Melalui dinding yang seolah lenyap itu, Chen bisa melihat dengan sangat jelas interior kamar Mei. Dan yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari dada adalah, ia bisa melihat area kamar mandi kecil di dalam sana. Pintu kamar mandinya pun tembus pandang.
Di dalam sana, Mei sedang berdiri di bawah kucuran air shower. Tanpa sehelai pakaian pun.
Chen terpaku di tempatnya, tenggorokannya mendadak kering. Setiap lekuk tubuh tetangganya itu, bulir-bulir air yang mengalir di kulitnya, bahkan warna rambutnya yang basah terlihat dengan detail yang luar biasa jernih. Kemampuan matanya seolah menembus batas ruang dan privasi yang ada.
Chen buru-buru menutup kedua matanya dengan telapak tangan, napasnya memburu, dan wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
“A-apa yang terjadi dengan mataku?!” batin Chen menjerit panik sekaligus tidak percaya. “Apakah kakek semalam… benar-benar nyata?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Pelukan Penyelamat
Pertahanan diri Mei akhirnya runtuh sepenuhnya. Mendengar bentakan tulus yang sarat akan kekhawatiran dari Chen, gadis itu langsung menghambur dan menangis histeris di pelukan Chen.
Tubuhnya bergetar hebat, menumpahkan segala beban berat yang selama ini ia pikul sendirian dalam diam.
Chen mendekap erat tubuh Mei, mengusap punggungnya perlahan untuk memberikan rasa aman. Setelah tangisnya agak mereda, dengan suara yang masih sesenggukan, Mei mulai menceritakan semua masalah yang menghimpitnya.
"Utang adikku sudah terlalu banyak, Chen... Rentenir di kampung terus meneror ibu," isak Mei di dada Chen. Ia juga membeberkan alasan utamanya merantau ke kota ini dan hidup sangat hemat; tak lain adalah untuk mengirimkan setiap sen upahnya demi membantu sang ibu melunasi utang-utang judi adiknya.
"Tapi sebanyak apa pun yang kukirim, jumlahnya tidak pernah cukup karena dia terus berjudi..."
Mendengar penderitaan gadis yang dicintainya, hati Chen terasa disayat. Namun, di sisi lain, amarahnya membumbung tinggi kepada adik Mei yang tidak tahu diri. Chen menatap mata Mei dengan lekat.
"Jangan menangis lagi, Mei. Mulai malam ini, masalahmu adalah masalahku juga. Aku akan melunasi semua utang itu."
Malam itu juga, Chen membuka koper pemberian Liu dan mengambil uang tunai dalam jumlah yang dibutuhkan untuk membersihkan nama keluarga Mei dari jeratan rentenir kampung. Mei sempat menolak karena jumlahnya terlalu besar, tetapi Chen meyakinkannya bahwa keselamatan ibunya adalah yang utama.
Pelajaran dari Kelas Atas
Meski utang telah lunas, Chen tahu betul tabiat seorang penjudi. Jika tidak diberi pelajaran keras, adik Mei pasti akan kembali berulah di masa depan dan menghancurkan keluarganya lagi. Karena itulah, Chen memutuskan untuk bertindak lebih jauh.
Keesokan paginya, Chen menelepon Liu dan menceritakan situasi tersebut. Sebagai sahabat yang setia kawan, Liu langsung setuju tanpa ragu. "Serahkan urusan mendidik bocah ingusan itu kepadaku, Chen. Aku tahu cara menjinakkan orang seperti dia."
Melalui jaringan dan pengaruh keluarganya yang menggurita hingga ke pelosok, Liu mengirim beberapa orang kepercayaannya ke kampung halaman Mei untuk menjemput sang adik secara 'khusus'.
Adik Mei yang bernama liong itu, dibawa ke sebuah ruangan gelap. Di sana, ia dihadapkan langsung dengan anak buah Liu yang berwajah garang, lengkap dengan dokumen tiruan yang menyatakan bahwa seluruh aset taruhannya telah disita, dan jika ia menyentuh kartu atau meja judi sekali lagi, ia akan dilempar ke balik jeruji besi atau bekerja paksa di tambang terpencil seumur hidupnya.
Ancaman dingin dan tekanan mental yang diberikan oleh orang-orang Liu yang berkuasa benar-benar merontokkan nyali adik Mei. Ia menangis ketakutan, bersujud mohon ampun, dan bersumpah demi nama ibunya bahwa ia tidak akan pernah berani berjudi lagi seumur hidupnya. Efek jera itu tertanam begitu dalam di otaknya hingga ia menjadi benar-benar kapok.
Kelegaan yang Nyata
Dua hari kemudian, Mei menerima telepon dari ibunya di kampung halaman. Sang ibu menangis, tetapi kali ini adalah tangis bahagia. Beliau mengabarkan bahwa sekelompok orang berjas telah membereskan para rentenir, dan sang adik tiba-tiba berubah drastis menjadi anak yang penurut, rajin membantu di rumah, dan gemetar ketakutan setiap kali mendengar kata 'judi'.
Mei menurunkan ponselnya dengan perasaan tidak percaya. Ia menatap Chen yang sedang duduk santai di depannya sambil menyeruput teh.
"Chen... adikku... dia benar-benar berubah. Utang kami juga sudah selesai," ujar Mei dengan mata berkaca-kaca, kali ini karena rasa syukur yang teramat sangat. "Bagaimana bisa kau melakukan semua ini?"
Chen hanya tersenyum misterius, merasa puas karena bantuan Liu bekerja dengan sangat sempurna. "Aku kan sudah bilang, Mei. Kau tidak sendirian lagi sekarang."
👍😁