NovelToon NovelToon
Legacy Of Soryu: In The Name Of Love And Blood

Legacy Of Soryu: In The Name Of Love And Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Istana/Kuno / Balas Dendam
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: AzhuraAstra

Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.

Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.

Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.

Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.

Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.

Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

𖣂|Bab 22 Pemutusan Kontrak Kerja|

...|Legacy of Soryu|...

......· · ─ ·𖥸· ─ · ·......

Bara berjalan keluar dari kampus dengan tangan masih di dalam saku jaketnya. Langkahnya stabil, tapi pikirannya jelas tidak berhenti di satu titik.

Ponselnya tiba-tiba bergetar. Ia langsung mengangkat panggilan itu tanpa melihat layar.

"Wakadanna, saya dengar soal video itu." Suara Davian terdengar biasa, tapi ada sedikit ketegangan di dalamnya. "Lucas sedang mencoba melacak sumbernya."

"Tidak perlu."

Davian diam sebentar. "Maksud Wakadanna?"

"Vina."

Hening sepersekian detik di ujung sana.

"Wakadanna yakin?"

"Aku yakin."

Bara tetap berjalan, melewati beberapa mahasiswa yang tidak benar-benar ia perhatikan.

"Baik," jawab Davian akhirnya. "Saya tetap akan verifikasi."

"Temui aku."

"Lokasi?"

"Depan gedung utama."

"Baik. Lima menit saya akan sampai disana."

Panggilan terputus. Bara tidak berhenti sampai ia mencapai area depan kampus. Ia tetap berdiri di sana, satu tangan masih di saku, pandangannya lurus ke arah jalan.

Tidak lama kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di depannya. Pintu belakang terbuka, dan Bara masuk tanpa ragu.

Di dalam sana, Davian sudah duduk dengan tablet di tangan. Layar menampilkan beberapa data yang baru saja mulai terkumpul.

Mobil kembali bergerak.

"Lucas sudah mulai tracking," kata Davian, matanya tetap pada layar. "Distribusi awalnya dari grup internal. Upload pertama..."

Ia berhenti sebentar, memperbesar tampilan layar tabletnya.

"...nomor milik Vina Hartanto."

Bara bersandar sedikit di kursi, ekspresinya tidak berubah.

"Lanjut."

Davian menggeser data berikutnya. "Profil dasarnya seorang mahasiswi. Umur dua puluh tahun. Tapi belum ada catatan yang signifikan, Wakadanna."

"Orang tuanya bagaimana?"

Davian mengetik cepat beberapa perintah lagi. Data baru muncul bertahap.

"Ayahnya, Rudi Hartanto," ucapnya. "Pemilik PT Hartanto Properti."

"Perusahaan itu..." Davian mempersempit mata sedikit ke layar. "Masuk dalam daftar salah satu klien Soryu Group."

Bara tidak langsung bereaksi. "Kontrak aktif?"

Davian membuka detail tambahan. "Iya. Nilai kerja sama sekitar empat puluh dua miliar. Perpanjangan kontrak dijadwalkan bulan depan."

Mobil melaju stabil di jalan. Bara menatap lurus ke depan, lalu bertanya ke Davian. "Di mana dia sekarang?"

"Vina atau ayahnya?"

"Ayahnya."

Davian mengecek satu lagi data lokasi. "Kantor pusat di Sudirman. Biasanya beliau ada di sana sampai sore."

Bara melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul 11.47.

"Ke sana."

Davian langsung mengangguk ke arah pengemudi. "Ubah rute."

Lalu ia menoleh kembali ke Bara. "Wakadanna, terkait kampus—"

"Sudah selesai." ucapannya singkat tanpa ada penjelasan tambahan.

Davian memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut.

...-Kantor PT Hartanto Properti-...

...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...

Mobil berhenti di depan gedung berlantai dua belas dengan logo PT Hartanto di bagian atas. Davian turun duluan, membuka pintu. Bara keluar sambil melihat kantor itu.

Mereka masuk bersama. Di arena lobi, seorang resepsionis mendongak. "Selamat siang, ada yang bisa—"

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Bara memotong tanpa basa-basi.

"Rudi Hartanto," kata Bara. "Bilang Baraziven Soryu ingin bertemu dengannya."

Resepsionis itu mengerjap. "Maaf, Pak, apakah sudah ada janji—"

"Tidak ada janji." potong Bara.

Resepsionis sempat ragu sebentar, lalu mengangkat telepon.

Dua menit kemudian, seorang pria paruh baya dengan jas rapi berjalan cepat keluar dari lift. Wajahnya merah, setengah panik, setengah bingung.

"Tuan muda Bara Soryu?" Rudi Hartanto mengulurkan tangan. "Saya tidak tahu Tuan muda akan datang... ini sebuah kehormatan—"

"Pak Rudi." Bara tidak menerima jabat tangan itu. "Kita ke ruang rapat, sekarang."

"Ngomong-ngomong... A-ada apa ya? Tuan muda sampai kesini dan minta ke ruang rapat?"

Tapi Bara tentu saja mengabaikannya, dan Davian memberikan anggukan untuk supaya menurut saja.

...-Ruang Rapat-...

...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...

Tiga orang di ruangan itu duduk dengan punggung tegak, sementara Rudi Hartanto tersenyum dengan senyum yang terlihat dipaksakan.

"Saya tidak mengerti, Tuan muda," kata Rudi. "Kontrak perpanjangan baru bulan depan. Kalau ada yang perlu diklarifikasi sekarang, saya—"

"Kontrak kita tidak diperpanjang," kata Bara.

Rudi terdiam. "Maaf?"

"Soryu Group tidak akan memperpanjang kontrak dengan PT Hartanto Properti." Bara membuka folder tipis yang dibawa oleh Davian, ia meletakkannya di atas meja.

"Ini pemberitahuan resmi pemutusan kerjasama."

Rudi menatap dokumen itu. Wajahnya berubah dari bingung ke pucat. "Ini-ini tidak mungkin. Kita sudah tiga tahun bekerja sama, Tuan muda. Sebelumnya tidak ada masalah sama sekali. Kenapa tiba-tiba—"

"Putri Bapak," kata Bara. "Vina Hartanto. Mahasiswi Universitas Artha."

Rudi membeku. "A-ada apa dengan putri saya?"

"Putri Bapak menyebarkan video rekaman tanpa izin, memproduksi dan mendistribusikan gosip yang merusak nama baik orang lain, dan menggunakan koneksi sosial untuk membuat lingkungan kampus tidak kondusif bagi seseorang yang tidak melakukan apapun kepadanya." Bara meletakkan satu lembar kertas tambahan di atas dokumen.

"Nama orang itu adalah Nabhila Hera Adama. Hari ini dia tidak masuk kuliah karena video yang disebarkan oleh putri Bapak."

"Saya—" dia menelan ludah. "Saya minta maaf atas perilaku Vina, Tuan muda. Saya tidak tahu—saya akan bicara dengannya."

"Itu urusan Bapak dengan putri Bapak." Bara berdiri. "Urusan saya dengan Bapak sudah selesai."

"Tuan muda, tolong empat puluh dua miliar, proyek kita masih—"

"Davian." Bara menoleh ke asisten itu.

Davian membuka tabletnya, memutar layar itu kehadapan Rudi. Di sana tertera surat pemutusan kontrak resmi dengan kop Soryu Group, sudah ditandatangani secara digital.

"Ini salinan untuk arsip Bapak," kata Davian. "Tim legal kami akan mengirimkan dokumen fisik dalam 24 jam."

Rudi menatap layar itu lama sekali, wajahnya perlahan berubah menjadi semakin pucat.

"Tuan muda..." katanya akhirnya. Suaranya terdengar seperti memohon penjelasan. "Saya harus tahu siapa sebenarnya Tuan muda. Saya mengenal Tuan Raiden Soryu. Biasanya kalau ada urusan seperti ini, semuanya selalu melalui tim beliau."

Bara sudah melangkah menuju pintu. Namun tepat di ambang pintu, ia berhenti. "Saya Neo Kailano Baraziven Soryu," ucapnya tenang. "Anak dari mendiang Ryuichi Soryu, dan pewaris tunggal Soryu Group."

Rudi langsung berdiri dari kursinya. "Tidak bisa semudah itu!" katanya cepat. "Apa Tuan Raiden sudah tahu soal ini? Saya cuma tahu Anda punya nama Soryu, jadi saya pikir Anda orang kepercayaan Tuan Raiden."

Ruangan itu mendadak hening. Lalu Bara tiba-tiba terkekeh pelan, membuat suasana semakin menekan.

"Raiden?" ulangnya sambil menoleh ke belakang. "Orang yang sekarang duduk di kursi eksekutif itu maksudmu?"

Rudi diam membeku. Sementara Bara menyandarkan sebelah bahunya ke pintu, masih dengan senyum samar yang sulit ditebak. "Bahkan untuk membuat keputusan seperti ini..." katanya pelan, "...aku tidak perlu dia tahu."

Jantung Rudi seolah berhenti berdetak sesaat. Baru kali itu ia menyadari bahwa pria muda di hadapannya bukan sekadar anggota keluarga Soryu. Sosok itu berada jauh di atas bayangan yang selama ini ia pikirkan.

"Sampaikan ke Vina," lanjut Bara. "Jaga mulutnya atau hidupnya akan saya buat hancur seketika."

Dia berjalan keluar. Davian mengangguk sekali ke arah Rudi yang masih diam terpaku, lalu mengikuti Bara.

...***...

Pintu lift menutup. Davian berdiri di samping Bara. Keduanya saling diam-diaman. Angka lantai bergerak turun. 8... 7... 6...

"Wakadanna," kata Davian akhirnya.

"Hmm."

"Wakadanna keren!"

Bara tetap menatap pintu lift di depannya. "Kau sebenarnya mau bilang apa?"

"Tidak ada." Davian menyesuaikan posisi tabletnya. "Cuma kagum saja."

"Itu terdengar aneh keluar dari mulutmu."

"Entahlah... Tadi waktu Wakadanna bicara..." Ia menggeleng kecil. "Rasanya seperti sedang menonton tokoh utama drama keluarga konglomerat."

"Itu karena hidupmu terlalu banyak menonton drama." sindir Bara.

Davian mendecakkan lidah pelan. "Tetapi serius, Wakadanna... Anda tadi seperti tokoh utama pria ceo dingin yang diam-diam menghancurkan perusahaan orang demi seorang gadis pujaannya."

Bara menghela napas tipis. "Aku tidak menghancurkan siapa pun, kau terlalu lebay, Davian."

"Tetapi efeknya tetap sama!"

Lift terus bergerak turun. Beberapa detik dalam keheningan, sebelum Bara kembali bicara.

"Aku hanya tidak suka Nana ikut kena masalah karena ulah mereka."

Davian menoleh.

"Video itu menyebar karena mereka merasa Nana tidak punya siapa-siapa yang membelanya." Tatapan Bara tetap lurus ke depan. "Kalau aku tetap diam, mereka akan terus menekan dia."

Davian terdiam.

"Aku melakukan ini demi masa depan Nana juga." Bara menyandarkan kepala sebentar ke dinding lift. "Dan... karena sebagian ini memang salahku."

"Salah Wakadanna? Kok bisa?"

"Kalau dia kemarin tidak di tangga darurat berdua bersamaku, dia tidak akan diseret-seret ke gosip murahan seperti itu."

Davian tiba-tiba memalingkan wajahnya. Entah kenapa dadanya terasa sedikit sesak mendengar nama Nana disebut terus sejak tadi.

Bara melirik sekilas seolah menyadari ada yang aneh dengan asistennya itu. "Kau kenapa?"

"Tidak apa-apa."

"Kau cemburu?"

Davian langsung tersedak ludahnya sendiri. "Hah?!"

Bara malah terkekeh pelan. Sebelum Davian sempat membela diri, Bara tiba-tiba merangkul bahunya santai, gerakannya natural, tetapi cukup membuat Davian membeku total.

"W-Wakadanna?!"

"Bukankah biasanya di drama yang kau tonton ada adegan seperti ini?" ledek Bara santai.

Wajah Davian langsung merah sampai ke telinga. Bahkan tabletnya nyaris jatuh kalau tidak cepat dipegang lagi.

"Saya tidak menonton drama seperti itu!"

"Oh ya?" Bara menatapnya datar.

Davian berusaha melepaskan dirinya dari rangkulan Bara, tetapi Bara justru menahannya sebentar sambil menghela napas.

"Huh... kebanyakan nonton drama China memang bisa merusak otak," sindir Bara.

"Itu tidak ada hubungannya!" bantah Davian cepat.

"Ada." Bara akhirnya melepas rangkulannya. "Tokoh pria dingin bertemu dengan gadis ceria, lalu punya ajudan yang diam-diam cemburu. Polanya terlalu jelas."

Davian langsung menatap syok. "Saya tidak cemburu! Wakadanna jangan mengada-ada!"

"Kau bahkan membela diri terlalu cepat." Bara menyipitkan mata tipis. "Berarti tebakanku benar."

"Itu karena Wakadanna ngomongnya ngawur!"

Bara terkekeh pelan, lalu menyenggol lengan Davian dengan bahunya. Hal kecil itu justru membuat Davian makin dibuat salah tingkah.

"Sial..." gumam Davian lirih. "Drama memang bisa merusak otak."

"Kau bilang apa, Davian?"

"Ah! Tidak, Wakadanna. Bukan apa-apa."

Bara malah semakin mendekat sedikit. "Wajahmu merah... Kau sakit?"

"Tidak! I-itu karena disini tiba-tiba saja panas."

"Alasan klasik... Jadi memang benar-benar cemburu."

"Saya tidak cemburu!"

"Kalau begitu kenapa gugup?"

Davian mundur setapak sampai punggungnya menyentuh dinding lift. "Wakadanna sengaja, ya?"

"Sengaja apa? Aku tidak melakukan apapun, Davian... Kau yang sedari tadi aneh."

"Meledek saya terus."

Bara mendekat lagi tanpa ekspresi bersalah sedikit pun. Satu tangannya menekan dinding lift di samping kepala Davian, membuat posisi mereka kini mendadak terasa ambigu.

Davian langsung membeku total. "W-Wakadanna..."

"Bukannya di drama China biasanya adegannya begini?" tanya Bara lirih.

"Itu cuma drama!"

"Katanya tidak ada hubungannya...." Bara menatap wajah Davian, jarak yang sangat dekat itu membuat Davian benar-benar kehabisan kata-kata. Wajahnya sekarang sudah merah sampai ke telinga.

Ting!

Pintu lift terbuka. Dua staf PT Hartanto yang berdiri di depan lift langsung membatu. Mata mereka bergantian melihat Bara yang berdiri sangat dekat dengan Davian dengan pose kebedon... lalu ke Davian yang terjebak di sudut lift dengan wajah merah padam.

Hening akward beberapa detik. Bara langsung mundur santai seolah tidak terjadi apa-apa. Ia bahkan sempat-sempatnya merapikan jaket kulitnya dengan santai sebelum melangkah keluar dari lift.

"Selamat siang," sapanya datar kepada kedua staf itu.

Kedua staf itu buru-buru langsung menunduk dengan panik. "S-Selamat siang, Tuan!"

Sementara itu Davian malah masih berdiri kaku di dalam lift, otaknya seolah-olah blak mendadak.

Bara melirik sekilas ke belakang. "Davian."

Davian langsung sadar dan buru-buru keluar dari lift dengan wajah yang masih merah parah.

Namun baru beberapa langkah mereka keluar dari lift, ia mendengar salah satu staf berbisik pelan pada temannya.

"...Tadi itu..."

"Ssst! Jangan dibahas!"

Davian langsung ingin menghilang dari muka bumi. Sementara Bara tetap berjalan di depan dengan tenang dan penuh percaya diri, seolah baru saja menghancurkan mental asistennya sendiri adalah hal biasa.

Davian menatap punggung Bara dengan ekspresi frustrasi.

Wakadanna sialan! kutuknya dalam hati. Suatu hari saya pasti akan balas dendam!

1
Alia Chans
Hadir Thor
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉
AzhuraAstra: Terimakasih 🫡
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!