Helena berjuang untuk mendapat hati Edgar, tetangganya. Mencuri perhatian saat pria itu menjadi dosen tamu di kampus, bertingkah lucu saat weekend, atau mencoba melakukan segala cara agar bisa berbicara dengan pria itu.
Apakah Edgar akan luluh?,
Tapi, kenyataan pahit harus diterima Helena. Saat mengetahui bahwa Edgar adalah mantan ibunya.
Bagaimanakah Helena menata Hati saat merelakan Edgar menikahi ibunya.
Helena memilih kuliah di luar negeri, sampai suatu saat kembali...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sweet and dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Helena dibangunkan oleh dering ponselnya
"Mama?? " Gumamnya mendapati mamanya telah menghubungi sebanyak 3 kali
"Helena, ini udah jam 10.00 a. m. Kamu udah sarapan" tanya. Helena.
Mamanya tidak melakukan Video call jadi Mamnya tidak bisa melihat bahwa Helena masihh berada di atas tempat tidur. Temperatur kamarnya terasa panas karena AC masih mode tidur. alias 24 derajat.
Helena menggapai remote AC dan mengaturnya menjadi 18 derajat Celsius.
"Helena baru mau sarapan ma, ini mau turun ke dapur" Jawab Helena mengucek-ngucek matanya.
"Ma Stok dapur udah mulai habis. Helena kayaknya perlu belanja dech" ucap Helena.
Hari ini awal bulan, biasanya mereka berdua akan ke Toko Swalayan.
"Mama transfer uangnya kalau gitu, ajak Dila aja buat temenin Belanja" Kata mamanya
"Iya ma, nanti Helena ajak Dila" jawab Dila tersenyum.
Sandra mengakhiri panggilan telephone. Tak lama setelah itu, Helena menerima notifikasi dari aplikasi M-Banking yang telah di transfer oleh Sandra untuk belanja stok di kulkas dan keperluan dapur. Juga Jajan dan kebutuhan Helena.
Sandra membiasakan Helena untuk belajar manage uang bulanannya sendiri. Helena juga memiliki tabungan sejak TK, hingga Kuliah.
Di Belanda
Saat ini Sandra melakukan pertemuan dengan pengacara Bram Xavier. Pertemuan berlangsung di salah satu kantor firma hukum, untuk menjaga kerahasiaan klien.
Mereka akan membahas tentang Erfrech, istilah hukum waris dalam di Belanda. Pengacara itu bernama Willem Hendrik.
"Welcom Mom, saya Willem Hendrik. Pengacara Mr Bram Xavier" Pengacara itu memperkenalkan dirinya, sembari mengulurkan tangan.
Pria berwaha Belanda itu tampak rapi dengan setelah khas pengacara, kemeja dan celana bahan resmi serta jas hitam. Wangi pria itu begitu mahal, memenuhi ruangan itu.
"Terimakasih Mr Willem Hendrik" jawab Sarah.
Wajah wanita itu, tampak kelelahan. Kemarin begitu sampai ke Belanda Pukul 17.00 , tubuhnya ambruk begitu sampai hotel. Dia meminum vitamin untuk memulihkan kondisi fisiknya. Saat malam barulah ia menghubungi Helena menanyakan kabar gadis itu.
Pengacara itu, memberikan salinan berupa hard file pada Sandra. Lalu pria itu mulai menyampaikan mulai dari subjek waris.
"Mr Bram Xavier memiliki ahli waris bernama Helena Xavier. Mom Sandra adalah wali dari Helena Xavier" Ucap Willem Hendrik, Sandra tampak tenang memberikan anggukan.
"Mr Bram Xavier memiliki beberapa aset di Belanda. Sedangkan untuk aset di luar negri kami tunduk pada asas hukum perdata internasional 'Lex rei sitae', sesuai dengan hukum negara tempat aset Mr Bram Xavier berada"
Ya, Helena adalah ahli waris Bram satu-satunya. Semenjak menikah dengan Sandra, Bram memutuskan tak melakulan hubungan layaknya suami istri dengan Sandra. Merasa hubungan ini tak berjalan, keduanya sepakat untuk bercerai. Helena ia percayakan pada Sandra, saat Bram memutuskan untuk ke Belanda.
"Mom.. " Pengacara itu berhenti menjelaskan saat Sandra terlihat kurang fokus, tatapan matanya kosong.
Lalu, Sandra kembali tersadar dari lamunan nya tentang pria itu. Ia sungguh menyesal tak bisa memberikan hatinya pada Bram, padahal pria itu telah sabar menunggu Sandra untuk membalas cintanya. Benar bahwa Bram mulai mencintai Sandra. Kasih sayang Sandra pada Helena meluluhkan hatinya yang sempat hancur ditinggal oleh mamanya Helena.
Setidaknya jika ia membalas cinta pria itu. Lelaki itu akan bersama mereka saat ini, setidaknya tidak akan bunuh diri.
Pengacara Willem Hendrik menjelaskan Objek waris. Diantaranya Loyalti beberapa novel karya
Bram Xavier yang populer, Aset Investasi di perusahaan teknologi terkenal di dunia, dan sebuah rumah di pedesaan Belanda yang asri.
Sandra pergi ke Belanda tak sendiri, salah satu sekretaris yang ahli urusan financial. Dia Gina, wanita paruh baya yang setia pada Bram sejak lama. Dia teman kuliah Bram dulu, dia juga tahu bagaimana Sandra bisa menikah dengan Bram.
Setelah pertemuan itu, Sandra dan Gina ke restaurant untuk lunch.
"Saya pesan appletart, Hache and lemon juice" Sandra menyebutkan pesanan pada pelayan lelaki yang muda berperawakan bule.
"I'm choose steak, medium. And wine" Ucap Gina
"the best wine" balas Gina dengann senyuman.
"Gina,.. really" respon Sandra tak percaya
"Kita sudah di Belanda, I mean. Kamu terlihat kelelahan. Kamu butuh tenaga dan the best wine" balas Gina berusaha menghibur Sandra.
Sandra biasanya melepas stres dengan minum. Helena tak mengetahui kebiasaan Sandra. Wanita itu kuat urusan mabuk, sungguh aneh saat waktu lalu dia mabuk lalu diantar Alex.
Mereka berbincang ringan mengenai Belanda, dan lainnya. Inilah kali kedua bagi Sandra ke Belanda, kali pertama saat bersama Edgar menemui keluarga pria itu.
Gina dan Sandra menuju ke sebuah pedesaan di Belanda, butuh waktu kurang lebih dua jam. Mereka mendapat alamat nya dari pengacara Willem.
Sandra dapat kabar bahwa Bram meninggal. Tapi ita tak tahu kapan tepatnya Bram meninggal bunuh diri, info yang ia dapat dari sekretaris barunya Mega,. Ditambah lagi bahwa Helena selalu menerima video lelaki itu setiap akhir bulan juga berbalas chat saat akhir bulan. Saat pertemuannya dengan Willem Hendrik barulah dia mendapati fakta bahwa Willem meninggal karena punya riwayat penyakit tumor otak.
Selain surat wasiat, Bram juga menuliskan bahwa dirinya telah menyiapkan video untuk diberikan ke Helena setiap akhir bulan. Yang akan dikirim otomatis ke e-mail Helena. Benar memang setahu Sandra Helena juga menerima video dari ayahnya tapi melalui pesan chat, bukan e-mail. Sebab Helena tak bisa menggunakan e-mail nya karena lupa password dan hp nya telah di curi saat jalan-jalan di Mall bersama Dila.
Mereka berdua sampai di rumah bergaya Belanda itu, melewati tangga yang dibawahnya ada sungai berair jernih yang mengalir tak deras.
Mereka dapat merasakan sejuknya udara, rumah itu memiliki pohon di sisi belakang halaman. Semacam hutan dipekarangan belakang.
"Segar... nya, kenapa baru sekarang kita kesini" ucap Gina spontan, karena merasa. begitu senangnya bisa merasakan udara sebrsih ini.
Di jalanan itu terdapat beberapa rumah berpenghuni, tak ramai. Tapi mereka dapat melihat beberapa anak sedang bersepeda atau kakek dan nenek yang sedang berpiknik di halaman rumah mereka dibawah pohon rindang.
Dikiri kanan jalan, ada apel ang tumbuh subur. Siapa saja. boleh mengambilnya.
"Aku akan berkebun saja dimasa tuaku" lanjut Gina
"Kupikir kamu tidak akan pernah percaya bahwa kamu akan menua" ucap Sandra tersenyum
"Melihat suasana setenang ini,.. kupikir aku rela menua.. "Jawab Gina,wanita paruh baya yang menolak tua. Melakukan sedikit botox dan. beberapa operasi untuk awet muda.
Gina benar-benar melupakan siapa dirinya, saar ini.
Mereka tiba-tiba dikejutkan oleh kehadiran pengurus bangunan rumah itu, Smith dan Fiona. Seorang pasangan muda. Fiona adalah perawat pribadi, dan Smith adalah seorang pria muda yang melarikan diri dari rumah orang tua broken home. Ayahnya pemabuk, ibunya pecandu. Akhirnya mereka berdua menikah saat sering bertemu di kediaman Bram. Bram meminta mereka mengurus rumah itu. Dan meminta pengacaraya mengirimkan uang pada mereka untuk biaya hidup setiap bulan.
"Kami telah di beri perintah untuk mengurus rah ini, kami menunggu kedatangan Nyonya Sandra dan nona Helena" Ucap Smith.
Mereka menceritakan bagaimana Bram melewati hari-harinya di sini. Mereka berdua menemani Bram disaat sakitnya. Kondisi kesehatan Bram perlahan melemah.
Mereka memberikan jamuan makan malam pada mereka berdua, Sandra dan Gina.
🤭
Bintang lima untuk mu. Semangat