Sebuah kecelakaan mengubah hidup Nara Anindya selamanya. Saat membuka mata, dia terbangun di tubuh Bianca Ardhana, istri CEO tempatnya bekerja, sementara tubuhnya sendiri telah dimakamkan. Di balik rumah tangga yang tampak sempurna, tersimpan pengkhianatan, ancaman, dan rahasia yang belum terungkap. Mampukah Nara mengembalikan kebahagiaan keluarga itu tanpa kehilangan hatinya sendiri?
Jangan lupa like dan votenya ya. terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waya520, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Seorang Ibu
Malam setelah kedatangan Damian, Nara hampir tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali menutup mata, bisikan pria itu kembali terngiang. Dia merasa tidak tenang, seolah pria itu memang sengaja mengusik ketenangannya.
"Aku tahu semua rahasiamu." suara Damian terus terngiang-ngiang di kepalanya. Dia menggenggam erat selimut.
Bukan dirinya yang dia khawatirkan. Melainkan Elvano dan Elora. Jika Damian benar-benar mulai bergerak, keluarga kecil ini pasti yang akan jadi sasarannya.
.....
Keesokan paginya...
Nara terbangun lebih awal dari biasanya. Dia memutuskan membuat sarapan sendiri. Di dapur, beberapa pelayan kembali terkejut melihat nyonya rumah yang sudah mengenakan celemek.
"Bu, biar kami saja." ucap pelayan yang merasa tidak enak, lagi-lagi pekerjaannya di ambil alih sang nyonya.
Nara tersenyum. "Tidak apa-apa bi, aku sedang ingin masak, bibi bisa kerjakan pekerjaan yang lain. Hari ini aku ingin memasak."
Pelayan itu akhirnya mengalah dan menyerahkan apron miliknya pada Nara sambil tersenyum gugup. "Kalau begitu, kami membantu dari belakang saja."
"Baiklah."
Tidak lama kemudian, aroma nasi goreng dan sup ayam mulai memenuhi dapur.
Namun...
"Akh!"
Nara refleks menarik tangannya. Tadi ada sedikit minyak panas yang memercik ke jari telunjuknya.
"Bu!" Para pelayan langsung panik dan mendekati Nara.
Nara menoleh ke belakang, dia bisa melihat para pelayan itu wajahnya sudah pucat. "Saya tidak apa-apa." ucapnya menenangkan.
Meski berkata demikian, ujung jarinya mulai memerah.
Saat itulah seseorang meraih pergelangan tangannya.
"Kenapa tidak hati-hati?" terdengar suara Elvano terdengar tepat di belakangnya.
Nara menoleh dan matanya membola saat melihat pria itu sudah menatapnya dengan tatapan tajam, bulu kuduknya sampai berdiri. "Pak eh Elvano."
Elvano menghela napas pelan lalu berjalan mendekati Nara, dia menarik tangan wanita itu dan memeriksanya. Ada sedikit noda merah, untungnya tidak parah. "Ambilkan obat untuk luka bakar." perintahnya pada seorang pelayan.
Salah seorang pelayan buru-buru mengambil kotak P3K dan membawanya pada Elvano. Setelah menerima kotak itu. Dengan telaten, Elvano mengoleskan salep ke jari Nara.
"Ahh." ringis wanita itu kaget karena salep itu terasa dingin saat menyentuh kulitnya. Terlebih, Nara bisa melihat wajah mengeras suaminya.
Padahal lukanya hanya kecil. Namun Elvano mengobatinya dengan sangat hati-hati. Nara hanya bisa menatap wajah serius itu di hadapannya.
"Sudah." Elvano segera menutup kembali kotak obat.
"Lain kali jangan memaksakan diri." sambung pria itu sedikit mengomel, para pelayan tersenyum kecil melihat wajah khawatir tuan mereka yang biasanya acuh dan dingin.
Nara tersenyum kecil. "Baik."
Di belakang mereka, para pelayan saling bertukar pandang. Tuan mereka benar-benar berubah. Dulu, Elvano hampir tidak pernah memperhatikan Bianca sedetail ini.
.....
"Papa!" Elora datang berlari sambil membawa sendok kecil. "Mau bantu."
Elvano mengangkat putrinya. "Mau bantu apa?"
"Masak." jawab anak itu polos.
Nara langsung tertawa. "Nanti dapurnya malah berantakan."
"Tidak. Kan Elora anak pintar." Elora menggeleng keras.
Nara menghela nafas panjang lalu dengan terpaksa mempersilahkan Elora membantunya. Elvano memilih melihat anak dan istrinya dari jauh.
Beberapa menit kemudian. Dapur yang tadinya bersih dan rapi sekarang terlihat benar-benar berantakan.
Tepung berceceran di atas meja. Wajah Elora penuh noda tepung. Bahkan ujung jas Elvano ikut terkena bekas tangan mungil putrinya. Padahal dia sudah jaga jarak.
Nara tidak kuasa menahan tawa. "Katanya pintar?"
Elora tertawa malu. "Sedikit mama."
Elvano menatap jasnya yang kotor. Lalu menggeleng pasrah. "Sepertinya aku harus ganti baju." padahal sebentar lagi dia akan berangkat kerja, tapi salahnya karena tidak ingin melewatkan pemandangan indah tadi.
.....
Saat sarapan, suasana kembali hangat.
Elora sibuk bercerita tentang rencana menjadi "bos es krim".
Sementara Elvano mendengarkan dengan serius seolah sedang rapat penting.
Nara berkali-kali menahan tawa. "Kalau Elora jadi bos. Papa boleh kerja di sana tidak?" tanya Elvano yang membuat anak itu berpikir keras.
"Boleh." jawab sang anak tanpa ragu.
"Papa jadi apa?" tanya Elvano lagi.
"Jadi tukang makan es krim." lagi, jawaban polos Elora membuat Nara tertawa sampai tidak sengaja tersedak air minumnya.
"Uhuk."
"Elora. Itu bukan pekerjaan." gemas Elvano. Mana ada pekerjaan yang hanya makan es krim saja. Yang ada pasti bangkrut.
"Kenapa?. Kan Papa suka es krim."
Elvano akhirnya ikut tertawa. "Baiklah. Kalau begitu Papa terima."
.....
Setelah Elvano berangkat ke kantor, Nara menemani Elora bermain di taman depan.
Balita itu sedang mengejar gelembung sabun. Tawanya memenuhi halaman mansion. Melihat senyum Elora, Nara perlahan berjongkok. "Ayo sini."
Elora segera menghampirinya. "Iya, Mama?"
Nara memeluk tubuh mungil itu. "Elora."
"Hm?"
"Mama janji, akan selalu menjaga Elora."
Balita itu membalas pelukan Nara. "Elora juga. Mau jaga Mama."
Nara tersenyum haru. Andai Bianca bisa melihat putrinya sekarang. Pasti wanita itu akan merasa tenang.
.....
Sore harinya...
Raka masuk ke ruang kerja Elvano dengan membawa sebuah map cokelat. "Pak. Sudah ada hasil penyelidikan."
Elvano menutup laptopnya. "Cepat sekali."
"Karena orang itu pernah beberapa kali berurusan dengan perusahaan lain." jawab Raka lalu menyerahkan map tersebut.
Elvano membukanya perlahan. Di halaman pertama tertera foto Damian. Di bawahnya terdapat beberapa catatan.
Nama: Damian Prasetyo.
Pekerjaan: Konsultan bisnis (tidak tetap).
Catatan: Diduga terlibat dalam beberapa kasus pemerasan, tetapi tidak pernah memiliki bukti yang cukup untuk diproses hukum.
Tatapan Elvano berubah tajam. Dia membalik halaman berikutnya. Di sana terdapat beberapa foto Damian bersama berbagai wanita.
Termasuk. Satu foto Bianca. Foto itu diambil dari kejauhan.
Bianca tampak sedang menyerahkan sebuah amplop kepada Damian.
Rahang Elvano mengeras.
"Pak."
Raka berbicara hati-hati.
"Foto ini bisa disalahartikan."
Elvano tidak langsung menjawab.
Entah mengapa, dia justru teringat video yang pernah diam-diam dia lihat sekilas di laptop Bianca beberapa hari lalu, serta perubahan istrinya setelah kecelakaan.
Semua terasa tidak masuk akal.
"Terus selidiki." perintah Elvano.
"Terutama hubungan Damian dengan Bianca."
"Baik, Pak."
...
Malam....
Di sebuah apartemen mewah, Damian menuangkan segelas anggur sambil tersenyum puas.
Ponselnya berdering.
"Halo?" Suara di seberang terdengar pelan.
"Pak, CEO Ardhana mulai menyelidiki Anda."
Damian tertawa kecil.
"Biarkan saja. Lalu bagaimana dengan Bianca?"
Damian menatap foto keluarga Ardhana yang tersimpan di ponselnya.
"Aku ingin melihat, berapa lama dia bisa mempertahankan sandiwara itu."
Dia kemudian mengirim sebuah pesan ke nomor Nara.
Besok pukul dua siang. Datang sendiri ke Taman Kota. Kalau tidak, rahasiamu akan sampai ke telinga Elvano.
Di mansion Ardhana, ponsel Nara bergetar. Melihat isi pesan itu, wajahnya langsung pucat. Dia menggenggam ponsel dengan tangan gemetar.
Besok...
Dia harus memilih. Menghadapi Damian sendirian. Atau membiarkan rahasia terbesar dalam hidupnya terungkap.