Rina, pengusaha sukses berusia 28 tahun, tewas akibat pengkhianatan keluarga dan rekan bisnis. Saat sadar, dia regresi ke tubuhnya di kelas 11 SMA — tepat 10 tahun ke belakang.
Dulu Rina adalah gadis pemalu yang sering dibully geng cewek populer, dikhianati pacar pertamanya, dan diabaikan orang tuanya yang sibuk bisnis. Kini dengan semua pengetahuan masa depan, Rina berubah total.
Dia akan balas dendam di sekolah elit Harapan Elite International School, naik menjadi ratu sekolah yang ditakuti dan dikagumi, rebut prestasi akademik & ekstrakurikuler, perbaiki hubungan keluarga, serta hancurkan semua orang yang pernah menyakitinya.
Drama remaja SMA, revenge yang memuaskan, slice-of-life sekolah, intrik keluarga kaya, dan romansa slow-burn dengan Kai — ketua OSIS dingin keturunan konglomerat yang pernah menolongnya di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejatulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAHABAT PALSU DAN JEBAKAN PERTAMA
Aroma pengharum ruangan beraroma apel langsung menyambut Rina begitu dia menggeser pintu ruang kelas 11-A.
Kelas ini adalah replika kecil dari dunia sosial kelas atas: meja dan kursi kayu berkualitas tinggi, papan tulis interaktif, dan pendingin ruangan yang berembus konstan.
Di dalam ruangan ini, kubu-kubu sosial sudah terbentuk dengan rapi berdasarkan status kekayaan orang tua mereka.
Rina berjalan tanpa ekspresi menuju barisan paling belakang di pojok kanan.
Di kehidupan sebelumnya, dia sengaja memilih bangku ini agar tidak mencolok dan terhindar dari pandangan para perundung.
Hari ini, dia memilih tempat yang sama, namun dengan alasan yang sangat berbeda: sudut belakang adalah tempat terbaik untuk mengamati seluruh pergerakan musuh tanpa terdeteksi.
Baru saja Rina meletakkan tas ranselnya di atas meja, pintu kelas kembali bergeser.
Suara tawa melengking yang sangat dia kenali terdengar bergema di koridor.
Itu adalah Sherly.
Gadis itu berjalan masuk dengan langkah anggun, dikelilingi oleh tiga orang siswi pengikutnya.
Sherly adalah definisi dari standar emas siswi populer di Harapan Elite: rambut panjang yang bergelombang sempurna, kulit putih yang dirawat di klinik estetika mahal, dan seragam sekolah yang dimodifikasi sedikit ketat agar memperlihatkan lekuk tubuhnya yang proporsional.
Orang tuanya adalah pemilik jaringan hotel mewah, menjadikannya salah satu "putri" yang paling ditakuti di angkatan mereka.
Mata Sherly menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya terkunci pada sosok Rina yang sedang duduk tenang di pojok belakang.
Senyum manis—yang di masa lalu selalu Rina anggap sebagai senyum persahabatan yang tulus—langsung terkembang di wajahnya.
"Rina! Oh my God, aku kangen banget sama kamu!" seru Sherly dengan nada suara yang dibuat-buat manja.
Dia langsung melangkah cepat menyeberangi kelas, meninggalkan teman-temannya, dan menghampiri meja Rina.
Tanpa permisi, Sherly langsung duduk di kursi kosong di sebelah Rina dan merangkul bahu gadis itu dengan erat.
Aroma parfum vanila menyengat yang manis dan mahal langsung memenuhi indra penciuman Rina.
Di kehidupan lalu, pelukan ini selalu membuat Rina merasa diterima dan berharga.
Namun sekarang, Rina hanya bisa merasakan kehangatan palsu yang terasa menggelikan, sedingin kulit ular yang bersiap membelit mangsanya.
"Kamu ke mana aja sih selama liburan musim panas? Aku chat jarang dibalas," protes Sherly, mengerucutkan bibirnya pura-pura merajek.
"Padahal aku mau cerita banyak tahu tentang liburan aku ke Paris kemarin."
Rina membenarkan letak kacamatanya dengan ujung jari telunjuk, sebuah gestur kecil untuk menyembunyikan kilat dingin di matanya.
"Aku sibuk membantu Ibu di rumah, Sher," jawab Rina, menggunakan nada suara yang sedikit pelan dan agak ragu-ragu—meniru persis persona dirinya yang lama.
"Ih, rajin banget sih sahabat aku ini," puji Sherly sambil menepuk-nepuk bahu Rina.
Namun, sedetik kemudian, binar matanya berubah menjadi lebih tajam dan penuh tuntutan.
Senyumnya masih ada, tetapi nadanya kini berubah menjadi perintah yang dibungkus dengan nada kasual.
"Oh iya, by the way... kamu ingat kan janji kamu sebelum liburan kemarin? Buku tugas Matematika kalkulus musim panas punya aku, Clarissa, sama tas aku... udah selesai kamu kerjain semua, kan?"
Inilah inti dari apa yang disebut Sherly sebagai "persahabatan".
Di kehidupan pertamanya, Sherly mendekati Rina yang kuper bukan karena tulus, melainkan karena Rina adalah murid yang rajin dan mudah dimanipulasi untuk mengerjakan semua tugas akademiknya.
Dengan imbalan "diizinkan" makan bersama di kantin dan dianggap sebagai teman oleh geng populer, Rina dengan bodohnya merelakan dirinya menjadi budak akademik mereka selama setahun penuh.
"Tugas matematika?" Rina berpura-pura mengernyitkan kening, memasang wajah bingung yang tampak sangat natural.
"Iya, Rin! Jangan bilang kamu lupa?!" Nada suara Sherly mendadak naik satu oktav, senyum manisnya sedikit terkikis, memperlihatkan sifat aslinya yang tidak sabaran dan otoriter.
"Hari ini kan jam pertama pelajaran Pak Bambang! Kamu tahu sendiri kan se-killer apa dia? Kalau tugas kita berempat nggak dikumpul sekarang, kita bisa nggak diizinin ikut ujian semester!"
Di barisan depan, Clarissa dan dua kaki tangan Sherly lainnya mulai menoleh ke belakang, menatap Rina dengan pandangan mengintimidasi yang tajam.
Mereka sudah terbiasa menerima hasil instan dari kerja keras Rina.
Rina menghela napas panjang, lalu memasang raut wajah cemas dan bersalah yang dibuat-buat dengan sangat sempurna.
Dia membuka tas ranselnya, meraba-raba bagian dalamnya selama beberapa saat, sebelum akhirnya menutupnya kembali dengan wajah pucat yang disengaja.
"Maaf banget, Sher..." bisik Rina, suaranya dibuat sedikit bergetar seolah dia sedang ketakutan setengah mati.
"Buku tugas kalian... tertinggal di atas meja belajar di rumahku."
Suasana di pojok kelas itu mendadak mendingin.
Sherly melepaskan rangkulannya dari bahu Rina dengan sentakan kasar.
Wajah cantiknya langsung mengeras, matanya menatap Rina dengan pandangan yang sangat menghina dan penuh amarah.
Topeng sahabat baik yang selama ini dia kenakan runtuh seketika dalam hitungan detik.
"Tertinggal? Kamu bercanda ya, Rina?!"
ketus Sherly, suaranya tidak lagi manja, melainkan dingin dan menusuk.
"Kita udah kasih kamu waktu dua bulan penuh buat ngerjain tugas itu! Dan sekarang kamu bilang tertinggal? Kamu sengaja mau bikin kita dihukum?!"
Clarissa langsung berdiri dari kursinya dan berjalan menghampiri meja Rina dengan langkah menghentak.
"Heh, kuper! Punya otak tuh dipakai ya! Kita udah baik banget mau temenan sama anak pembawa sial kayak kamu, dan sekarang ini balasan kamu? Kalau sampai nilai rapotku merah gara-gara kamu, aku pastiin hidup kamu di sekolah ini bakal kayak di neraka!" ancam Clarissa dengan kasar, tangannya menggebrak meja Rina hingga menimbulkan bunyi dentuman yang cukup keras.
Beberapa siswa lain di kelas yang mendengar keributan itu mulai menoleh dan berbisik-bisik.
Di kehidupan lalu, konfrontasi seperti ini akan membuat Rina menangis gemetar, memohon ampun, dan menawarkan diri untuk pulang naik taksi demi mengambil buku tersebut.
Namun, Rina yang sekarang justru sedang menikmati setiap detik dari ekspresi panik dan marah di wajah para sahabat palsunya ini.
Di dalam tasnya, buku tugas itu sebenarnya ada.
Dia sudah menyelesaikannya dengan sempurna, namun dia tidak akan pernah menyerahkannya kepada mereka.
Ini adalah umpan pertamanya untuk memicu riak kecil yang akan menghancurkan reputasi akademik Sherly.
"Maaf... aku benar-benar nggak sengaja," ucap Rina, menundukkan kepalanya dalam-dalam, berpura-pura takut sambil menyembunyikan senyuman dingin yang terukir di bibirnya.
"Bagaimana kalau aku jelaskan ke Pak Bambang nanti kalau ini semua salahku?"
"Jelasin ke Pak Bambang? Kamu pikir dia bakal peduli?!" bentak Sherly, wajahnya memerah karena emosi yang meluap-luap.
Dia berdiri dari kursi di sebelah Rina, menatap gadis itu dari atas ke bawah dengan pandangan jijik.
"Denger ya, Rina. Cari cara gimana pun caranya sebelum bel masuk berbunyi, atau persahabatan kita selesai sampai di sini. Jangan harap kamu bisa duduk di meja kantin kita lagi!"
Sherly membalikkan badannya dengan kasar, berjalan kembali ke barisan depan diikuti oleh Clarissa yang sempat memberikan tatapan mengancam terakhir kepada Rina.
Rina perlahan menegakkan kembali punggungnya setelah geng Sherly menjauh.
Dia membetulkan letak kacamatanya yang sempat melorot.
Ketakutan yang terpancar di wajahnya beberapa detik lalu lenyap tanpa bekas, berganti dengan ekspresi dingin dan tenang yang tak tersentuh.
Persahabatan selesai? batin Rina sambil mengetukkan jemarinya di atas meja kayu.
Memang itu yang aku mau, Sherly.
Dan ini baru permulaan.
Sebentar lagi, jam pelajaran Matematika akan dimulai, dan kalian akan tahu bagaimana rasanya terpojok tanpa ada keset kaki yang bisa kalian injak untuk menyelamatkan diri.
Rina melirik jam dinding kelas yang berdetak konstan menuju pukul tujuh pagi.
Dia menarik sebuah buku catatan kosong dari dalam tasnya, lalu mulai menuliskan beberapa rumus kalkulus tingkat tinggi yang sebenarnya baru akan diajarkan di tingkat universitas, bersiap untuk pertunjukan utama yang akan segera dimulai.
******