Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.
Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?
Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?
Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?
Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Sebelum cahaya matahari benar-benar menyentuh dasar lembah, denyut kehidupan didesa Huanshan dan sekitarnya telah dimulai melalui suara-suara alam yang saling bersahutan.
Ada sebuah keajaiban yang sulit dijelaskan ketika melihat para wanita menyalakan tungku api, sementara kaum lelaki menyiapkan segala peralatan dalam mencari rezeki demi keberlangsungan hidup keluarga.
Semua selaras, saling menopang, mendukung dan menggenggam, agar tidak jatuh lalu pergi meninggalkan duka kehilangan.
Dua ribu batang sabun kembali diantarkan kemenara Guangdong. Kali ini Bai Anshu hanya pergi bersama Bai Dashan, dengan menyewa gerobak keledai dokter Yong.
"Paman Bai, Shu-ya...!" sambutan riang Guang Meilan, kala kereta memasuki pelataran toko.
Guang Yulong, gegas keluar dari kubikel transaksi, bersemangat menyambut dengan penuh keramahan lalu membantu menurunkan keranjang kemas.
Bai Dashan memberikan catatan jumlah setiap ukuran pada Guang Yulong.
"Paman Bai, mohon tunggu kakek sebentar ya..? sebab ada yang ingin beliau bicarakan." kata Guang Yulong.
"Baik tuan muda...!"
Teh serta camilan disuguhan bagi ayah dan anak itu.
Guang Yulong dan Meilan mulai bersibuk. Menghitung ulang, menata lalu menjumlah total uang.
Nominalnya sama seperti dua hari lalu, seribu lima ratus tujuh puluh tael delapan ratus wen.
Sepuluh menit berlalu, kakek Guang muncul tergesa.
"Ah, tuan Bai, Shu'er...!"
"Salam tuan Guang..!"
"Salam kakek...!"
"Maaf sudah membuat kalian menunggu." ucap kakek Guang, duduk dibangku yang berhadapan dengan Bai Dashan.
"Tidak masalah tuan, kami juga belum lama sampai."
Kakek Guang menuang teh untuk kedua koleganya yang langsung diteguk oleh Dashan dan Anshu.
"Serikat dagang Dao, milik klan pensiunan jenderal besar Murong, mengajukan kerjasama sabun untuk dipasarkan keseluruh wilayah Huancu, dan kekaisaran tetangga serta negara barat. Mereka memesan sepuluh ribu batang sabun untuk semua jenis." beritahu kakek Guang.
"Apa, sepuluh ribu..?" pekik Bai Dashan dan Anshu, melompat dari kursi karena saking kagetnya.
Kakek Guang mengangguk "mereka mau dua ukuran saja, XL dan L."
Bai Dashan dan Anshu bertukar tatapan, sembari menelan ludah manis dengan susah payah.
"Kapan mereka menginginkannya..?" tanya bergetar Bai Dashan.
"Kalian kapan bisa menyiapkannya..?" tanya balik kakek Guang "selain itu, serikat dagang Dao menginginkan dua kali pengiriman dalam satu minggu dengan jumlah yang sama."
Dashan dan Anshu meringis.
Dua puluh ribu dalam seminggu, belum lagi pesanan menara Guangdong.
"Untuk pesanan diawal ini, kami baru bisa menyediakannya lima hari lagi, sebab mulai lusa kami akan disibukkan dengan perbaikan rumah." kata Bai Dashan.
"Baik, lima hari. Nanti aku akan menyampaikan kepada tuan muda kedua Murong." sahut kakek Guang, mengambil dompet berisi lima ribu tael.
"Ini uang muka dari serikat dagang Dao."
Bai Dashan dan Anshu kompak menggeleng.
"Kami tidak berani menerimanya. Nanti saja dibayar lunas saat pengiriman barang." kata Bai Dashan.
"Terima saja, tuan muda kedua Murong sangat mempercayai kalian. Jika menolak, itu malah bisa menjadi masalah."
Bai Dashan dan Anshu bertukar tatapan seraya berpikir sesaat, sebelum akhirnya menerima uang panjer tersebut.
Tanda terima deposit dibuat, masing-masing memegang satu salinan.
Sejak pertama kali muncul dimenara Guangdong, dalam sekejab pamor sabun dengan merk dagang Bai Soap membuat geger kota Tiankeng, hingga prefektur Luoyang.
Klan keluarga Murong langsung dibuat jatuh cinta dengan sabun ajaib yang seratus kali lipat lebih bagus dari kacang mandi.
Terlebih para kaum wanita dikeluarga Murong, yang selalu ingin mandi dan keramas terus.
Murong Canfeng, pewaris kerajaan bisnis keluarga serta penggagas terbentuknya serikat dagang Dao, semalam menemui kakek Guang dan membuat kesepakatan kerjasama.
Untuk sabun mandi dan shampo, kakek Guang memberi harga khusus pada serikat Dagang Dao yaitu enam ratus koin ukuran XL dan lima ratus wen size L.
Sabun cuci, lima ratus wen yang XL, kalau size L, empat ratus koin.
"Tapi untuk pesanan menara Guangdong, aku harap pengirimannya tetap sesuai dengan jadwal." pinta kakek Guang penuh harap.
"Baik tuan, akan kami usahakan."
Pembayaran diterima, Bai Dashan dan Anshu pamit.
Tujuan mereka toko percetakan.
Mengambil pesanan, sekalian membeli kertas minyak dan membuat orderan baru sebanyak lima puluh ribu lembar untuk ukuran XL dan L. Sementara size M cuma dua puluh ribu.
"Paman Chun, kalau pesanan yang sekarang selesai, buatkan lagi dalam jumlah yang sama ya..?"
"Baik...!"
Tempat berikutnya adalah toko biji-bijian.
Beras poles, gandum, millet, tepung terigu, dibeli masing-masing seratus kati.
Selanjutnya toko kelontong. Bumbu lengkap, kecap, garam, arak beras, minyak, gula, diborong dalam jumlah melimpah sampai menghabiskan sepuluh tael.
Susu domba dan lemak babi, tak lupa juga mereka beli.
Kuali serta wajan tembaga, panci besi, kukusan, set peralatan makan, set mangkuk prasmanan, bak tembaga dan kayu, tandon air, bermacam pisau, gerabah berbagai ukuran, sekalian Bai Dashan angkut juga.
"Ayah, bagaimana kalau kita mempekerjakan kedua cucu lelaki nenek Pan dan putra pertama paman Dayan..?"
Ayah dan anak itu kini sudah dalam perjalanan pulang kerumah.
"Boleh..!" jawab Dashan.
"Selain mereka, ayah pikir putra paman Yan dan cucu lelaki serta perempuan kakek Su, bisa kita tawari."
"Baik, aku ikut pengaturan ayah."
"Nanti sore ayah akan datangi mereka. Jika ada yang sudah terdaftar menjadi buruh bangunan, ayah akan meminta paman Yeping mu mencari penggantinya."
Bai Anshu manggut-manggut "ayah, setelah rumah selesai, mari kita membeli gerobak sapi dan kereta kuda..?"
"Kalau begitu, sekalian saja kita membuat kandang untuk kuda dan sapinya..?"
"Ya, aku setuju."
Bai Anshu mengambil botol berisi air suci. Ia sodorkan pada sang ayah.
Bai Dashan dengan senang hati menyambut perhatian dari putri sulungnya itu.
"Tidak lama lagi musim dingin, salju tahun ini pasti akan lebih tebal. Ayah, bagaimana kalau kita juga merenovasi rumah kakek dan nenek..?"
Bai Dashan menghela nafas sejuta makna "baik kakek nenek dari pihak ayah atau ibumu, pasti tidak akan mau."
"Bilang saja kalau itu pinjaman, dan bisa dikembalikan jika bisnis mereka sudah menghasilkan keuntungan."
Alis Bai Dashan merajut kasar "bisnis apa..?"
Bai Anshu tergelak, melihat wajah cemberut bingung ayahnya.
"Aku berencana mengajak kakek nenek, paman dan bibi berbisnis. Sebenarnya sudah ada beberapa yang menurutku bagus, tapi aku masih perlu mempelajari produk sejenis ini yang sekarang ada dipasaran baik dari rasa, harga dan varian."
"Kalau memang rencananya seperti itu, kemungkinan kakek nenek dan pamanmu mau menerima pemberian kita untuk perbaikan rumah."
"Lusa setelah istirahat sore, ayah coba bicara dengan mereka ya..?"
Bai Dashan tersenyum, mengusap pucuk kepala putri kesayangannya "baik..!"
Tanpa terasa, satu jam sudah terlewati.
Bai Dashan dan Bai Anshu, tiba juga dirumah.
Terlihat kesibukan pembuatan sabun sudah dilakoni.
Bahan-bahan segar yang dikumpulkan penduduk menumpuk diberanda dapur, sebagian sudah digiling halus.
Halaman belakang penuh berjejeran sabun yang telah dicetak, dan sedang dikeringkan.