Suara riuh rendah khas jam kosong di kelas 10-MIPA 3 selalu didominasi oleh dua hal: gosip hangat di pojok belakang, atau teriakan frustrasi dari gerombolan siswa di baris tengah. Bagi Naomy, suara yang kedua jauh lebih mengganggu sekaligus memicu rasa penasarannya belakangan ini.
"Kiri, kiri! Woy, lindungi gue! Ah, telat lo, mati kan gue!"
"Sabar, cooldown skill gue masih jalan! Mundur dulu, mundur!"
Naomy menghentikan goresan pulpennya di atas buku catatan Biologi. Ia menoleh ke arah meja milik Tasya dan sisa gengnya. Tiga gadis yang biasanya sibuk membahas drama Korea atau warna lipstik terbaru itu kini tengah menunduk dalam-dalam, menatap layar ponsel masing-masing dengan posisi lanskap. Ibu jari mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, sementara wajah mereka tampak sangat tegang, seolah-olah masa depan bangsa sedang dipertaruhkan di dalam layar berukuran enam inci tersebut.
Rasa asing itu mulai merayap di dada Naomy. Fear of Missing Out. FOMO. Istilah yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sapaan Pagi Yang Nyata
Aroma sabun yang segar dan pakaian guru yang rapi membuat Naomy merasa jauh lebih siap menghadapi hari ini. Setelah memastikan penampilannya sempurna, ia mengunci pintu rumah huniannya dan melangkah mantap menuju mobil Raka yang masih terparkir di bawah pohon pinus. Matahari pagi kini sudah naik seutuhnya, menyiram kompleks sekolah dengan cahaya keemasan yang hangat.
Beberapa orang guru yang juga tinggal di kompleks hunian tampak mulai keluar untuk bersiap-siap. Melihat Naomy berjalan ke arah mobil mewah asing yang tampak berdebu itu, langkah mereka spontan terhenti.
"Selamat pagi, Bu Naomy! Wah, rapi sekali pagi-pagi," sapa Bu Ratna, guru matematika senior yang memang terkenal ramah namun sedikit kepo. Pandangan matanya beralih ke arah mobil hitam di belakang Naomy. "Itu... mobil siapa ya, Bu? Sepertinya dari kemarin malam sudah parkir di sana?"
Naomy sempat tertegun sejenak. Ide semalam untuk mengaku bahwa Raka adalah "sepupu jauh" sempat melintas kembali di benaknya. Namun, saat menatap kaca mobil yang memantulkan siluet Raka di dalam, hati kecil Naomy menolak rencana itu.
Raka sudah berjuang sejauh ini, mengesampingkan harga dirinya, dan tidur tidak nyaman di dalam mobil demi melindunginya. Terlebih lagi, mereka memang tidak tidur di tempat yang sama semalam. Tidak ada satu pun hal salah yang perlu ia sembunyikan dengan kebohongan.
Naomy tersenyum manis, menatap Bu Ratna dan beberapa guru lain tanpa ada keraguan sedikit pun di matanya.
"Selamat pagi, Bu Ratna, Pak Heru," jawab Naomy dengan nada suara yang tenang dan sopan. "Itu mobil pacar saya dari Jakarta. Dia baru sampai larut malam sekali karena jalanan macet, jadi memutuskan untuk beristirahat di mobil sampai pagi agar tidak mengganggu penghuni yang lain."
Mendengar jawaban jujur dan terbuka dari Naomy, para guru itu mengangguk-angguk paham, dibarengi dengan senyuman menggoda. Tidak ada prasangka buruk, yang ada justru rasa kagum atas sikap sopan sang kekasih yang rela tidur di mobil demi menghormati lingkungan sekolah.
"Oh, pantesan! Romantis sekali ya, jauh-jauh dari kota menyusul ke sini," seloroh Bu Ratna sambil terkekeh pelan. "Ya sudah, silakan ditemui dulu Bu, kasihan pasti pegal-pegal tidurnya di mobil."
"Iya, Bu. Terima kasih, saya duluan ya," pamit Naomy lega.
Dengan langkah yang terasa jauh lebih ringan setelah melepaskan beban rahasia, Naomy berjalan mendekati pintu kemudi mobil Raka. Ia mengetuk kaca jendela yang berembun itu dengan pelan, siap membangunkan pria yang kini telah sepenuhnya berstatus sebagai kekasih yang ia banggakan.
Tok... tok... tok.
Ketukan pelan di kaca jendela mobil membuat Raka yang baru saja terlelap dengan tidak nyaman tersentak bangun. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya matahari pagi yang mulai menyengat. Begitu pandangannya fokus, ia melihat Naomy berdiri tepat di samping pintu kemudi, menatapnya dengan senyum lembut yang menenangkan.
Raka segera membuka kunci pintu mobil dan mendorongnya terbuka. Ia keluar dengan gerakan sedikit kaku, meregangkan otot-otot punggungnya yang pegal setelah semalaman meringkuk di jok mobil. Meski rambutnya sedikit berantakan dan wajahnya tampak kuyu, senyum yang merekah di wajahnya saat menatap Naomy terlihat sangat tulus.
"Pagi, Sayang," sapa Raka dengan suara serak khas bangun tidur. Ia tidak mempedulikan penampilannya yang berantakan, ia justru melangkah maju dan merapikan sedikit anak rambut yang menutupi wajah Naomy.
Naomy terkekeh pelan melihat kondisi kekasihnya itu. "Pagi juga. Tidurmu nyenyak di mobil? Maaf ya, harusnya kamu bisa tidur lebih nyaman kalau bukan karena keadaan ini."
Raka menggelengkan kepalanya mantap. "Selama aku tahu kamu ada di dekatku, tidur di mana pun terasa seperti di hotel berbintang. Tadi aku sempat dengar suara orang-orang di luar, apa kamu sudah memberitahu mereka?"
Naomy mengangguk, sedikit merona. "Sudah. Aku bilang kamu pacarku dari Jakarta yang baru sampai malam tadi. Mereka mengerti, kok. Jadi, kamu tidak perlu khawatir soal gosip."
Raka mengembuskan napas lega. Ia menatap Naomy dalam-dalam, menyadari bahwa wanita di depannya ini bukan hanya cantik, tapi juga sangat pengertian.
"Terima kasih sudah jujur," ujar Raka seraya menggenggam tangan Naomy. "Aku harus segera kembali ke Jakarta setelah ini. Ada banyak hal yang harus aku selesaikan sebelum matahari tenggelam. Valerie sudah menunggu, dan Papaku... aku tidak bisa membiarkan ketidakpastian ini berlarut-larut lebih lama lagi."
Naomy mengangguk mengerti. Meskipun ada rasa berat di hatinya untuk melepas Raka pergi, ia tahu ini adalah langkah yang harus ditempuh demi masa depan mereka berdua.
"Hati-hati di jalan ya," pesan Naomy lembut. "Selesaikan semuanya dengan baik. Aku akan menunggu kabarmu di sini."
Raka mendekat, memberikan kecupan singkat di kening Naomy, sebuah janji bisu bahwa ia akan segera kembali untuk menjemputnya—bukan lagi sebagai pria yang terikat dalam perjodohan, melainkan pria yang bebas untuk menentukan jalan hidupnya sendiri bersama Naomy.