Shen Ran adalah definisi dari kesialan. Sebagai Permaisuri dari Kekaisaran Yan, ia memiliki segalanya di atas kertas, namun tidak di dunia nyata. Dikhianati oleh keluarga sendiri, diabaikan oleh Kaisar yang kejam, dan menjadi bahan tertawaan para selir di Istana Belakang. Puncaknya, ia dijebak dan dibiarkan membeku hingga tewas di Istana Dingin yang terpencil.
Namun, takdir memiliki selera humor yang gelap. Saat mata itu terbuka kembali, tubuh rapuh Shen Ran telah diambil alih oleh Clara, seorang pengacara korporat jenius sekaligus ahli strategi perang bisnis dari abad ke-21. Clara tidak tahu apa itu tunduk, dalam kamus hidupnya tidak mengenal kata tunduk dan mengalah.
"Kalian menginginkan boneka yang bisa diinjak? Maaf, kalian salah membangunkan jiwa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Bluetherine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tujuhbelas
Feng Muye perlahan melangkah keluar dari balik bayangan pilar, memotong riuhnya kepanikan para menteri. Langkah kakinya yang berat namun berirama menarik perhatian beberapa pejabat militer yang langsung mengenalinya sebagai sang Pangeran Sembilan, panglima perang yang baru saja kembali dari penumpasan konflik luar.
"Yang Mulia," suara berat Feng Muye menginterupsi kemurkaan Long Tianqi. "Klan Chu tidak hanya memutus jalur burung utusan. Intelijen saya di lapangan melaporkan bahwa mereka telah mengalihkan rute pasokan garam ke wilayah barat daya untuk mendanai logistik pelarian mereka sendiri. Ini bukan lagi sekadar kelalaian Jenderal Lin, melainkan pengkhianatan sistematis terstruktur."
Long Tianqi mengepalkan tangannya di atas pegangan takhta naga hingga terdengar bunyi berderit. Matanya yang merah menatap Feng Muye. "Pangeran Sembilan! Jika intelijenmu tahu sebanyak ini, mengapa kau baru melaporkannya sekarang?!"
"Karena tikus hanya akan menunjukkan semua lubang persembunyiannya saat mereka merasa jebakan telah ditutup, Kakak Kekaisaran," sahut Feng Muye dingin, matanya melirik sekilas ke arah kerumunan selir di mana Chu Xinyue sedang mencoba menyelinap keluar.
Mendengar kata tikus dan arah pandangan Feng Muye, insting kepemimpinan Long Tianqi yang sempat tumpul mendadak tersengat. Ia mengikuti arah pandang adiknya dan mendapati Chu Xinyue yang sudah berada di dekat pintu samping aula, dipayungi oleh beberapa pelayan setianya.
"Selir Agung Chu! Mau ke mana kau di tengah situasi darurat ini?!" panggil Long Tianqi, suaranya menggelegar penuh kecurigaan.
Chu Xinyue membeku di ambang pintu. Jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa sulit bernapas. Pelan-pelan ia membalikkan tubuhnya, berusaha menampilkan wajah rapuh yang biasa membuat Kaisar luluh. "Y-Yang Mulia... Hamba mendadak merasa pusing karena keributan ini... Demi menjaga keselamatan keturunan Anda, hamba berniat kembali ke Istana Barat untuk beristirahat..."
"Baiklah, kembalilah istirahat," kata Long Tiangi, meminta selir kesayangannya itu pergi.
Mendengar keputusan Long Tianqi, kepanikan yang sempat mencengkeram dada Chu Xinyue instan mencair, digantikan oleh kepuasan yang luar biasa. Ia membungkuk dalam-dalam, menyembunyikan senyum kemenangan yang hampir lolos dari bibirnya. "Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Yang Mulia..."
Chu Xinyue lolos, dan Shen Ran membiarkannya begitu saja. Ia tidak bisa mendesak Chu Xinyue karena Long Tiangi sangat melindungi selir tercintanya itu.
Shen Ran tahu kapan harus menarik pelatuk dan kapan harus menyimpan peluru. Di bawah tatapan ratusan pasang mata, mendebat keputusan Long Tianqi yang sedang emosional hanya akan membuat Kaisar bertindak defensif untuk melindungi egonya yang rapuh. Bagi Clara, ini adalah kalkulasi politik yang rasional, biarkan Chu Xinyue mencicipi rasa aman palsu untuk beberapa jam lagi, sementara panggung yang lebih besar sedang dipersiapkan.
Melihat siluet Chu Xinyue yang menghilang di balik pintu samping aula, Shen Ran perlahan kembali duduk di kursi kebesarannya. Ia melirik Feng Muye, memberikan kode mata yang sangat halus, isyarat bahwa fokus mereka malam ini harus beralih sepenuhnya pada runtuhnya fondasi kekuasaan klan Chu di tingkat negara.
"Yang Mulia," suara berat Feng Muye kembali memecah kegaduhan, mengalihkan atensi aula dari urusan domestik ke ancaman militer yang nyata. "Pelarian Selir Chu ke istananya tidak mengubah fakta bahwa saat ini, pasokan garam di wilayah Barat Daya telah dikuasai oleh para pemberontak. Kita tidak bisa hanya berdiam diri meratapi hilangnya komunikasi."
Long Tianqi menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai kegelisahannya. "Pangeran Sembilan, kau bilang intelijenmu sudah melacak mereka. Apa langkah konkret yang kau tawarkan untuk mengamankan perbatasan?"
Sebelum Feng Muye menjawab, Shen Ran memotong dengan nada datar namun penuh otoritas dari atas podium. "Jawabannya bukan di perbatasan, Yang Mulia. Tapi di logistik ibu kota."
Clara mengarahkan pandangannya pada Menteri Keuangan dan Menteri Pertahanan yang mulai berkeringat dingin. "Tambang Garam Selatan adalah urat nadi perdagangan dan pengawetan logistik militer Kekaisaran Yan. Klan Chu tidak mungkin bergerak seberani ini tanpa adanya sokongan internal dari pejabat di ibu kota yang memanipulasi laporan audit tahunan."
Shen Ran mengetukkan jemarinya di atas meja perjamuan, menciptakan ritme yang mengintimidasi. "Jika kita mengirim pasukan sekarang tanpa membersihkan para pengkhianat di dalam birokrasi ini, pasukan kita di garis depan sama saja dikirim untuk mati kelaparan karena jalur logistik mereka disabotase dari belakang."
Mendengar analisis tajam sang Permaisuri, beberapa menteri dari faksi sayap kanan langsung berlutut dengan tubuh gemetar, menyadari bahwa arah bidikan Shen Ran kini mengarah langsung pada posisi mereka. Feng Muye menyunggingkan senyuman tipis di balik topeng peraknya. Langkah politik Shen Ran sangat taktis, ia menggunakan krisis militer ini untuk memotong seluruh kaki tangan klan Chu yang tersisa di dalam istana, mengisolasi Chu Xinyue sepenuhnya hingga wanita itu tidak akan memiliki kekuatan apa pun lagi ketika hari esok tiba.