NovelToon NovelToon
Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1

"Milly! Jangan melamun! Kamar Penthouse nomor 909 harus bersih sempurna sebelum jam satu siang. Tuan Arkananta sangat benci debu seujung kuku pun!" Suara melengking melengking dari kepala pelayan hotel membuat Milly tersentak, hampir menjatuhkan botol cairan pembersih di tangannya.

"Baik, Bu! Segera saya laksanakan!" Milly membungkuk panik, membetulkan letak kacamata bulatnya yang melorot, lalu mendorong troli pembersih dengan tergesa-gesa.

Milly memang terkenal sebagai pelayan paling rajin di hotel bintang lima ini, tapi dia juga yang paling ceroboh. Sudah tidak terhitung berapa kali dia tersandung karpet halus atau tidak sengaja menjatuhkan barang. Namun, pengetahuannya tentang kebersihan adalah nomor satu.

Lantai 9 adalah area privat. Lorongnya sunyi, dilapisi karpet beludru tebal yang meredam suara langkah kaki. Milly menelan ludah. Semua orang di hotel tahu siapa penghuni Penthouse itu. Arkananta Mahendra. Penguasa bisnis properti dan keuangan yang rumornya sedingin es dan tak segan menghancurkan hidup orang yang mengusik ketenangannya.

Klik.

Milly membuka pintu kamar luas itu menggunakan kartu aksesnya. Kamar itu luar biasa megah, didominasi warna hitam, abu-abu, dan putih. Sangat rapi, sangat mencerminkan sifat pemiliknya yang perfeksionis.

Milly mulai bekerja dengan cekatan. Dia mengelap meja kaca, merapikan bantal yang sebenarnya sudah rapi, hingga tiba di area tempat tidur king-size di tengah ruangan.

Brak!

Karena terlalu bersemangat membalik selimut mewah, kaki Milly tersangkut ujung ranjang. Tubuhnya terhuyung ke depan. "Aww!" keluhnya saat lututnya membentur lantai dengan keras.

Namun, saat dia menunduk untuk mengusap lututnya, tatapan Milly terpaku pada sesuatu di bawah kolong tempat tidur. Ada sebuah tangan kekar yang tergeletak lemas di sana.

Milly menjerit tertahan, menutup mulutnya dengan kedua tangan. Jantungnya berdegup kencang. Dengan keberanian yang tersisa, dia mengintip lebih dalam.

Di sana, terkapar tubuh seorang pria berjas hitam formal. Wajahnya yang luar biasa tampan dengan rahang tegas dan alis tebal kini pucat pasi. Napasnya pendek-pendek, dan ada sedikit busa di sudut bibirnya yang membiru. Di dekat tangannya, sebuah gelas kristal berisi cairan sisa berwarna ungu terbalik.

"T-Tuan Arkan?" bisik Milly gemetar.

Milly panik setengah mati. Alih-alih langsung berlari keluar untuk berteriak minta tolong, otak cerobohnya malah menyuruhnya untuk memeriksa keadaan pria itu terlebih dahulu. Dia merangkak ke bawah kolong, menarik tubuh berat Arkan keluar dengan susah payah.

"Tuan! Bangun! Jangan mati di sini, saya bisa dipecat!" Milly menepuk-nepuk pipi dingin Arkan. Karena bingung dan panik, tangan Milly tanpa sadar mengambil gelas kristal yang tergeletak di lantai, berniat memeriksa baunya.

Brak!!!

Pintu kamar Penthouse didobrak dari luar.

Empat pria berjas hitam dengan tubuh tegap dan wajah garang langsung menerobos masuk dengan pistol siaga di tangan mereka. Di depan mereka, berdiri tangan kanan Arkan yang terkenal kejam, Bara.

Bara membeku sesaat melihat pemandangan di depannya bosnya terkapar tak berdaya di lantai, dan seorang pelayan perempuan sedang memegang gelas yang diduga berisi racun tepat di samping tubuh bosnya.

"Angkat tanganmu! Jangan bergerak!" bentak Bara, mengarahkan moncong pistolnya tepat ke dahi Milly.

"Eh?" Milly mengerjapkan mata, masih memegang gelas kristal itu dengan polosnya. "S-Saya cuma mau membersihkan kamar, Tuan... T-Tuan ini sepertinya masuk angin..."

"Diam! Kau tertangkap basah mencoba meracuni Tuan Arkananta! Ikat dia dan bawa ke markas bawah tanah. Jangan sampai media tahu!" perintah Bara dingin.

"Tunggu! Saya bukan pembunuh! Saya cuma pelayan yang ceroboh! Tolonggg!" Terlambat. Kedua tangan Milly langsung dipiting ke belakang, dan sebuah kain hitam pekat menutup pandangannya.

Milly tidak tahu, bahwa kecerobohannya hari ini telah menyeretnya masuk ke dalam sangkar emas milik sang iblis berdarah dingin.

Kegelapan yang pekat perlahan memudar saat kain hitam yang menutup kepala Milly disentak kasar. Cahaya lampu neon yang terang benderang langsung menusuk matanya, membuat Milly mengerjap-ngerjap panik. Kesadaran penuh langsung menghantamnya dia tidak lagi berada di kamar Penthouse yang mewah, melainkan di sebuah ruangan bawah tanah yang dingin, berbau semen basah, dan minim perabotan.

Milly mencoba menggerakkan tangannya, namun nihil. Kedua pergelangan tangannya terikat kuat ke belakang sandaran kursi besi yang didudukinya.

"T-Tolong... Lepaskan saya... Saya benar-benar cuma pelayan hotel," cicit Milly dengan suara serak, air mata mulai menggenang di balik kacamata bulatnya yang miring.

Di depannya, Bara berdiri tegak dengan kedua tangan bersendekap di dada, menatapnya tanpa emosi. "Simpan tangisanmu, Pembunuh. Racun sianida dosis rendah ditemukan di gelas yang kau pegang. Beruntung Tuan Arkananta segera mendapat penanganan medis dari dokter pribadi kami."

"Tapi bukan saya yang menaruh racunnya! S-Saya bersumpah!" Milly menggeleng kuat-kuat. "Saya cuma tersandung, lalu melihat Tuan Arkan di bawah ranjang. Karena panik, saya tarik beliau keluar. Saya pegang gelas itu cuma karena... karena saya penasaran baunya seperti apa!"

Bara mendengus sinis. "Alasan yang sangat bodoh. Kau pikir aku akan percaya ada pembunuh amatir seceroboh..."

Krieeet...

Pintu besi berat di ujung ruangan terbuka. Langkah kaki yang mantap dan beritme menggema, memotong kalimat Bara. Suasana di dalam ruangan seketika mendingin secara drastis, atmosfernya menjadi begitu pekat hingga Milly merasa sulit untuk sekadar bernapas.

Dari balik kegelapan lorong, sesosok pria tinggi tegap melangkah masuk. Arkananta Mahendra.

Pria itu sudah tidak lagi memakai jas formalnya. Ia hanya mengenakan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya terbuka, memperlihatkan lehernya yang kokoh. Wajahnya masih sedikit pucat, namun tatapan matanya yang setajam elang langsung terkunci pada Milly. Aura dominan dan intimidatif yang memancar darinya membuat nyali Milly menciut seketika.

"Tuan Arkan," Bara langsung membungkuk hormat. "Anda harusnya masih beristirahat."

Arkan mengangkat satu tangannya, mengisyaratkan Bara untuk diam. Ia berjalan perlahan, memutari kursi tempat Milly diikat. Setiap ketukan sepatunya di lantai semen terdengar seperti lonceng kematian bagi Milly.

Arkan berhenti tepat di depan Milly. Ia membungkukkan badannya, menyejajarkan wajahnya yang luar biasa tampan namun sedingin es dengan wajah Milly yang sudah sembap.

"Jadi... ini tikus kecil yang mencoba mengambil nyawaku?" suara Arkan rendah, berat, dan mengirimkan sensasi ngeri sekaligus getaran aneh ke punggung Milly.

"B-Bukan saya, Tuan..." Milly gemetar hebat, air matanya menetes jatuh. "Saya Milly, pelayan lantai 9. Saya tidak tahu apa-apa tentang racun. Saya cuma ceroboh... Tolong lepaskan saya, Ibu panti asuhan pasti mencari saya kalau saya tidak pulang..."

Arkan menatap mata Milly dalam-dalam. Sebagai pria yang terbiasa menghadapi musuh bisnis yang licik, ia sangat pandai membaca kebohongan. Namun, di dalam mata bulat di balik kacamata itu, Arkan hanya melihat ketakutan yang murni, kepolosan, dan... kebodohan yang nyata. Tidak ada kilat kelicikan khas seorang pembunuh bayaran profesional.

Arkan menegakkan tubuhnya kembali, lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah dokumen yang baru saja diberikan oleh tim intelijennya.

"Millyanita. Umur 21 tahun. Tumbuh di panti asuhan, tidak punya catatan kriminal, dan punya rekam jejak merusak tiga mesin penyedot debu mahal di hotel dalam bulan ini karena 'tidak sengaja'," Arkan membaca profil itu dengan nada datar, namun ada seringai tipis yang nyaris tak terlihat di sudut bibirnya.

Milly tersenyum kecut sambil meringis menahan malu. "T-Tuan tahu dari mana? Tapi itu membuktikan saya bukan pembunuh, kan?"

"Benar. Kau bukan pembunuh. Kau hanya gadis bodoh yang berada di waktu dan tempat yang salah," ucap Arkan kejam. "Tapi, dunia luar tidak tahu itu. Musuhku yang meracuniku pasti mengira rencananya berhasil karena hotel ditutup sementara."

Arkan mendekat lagi, menumpu kedua tangannya di sandaran lengan kursi Milly, mengurung gadis itu dalam kuasanya. Aroma parfum maskulin bercampur antiseptik yang tajam langsung menyeruak ke indra penciuman Milly.

"Kecerobohanmu hari ini membuatmu melihat hal yang tidak seharusnya kau lihat. Dan di duniaku, hanya ada dua cara untuk menjaga rahasia," bisik Arkan tepat di telinga Milly, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Pertama, melenyapkanmu. Kedua... mengikatmu."

"M-Mengikat?" Milly menelan ludah dengan susah payah.

"Aku butuh umpan untuk memancing bajingan yang mencoba meracuniku. Mulai besok, kau akan keluar dari hotel ini," Arkan menjauhkan wajahnya, menatap Milly dengan senyum diktatornya yang mematikan. "Kau akan menjadi istri kontrakku. Kau akan tinggal di rumahku, memakai margaku, dan berpura-pura menjadi wanita yang paling kucintai di depan publik."

Milly terbelalak sempurna. "A-Apa?! Menikah? Tapi saya tidak mau menikah dengan Tuan!"

"Kau tidak punya hak untuk menolak, Gadis Ceroboh," Arkan berbalik badan, bersiap meninggalkan ruangan. "Bara, urus pernikahannya besok pagi. Dan pastikan dia tidak merusak gaun pengantinnya sendiri."

"Baik, Tuan," jawab Bara patuh.

Milly hanya bisa melongo menatap punggung tegap Arkan yang perlahan menghilang di balik pintu besi. Hidupnya yang tenang sebagai pelayan biasa telah berakhir, digantikan oleh status baru yang jauh lebih berbahaya menjadi mainan di sangkar emas sang Presdir kejam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!