NovelToon NovelToon
Aku Tidak Mandul, Mas!

Aku Tidak Mandul, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:86.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.

Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.

Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Malam semakin larut. Hujan rintik di luar mansion membuat suasana terasa dingin dan sunyi. Tetapi berbeda dengan suasana di dalam ruang kerja pribadi milik Emran Richard.

Ruangan besar itu dipenuhi ketegangan. Darto Erlangga duduk dengan wajah yang semakin lama semakin gelap. Di sampingnya ada Satrio dan Han yang berdiri diam tanpa berani banyak bicara.

Sementara, di sofa panjang dekat jendela Annisa duduk menunduk sambil menceritakan semua yang selama ini ia pendam sendirian.

Darto benar-benar tidak habis pikir. Tangannya bahkan berkali-kali mengepal di atas meja kerja Emran.

“Dia membiarkan kamu kerja saat sakit?” suara pria tua itu mulai meninggi penuh emosi.

Annisa menunduk pelan.

“Aku tetap masak ... bersih-bersih...”

Rahang Darto langsung mengeras. “Kurang ajar...”

Namu, belum selesai sampai di sana. Ketika Annisa menceritakan bagaimana dirinya dikurung di gudang saat ketakutan karena trauma gelap, Darto langsung berdiri dari duduknya.

Tangannya menghantam meja keras hingga membuat suasana ruangan menegang.

“Haikal benar-benar gila!” Wajahnya merah menahan amarah.

“Itu anak saya!” bentaknya penuh emosi. “Bagaimana bisa dia memperlakukan kamu seperti binatang?!”

Air mata Annisa kembali jatuh.

“Ayah...”

Darto justru semakin terpukul saat mendengar putrinya masih memanggilnya dengan suara selembut itu setelah semua penderitaan yang dialami.

Sementara, di sisi lain ruangan Emran Richard terlihat jauh lebih diam. Dan justru itu yang membuat suasana semakin menakutkan. Karena pria itu tidak menunjukkan amarahnya lewat teriakan. Tatapannya saja sudah cukup membuat udara terasa dingin. Jari Emran mengetuk pelan sandaran kursi.

Terutama saat Annisa berkata lirih,

“Waktu aku pingsan ... aku tetap dipaksa masak...”

Mata Emran langsung berubah tajam. Seketika suasana ruangan terasa menekan. Han bahkan refleks menundukkan kepala karena tahu, Tuannya benar-benar marah sekarang.

Suasana ruang kerja milik Emran Richard masih dipenuhi ketegangan. Tak ada yang benar-benar tenang setelah mendengar semua cerita Annisa Erlangga.

Hujan di luar jendela terdengar samar. Lampu ruangan yang redup membuat suasana malam itu terasa semakin berat.

Emran akhirnya membuka suara.

“Apa yang akan kamu lakukan sekarang?” Tatapan pria itu lurus menatap Annisa.

Namun, di balik nada tenangnya, ada sesuatu yang dalam di sana.

Annisa perlahan mengangkat wajahnya. Mata wanita itu masih merah karena menangis terlalu lama.

“Aku...” suara Annisa sedikit serak. Tangannya perlahan mengepal di atas pangkuannya.

“Aku akan balas semua perbuatan mereka,”

Ruangan langsung hening. Bahkan, Darto Erlangga ikut menatap putrinya cukup lama. Wajah Annisa memanas. Air matanya jatuh lagi, namun kali ini bukan karena lemah. Melainkan karena rasa sakit yang terlalu dalam.

“Aku tidak akan melupakan apa yang mereka lakukan padaku.” Napasnya mulai bergetar menahan emosi.

“Ibu mertua yang menghina dan menyiksaku...” suaranya mulai pecah, “dan Haikal...” Nama itu keluar dengan penuh kebencian untuk pertama kalinya.

“Dia membuangku seperti aku tidak pernah berarti.”

Tatapan Annisa perlahan berubah semakin dingin.

“Bahkan...” wanita itu menggigit bibirnya kuat-kuat, “aku tidak akan memaafkan Emeli.”

Nama wanita itu membuat sorot mata Emran langsung menggelap. Annisa menunduk sebentar sebelum kembali berkata dengan suara bergetar penuh amarah,

“Dia menghina aku ... merebut semuanya dariku ... lalu tertawa saat aku diusir dari rumah.”

Tangannya kini mengepal begitu erat sampai bergetar.

“Aku ingin mereka merasakan hal yang sama.”

Tak ada yang menghentikan Annisa malam itu. Dendam Annisa lahir dari luka yang terlalu kejam. Suasana ruang kerja kembali hening setelah Annisa selesai membaca laporan di tablet yang diberikan Emran Richard. Tatapan wanita itu perlahan berubah dingin.

Annisa lalu meletakkan tablet itu pelan di atas meja.

“Aku akan pergi ke rumah sakit besok.”

Darto Erlangga langsung menoleh.

“Rumah sakit?”

Annisa mengangguk perlahan. Tatapannya mulai memanas mengingat sesuatu.

“Aku ingin periksa ulang.” Tangannya perlahan mengepal.

“Selama ini...” suaranya sedikit bergetar, “Emeli yang selalu memeriksaku.”

Darto langsung mengernyit. Emran menatap Annisa tanpa berkedip. Wanita itu menggigit bibirnya pelan sebelum melanjutkan,

“Dia memvonisku mandul.”

“Padahal...” mata Annisa mulai memerah lagi, “aku tidak pernah punya penyakit apa pun sebelumnya.”

Tangan Darto langsung menghantam meja penuh emosi.

“Kurang ajar!”

Wajah pria tua itu memerah menahan amarah.

“Dokter macam apa membohongi pasien seperti itu?!”

Napas Annisa sedikit bergetar.

“Kalau hasil pemeriksaan besok baik-baik saja...” sorot matanya perlahan berubah tajam, “aku akan menuntut Emeli.”

Han sampai sedikit mengangkat kepala mendengar nada suara Annisa yang berubah begitu dingin.

Di sisi lain, Emran yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara tenang.

“Saya antar besok.”

Annisa menoleh sedikit terkejut. Emran tetap terlihat tenang sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.

“Kamu tidak perlu pergi sendiri.”

Darto yang melihat semuanya justru diam-diam tersenyum kecil. Ada rasa lega dalam dirinya, karena setelah lima tahun Emran ternyata masih memperhatikan putrinya dengan sangat baik.

Melihat Emran berada di sisi Annisa malam itu membuat hati Darto jauh lebih tenang.

Malam semakin larut. Setelah pembicaraan panjang yang melelahkan hati itu selesai, Darto Erlangga akhirnya menatap putrinya lembut.

“Pulang sama Ayah malam ini.” Suasana langsung sedikit hening.

Annisa menunduk pelan beberapa detik sebelum akhirnya menggeleng kecil.

“Aku...” wanita itu menggenggam jemarinya gugup. “Aku masih ingin di sini dulu, Yah.”

Darto sedikit terdiam. Annisa lalu melirik sekilas ke arah Emran Richard.

“Ada sesuatu yang ingin kubahas berdua dengan Tuan Emran.”

Kalimat itu membuat Darto perlahan mengerti. Pria tua itu akhirnya mengangguk pelan tanpa memaksa lagi.

“Baiklah.” Lalu tatapannya beralih pada Emran.

Sorot mata seorang ayah yang penuh harapan terlihat jelas di sana.

“Tolong jaga Annisa untuk saya.”

Hening beberapa detik. Emran menatap Darto tenang sebelum akhirnya mengangguk.

“Tentu.” Jawaban singkat itu justru terdengar begitu meyakinkan.

Darto tersenyum kecil penuh lega. Tak lama kemudian, pria tua itu bersiap pulang bersama Satrio. Emran ikut mengantar mereka sampai ke pintu depan mansion.

Mobil Darto sudah menunggu di halaman depan dengan lampu menyala lembut. Sebelum benar-benar masuk ke mobil, Darto menahan langkah Emran sebentar.

Keduanya sedikit menepi dari pintu utama mansion. Namun, cukup untuk membuat percakapan mereka tidak terdengar sampai ke dalam rumah.

Darto menatap Emran cukup lama sebelum berkata pelan,

“Kamu serius?”

Tatapan Emran lurus tenang.

“Saya tidak pernah main-main soal Annisa.”

Darto langsung terdiam. Lalu Emran melanjutkan dengan suara rendah namun tegas,

“Saat malam ulang tahun Anda nanti...”

Sorot matanya perlahan berubah dalam.

“Saya akan melamar Annisa.”

Beberapa detik Darto hanya menatap Emran tanpa bicara. Lalu perlahan, senyum di wajah pria tua itu muncul kembali.

Tanpa berkata banyak lagi, Darto langsung menarik Emran ke dalam pelukan hangat.

“Tolong bahagiakan dia.” Suara pria tua itu terdengar lirih penuh harapan.

Sementara Emran hanya memejamkan mata singkat sebelum mengangguk pelan.

“Pasti.”

Dan di dalam mansion, Annisa sama sekali tidak mendengar rencana yang baru saja disusun untuk hidupnya.

"Aku akan membuat Haikal besok pagi di kantor menerima apa yang selama ini Annisa terima!" Kata Darto dengan tegas.

1
Ita rahmawati
sekarang aja blg gtu tdinya kn kmu juga iya iya aja SM semua yg dikatakan SM ibumu kal Haikal 🙄
Ita rahmawati
dih ibu mertua 🙄🤣
Ita rahmawati
mantab
Ita rahmawati
habislah kalian 🤣
Ita rahmawati
Haikal 🤦🙄
ken darsihk
Karena Emran masih memendam rasa sama kamu Anissa 😍😍
ken darsihk
Nggak sabar melihat kejatuhan nya Haikal 😂😂😂
ken darsihk
Anjayyy mertua toxic merasa paling hebat 😠😠😠
ken darsihk
Ho oh syedihhh
ken darsihk
Mimpi lo kejauhan Haikal 😂😂😂s
ngatun Lestari
rasain lu..makanya jangan Maruk jadi laki
Ass Yfa
puas bngt....hhh aku...liat mereka hancur tak bersisa...yg paling berat sanksi sosial...bisa2 jadi gila
Ass Yfa
modar ra kowe...😒
Ass Yfa
heh..Haikal bidoh apa oon ..nempermalukan diri sendiri
Ratih Tupperware Denpasar
haikal ini juga aneh wkt ibunya menghina anisa dia malqh mendukung ibunya bahkan menerima dr gadungan itu.. skr baru nyalahin ibunya. kalo kamu cinta beneran sama anisa harusnya bela thu istrimu bukan malak mengikuti permainan ibumi dan menalak anisa....dasar kamunya aja yg plinplan
Sri Widiyarti
puas banget bacanya....
Sri Widiyarti
makasih banyak kak up-nya 🥰
Les Tary
lasmi gaya gayaan...kyk dia sendiri kaya sampai merendahkan annisa
iqha_24
penyesalan datang belakangan yaa kan Haikal wkwkwk
爾妮
lanjutkan tor🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!