Keisya bangun kembali ke masa lalu–tepat sebelum kecelakaan yang mengubah segalanya. Dulu, rasa iri dan provokasi membuatnya menyiksa Keyla yang merupakan anak kandung keluarga Jordan yang tlah lama hilang, hingga akhirnya ia mati dibunuh oleh keluarga yang membesarkannya itu..
Kini, ia kembali ke usia 15 tahun dengan ingatan penuh penyesalan, dan setiap ia mengingat masa dimana ia menyiksa Keyla, kepalanya akan terasa sangat sakit, oleh sebab itu, sekarang ia hanya punya satu tekad yaitu melindungi Keyla dari bahaya, menebus kesalahan, dan membiarkan gadis itu mendapatkan tempatnya yang sesungguhnya di keluarga Jordan sebelum dirinya pergi dari keluarga itu agar bisa menjalani hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Keyla mengikuti arah pandangan Keisya. Gadis itu keliru, menyangka Keisya menginginkan minuman yang dibawa pelayan, lalu menyentuh lengan Geo. "Kak, aku mau itu," pintanya.
Geo merasa dipercaya sebagai kakak, jadi tanpa ragu memanggil pelayan yang lewat. Ia tersenyum bangga karena sudah memenuhi keinginan adiknya.
Saat gelas itu diletakkan di hadapan Keyla, Keisya seketika merasakan dingin sekaligus panas menjalar di sekujur tubuhnya. Benar saja.. minuman itulah yang telah dicampuri racun. Tanpa pikir panjang, ia segera menarik lengan Keyla dan berbisik pelan di telinga gadis itu.
"Ken, boleh tukar nggak?" bisiknya sambil menunjuk gelas di tangan Keyla.
"Tentu saja," Keyla dengan senang hati menggesernya ke depan Keisya. Padahal ini sudah sesuai rencana, namun Geo tampak kurang setuju. Namun sikapnya itu luluh saat Keyla menatapnya dengan mata berbinar. "Kak, pesan satu lagi ya?" pinta Keyla manja.
Geo menepuk dadanya dengan bangga. Ia merasa seolah terpesona oleh tingkah manis itu, padahal Keyla hanya bersikap datar saja. Keyla memang hanya bisa bersikap lebih terbuka pada Keisya, bukan pada orang lain.
Sikap manis itu hanyalah bayangan di mata Geo saja. Meski begitu, ia tak ingin mengecewakan adiknya, dan ikut berlagak seolah terpesona. Sampai adegan itu terhenti saat Ivan menyodorkan gelas lain.
"Ini buat Keyla," senyum Ivan merekah saat Keyla membalasnya dengan senyum, lalu menyodorkan gelas itu ke arahnya sendiri.
Ivan mengabaikan tatapan tidak suka dari Geo. 'Adikku masih remaja, tentu saja hatinya masih mudah berubah pikiran,' batinnya. Ia terkekeh pelan sambil mengusap rambut Geo yang tertata rapi. Geo langsung menepis tangan itu karna ia sudah bersusah payah menata rambutnya, tak boleh berantakan begitu saja.
Suasana kembali tenang setelah minuman tersaji di meja. Kemudian terdengar suara Abraham membuka acara, menyampaikan maksud pertemuan malam itu dengan gamblang. Tak lama, giliran Alden menyampaikan ucapan selamat dan terima kasih, lalu peresmian ditandai dengan denting gelas yang beradu.
Keyla dengan antusias menyandingkan gelasnya dengan milik Keisya, lalu ke arah Ivan dan Geo. Ia sama sekali tak menyadari bahwa Keisya menatap gelas di tangannya dengan penuh keraguan, bahkan tak menjawab pertanyaan heran Ivan yang melihat sikapnya aneh.
'Sakit nggak ya nanti?' batinnya masih ragu.
'Atau lebih baik aku sengaja tumpahkan saja? Tapi aku jadi kelihatan nggak sopan ya.. udahlah, begitu saja daripada Keyla yang kena risiko,' tekadnya akhirnya bulat dengan senyum getir di bibir.
Keisya belum sadar semua orang sudah meminum isinya, hingga tepukan di bahu membuatnya tersentak.
"Kenapa, Kei? Nggak suka rasanya? Sini biar aku minum saja. Kamu ganti yang ini ya," ucap Keyla tanpa sadar menggunakan bahasa santai, lalu segera menutup mulutnya.
Beruntung suasana sedang riuh, jadi tak banyak yang mendengar. Ia sudah pernah ditegur karena hal serupa sebelumnya, jadi mereka harus berhati-hati berbicara di hadapan keluarga Jordan.
Mendengar tawaran itu, Keisya langsung menggeleng cepat dan meneguk sari buah itu hingga tersisa seperempat isinya tanpa berpikir dua kali. Sebenarnya ia enggan meminumnya, namun melihat Keyla hendak mengambil alih, ia nekat melakukannya sambil berdoa semoga racun itu tak mematikan.
Masih tenggelam dalam kekhawatiran, Keisya tersadar saat tepukan di pundak Keyla menandakan giliran mereka maju ke depan. Saatnya keluarga mereka naik ke panggung untuk pengumuman resmi posisi Keyla serta perkenalan anggota keluarga Alex sebagai bagian dari keluarga Jordan.
Keisya terkejut. "Tapi aku buk.."
"Ayo maju, kamu juga anak Ayah," ucap Ivan membuatnya bungkam. Ia tak menyangka kalimat itu keluar dari mulut kakaknya. Tangan kanannya pun digenggam erat oleh Geo. Keisya yang awalnya ingin meluruskan keadaan akhirnya menurut, tak percaya pada kebaikan yang tiba-tiba datang dari ketiga kakaknya.
Keyla berjalan di samping Ivan, sementara Keisya kini berjalan di sebelah kiri Geo, pergelangan tangannya masih dicengkeram kuat. Saat ia mendongak, terlihat Opa, Alden, dan Alex sudah menunggu di sana. Ia begitu gelisah hingga tak menyadari ayahnya sudah naik ke panggung bersama Abraham dan Alden.
Geo mengerutkan kening merasakan genggamannya kaku. Ia berhenti melangkah, menyadari giliran mereka naik sebentar lagi. Keyla dan Ivan pun menoleh, begitu pula para tetua yang menunggu di atas sana. Seketika semua mata tertuju pada mereka.
Tiba-tiba Keisya terbatuk hebat, lalu memuntahkan darah dalam jumlah banyak. Geo segera memeluk pundaknya saat tubuh gadis itu limbung dan hampir jatuh. "Kak..." panggilnya lirih, sementara Geo hanya terpaku tak mampu berkata-kata, syok luar biasa.
Pikirannya belum mampu mencerna kejadian itu saat Alex berlari turun dari panggung dan menggendong tubuh Keisya yang semakin lemah. Suasana berubah seketika menjadi mencekam. Tak hanya mereka di panggung, Gilbert dan Steven pun berdiri mendekat. Para pengawal langsung mengambil posisi siaga.
"Bawa ke rumah sakit sekarang. Sisanya biar kami yang urus," perintah Gilbert tegas pada Alex, menyuruhnya segera membawa Keisya yang mulai kehilangan kesadaran demi pertolongan pertama. Tanpa menunggu lama, Alex melangkah cepat meninggalkan ruangan, menyerahkan sisa acara kepada saudara-saudaranya.
Anak-anak lainnya pun ikut menyusul. Tak hanya Alex yang tampak sangat cemas, Alden, Ivan, dan Keyla pun merasa begitu khawatir. Sementara Geo hanya diam mematung, wajahnya pucat pasi. Tangan yang tadi memegang Keisya masih terus bergetar hebat.
pasti lelah kmu
kok dikit amat siiihhhhh
satu dua tiga scroll abisssssa nunggu bab selanjutnya 😭😭😭😭
up banyak banyak yaa thorrrrr
semangattttttttttttt 💪💪💪💪
kesiannya keysia 😭😭
biar saja keluarga mu semua menyesal karena sudah mengabaikan mu keu