NovelToon NovelToon
DIBUANG SAAT MISKIN, KINI AKU JADI OBSESI PARA KONGLOMERAT

DIBUANG SAAT MISKIN, KINI AKU JADI OBSESI PARA KONGLOMERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Bullying dan Balas Dendam / Dark Romance / Wanita perkasa
Popularitas:425
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Lima tahun lalu, Indri Izanami dibuang saat hidupnya berada di titik terendah. Dikhianati, dihina, dan ditinggalkan oleh orang-orang yang pernah ia cintai, ia menghilang tanpa jejak dari Jakarta.

Kini, ia kembali.

Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diinjak-injak,tapi sebagai sosok misterius yang memesona, berkuasa, dan berbahaya. Kehadirannya mengguncang para konglomerat yang pernah menghancurkannya.

Ardika, mantan kekasih yang dulu membuangnya, kini terobsesi untuk memilikinya kembali.

Surya Rabinson, cinta pertama yang menjadi sumber luka terdalamnya, mendadak terjebak dalam hasrat dan penyesalan yang membara.

Dan ketika Hisoka Adicambra, sang kaisar bisnis yang paling ditakuti di Jakarta, menunjukkan ketertarikan padanya, permainan balas dendam berubah menjadi perang kekuasaan yang mematikan.

Namun di balik senyum dinginnya, Indri menyimpan satu tujuan:

Membuat mereka semua berlutut di hadapannya.

Karena kali ini, yang menjadi mangsa bukan lagi dirinya.

Melainkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aliansi yang Dipaksakan

Kerumunan mulai menipis saat ia berjalan menuju area kedatangan. Dan di sanalah ia melihatnya. Ardika. Berdiri tegak di balik pembatas, mengenakan setelan jas abu-abu mahal, rambutnya tertata rapi. Wajahnya menampakkan kegelisahan yang nyaris tidak terlihat, namun matanya, saat menangkap sosok Indri, langsung menyala dengan intensitas yang tak salah lagi—sebuah antusiasme obsesif yang selalu membuat Indri muak.

Ardika melangkah maju, senyum lebar terukir di bibirnya. Ia berusaha terlihat menawan, seolah waktu tidak pernah berlalu, seolah pengkhianatan di masa lalu hanyalah ilusi. "Indri! Kau kembali!" Suaranya terdengar terlalu keras, terlalu gembira, terlalu posesif.

Indri membalas senyumnya dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata. Tubuhnya terasa menegang di balik keramahan yang dipaksakan. Ia benar-benar berpikir aku akan kembali ke pelukannya. Ia mengangguk, mendekat.

Ardika merentangkan tangannya, seolah ingin memeluknya. Indri dengan sigap menghindari sentuhan itu, hanya mengulurkan tangan untuk berjabat. Cengkeraman Ardika kuat, hangat, terlalu akrab. Sebuah kilatan jijik melintas di hati Indri.

"Aku merindukanmu," bisik Ardika, tatapannya lekat, seolah mencoba menembus pertahanan Indri. "Kau tidak tahu seberapa besar aku merindukanmu."

"Aku tahu," jawab Indri datar, melepaskan tangannya dari Ardika. "Aku yakin semua orang tahu."

Alis Ardika sedikit berkerut, menangkap nada dingin dalam suara Indri. Namun, ia memilih untuk mengabaikannya. "Mari kita pergi. Aku sudah menyiapkan semuanya. Penthouse kita..."

"Penthouse kita?" Indri memotong, matanya menajam. "Aku tidak ingat pernah setuju untuk kembali ke sana, Ardika."

Wajah Ardika mengeras sedikit, senyumnya memudar. "Tentu saja. Kita harus bicara. Ada banyak hal yang perlu kita diskusikan. Masa depan kita."

"Masa depan?" Indri menghela napas. "Terlalu cepat untuk bicara masa depan, Ardika. Aku baru saja mendarat."

Mereka berjalan menuju tempat pengambilan bagasi, dikelilingi oleh hiruk pikuk bandara. Setiap langkah Ardika terasa terlalu dekat, setiap tatapannya terlalu menguasai. Indri merasakan perutnya mual. Ia ingat tujuan kedatangannya: bukan untuk terperangkap lagi, melainkan untuk menyeret Ardika ke jurang kehancuran.

Di dalam mobil mewah yang terparkir di area VIP, keheningan terasa memekakkan. Sopir Ardika melaju dengan tenang, membelah kepadatan lalu lintas Jakarta. Ardika duduk di samping Indri, tangannya meraih tangan Indri lagi.

"Indri, aku ingin kita menikah," Ardika berkata, suaranya rendah, penuh desakan. "Sekarang, setelah Hisoka tiada, tidak ada yang bisa menghalangi kita. Kita bisa memulai hidup baru. Di mana pun kau mau."

Indri menatap wajah Ardika, yang dipenuhi keyakinan buta. Menikah? Ia benar-benar berpikir aku masih wanita yang sama. Rasa benci mengalir dalam dirinya. Pria ini, yang ayahnya terlibat dalam jaringan perdagangan manusia, yang membuangnya, yang membakar kenangan terakhirnya, sekarang berani melamarnya.

"Menikah?" Indri mengulang, suaranya tenang, namun mengandung duri. "Setelah semua yang terjadi? Setelah aku tahu apa yang sebenarnya Hisoka tinggalkan untukku?"

Wajah Ardika menegang. Cengkeramannya pada tangan Indri mengerat, menyakitkan. "Apa maksudmu?"

"Hisoka bukan hanya seorang konglomerat korup," Indri melanjutkan, matanya menatap Ardika lurus. "Dia adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar. Sebuah sindikat. Dan ayahmu, Ardika, ternyata juga terlibat."

Ardika menarik tangannya, seolah tersengat listrik. Wajahnya memucat, pupil matanya melebar. "Omong kosong! Ayahku seorang pengacara terhormat! Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan!"

"Benarkah?" Indri mengangkat alis, senyum sinis tersungging di bibirnya. "Apakah jenderal purnawirawan bisa terlibat dalam transfer dana ilegal dalam jumlah fantastis ke rekening sindikat perdagangan manusia? Hisoka meninggalkan semua buktinya, Ardika. Semuanya. Termasuk nama ayahmu."

Ardika membeku. Bibirnya bergetar, tatapannya menyiratkan campuran panik dan amarah yang meledak-ledak. "Kau... kau membacanya? Kau membuka hard drive itu? Aku pikir kau membuangnya!"

"Aku tidak pernah membuang apa pun yang bisa memberiku keuntungan," Indri membalas, suaranya dingin dan tegas. Ia melihat kepanikan di mata Ardika, ketakutan yang nyata. Inilah dia. Wajah aslinya.

"Indri, dengar," Ardika mencoba menenangkan diri, suaranya terdengar putus asa. "Itu... itu hanya jebakan. Hisoka sengaja melakukan itu untuk menghancurkan ayahku. Untuk menjebak kita berdua."

"Menjebak kita?" Indri tertawa kecil, tawa tanpa humor. "Atau memang itu kebenarannya? Kau sudah tahu tentang ini, kan, Ardika? Kau tahu keterlibatan ayahmu. Kau berusaha melindunginya. Itulah mengapa kau begitu ingin aku menikahimu, untuk membawaku pergi, untuk menjauhkan hard drive itu dari jangkauan siapa pun."

Wajah Ardika kini merah padam. Ia mengatupkan rahang, urat-urat di lehernya menonjol. "Aku melakukan ini untuk kita, Indri! Untuk melindungimu! Kau tidak mengerti seberapa berbahayanya sindikat itu!"

"Aku mengerti," Indri menjawab, tatapannya tak gentar. "Aku mengerti bahwa aku hanya alat bagimu, Ardika. Alat untuk menyingkirkan Hisoka, lalu alat untuk menutupi jejak keluargamu sendiri."

Keheningan kembali menyelimuti mereka di dalam mobil. Ketegangan terasa begitu pekat, seolah bisa dipotong dengan pisau. Indri menoleh ke samping, mencari botol minum di tas tangan kecilnya yang tergeletak di bangku. Jemarinya merogoh ke dalam tas, menyentuh lapisan kain yang lembut. Dan kemudian, sesuatu yang keras dan dingin.

Jantung Indri berdebar. Jemarinya menariknya keluar. Sebuah perangkat kecil berwarna hitam, berbentuk oval, dengan lampu LED kecil yang berkedip samar. Pelacak.

Ia menatap benda itu, darahnya terasa dingin. Ardika. Ia tidak hanya mencoba memanipulasinya, ia juga memantaunya. Mengapa aku tidak terkejut? Ia merasakan jijik yang mendalam, sebuah realisasi pahit bahwa Ardika tidak akan pernah benar-benar berubah. Kepercayaannya, sekecil apa pun, kini hancur berkeping-keping.

Indri menoleh ke Ardika, yang kini menghindari tatapannya, sibuk menatap jalanan yang macet. Ada kegelisahan yang jelas di gerak-geriknya.

"Kau pikir kau bisa mengendalikanku, Ardika?" Indri berbisik, suaranya serak. Ia memegang pelacak itu di antara jemarinya, merasakan getaran kecilnya.

Ardika menoleh, menatap Indri. Matanya melebar saat melihat benda kecil di tangan Indri. Wajahnya seketika pucat. Ia tertangkap basah.

"Indri... itu..." Ardika tergagap, mencoba menjelaskan.

Indri tidak memberinya kesempatan. Sebuah seringai dingin muncul di bibirnya. Perburuan baru saja dimulai. Ia tahu ini adalah bagian dari permainan Hisoka yang tak pernah berakhir.

Mobil Ardika melaju dengan kecepatan sedang di jalan tol, membelah kemacetan Jakarta. Tanpa ragu, Indri membuka jendela mobil. Angin kencang menerpa wajahnya, menyibakkan rambutnya. Dengan gerakan cepat dan tegas, ia mengangkat tangannya, lalu melemparkan pelacak itu ke luar jendela.

Benda kecil itu melayang sebentar, berputar-putar, sebelum akhirnya jatuh ke jalan raya yang ramai, menghilang di antara mobil-mobil yang melaju kencang, menjadi puing yang tak berarti.

Ardika menatapnya dengan mata terbelalak, dipenuhi keterkejutan dan kemarahan. "Apa yang kau lakukan?! Indri!"

Indri menoleh ke Ardika, matanya memancarkan tekad yang membara, lebih dingin dari salju Alpen. Ia telah melepaskan tali yang mengikatnya. Perburuan baru, kali ini, benar-benar dimulai.

*

Beberapa hari berlalu sejak Indri membuang pelacak di mobil Ardika, sebuah gestur yang terasa seperti melempar bom kecil ke dalam ketegangan yang sudah ada. Jakarta kini terasa berbeda. Setiap sudut kota, setiap tatapan mata orang asing, seolah menyimpan ancaman tersembunyi. Ia menyadari, membuang pelacak itu bukan akhir dari permainan, melainkan sebuah tantangan yang ia lemparkan balik.

1
Towang Risawang
Selamat datang para pembaca yang budiman.

Silakan berkomentar untuk memberikan masukan demi meningkatnya mutu karya saya di masa yang akan datang.

Terima kasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!