Cerita tentang seseorang yang berasal dari Indonesia berpindah ke sebuah dunia fantasy, dimana terlihat gunung berbentuk pedang dan pulau melayang itu biasa. Untuk bertahan hidup dia yang tak memahami kemampuan peningkatan di fiksi memililih menggunakan Teknik dari Indonesia yang menggunakan Tenaga Dalam yang dia ubah beberapa caranya. Isi dari novel ini hanya perjalanannya mencari cara untuk membuat kemampuan tenaga dalam milik Indonesia bisa menyaingi peningkatan kemampuan di dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TrueRuler, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20: Konsep
Marisa yang melihat Cakra hampir tertawa bereaksi.
“Kenapa kau tertawa?”
“Ah tidak apa apa, hanya saja kau makan cukup lucu”
“Apakah kau lapar?”
Marisa terlihat tersipu.
“Ya aku lapar”
Cakra angkat dari tempat duduknya.
“Aku akan memasak tunggulah disini”
“Eh tapi….” Marisa terlihat ingin menahan Cakra.
Saat Cakra masuk ke dapur dia terkejut dengan keadaan dapur.
“Ah”
“Kau memasak?”
Marisa menggigit bibirnya.
“Hehehe”
“Maaf”
“Ah ya sudah”
“Kau ingin makan ikan kan?”
Cakra mengambil ikan dirinya juga mengeluarkan pisau simpanannya.
“Lihat caraku menyiang ikan ini”
Cakra menunjukkan gerakan tangan yang cukup gesit dan dengan cepat membersihkan sisik ikan. Dirinya lalu memotong motong Ikan tersebut, dan memasukkannya ke wadah. Marisa yang melihat merasa kagum dengan Kelihaian tangan milik Cakra.
“Apakah kau seorang penjual ikan?”
“Tidak hanya saja aku sering bertualang jadinya cukup ahli”
“dan memang aku sempat tinggal di pulau yang penduduknya adalah nelayan atau penangkap ikan”
“Oooh aku paham”
“Mari kita mulai memasak”
“Aku kebetulan kemarin mendapat telur”
Cakra mengambil daging ikan, menggorengnya terlebih dahulu.
Cakra lalu memasukkan sambal.
Setelah menyatu Cakra meniriskan ikan goreng sambal itu
Selanjutnya Cakra mengambil dua telur dan menggorengnya
Selama menggoreng Cakra mengatur api supaya gak gosong.
Setelah matang Cakra kembali memasukkan ikan goreng sambal ke dalam.
Mengaduk wajan hingga semuanya tercampur.
Terakhir menambahkan garam hingga semuanya tercampur.
Setelah semuanya tercampur Cakra memasukkan makanan ke wadah yang dipersiapkan. Setelah itu dia mengambil nasi yang sempat dimasak oleh Marisa. Membawa makanan ke depan dirinya meletakkan ke atas meja.
“Ayo makan”
“Harusnya porsi makanmu bertambah kan?”
“Aku kebetulan memasak porsi tambahan”
Marisa mengagguk sambil menggigit sumpitnya.
“Te terima kasih”
“Sudahlah mulai makan”
Marisa mengambil sepiring besar nasi dan lauk, dirinya mulai makan dengan lahap sementara Cakra masih melatih kemampuan distorsi ruang dari efek dantiannya yang memadat. Cakra juga sudah berhasil mengontrol tenaga alam, memadatkannya menjadi semacam pisau kecil yang mempengaruhi ruang.
“Ini menarik”
“Sepertinya karena aku meniru efek Bintang neutron”
Cakra mengambil piring dan lauknya, saat dia mulai berbalik terlihat Marisa yang sudah selesai makan.
“Hehe”
“Aku duluan”
“Ya tidak apa apa”
Cakra makan merasakan masakannya sebenarnya masih sedikit kurang garam, tapi rasanya cukup halus.
“Makanan ini… walaupun kurang asin sebenarnya rasanya sudah seimbang”
Cakra melanjutkan makannya, Marisa membaca buku tentang ilmu pengetahuan dan benda langit. Dirinya tertarik pada sebuah pulsar, dan bertanya pada Cakra apakah dirinya bisa mendapatkan Pelajaran tentang ini.
“Apakah kau tau pulsar?”
“Ya aku tau”
“Kenapa?”
“Apa itu?” Marisa bertanya dengan penasaran.
“Pulsar adalah keadaan dimana Bintang neutron berputar secara cepat itu akan terlihat sangat terang dan berbunyi seperti ketukan”
“Apakah kau ingin meniru benda langit ini untuk inti milikmu?”
Marisa menggelengkan kepala.
“Tidak”
“Aku memilih ini sebuah elemen bentuk pohon kecil”
“Entah kenapa aku merasa ini cukup bagus”
“Pohon lagi” Cakra memerengkan kepalanya.
“Ya pohon”
“Aku mengingat namanya Yggdrasil”
“Oh kau ingin pohon penopang dunia?”
“Sebenarnya menarik sih tapi proses pembentukannya aku agak bingung”
“Tidak apa apa, aku pernah mendengar konsep soal Yggdrasil” Marisa mengedipkan matanya.
“Ah kalau begitu coba saja”
“Tapi sepertinya perjalananmu masih panjang”
“Kau baru masuk ke tahap kedua kan?”
“Ya kau benar”
“Aku akan mempelajarinya lebih lama”
Marisa membolak balik bukunya, sedangkan Cakra masih menghabiskan makanannya. Setelah makan Cakra mencuci barang yang digunakan untuk mencuci dan memasak, dirinya duduk di tempat tidur mengambil sebuah Handphonenya.
“Hmm sudah lama aku gak membuka Handphone ku”
“Baterainya masih ada kurasa bisa kulihat”
Batu petir milik Cakra muncul, batu itu entah kenapa terlihat keluar dari ruang kosong.
“Batu ini?”
“Hmm sepertinya aku harus mencoba menaruhnya di kristal utama”
Cakra bergerak ke arah kristal dan menyadari sebuah perubahan pada kristal itu ketika krital petir mendekat.
“Mari kucoba cara biasa”
Cakra mengangkat batu petir dengan sedikit jarak, ketika dia merasakan tarikan pada jarak tertentu dirinya melepaskan. Saat dilepaskan Kristal ini mengorbit di Kristal utama, kristal petir terlihat menghilang lalu muncul begitu saja. Cakra juga merasakan perubahan pada energi yang dihasilkan Kristal sekarang menghasilkan gelombang elektromagnetik yang terkontrol.
“Ini….”
“Sepertinya aku bisa membuat energi ini mengisi barang elektronikku tanpa merusak”
“…..”
“Oh terisi”
“Tapi sepertinya aku perlu memeganginya”
Cakra menunggu 1 menit dan baterai dari senternya terisi full.
“Ah cukup cepat”
Cakra membawa senter tersebut ke depan untuk di gantung kembali mengganti obor miliknya.
“Ah apa ini?” Marisa terlihat penasaran.
“Ini lampu”
“Hmm barang barang di dunia kalian sangat maju” Marisa matanya terlihat berbinar.
Ditempat lain sebuah retakan muncul, terlihat batu sebuah batu meteorit muncul lalu menghilang kembali. Beberapa dunia tersembunyi juga muncul, tidak berbahaya tapi ruang tersembunyi merusak ladang milik warga.
“Cepat” Seorang prajurit terlihat muncul ingin menutup celah itu.
Dia mengangkat pedang di tangannya, menebas retakan ruang. Dia tempat lain seorang pemuda yang terlihat seperti orang terpelajar pada tiongkok kuno muncul didepan retakan ruang.
“Tutup, jait”
Celah ruang langsung tertutup. Di bagian lain terlihat beberapa orang sedang mengikat ruang tersembunyi dan masuk kedalamnya. Di dalam ruang itu hanya ada sebuah tambang yang berisi batu hitam aneh.
“Batu apa ini”
“Coba kau bakar”
“Oh siap”
“Burn!”
Batu tersebut terbakar dengan baik, seakan akan memang dibuat untuk bahan bakar. Orang orang itu lalu mengambil beberapa batu dan membawanya ke luar. Tak lama setelah itu celah ruang tertutup, orang orang misterius terlihat menghilang seakan akan mereka ditarik ke tempat mereka semula. Di tempat lain.
“Bukankah batu itu aneh?” Marisa terlihat mendekatkan wajahnya ke batu.
“Sebenarnya itu batu apa?”
“Aku gak yakin tapi batu ini sudah ada disini sejak lama”
“Kau berasal dari dunia ini juga gak tau?”
“Batu biru itu disebut batu spiritual biasanya urat tambang dibawah tanah menghasilkan batu ini”
“Hanya saja hal ini rebutan”
“Juga sangat mudah dideteksi sehingga mulai menipis”
“Tapi beberapa minggu ini urat tersebut mulai pulih dengan memberikan efek energi baru”
“Hmm”
“Dan itu gak ada hubungannya dengan kristal ini?”
“Ya” Marisa menjawab dengan santai.
“Tidak ada kristal yang berbentuk seperti ini”
“Ditambah tidak pernah dideteksi tentang urat kalaupun ini urat spiritual”
Cakra duduk memperhatikan kristal tersebut, tak lama setelah itu sebuah getaran terasa. Cakra dan Marisa berlari melihat sebuah ruang terbuka.
Hiss memang lagi mode survival tapi jangan kebanyakan atuh...