NovelToon NovelToon
Di Bawah Sepatu, Di Atas Tahta

Di Bawah Sepatu, Di Atas Tahta

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Di balik sapu yang digenggamnya, Bagas menyimpan kecerdasan yang tak pernah disadari siapa pun. Ia pun diam-diam memendam rasa pada Naya, wanita yang dunianya terasa sejauh langit dan bumi darinya. Dihimpit kemiskinan dan biaya pengobatan ibu yang mahal, ia bertekad mengubah setiap informasi yang didengarnya menjadi jalan keluar. Cintanya yang tulus perlahan meluluhkan hati Naya, meski harus berhadapan dengan penghinaan, saingan licik, dan larangan tegas orang tua. Saat segalanya tampak mustahil dan terhalang tembok kasta tinggi, Bagas pergi membangun kerajaan bisnisnya sendiri dari nol. Ia kembali bukan lagi sebagai OB yang diremehkan, melainkan pengusaha sukses yang membuat semua orang terdiam kagum. Bukti nyata bahwa kesabaran dan ketajaman akal mampu mengangkat derajat setinggi langit. Akhirnya, ia bersanding dengan pujaan hati, hidup bahagia, dan membuktikan bahwa nasib buruk bisa diubah menjadi kemewahan yang abadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Kode Rasa

Langit sore itu berubah gelap seketika menutup seluruh cakrawala di atas Gedung Artha Mas. Angin bertiup kencang menerpa dinding kaca, membawa aroma tanah basah yang kental, disusul kemudian rintik air yang makin lama makin deras hingga berubah menjadi hujan lebat yang mengguyur bumi tanpa ampun. Di halaman parkir, pohon-pohon besar bergoyang hebat, dan suara guntur bergemuruh memecah keheningan sore itu.

Di bawah atap pelindung pintu samping gedung yang jarang digunakan, Naya berdiri sendirian. Ia memeluk berkas dokumen di dadanya, kakinya melangkah kecil ke belakang setiap kali butiran air angin memercik ke arahnya. Sopirnya terjebak kemacetan parah di pusat kota karena banjir, dan pesan singkat yang baru saja masuk mengatakan butuh waktu hampir dua jam lagi untuk bisa sampai.

Naya menggigil pelan. Udara sore itu tiba-tiba menjadi sangat dingin, menusuk sampai ke tulang. Ia hanya mengenakan kemeja kerja tipis dan blazer ringan yang sama sekali tidak cukup menahan hawa dingin yang dibawa badai. Ia menatap derasnya hujan dengan wajah cemberut, merutuki nasib sialnya, sekaligus merasa kesal karena tidak ada satu pun staf yang lewat di sini untuk dimintai bantuan.

Tiba-tiba, suara langkah kaki pelan terdengar dari belakang. Naya menoleh cepat, dan seketika jantungnya berdebar kencang saat melihat siapa yang datang.

Bagas berdiri di sana, beberapa langkah di belakangnya. Ia membawa seperangkat alat kebersihan yang sudah ditutup rapat dengan plastik, tampaknya baru saja selesai bertugas di lantai bawah. Seragam kerjanya sedikit basah di bagian bahu karena terkena percikan air, tapi wajahnya tetap tenang dan teduh seperti biasa. Saat menatap Naya, ada kilat perhatian yang lembut di matanya, kilat yang sudah sangat dikenal Naya namun selalu berhasil membuatnya gugup.

"Masih belum dijemput ya, Nona?" tanya Bagas pelan, suaranya terdengar lembut di antara suara gemuruh hujan. Ia tidak mendekat, tetap menjaga jarak sopan yang biasa, tapi matanya tak lepas dari bahu Naya yang bergetar halus menahan dingin.

Naya mengangguk pelan, menarik napas panjang yang beruap putih sedikit di udara dingin. "Iya... jalanan macet parah. Sepertinya harus menunggu lama lagi."

Bagas diam sejenak, matanya mengamati sekeliling, lalu perlahan tangannya bergerak ke arah kancing baju di luar seragamnya. Dengan gerakan tenang dan wajar, ia membuka satu per satu kancing itu, melepas jas seragam luarnya yang agak tebal dan hangat, menyisakan kemeja dalam berwarna abu-abu yang lebih tipis di tubuhnya.

Ia melipat jas itu rapi di lengannya, lalu melangkah maju selangkah. Di bawah cahaya lampu temaram pintu samping itu, gerakan Bagas terasa begitu hati-hati dan penuh rasa hormat, seolah sedang melakukan sesuatu yang sangat berharga.

"Anginnya makin kencang, dan nona terlihat kedinginan sekali," ucap Bagas pelan, lalu mengulurkan jas itu ke depan Naya. "Pakailah ini dulu. Seragam ini bahannya cukup tebal, bisa menahan dingin sebentar. Saya sudah biasa kena angin begini, nggak apa-apa kok."

Naya menatap jas itu, lalu menatap wajah Bagas. Ada sesuatu yang berbeda hari ini. Sejak kejadian tuduhan dokumen hilang dan kepergian Rian yang memalukan itu, cara pandang Naya terhadap Bagas telah berubah total. Sekarang, saat menatap mata pemuda itu, ia tidak lagi melihat seorang petugas kebersihan.

Ia melihat sosok laki-laki yang berhati mulia yang pernah ia temui, sosok yang sabar, cerdas, dan tulus melebihi siapa pun.

Namun, di sisi lain, tembok tinggi gengsi dan perbedaan status sosial itu masih berdiri kokoh di sudut hatinya. "Dia cuma OB, Naya. Dia karyawan ayahmu. Kamu anak pemilik perusahaan besar. Tidak pantas," bisik suara kecil di kepalanya. Tapi saat ia melihat tangan Bagas yang mengulurkan jas itu dengan tulus, saat ia melihat perhatian murni di matanya, suara hatinya perlahan meredam.

Dengan tangan sedikit gemetar—entah karena dingin atau karena perasaan aneh yang meluap—Naya menerima jas itu. Aroma yang sama langsung menyapa hidungnya: wangi sabun bersih dicampur sedikit aroma tubuh laki-laki yang segar dan menenangkan. Saat ia memakaikan jas itu ke bahunya, kehangatan langsung merambat masuk ke seluruh tubuhnya, bukan hanya dari kain tebal itu, tapi juga dari rasa aman yang tiba-tiba memenuhi dadanya.

Jas itu agak besar dan panjang di tubuhnya, terlihat sedikit lucu dan tidak serasi dengan pakaian kerjanya yang rapi dan mahal. Tapi anehnya, Naya merasa sangat nyaman. Lebih nyaman daripada saat ia mengenakan mantel bulu mahal pemberian teman-temannya, atau jaket desainer terkenal yang pernah diberikan oleh laki-laki kaya yang dulu mendekatinya.

"Te... terima kasih," ucap Naya lirih, matanya menatap lurus ke manik mata Bagas. "Kamu tidak kedinginan? Kamu cuma pakai baju tipis itu saja."

Bagas tersenyum tipis, senyum yang membuat jantung Naya serasa berhenti berdetak sejenak. Senyum yang sederhana tapi memancarkan kekuatan dan ketenangan.

"Kuat kok, Nona. Sudah biasa. Lagipula kalau nona sakit, nanti banyak urusan perusahaan yang tertunda, kan?" jawab Bagas ringan, tapi ada makna tersembunyi di balik kalimat itu: bagiku, kenyamananmu lebih penting daripada kenyamananku sendiri.

Mereka pun berdiri diam berdua di sana, di bawah atap sempit itu, terpisah jarak satu langkah, ditemani suara hujan yang terus mengguyur deras. Suasana hening, tapi tidak canggung. Justru sebaliknya, rasanya damai sekali. Naya melingkarkan pelukannya ke tubuhnya sendiri, meremas ujung jas milik Bagas yang ia kenakan. Ia mencuri pandang ke arah Bagas yang berdiri tegap menatap ke arah jalanan.

Ia teringat kembali pada semua laki-laki yang pernah mendekatinya. Ada yang kaya raya, ada yang berpendidikan tinggi di luar negeri, ada yang berkedudukan tinggi. Mereka semua memberikan hadiah mahal, mengajak makan di restoran mewah, memuji kecantikannya berlebihan, dan menjanjikan dunia. Tapi apa yang ia rasakan? Hampa. Tidak ada rasa aman, tidak ada rasa tenang, tidak ada rasa nyaman yang murni seperti ini.

Mereka mendekat karena ia cantik, karena ia kaya, karena ia anak pemilik perusahaan. Tapi Bagas? Bagas tidak punya apa-apa selain ketulusan. Bagas menolong tanpa pamrih, memberi tanpa mengharap kembali, dan memperhatikan hal-hal kecil yang bahkan Naya sendiri lupa.

Di detik itu, saat hawa dingin tertahan oleh kehangatan pemberian Bagas, Naya merasakan rasa nyaman yang luar biasa, rasa ingin bersandar, rasa ingin berlama-lama di dekat sosok pendiam ini. Rasa yang tidak pernah ia dapatkan dari siapa pun, seberapapun mewah atau terpandang orang itu.

"Kalau saja dia bukan OB, kalau saja dia setara,

kalau saja status kami sama..."

batin Naya berbisik sedih. Rasa itu tumbuh semakin besar, rasa yang ia tolak mati-matian, rasa yang ia coba bunuh dengan gengsinya yang tinggi.

Bagas tiba-tiba menoleh, dan mata mereka bertemu.

Pandangan itu... pandangan yang berbeda. Bukan pandangan karyawan ke atasan. Bukan pandangan OB ke anak majikan. Di sana, di dalam sorot mata cokelat gelap itu, Naya melihat segala sesuatu yang tersembunyi, cinta yang mendalam, rasa hormat yang tinggi, kekaguman yang tulus, dan keberanian yang tertahan. Pandangan itu menembus sampai ke dasar jiwanya, membuat Naya tak sanggup memalingkan wajah.

Detik itu terasa berjalan lambat sekali. Hujan di luar seolah hilang suaranya, dunia di sekitar mereka seolah menghilang. Hanya ada mereka berdua, dan getaran halus yang menjalar di udara di antara tatapan mata itu.

Naya merasakan pipinya memanas. Ia sadar, sangat sadar, bahwa perasaannya bukan lagi sekadar rasa penasaran atau rasa terima kasih. Ia sadar ia jatuh hati. Ia jatuh cinta pada sosok sederhana di hadapannya ini.

Tapi...

Dinding gengsi itu kembali naik. Suara keras di kepalanya kembali berteriak. "Gila, Naya! Kamu anak tunggal keluarga Ardiansyah, pewaris kekayaan ratusan miliar. Dia cuma petugas kebersihan, hidup pas-pasan. Apa kata orang? Apa kata ayah? Apa kata dunia? Kamu akan ditertawakan selamanya. Kamu harus kuat. Kamu tidak boleh mengakuinya. Kamu tidak boleh membiarkan rasa ini tumbuh lebih besar lagi."

Naya memalingkan wajah dengan cepat, berusaha menyembunyikan kegugupannya. Ia membetulkan letak jas yang sebenarnya sudah pas, berdeham pelan untuk memecah keheningan.

"Ka... kamu... sebaiknya kamu masuk ke dalam saja. Nanti kamu yang sakit kalau lama berdiri di sini," ucap Naya agak kaku, suaranya sedikit bergetar. Ia berusaha kembali memasang topeng dingin dan berwibawa, meski hatinya sedang berperang hebat.

Bagas tersenyum tipis lagi, seolah ia mengerti persis apa yang sedang bergemuruh di hati wanita itu. Ia tahu ada pertarungan besar di sana. Ia tahu Naya mulai merasakan hal yang sama. Ia juga tahu, bahwa gengsi dan aturan masyarakat adalah musuh terberat mereka.

"Saya tunggu sampai mobilmu datang saja, Nona. Saya tidak apa-apa di sini," jawab Bagas lembut, tidak menyinggung apa pun tentang perubahan tatapan tadi, tidak memaksa apa pun. Ia membiarkan Naya berjuang dengan perasaannya sendiri, sambil tetap berdiri teguh.

Naya mengangguk pelan, kembali menatap hujan. Ia memeluk dirinya sendiri lebih erat, menikmati sisa kehangatan jas Bagas yang membalut tubuhnya. Di dalam dada, rasa cinta itu terus berdenyut kencang, kuat, dan nyata, meski ia berusaha mengurungnya rapat-rapat di balik benteng harga diri yang tinggi.

"Ini cuma rasa kasihan... cuma rasa terima kasih... cuma rasa kagum saja," elak Naya pada dirinya sendiri, berulang kali, meski ia tahu itu kebohongan besar.

Sore itu, di tengah badai dan rintik hujan, sebuah kode rasa telah terkirim dan diterima dengan jelas. Bagas tahu ia semakin dekat. Dan Naya? Ia sadar ia sudah terjebak dalam perasaan yang paling rumit, paling indah, tapi juga paling sulit yang pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ia mencintai laki-laki yang tidak seharusnya ia cintai menurut aturan dunia, tapi laki-laki yang justru membuatnya merasa paling hidup dan paling berharga.

1
miumiu
ada sedihnya tapi ada kekuatan juga. lanjuut ya thor.
curbel
seru juga. Dan enak dibaca. 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!