuk lebih dalam ke jantung hutan, dia menemukan sebuah lubang hitam besar. Karena rasa penasaran dia mendekat ke arahnya. Namun, siapa sangka dia akan terseret ke dalam.
Seorang gadis yang dianggap terkenal lemah berencana bunuh diri saat tau akan menggantikan kakak tirinya untuk dinikahkan dengan pangeran yang terkenal gila di seluruh kekaisaran.
***
Bagaimana jika mahasiswa itu menggantikan sang gadis untuk menikah? Akankah mereka berdua bekerja sama untuk balas dendam karena kemiripan wajah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 : Pertarungan
Suara desisan kesakitan dari serigala liar yang berguling-guling di tanah perlahan-lahan melemah, menyisakan keheningan yang jauh lebih pekat di halaman utama Kediaman Pangeran Kelima. Para pengawal istana barat masih berdiri kaku di tempat mereka, menatap Fang Hua dengan campuran rasa terkejut dan kewaspadaan tingkat tinggi. Tidak ada lagi yang memandang remeh pengantin wanita itu.
Wang Yiche menurunkan tangannya perlahan. Pria bertopeng perak itu berbalik badan tanpa menghiraukan binatang peliharaannya yang sedang merintih, lalu mengayunkan jubah hitamnya dengan tegas.
"Bawa mereka berdua ke paviliun timur," titah Wang Yiche dengan suara bariton yang dingin, memberikan perintah kepada kepala pengawal yang berdiri tidak jauh darinya. "Dan pastikan tidak ada pelayan malas yang berani mendekati tempat itu tanpa izinku."
"Baik, Yang Mulia!" seru kepala pengawal itu patuh.
Dua orang pengawal bertubuh tegap segera melangkah maju, memberi isyarat kaku agar Fang Hua dan Luo Huanran mengikuti mereka. Fang Hua tidak melawan. Ia merapikan lipatan gaun pengantin merahnya, lalu menoleh sekilas untuk memastikan Luo Huanran yang menyamar sebagai pelayan berada tepat di belakangnya.
Luo Huanran mengangguk kecil, meski napasnya masih memburu karena ketegangan luar biasa yang baru saja ia saksikan. Mereka berdua lantas berjalan berdampingan mengikuti arah langkah para pengawal menyusuri lorong-lorong batu yang tampak tua, suram, dan dipenuhi semak belukar.
Paviliun timur ternyata terletak di sudut paling sepi dari kompleks kediaman tersebut. Bangunannya berdiri kokoh dengan arsitektur kuno khas istana, namun kondisinya tampak sangat memprihatinkan karena tidak pernah dirawat selama bertahun-tahun. Cat kayunya sudah banyak yang mengelupas, dan jendelanya berdebu tebal.
"Ini tempat kalian," ucap salah seorang pengawal sambil mendorong pintu kayu besar itu hingga terbuka lebar, menimbulkan suara derit berkarat yang memekakkan telinga. "Jangan coba-coba keluar dari area paviliun ini setelah matahari terbenam, atau nyawa kalian taruhannya."
Bruk!
Pintu kayu itu dibanting tertutup dari luar, disusul suara kunci besar yang bergemerincing saat digembok rapat. Mereka kini resmi menjadi tahanan di dalam paviliun tua itu.
Luo Huanran langsung melangkah mundur hingga punggungnya membentur dinding kayu, lalu merosot pelan ke lantai karena lututnya sudah lemas seketika. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan debaran jantungnya yang masih menggila.
"Fang Hua... apa yang sebenarnya sedang kita lakukan?" cicit Luo Huanran dengan suara parau, menatap gadis di hadapannya dengan tatapan penuh kebingungan. "Kita baru saja menantang pangeran gila di hari pertama kedatangan kita. Bagaimana jika dia benar-benar membunuh kita malam ini?"
Fang Hua berjalan mendekat, lalu berjongkok di samping Luo Huanran untuk menyejajarkan posisi mereka. Ia membuka bungkusan kecil berisi kain bersih dan botol air yang sempat ia ambil dari tas ranselnya, lalu menyerahkannya kepada gadis penakut itu.
"Minumlah dulu, tenangkan dirimu," ucap Fang Hua dengan nada suara yang tenang dan meyakinkan.
Luo Huanran menerima air itu dengan tangan bergetar, meneguknya sedikit untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
"Kau pikir aku ingin mencari mati dengan melawannya di depan umum?" sambung Fang Hua sambil tersenyum tipis. Ia berdiri, lalu melangkah menyusuri setiap sudut ruangan paviliun yang luas namun kosong itu, mengamati celah-celah dinding dan struktur bangunannya dengan mata seorang peneliti. "Pangeran Kelima itu tidak segila seperti yang digambarkan oleh orang-orang di luar istana. Tatapan matanya jernih, dan gerakannya sangat terkontrol. Dia sengaja memasang topeng gila dan memelihara serigala buas untuk menjauhkan orang-orang istana agar tidak ada yang berani mengusik kehidupannya di tempat terpencil ini."
Mendengar analisa rasional itu, Luo Huanran mengerjap-ngerjap takjub. "Jadi... semua rumor tentang kegilaannya itu tidak benar?"
"Bisa jadi sebagian benar, tapi sebagian besar lainnya hanyalah bentuk pertahanan diri," balas Fang Hua mantap. Ia mengeluarkan beberapa peralatan kecil dari dalam tas ransel modernnya, mulai meracik formula pembersih sederhana untuk mengamankan area sekitar ruangan. "Dan justru di sinilah letak keuntungan kita. Orang-orang di istana pusat mengira mereka sedang membuang kita ke kandang monster. Padahal, kita sedang memegang kunci rahasia besar Pangeran Kelima."
Luo Huanran perlahan bangkit dari duduknya. Ketakutan di wajahnya mulai berangsur-angsur menipis, digantikan oleh rasa kagum yang amat sangat terhadap kecerdasan gadis dari abad 21 tersebut.
"Lalu, apa rencana kita selanjutnya?" tanya Luo Huanran, suaranya kini terdengar jauh lebih tegap.
Fang Hua berhenti meracik cairannya, lalu menoleh ke arah jendela usang yang memperlihatkan langit sore mulai berubah jingga kemerahan. Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringaian tajam penuh perhitungan.
"Mulai malam ini, kita tidak hanya bertahan hidup di istana barat ini," ucap Fang Hua dengan nada dingin yang sarat akan ambisi. "Kita akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Pangeran Kelima, memanfaatkan posisinya, dan menyiapkan serangan balik untuk menghancurkan Jenderal Luo serta Selir Qin yang sudah membuang kita."
Di luar paviliun timur, angin malam mulai bertiup kencang, membawa bayangan kelam menyelimuti seluruh sudut istana. Pertarungan sengit antar gadis dari dimensi 21 melawan orang dinasti akan segera dimulai. Yang menang akan tertawa diakhir, sementara yang kalah, akan berakhir di gantungan atau bahkan lebih menderita dati itu.
***
Happy Reading 🥰
Mohon dukungan untuk Like, Komen, dan Ikuti Penulis yah, terimakasih ❤️