Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Aturan yang Tak Tertulis
Kehidupan di Nexus Academy tidak lagi sekadar tentang mengikuti protokol yang tertera di handbook digital. Seminggu setelah orientasi, Atharva dan teman-temannya mulai merasakan adanya lapisan realitas lain sebuah peta ketakutan yang tidak digambar oleh instruktur, melainkan oleh para penghuni lama.
Di perpustakaan utama yang megah dengan rak-rak setinggi sepuluh meter, terdapat barisan kursi kayu ek di dekat jendela besar yang menghadap ke arah hutan simulasi. Secara teknis, kursi-kursi itu adalah area belajar paling nyaman dengan akses pencahayaan alami terbaik. Namun, kursi-kursi itu selalu kosong. Bahkan saat perpustakaan penuh sesak menjelang musim ujian, tidak ada satu pun siswa, baik angkatan baru maupun senior, yang berani mendaratkan diri di sana.
"Kenapa tidak ada yang duduk di sana?" bisik Dimas suatu siang, sambil menatap kursi-kursi kosong itu dengan bingung. "Itu tempat terbaik untuk membaca."
Beberapa siswa senior yang sedang duduk di meja seberang hanya melirik sekilas ke arah Dimas, lalu kembali fokus pada layar mereka dengan ekspresi datar yang kaku. Tidak ada yang menegur, tidak ada yang menjelaskan. Mereka hanya membuang muka, seolah-olah kursi itu tidak ada.
Kejadian yang sama terulang di koridor timur lantai tiga puluh dua. Jalur itu adalah rute terpendek menuju ruang kantin utama, namun setelah pukul sepuluh malam, koridor itu menjadi zona mati. Para siswa akan lebih memilih memutar jalan hingga sepuluh menit lebih lama daripada harus melintasi koridor tersebut.
Rasa penasaran Dimas akhirnya mencapai puncaknya pada suatu malam. Saat mereka baru saja kembali dari sesi latihan malam di ruang simulasi, Dimas melangkah dengan santai menuju koridor timur.
"Hei, tunggu," suara Farel memotong langkahnya, nadanya terdengar tegang. "Jangan lewat sana, Dimas."
"Kenapa? Ini hanya lorong," balas Dimas, namun langkahnya sedikit ragu. "Apa ada sensor alarm yang rusak di sana?"
Seorang siswa senior angkatan ketiga, dengan wajah yang tampak lelah dan sorot mata yang penuh kehati-hatian, berpapasan dengan mereka saat itu. Ia mendengar pertanyaan Dimas. Ia berhenti sejenak, menatap Dimas dengan senyum tipis yang terasa dingin dan tidak mencapai matanya. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya menepuk bahu Dimas dua kali dengan gerakan lambat, lalu melanjutkan langkahnya dengan terburu-buru, meninggalkan Dimas yang terpaku dengan perasaan tidak nyaman yang merayap di tengkuknya.
"Mereka tidak akan memberitahumu," bisik Atharva yang sedari tadi mengamati dari balik bayang-bayang pilar koridor. "Di Nexus, ada informasi yang dianggap sebagai 'beban'. Jika kau tahu terlalu banyak tentang apa yang terjadi di tempat-tempat itu, kau secara otomatis menjadi bagian dari pengawasan khusus sistem."
"Maksudmu, ada sesuatu yang disembunyikan di sana?" tanya Dimas, suaranya kini merendah.
"Atau mungkin," sahut Keisya yang baru saja bergabung, "sesuatu yang pernah terjadi di sana tidak pernah benar-benar berakhir."
Mereka semua terdiam. Di Nexus Academy, aturan tidak tertulis ini adalah mekanisme pertahanan diri yang diturunkan antar-angkatan. Itu adalah bentuk pengakuan kolektif bahwa ada bagian dari sekolah ini yang berada di luar kendali algoritma NRS, atau justru bagian yang dikendalikan oleh sesuatu yang lebih gelap dari sekadar kode program.
Malam itu, saat mereka kembali ke asrama, Atharva menyadari bahwa papan skor NRS di koridor tidak lagi hanya menampilkan angka. Di pojok kiri bawah layar, muncul baris kode kecil yang tidak pernah ia lihat sebelumnya: [Area_Restrict_Protocol: Active].
Ia menatap koridor timur yang kini gelap gulita dari balik kaca asramanya. Ia tidak melihat hantu atau sesuatu yang supranatural. Namun, ia melihat lampu kamera pengawas di sana berkedip dengan pola yang sangat tidak biasa pola ritmik yang menyerupai detak jantung manusia.
"Kita tidak perlu masuk ke sana untuk tahu," gumam Atharva pada dirinya sendiri. "Sistem itu sendiri yang menjaga area-area itu agar tidak tersentuh. Bukan karena ada bahaya di sana, tapi karena di sanalah 'sejarah' yang sebenarnya disimpan."
Di Nexus, aturan tak tertulis adalah pagar pembatas. Bagi kebanyakan siswa, itu adalah tanda untuk menjauh. Namun bagi Atharva, itu adalah penanda lokasi yang paling layak untuk diselidiki. Karena jika ada tempat di mana sistem merasa perlu untuk menakut-nakuti orang agar tidak datang, maka di sanalah kelemahan terbesar sistem itu berada.
...****************...
Keesokan harinya, kepatuhan buta terhadap aturan tak tertulis itu mulai terasa menyesakkan bagi Atharva. Ia memperhatikan bagaimana para siswa senior yang biasanya sombong akan membuang muka atau mematikan lencana mereka jika tidak sengaja melintas di dekat zona terlarang. Itu bukan sekadar ketakutan akan eliminasi; itu adalah ketakutan akan keberadaan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh data statistik.
Saat jam istirahat, Atharva sengaja memperlambat langkahnya di depan pintu masuk koridor timur. Ia berpura-pura sedang memeriksa lencana biometriknya, namun matanya terus mengamati sudut-sudut langit-langit.
"Kau sedang mencoba mencari pola?"
Suara itu datang dari belakang. Atharva tidak perlu menoleh untuk mengetahui itu adalah Celine. Gadis itu berdiri dengan tangan bersedekap, menatap koridor timur dengan sorot mata yang penuh kalkulasi, bukan ketakutan.
"Sistem menghapus jejak digital Alvaro," jawab Atharva pelan, matanya tidak lepas dari lampu kamera yang berkedip di ujung lorong. "Namun, mereka tidak bisa menghapus ketakutan manusia. Ketakutan itu sendiri menjadi penjaga yang lebih efektif daripada gerbang besi mana pun."
Celine melangkah mendekat, berdiri di samping Atharva. "Senior-senior itu tidak takut pada apa yang ada di balik koridor. Mereka takut pada apa yang terjadi jika mereka mengakui bahwa mereka tahu apa yang ada di sana. Di Nexus, menjadi saksi mata adalah bentuk pelanggaran integritas tertinggi."
"Lalu kenapa kau masih di sini, Celine?" tanya Atharva, menatapnya tajam.
Celine tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang ia tunjukkan. "Karena aku benci ketika orang lain mencoba membatasi rasa ingin tahuku. Jika sistem ingin kita menghindari tempat ini, maka tempat inilah satu-satunya area yang tidak terawasi secara penuh oleh algoritma utama."
Tanpa peringatan, Celine melangkah maju, melewati garis pembatas koridor timur. Ia tidak berbisik, tidak juga berjingkat. Ia berjalan dengan tenang ke tengah lorong yang dianggap terkutuk itu.
Atharva merasakan detak jantungnya meningkat. Ia mengikuti langkah Celine, masuk ke dalam area yang jarang terjamah itu. Udara di sini terasa lebih dingin, dengan aroma ozon yang menyengat tanda dari mesin pendingin raksasa yang bekerja di balik dinding beton.
Saat mereka semakin jauh ke dalam koridor, pemandangan berubah. Dinding-dindingnya bukan lagi beton putih mulus, melainkan tumpukan kabel fiber optik yang berdenyut dengan cahaya biru pucat, seolah-olah koridor itu sendiri adalah bagian dari saraf pusat sekolah.
"Lihat," bisik Celine, menunjuk ke arah lantai.
Di sana, debu tebal yang menutupi lantai telah terhapus oleh jejak kaki yang sangat baru jejak kaki yang tidak mungkin milik seorang siswa, melainkan jejak sepatu bot berat yang digunakan oleh para instruktur senior.
"Mereka tidak sedang menjaga tempat ini agar kita tidak masuk," gumam Atharva, menyadari kebenaran yang mengerikan. "Mereka sedang menjaga agar sesuatu yang ada di sini tidak keluar."
Tiba-tiba, suara dengung dari dinding-dinding itu berhenti total. Lampu-lampu biru yang tadinya berdenyut mati seketika, menyisakan kegelapan total. Suasana hening yang mencekam menyelimuti mereka, namun di tengah kesunyian itu, Atharva mendengar suara gesekan logam di balik dinding suara langkah kaki yang berat, mendekat ke arah mereka dari balik kegelapan.
Ini bukan sekadar aturan tak tertulis. Ini adalah perbatasan antara simulasi yang mereka jalani dan realitas yang selama ini disembunyikan oleh Profesor Adrian. Atharva dan Celine berdiri mematung, menyadari bahwa mereka baru saja melanggar satu-satunya aturan yang benar-benar harus dipatuhi di Nexus Academy: Jangan pernah mencari tahu apa yang tersembunyi di balik kegelapan.