Sepuluh tahun lalu, orang tua Halra Wiragata tewas mengenaskan setelah sistem mobil listrik mereka diretas secara sadis oleh Dinasti Joharo. Kini, tepat di usianya yang ke-17, takdir mempermainkan Halra dengan cara yang paling kejam: ia dipaksa menikah dengan Sano Joharo, putra bungsu dari pembunuh orang tuanya.
Terjebak di dalam mansion siber milik Sano yang serba otomatis, paranoia Halra memuncak. Demi melindungi diri dari sang suami yang dingin dan berbahaya, Halra nekat menyewa Tazam, pengawal pribadi tampan untuk berpura-pura menjadi kekasih gelapnya demi memicu kecemburuan Sano.
Namun, permainan api itu justru membongkar konspirasi berdarah yang jauh lebih besar. Saat topeng-topeng mulai runtuh di bawah satu atap, Halra harus menghadapi kenyataan mengerikan: Siapakah yang sebenarnya menjadi tameng terakhirnya, dan siapa musuh dalam selimut yang siap melenyapkannya dari balik server?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellsqueen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Transformasi Sang Nyonya
Pagi di Wiragata Hotel dimulai dengan atmosfer yang jauh berbeda dari biasanya. Langkah kaki Halra yang mengenakan setelan celana panjang formal berpotongan tegas, blus sutra berwarna gelap, serta mantel panjang bergaya trench coat navy yang anggun dan berwibawa menggema di lantai marmer lobi utama. Rambutnya diikat satu ke atas dengan rapi, memperlihatkan garis wajahnya yang tajam, sementara tangannya memegang map dokumen kulit hitam dengan erat. Aura kekuasaan dan profesionalisme langsung menguar di sekitarnya.
Sebagai Manager Hotel yang baru, Halra tidak menyia-nyiakan waktu. Ia langsung turun tangan, berjalan dari satu departemen ke departemen lain, mengawasi kinerja para karyawan secara langsung. Tidak ada lagi sisa-sisa gadis manja yang mudah goyah. Tatapannya tajam, mengamati setiap detail operasional, laporan harian, hingga pelayanan staf kepada para tamu. Para karyawan yang tadinya memandang sebelah mata kini langsung berdiri tegak dan bekerja dengan tingkat kedisiplinan yang jauh lebih tinggi begitu melihat kedatangan Nyonya muda mereka.
Hari-hari berikutnya, transformasi Halra berlanjut hingga larut malam. Di dalam ruang kerja pribadinya yang megah, meja kerjanya dipenuhi oleh tumpukan laporan neraca keuangan, dokumen audit, dan peta strategi korporat. Tidak tanggung-tanggung, Halra mendatangkan seorang konsultan bisnis senior dan ahli keuangan papan atas untuk mengajarinya secara privat setiap malam.
Di bawah cahaya lampu meja yang temaram, Halra dengan sabar mendengarkan, mencatat, dan membongkar setiap angka-angka rumit. Fokus utamanya tertuju pada bagian keuangan—jantung dari Wiragata Hotel. Ia bertekad untuk memahami setiap aliran dana, celah anggaran, hingga sistem investasi agar tidak ada satu pun orang yang bisa membohonginya atau merendahkannya lagi, terutama Sano.
Tanpa sepengetahuan Halra, dari balik pintu kaca ruang kerjanya yang sedikit terbuka, Sano berdiri diam dalam bayang-bayang lorong. Pria itu menyilangkan tangan di dada, memperhatikan bagaimana istrinya bergulat dengan angka-angka dan teori bisnis dengan penuh semangat dan ketekunan yang luar biasa.
Sano mengamati perubahan drastis itu dengan perasaan yang berkecamuk. Di satu sisi, ada rasa kagum yang mendalam atas tekad baja yang kini dimiliki oleh wanita yang dulu selalu dilindungi dan dimanjakan keluarganya Namun di sisi lain, terselip sebuah kelegaan yang hampa di dalam dadanya.
Sano menarik napas perlahan, tatapannya melembut namun menyiratkan beban rahasia yang berat.
“Bagus, Halra... teruslah bertumbuh menjadi wanita yang kuat,” batin Sano dalam diam. “Dengan cara ini, suatu saat nanti, jika takdir memaksaku pergi meninggalkan dunia ini atau kehidupan gelap itu menjemputku, aku tidak perlu merasa khawatir lagi. Kau sudah siap berdiri di atas kakimu sendiri dan melindungi apa yang menjadi milikmu.”
Sano membalikkan badan tanpa suara, membiarkan istrinya terus berjuang dalam dunia baru yang kini dikuasainya, sementara ia sendiri harus kembali merancang strategi untuk menghadapi bahaya besar yang terus mengintai bayang-bayang Wiragata.
Malam berikutnya....
LAmpu-lampu gantung kristal di ruang kerja pribadi lantai atas memantulkan bayangan dingin pada tumpukan dokumen keuangan yang berserakan di atas meja besar. Jam di dinding menunjukkan pukul dua belas malam, namun Halra sama sekali tidak beranjak. Matanya yang lelah menatap nanar pada layar laptop dan lembar neraca audit yang tidak kunjung seimbang. Selisih angka itu terus menghantuinya, menguji setiap tetes kesabaran dan ilmu bisnis yang baru ia pelajari beberapa hari belakangan ini.
Ini bukan sekadar laporan biasa. Ini adalah jebakan.
Sejak pagi tadi, Sano dengan sengaja menyerahkan dokumen audit dari salah satu anak perusahaan hotel yang bermasalah kepada Halra. Dengan dalih memberikan "uji coba nyata" bagi seorang manajer baru, Sano melimpahkan ratusan halaman data transaksi rumit yang sengaja dibuat kacau oleh manajemen lama—atau mungkin, oleh Sano sendiri. Pria itu menaruh dokumen tersebut di atas meja kerjanya dengan senyum tipis penuh manipulasi sebelum pergi meninggalkannya sendirian.
Halra sudah mencoba membedah pos pengeluaran, memeriksa ulang aliran kas, hingga mencocokkan faktur fiktif sejak siang hari tanpa istirahat. Namun, semakin ia menyelami angka-angka itu, semakin ia merasa disudutkan. Ada manipulasi sistematis yang sengaja disembunyikan, dan Sano tahu persis di mana letak celahnya. Pria itu sengaja melemparnya ke dalam lautan api tanpa pelampung, ingin melihat seberapa cepat ia tenggelam atau apakah ia sanggup merangkak naik seorang diri.
"Sialan... bajingan licik itu..." desis Halra dengan suara parau, air mata kelelahan dan frustrasi menetes membasahi lembar kertas di hadapannya.
Ia melemparkan pena ke lantai dengan kasar. Rasa kesal yang membakar dadanya kini berubah menjadi kemarahan yang pekat. Halra berdiri, mencengkeram ujung meja kerjanya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan gelombang emosi yang meluap-luap.
"Sano! Sano Joharo!!!kau pria iblis!" teriak Halra ke udara kosong, mengutuk suaminya berulang kali dengan nada penuh kebencian. "Kau sengaja melakukan ini! Kau ingin mempermalukanku! Kau ingin aku menyerah dan memohon di kaki batumu, iya kan?!"
Ia meremas selembar laporan keuangan hingga robek berkeping-keping, melampiaskan rasa frustrasinya pada kertas-kertas tersebut. Setiap kutukan yang keluar dari bibirnya adalah manifestasi dari kebencian yang semakin mengakar. Sano tidak sedang membimbingnya; pria itu sedang mempermainkannya, menguji batas kewarasannya dalam lingkaran kekuasaan yang kejam ini.
Tanpa Halra ketahui, di balik pintu kayu mahoni ruang kerjanya yang tertutup rapat, Sano berdiri dalam kegelapan lorong. Pria itu telah berdiri di sana selama sepuluh menit, mendengarkan setiap umpatan, setiap isak tangis frustrasi, dan setiap kutukan yang dilayangkan oleh istrinya. Di wajah Sano tidak ada kemarahan. Yang ada hanyalah tatapan yang kompleks—antara rasa bersalah yang disembunyikan rapat-rapat dan kepuasan yang dingin melihat betapa api di dalam diri Halra tidak pernah padam, melainkan semakin membakar liar.
Sano menyentuh gagang pintu, hampir saja membukanya untuk menghentikan siksaan ini dan merengkuh istrinya ke dalam dekapan. Namun, rahangnya mengeras kembali. Ia menarik tangannya mundur.
Tidak, Halra, batin Sano dingin, membiarkan bayangannya sendiri terserap kegelapan lorong saat ia berbalik pergi. Dunia ini terlalu busuk untuk orang yang lemah. Jika kau ingin bertahan di sisiku, di atas takhta Wiragata, kau harus menjelma menjadi monster yang sama sepertiku.