Kanaya Adistia adalah seorang gadis desa yang super polos, lugu, dan selalu melihat dunia dengan penuh prasangka baik. hidup seorang diri di sebuah rumah tua dan tidak layak di tinggali, ayah dan ibunya telah lama meninggal dan keluarga yang lain tidak ada yang mau menampungnya. Namun, sebuah kecelakaan aneh membuat jiwanya terbangun di dalam tubuh Anaya Alysha Wicaksono, seorang siswi SMA kota yang terkenal nakal, pemberontak, dan sering membuat masalah. Di rumah, Anaya asli dikenal sebagai gadis yang sangat dingin, tertutup, dan enggan berinteraksi dengan keluarganya sendiri. Ia selalu mengurung diri di kamar, menghindari obrolan di meja makan, dan sengaja membangun benteng pembatas yang tinggi dengan orang tua serta kakaknya. Karena nama panggilan mereka sama-sama Naya, orang-orang di sekitar Anaya tidak menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh itu telah tertukar. Lalu bagaimana kelanjutan kehidupan Kanaya Adistia setelah bertransmigrasi ke tubuh Anaya Alysa Wicaksono? Yukkk lanjut baca novelnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandhyaruntala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: MALU-MALU BOCIL
“Papa... aku tidak mau hidup miskin! Lakukan apa pun, Pa, agar hidup kita tetap mewah seperti ini! Kalau kita miskin, apa yang akan dikatakan oleh teman-teman sosialitaku nanti? Mau ditaruh di mana mukaku, Pa?!” ucap Prita histeris dengan keegoisan yang teramat tidak tahu diri, sama sekali belum menyadari bahwa badai kehancuran yang sesungguhnya baru saja dimulai oleh pergerakan bawah tanah tiga pemuda Wicaksono.
Clara yang hendak menuruni tangga justru disuguhi pemandangan kedua orang tuanya yang sedang bertengkar hebat. Langkah kakinya seketika terhenti. Gadis itu tertegun di tempat dengan tubuh yang mendadak kaku melihat sang mama dengan penampilannya yang brantakan dan darah di sudut bibirnya.
Kemunculan Clara di anak tangga langsung menarik perhatian Tuan Seno. Pria paruh baya yang sedang kalap itu melemparkan tatapan tajam yang teramat menusuk pada putri tunggalnya.
“Kau! Apa yang sebenarnya sudah kau lakukan hingga keluarga Wicaksono menyerang perusahaanku, hah?!” bentak Tuan Seno murka.
Suaranya menggelegar, membuat Clara terjenggit kaget dan melangkah mundur ketakutan.
Clara menggeleng patah-patah dengan wajah pucat pasi. “P-Papa... Clara tidak—”
“Diam! Kau sama saja dengan ibumu, sama-sama tidak berguna dan hanya tahu menghabiskan uang!” teriak Tuan Seno lagi tanpa perasaan.
Setelah meluapkan kemarahannya, pria itu berbalik kasar dan melangkah lebar keluar dari mansion, membanting pintu utama dengan sangat keras hingga menimbulkan dentuman memekakkan telinga.
***
Di waktu yang sama, suasana kontras justru terjadi di sore hari yang cerah di mansion keluarga Wicaksono.
Kedatangan teman-teman Arka membuat area taman belakang mansion yang luas itu menjadi jauh lebih ramai dari biasanya.
Namun, fokus semua orang di sana terusik oleh tingkah ajaib putri bungsu keluarga tersebut.
Dengan tingkah polosnya, Anaya sejak tadi terus menempeli Devan ke mana pun pemuda itu bergerak, membuat sang Ketua OSIS yang terkenal dingin dan kaku itu mendadak salah tingkah berkali-kali.
“Adek! Kamu ngapain, sih, mepelin Devan terus dari tadi?” tegur Arka kesal.
Matanya menatap dongkol ke arah adiknya yang duduk sangat rapat di sebelah Devan, seolah tidak ada jarak sama sekali di antara mereka.
Anaya mendongak, mengerjapkan matanya yang bulat jernih dengan ekspresi tanpa dosa. “Abang Dev ganteng, Naya suka hihi,” jawabnya lucu sambil terkekeh lucu.
Deg!
Mendengar kelinci kecilnya berbicara sejujur itu, jantung Devan seketika berdegup kencang. Pertahanan dirinya yang sedingin es runtuh dalam sekejap.
Pemuda itu sedikit menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya pada indra pendengaran Anaya.
“Kamu sungguh nakal, Kelinci Kecil, jangan pernah menempel siapapun kecuali aku dan para abangmu, karna aku tidak menyukainya” bisik Devan dengan suara deep yang sedikit serak, mengembuskan napas hangat yang menggelitik leher gadis itu.
Sentuhan itu entah bagaimana langsung memberikan efek magis. Jiwa Kanaya yang berada di dalam tubuh Anaya seketika merasakan sensasi aneh yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Dadanya bergemuruh hebat dan wajahnya mendadak terasa seperti terbakar.
“Mommy, Daddy... Naya sick huhuhu!” teriak Anaya tiba-tiba, mengagetkan semua orang yang berada di taman mansion.
Mendengar putri kecil mereka yang sekarang sangat menggemaskan itu mengeluh sakit, Siska dan Hendra seketika panik bukan main. Mereka berdua langsung bangkit dari kursi santai dan menghambur mendekat.
“Mana yang sakit, Sayang? Bagian mana yang tidak nyaman?” tanya Siska khawatir, tangannya bergerak cepat memeriksa dahi, leher, hingga seluruh badan Anaya dengan raut cemas.
“Jantung Naya dug-dug-dug terus, Mommy. Terus wajah Naya juga terasa panas sekali. Naya sick huhu,” adunya pada sang mommy dengan ekspresi lucu, ia hanya takut kalau ia sakit dan kembali di bawa ke rumah sakit.
Mendengar keterangan dari sang adik setelah dibisikan sesuatu oleh Devan, jiwa overprotective Arka langsung keluar seketika.
Sialan, adiknya sedang mengalami gejala jatuh cinta!
Dengan perasaan dongkol yang sudah mencapai ubun-ubun, Arka langsung mengangkat pelan tubuh mungil adiknya dari dekat Devan, lalu mendudukkannya di kursi yang paling jauh dari jangkauan pemuda mesum itu.
“Sekarang coba rasakan lagi. Masih dug-dug-dug nggak dadanya, Dek?” tanya Arka datar, berusaha memutus 'efek' Devan dari adiknya, yang justru membuat Siska, Hendra, dan yang lain sempat merasa bingung dengan tingkah Arka.
Anaya terdiam sejenak, memegang dadanya sendiri demi merasakan detak jantungnya yang perlahan mulai kembali normal setelah menjauh dari Devan.
“Wahhhh! Abang hebat! Naya langsung sembuh tanpa meminum obat!” ucap Naya girang dengan mata berbinar-binar, merasa takjub karena abangnya memiliki kekuatan ajaib yang bisa menyembuhkannya dalam hitungan detik.
Arka memutar bola matanya malas mendengar celetukan adiknya itu.
“Memang tadi devan bisikin apa ke adek?” Tanya penasaran arka pada adiknya
“Kata abang devan, naya tidak boleh dekat atau nempel-nempel cowok lain kecuali abang devan dan para abang” jawabnya jujur dengan mata mengerjab lucu
Di sisi lain, Devan justru menyunggingkan senyum miring yang teramat tipis melihat tingkah menggemaskan gadis itu. Ia melirik Arka dengan tatapan menantang yang sangat menyebalkan bagi seorang kakak laki-laki.
‘You are mine, little baby,’ batin Devan tersenyum kemenangan.
Sedangkan Gavin, Reno, dan Bintang yang duduk tidak jauh dari sana seperti sudah bisa menebak apa yang sedang berkecamuk di dalam pikiran posesif Arka.
Mereka hanya bisa terkekeh geli melihat tingkah Anaya yang terlalu polos hingga tidak sadar jika dia sedang jatuh cinta.
“Bocil gue mana tahu artinya jatuh cinta,” celetuk Marco angkuh sembari bersedekap dada, merasa menang karena mengira adiknya masih sangat murni dari kontaminasi cowok lain.
“Selamat berjuang, Bro,” ucap Selatan menyemangati Devan dengan nada mengejek, yang langsung disambut anggukan setuju dan senyuman penuh arti dari Utara yang duduk di sebelahnya.
...****************...
# HAI GUYSSS ✨#
GIMANA NIH CERITA DI BAB 28..
PASTI SERU BANGET KAN!!
STAY TUNE TERUS SETIAP PAGI DAN MALAM JAM 08.00-09.00 dan 19.00 YA GUYS. KARNA BAB BARU AKAN UP SETIAP JAM 08.00-09.00 dan 19.00😙
JANGAN LUPA YAAA
LIKE 👍🏻 DAN KOMENNYA 💬, KARNA DUKUNGAN KALIAN SANGAT BERARTI DAN BUAT AKU SEMANGAT BERKARYA.
THANK YOU SUDAH MAMPIR DI KARYA KU🥰🫶
ayo cil kerjain abangmu ngambek dua hari kalau ga ya satu Minggu 😂
si Utara dan Selatan masa ga ngeh yah dia ahli segala ahli