RAVEN KRISHNAWARDHANA (18 tahun ) adalah putra tunggal dari keluarga pengusaha kaya yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Namun sosoknya yang angkuh, susah diatur, dan sering menghabiskan waktu untuk nongkrong bareng geng motornya.
Membuat kedua orang tua Ravan langsung menyetujui usulan perjodohan yang di usulkan rekan bisnisnya, mereka berharap dengan menikah Raven bisa berubah. Namun bukan Raven namanya jika tak menolaknya mentah-mentah, ia tidak mau terikat perasaan sama wanita manapun, ia hanya ingin menikmati masa mudanya bersama geng motornya.
Sampai suatu hari, ia bertemu Sara, murid baru yang misterius yang baru pindah dari luar negeri.
Gadis itu bernama SAVIRA AURELIA alias Sara 17 tahun. Sara, cantik pintar, ceria tapi misterius. Karena kecantikan alaminya, ia tak jarang jadi rebutan para remaja laki-laki di sekolah barunya dan itu membuat seorang Raven Krishnawardhana terpaksa menarik kata-katanya, karena kini perasaannya yang terjebak dalam pesona murid baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Begitu mendengar suara pintu kamar mandi tertutup rapat, Sara segera menyibakkan selimut hingga sebatas dada, lalu menekan kedua pipinya yang terasa panas dengan kedua telapak tangannya.
"Bisa-bisanya aku semalam memeluknya seerat itu! Dasar kau Sara, bisa-bisanya kamu melanggar aturan yang kamu buat sendiri!" gerutunya pelan penuh rasa malu, matanya menatap tajam ke arah pintu kamar mandi seolah pintu itu yang bersalah.
Belum sempat ia menenangkan diri, ponsel yang terselip di bawah bantal tiba-tiba bergetar pelan. Sara segera duduk bersandar pada sandaran kasur, lalu meraih ponselnya dengan cepat. Begitu membaca pesan yang masuk, matanya seketika melotot tak percaya. Ternyata pesan itu dari Kakeknya Don Vincenzo yang memberitahu bahwa siang ini ia akan segera mendarat di Indonesia.
"Apa?! Kakek tiba siang ini di bandara! Aduh, aku belum siap bertemu Kakek! Tapi... tapi kemarin aku sendiri yang menawarkan diri untuk menyemputnya!" serunya panik setengah mati, tangannya meremas seprai dengan sedikit gelisah.
Belum sempat ia menyusun rencana, pintu kamar mandi terbuka, Raven keluar dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya, rambut hitamnya masih basah dan meneteskan air ke bahu bidangnya. Ia berhenti sejenak di ambang pintu, sedikit bingung melihat Sara yang tampak bengong dengan wajah memerah.
Tiba-tiba sebuah ide jahil muncul di benaknya. Dengan senyum miring yang menggoda, ia melangkah mendekat perlahan tanpa menimbulkan suara. Saat sudah berada tepat di samping tempat tidur, ia tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke arah Sara.
Refleks yang terlatih selama bertahun-tahun bekerja lebih cepat dari pikiran Sara. Tanpa sadar, ia menangkis pergerakan itu dan dengan sigap memutar posisi tubuh Raven hingga terdorong ke atas kasur, dengan dirinya kini berada tepat di atas tubuh suaminya.
Keduanya sama-sama terbelalak mematung, saling bertatapan dalam keheningan yang mendadak terasa panas.
Sadar siapa yang ada di bawahnya, Sara segera berusaha bangkit dengan wajah panik. "Eh! Maaf! Aku kira orang asing! Jadi refleks saja begitu!" cicitnya gugup, jantungnya berpacu tak karuan.
Raven justru tak berusaha melepaskan diri. Kedua tangannya malah melingkar erat di pinggang Sara, menatapnya dengan tatapan takjub sekaligus menyelidik. "Wah, ternyata kamu punya tenaga dan refleks yang luar biasa cepat ya. Sebenarnya siapa kau sebenarnya, Sara?"
Sara buru-buru menepis pertanyaan itu. "Apa maksudmu?! Aku istrimu! Teman masa kecilmu! Siapa lagi coba!" elaknya cepat. Belum saatnya identitas aslinya terungkap.
"Bukan begitu maksudku..." Raven menatap lekat ke dalam manik mata istrinya, seolah ingin membaca sesuatu yang tersembunyi di sana. "Aku merasa kamu menyembunyikan kemampuan hebat dariku. Aku curiga... gadis yang menolongku saat dikepung geng Kobra malam itu kamu."
Sara tersentak kaget, namun secepat kilat ia berusaha tenang. Dengan sigap ia mendorong dada bidang itu pelan lalu turun dari atas tubuhnya. "Sudah, jangan berandai-andai! Cepat pakai baju, nanti kamu masuk angin!" ucapnya tegas sambil memalingkan wajah agar tidak terbaca kegugupannya.
Raven hanya tersenyum tipis melihat tingkah istrinya, memilih untuk tidak memaksanya saat ini. Ia pun segera bersiap karena takut terlambat ke sekolah.
Tak lama kemudian, Raven sudah tampak rapi dengan seragam sekolahnya. Ia meraih jaket kulit hitam berlogo lambang Phoenix yang tergantung di belakang pintu, lalu berjalan menghampiri Sara yang masih mengenakan piyama sambil duduk di sofa sibuk membalas pesan.
"Kau ada rencana ke mana hari ini?" tanyanya pelan.
"Siang nanti aku akan menjemput Kakek di bandara," jawab Sara singkat tanpa menoleh.
"Kakekmu datang ke Indonesia?" tanya Raven dengan nada cepat.
"Hmm. Selama Kakek ada di sini, sebaiknya kita jaga jarak dulu ya. Jangan terlalu dekat agar dia tidak curiga soal pernikahan kita," pinta Sara hati-hati.
Raven langsung menggeleng tegas. "Tidak bisa begitu. Aku akan ikut menjemputnya. Aku akan bicara baik-baik pada Kakekmu dan menjelaskan hubungan kita secara langsung."
"Tidak boleh, Raven! Kakek bukan orang yang bisa kau hadapi sembarangan! Dia punya prinsip yang sangat tegas!" tolak Sara cemas. "Pokoknya jangan ikut! Kita cari waktu yang tepat saja untuk membicarakan ini berdua. Sekarang sana pergi sekolah! Biar aku yang urus semuanya!"
"Tapi..."
"Raven!!" tegas Sara dengan wajah serius dan tangan berkacak pinggang.
Melihat ketegasan itu, Raven akhirnya menghela napas pasrah. "Baiklah, aku pergi. Hati-hati di jalan ya," ucapnya pelan.
Belum sempat Sara menjawab, Raven tiba-tiba membungkuk sedikit dan mendaratkan kecupan singkat namun hangat di bibirnya.
Cup!
Sara seketika membeku di tempat, matanya terbelalak tak percaya. Raven hanya tersenyum penuh kemenangan, lalu berbalik badan dan berjalan cepat meninggalkan kamar. Begitu pintu tertutup, Sara baru sadar dan langsung menghentakkan kakinya kesal.
"RAVENNNN!!"
*
*
Jam sudah menunjukan jam siang. kini Sara sudah berada di area khusus kedatangan Bandara Soekarno-Hatta. Hatinya berdesir hebat, perasaan rindu bercampur cemas memenuhi dadanya. Ia mengenakan pakaian serba hitam lengkap, jaket kulit hitam, celana panjang hitam, topi lebar berwarna hitam yang ditarik menutupi sebagian dahi, serta masker kain hitam yang menutupi raut wajahnya. Ia ingin menyamarkan diri agar tidak menjadi pusat perhatian orang lain.
Tak lama berselang, suara pesawat menderu terdengar perlahan mendekat. Sebuah jet pribadi berwarna gelap dengan lambang keluarga yang sangat ia kenali mendarat dengan mulus di landasan khusus. Jantung Sara seakan berhenti berdetak sejenak. Pintu pesawat terbuka, tangga lipat pun diturunkan.
Sosok Don Vincenzo tampak melangkah turun dengan wibawa yang tak tergoyahkan, diikuti rapat oleh Mark dan beberapa pengawal berbadan tegap yang sigap menjaga sekelilingnya. Meski penampilan Sara tertutup rapat, seketika pandangan Don Vincenzo tertuju tepat ke arah gadis itu. Tanpa perlu melihat wajah sepenuhnya, ia langsung tahu siapa yang menunggunya di sana.
Sara segera melangkah mendekat tanpa ragu. "Kakek..." panggilnya pelan namun jelas.
Senyum tipis mengukir di bibir Don Vincenzo. Ia menyambut langkah cucunya, lalu merangkulnya erat sejenak, pelukan singkat namun penuh makna kerinduan yang terpendam lama.
"Kakek tetap bisa mengenalimu di mana saja, Queen," bisiknya lembut saat melepaskan pelukan itu. Ia kemudian menoleh ke arah asisten dan pengawalnya. "Saya akan naik satu mobil bersama Queen. Kalian semua ikut dengan kendaraan lain di belakang kami."
"Siap, Tuan Don!" jawab Mark serempak sambil memberi isyarat agar tim keamanan segera bergerak menuju mobil yang sudah menunggu.
Bersambung...
Ayo Sara, kumpulkan semua bukti-bukti itu/Determined/, Ku menunggu pembalasanmu pada mereka, orang yang telah membunuh keluargamu, dan juga mengambil semua hak-hak yang seharusnya menjadi milikmu/Determined//Determined/