Hamida, 25 tahun, kehilangan putra semata wayangnya, Harapan, yang meninggal pada usia delapan tahun.
Konon, tidak ada sebutan bagi orang tua yang kehilangan anaknya. Sebab duka itu begitu besar hingga tak mampu diwakili oleh satu kata pun. Bagi Hamida, kepergian Harapan meninggalkan kehampaan yang tak pernah bisa diisi kembali.
Namun, luka itu menjadi semakin dalam ketika kematian Harapan yang penuh kejanggalan justru dinyatakan sebagai kecelakaan. Kebenaran diputarbalikkan karena pelaku adalah anak dari seorang tokoh berpengaruh yang memiliki kekuasaan dan mampu membungkam banyak orang.
Di tengah tekanan, ancaman, dan berbagai upaya untuk menghentikannya, Hamida memilih untuk tidak menyerah. Dengan didampingi seorang pengacara muda idealis bernama Afandi Harahap, ia berjuang mengungkap kebenaran dan menuntut keadilan bagi putranya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Setelah semua yang terjadi, Mida tidak lagi berharap banyak dari kehidupan. Ia berhenti memikirkan harta yang pernah dimiliki keluarganya. Ia juga berhenti mengharapkan Joni kembali atau menyesali masa lalu yang telah menghancurkan rumah tangganya. Baginya, semua itu telah selesai. Yang ia miliki kini hanyalah sebuah gubuk sederhana di atas tanah peninggalan orang tuanya dan seorang putra kecil bernama Harapan. Itu sudah lebih dari cukup.
Setiap pagi Mida berangkat bekerja ke pabrik tahu, lalu pulang menjelang sore. Upahnya tak seberapa, tetapi selalu diusahakannya agar Harapan tidak kekurangan makan dan tetap bisa bersekolah.
Malam hari, mereka makan bersama dengan lauk sederhana. Sesekali Harapan bercerita tentang sekolah, teman-temannya, atau gambar yang baru saja ia buat. Mida selalu mendengarkan dengan senyum yang tulus, seolah semua lelahnya menghilang hanya dengan melihat putranya tertawa.
Harapan bukan sekadar anak bagi Mida. Ia adalah alasan Mida tetap bertahan setelah kehilangan orang tua, setelah dikhianati suami, diusir dari rumah yang dulu menjadi miliknya, dan menjalani hidup dalam serba kekurangan.
Selama Harapan masih ada di sisinya, Mida merasa dirinya masih memiliki segalanya. Ia tidak iri melihat orang lain hidup berkecukupan. Ia tidak lagi mengejar kemewahan. Baginya, hidup sederhana bersama Harapan sudah merupakan kebahagiaan yang utuh. Karena itulah, ketika Harapan direnggut darinya, bukan hanya seorang anak yang hilang.
Seluruh dunia Mida ikut runtuh. Semua alasan yang selama ini membuatnya tetap kuat seakan lenyap dalam sekejap. Sejak hari itu, yang membuatnya terus melangkah bukan lagi harapan untuk hidup lebih bahagia, melainkan tekad untuk menuntut keadilan bagi anak yang menjadi satu-satunya cahaya dalam hidupnya.
Jangan dipertanyakan apalagi dikatakan bodoh, sikap Mida yang menurut saja terhadap keluarga mantan suaminya. Kalau sudah berhadapan dengan orang manipulatif, siapapun kadang bisa menjadi bodoh. Apalagi Mida yang penurut, ia mengira keluarga bibinya adalah yang akan menjaganya sepeninggalan orang tuanya.
Sejak perceraian itu, Joni nyaris tak pernah hadir dalam kehidupan Harapan. Ia tidak memberikan nafkah. Tidak pula datang menjenguk atau sekadar menanyakan kabar putranya.
Mida sebenarnya mengetahui bahwa sebagai ayah, Joni memiliki tanggung jawab terhadap Harapan. Namun, ia memilih untuk tidak menuntut apa pun. Bukan karena merasa semuanya baik-baik saja, melainkan karena ia sudah terlalu lelah dengan pertengkaran dan kekecewaan. Ia memilih bekerja lebih keras demi menghidupi anaknya.
Baginya, selama ia masih mampu mencari nafkah dengan tangannya sendiri, ia akan berusaha mencukupi kebutuhan Harapan tanpa harus memohon kepada orang yang tak lagi peduli. Mida hanya memiliki satu harapan sederhana. "Jangan usik hidup kami." Biarkan ia bekerja. Biarkan Harapan tumbuh dengan tenang. Biarkan mereka menjalani hidup sederhana di gubuk kecil itu tanpa gangguan siapa pun.
Mida tidak meminta rumah yang pernah menjadi milik orang tuanya kembali. Ia tidak meminta harta. Ia tidak meminta belas kasihan. Ia hanya ingin hidup damai bersama putra semata wayangnya. Namun, bahkan harapan sederhana itu pun akhirnya direnggut darinya.
Kini, setelah Harapan tiada, Mida tidak lagi memperjuangkan harta, nafkah, ataupun masa lalunya. Yang ia perjuangkan hanya satu, kebenaran tentang kematian anaknya. Sebab baginya, itulah satu-satunya bentuk bakti terakhir yang masih bisa ia berikan sebagai seorang ibu.
Sebenarnya, setelah perceraian, bukan berarti tak ada laki-laki yang ingin mempersunting Mida. Beberapa orang pernah datang dengan niat baik, berharap dapat membangun rumah tangga bersamanya. Namun, setiap kali ada yang mencoba mendekat, selalu saja ada hal yang membuat rencana itu gagal.
Sebagai keluarga yang selama ini menjadi walinya, keluarga mantan suaminya kerap ikut campur. Dengan berbagai alasan, mereka berusaha menghalangi setiap lamaran yang datang hingga satu per satu para pelamar memilih mundur.
Mida tidak pernah tahu secara pasti apa yang dibicarakan kepada mereka. Yang ia tahu, setiap harapan untuk memulai hidup baru selalu berakhir sebelum benar-benar dimulai.
Lambat laun, Mida memilih berhenti memikirkan pernikahan. Baginya, Harapan sudah lebih dari cukup untuk mengisi hidupnya. Di dalam hatinya, Mida tak dapat mengusir sebuah dugaan. Ia merasa keluarga mantan suaminya tidak menginginkan ada orang lain yang kelak mendampinginya dan mendorongnya mempertanyakan kembali harta peninggalan kedua orang tuanya.
Kini, dari seluruh harta itu, yang masih tersisa hanyalah rumah peninggalan orang tuanya. Sementara aset-aset lain telah lama berpindah tangan dan habis. Mida meyakini sebagian besar kekayaan keluarganya lenyap selama dikuasai oleh Joni, yang dikenal sering menghamburkan uang untuk berjudi dan berfoya-foya. Namun, Mida memilih menutup mata terhadap semua itu. Ia tidak ingin berperkara soal harta. Ia tidak ingin merebut kembali apa yang telah hilang.
Selama masih bisa bekerja dan membesarkan Harapan dengan tenang, ia merasa hidupnya sudah cukup. Harta bisa dicari, rumah bisa dibangun kembali, tetapi kedamaian bersama anaknya jauh lebih berharga daripada semua warisan yang pernah dimilikinya.
***
Beberapa hari setelah laporan resmi diterima, sebuah mobil berhenti di depan gubuk Mida. Beberapa orang turun dari kendaraan itu. Di antara mereka ada anggota kepolisian dan beberapa pejabat daerah yang datang untuk menemui Mida.
Setelah berbincang sejenak, salah seorang di antara mereka menyampaikan maksud kedatangannya. "Bu Mida, kami memahami keinginan Ibu mencari keadilan untuk Harapan. Kami akan membantu menangani perkara ini. Ibu tidak perlu lagi menggunakan pengacara. Serahkan saja prosesnya kepada kami."
Mida terdiam, lalu kembali menatap para tamunya. Dengan sopan, ia menjawab, "Terima kasih atas niat baik Bapak dan Ibu. Tapi saya sudah memberikan kuasa kepada Pak Fandi. Saya ingin beliau tetap mendampingi saya."
Salah seorang dari mereka mencoba meyakinkan kembali. "Tidak perlu mengeluarkan tenaga dan pikiran lagi, Bu. Percayakan saja kepada kami."
Mida menggeleng pelan. "Maaf. Saya sudah terlalu sering berharap, lalu pulang dengan tangan kosong. Kali ini saya ingin tetap didampingi kuasa hukum saya."
Suasana sempat hening. Melihat pendirian Mida yang tidak berubah, rombongan itu akhirnya berpamitan. Setelah mereka pergi, Kak Dewi yang sedari tadi memperhatikan dari dalam rumah menghampiri Mida. Wajahnya tampak serius. "Mid... mulai sekarang kalian harus lebih hati-hati."
Mida mengangguk pelan.
Kak Dewi melanjutkan, "Pokoknya, apa pun langkah kalian, jangan diberitahukan kepada siapa pun. Jangan mudah percaya. Kalau memang mau mencari keadilan, biarkan hanya kalian yang tahu strategi kalian." Ia menggenggam tangan Mida erat-erat. "Kau harus kuat pendirian demi anakmu. Perjalanan ini masih panjang. Jangan sampai goyah hanya karena bujukan atau tekanan dari siapa pun."
Mida menatap sahabatnya sekaligus orang yang memberikan pekerjaan untuknya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia mengangguk mantap. Sejak hari itu, Mida dan Fandi sepakat untuk lebih berhati-hati. Mereka tidak lagi menceritakan setiap perkembangan penyelidikan kepada orang lain. Yang mereka inginkan hanya satu, memastikan setiap langkah yang diambil benar-benar mengarah pada terungkapnya kebenaran tentang kematian Harapan.