Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.
Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya.
Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.
Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: DUA TITIK PADA GARIS TAKDIR YANG SAMA
Selama tiga hari ke depan, ritme di dalam kompleks Mako Pusat Pendidikan Militer Satria Garda berjalan dengan tensi kedinasan yang luar biasa tinggi. Bagi Arkan, anak kecil polos yang dunianya baru saja dihiasi oleh figur magis bernama "Ayah Besar", tiga hari ini terasa bagai sebuah penantian panjang yang melelahkan. Langkah kakinya yang mungil seperti tertahan untuk bisa kembali melangkah masuk ke dalam ruang kerja utama—tempat di mana ia sempat menghabiskan waktu siang yang indah, menikmati biskuit, dan memakan es krim cokelat yang manis bersama pria yang ia klaim sebagai ayahnya.
Bagaimana tidak, Kolonel Victoria Reins Mari selama rentang waktu itu benar-benar tenggelam dalam kesibukan komando yang padat. Sebagai pucuk pimpinan tertinggi di ksatrian Bukit Raya, Victor tampak harus bolak-balik melakukan perjalanan dinas menuju kota pusat pesisir guna memenuhi panggilan dinas dari Panglima Komando Utama, maupun menghadiri rapat koordinasi tingkat tinggi di Markas Besar Militer Pusat.
Terlebih lagi, pelaksanaan seleksi tahap lanjutan bagi para calon siswa bintara dan tamtama prajurit yang telah dinyatakan lulus seleksi gelombang pertama sudah resmi dimulai tepat pada hari ini. Mereka adalah pemuda-pemuda pilihan yang siap ditempa fisik dan mentalnya, diajari berbagai macam taktik pertempuran darat, navigasi darat, pengetahuan senjata ringan, hingga materi hukum militer dasar. Kesibukan massal ini menyedot hampir seluruh perhatian jajaran perwira staf Pusdikmil.
Di sudut lain, Kapten Ayuni Ameera Bakri juga tidak kalah sibuk dalam posisinya sebagai perwira staf intelijen. Akibat beban kerja yang menumpuk untuk menyiapkan berkas pengamanan siswa baru, Ayu terpaksa harus terlalu mengandalkan jasa Bi Ningsih, pengasuh harian barunya. Sialnya, Bi Ningsih adalah tipe pengasuh yang kurang bertanggung jawab, wanita paruh baya itu hanya bisa duduk diam dan memantau anak-anak dengan pandangan sekilas. Di dalam benak dangkalnya, ia selalu berpikir bahwa bermain di dalam ruang lingkup markas militer yang dikelilingi pagar kawat berduri dan dijaga prajurit bersenjata seperti ini akan selalu aman-aman saja.
Benar, lingkungan internal ksatrian memang sangat aman dari ancaman kriminalitas luar. Namun, siapa yang mengira bahwa anak sekecil Arkan, dengan modal nekat dan kerinduan yang membuncah di dada, akan melangkah sendirian membelah koridor ksatrian menuju ke gedung utama Mako paling depan? Langkah-langkah kecilnya hanya didorong oleh satu tujuan polos menemui seseorang yang ia sebut sebagai 'Ayah'.
Arkan tidak menangis saat tiba di depan pintu penjagaan gedung utama yang angker. Ia hanya berdiri terpaku dengan pasrah. Salah seorang prajurit jaga yang sedang piket sore itu segera menghampirinya, lalu dengan nada suara yang sangat lembut berkata bahwa sang "Ayah" sedang keluar markas untuk mengunjungi temannya di kota bawah. Prajurit jaga tersebut sama sekali tidak curiga; ia menduga bahwa anak balita tampan ini mungkin saja adalah putra kandung dari Sersan Satu Johan, sang ajudan Danpusdikmil yang memang sering terlihat mondar-mandir di gedung tersebut.
Arkan yang sudah mulai paham dengan arti kata 'pergi', akhirnya hanya bisa mengangguk kecil dengan raut wajah yang tampak sangat sedih. Kecewa melanda hatinya karena sudah tiga hari berturut-turut ia tidak bisa bertatap muka atau merasakan usapan hangat di kepalanya dari sang Ayah Besar. dengan langkah lunglai, Arkan berjalan kembali ke area taman untuk menemui Bi Ningsih yang rupanya tengah sibuk bergosip dengan beberapa asisten rumah tangga lainnya di dekat barak angkutan. Arkan kemudian memilih duduk di sebuah undakan semen dengan jarak yang lumayan jauh—tapi tidak jauh-jauh banget—dari jangkauan pandangan pengasuhnya. Ia menundukkan kepala sembari mengayun-ayunkan kedua kaki mungilnya ke udara dengan muram.
Tiba-tiba, sebuah telapak tangan yang sangat besar, kekar, dan memiliki guratan urat tegas khas perwira lapangan, terulur tepat di hadapannya. Arkan yang saat itu sedang berada dalam posisi tertunduk lesu seketika menghentikan ayunan kakinya. Ia mendongak perlahan, menelisik ke atas melintasi laras sepatu lars yang mengkilap hingga akhirnya menemukan wajah sang pemilik tangan besar itu.
"Ayah!" ucap Arkan dengan suara cadel yang melengking tinggi, dipenuhi oleh binar kebahagiaan yang luar biasa.
Ya, pemilik tangan besar itu tidak lain adalah Kolonel Victor sendiri. Pria itu baru saja turun dari mobil dinas pajero hitamnya setelah menempuh perjalanan darat yang melelahkan dari kota pesisir. Melihat binar kerinduan di mata anak Ayu, dinding keangkuhan Victor runtuh seketika. Tanpa membuang waktu, Victor segera berjongkok, merengkuh tubuh mungil Arkan ke dalam gendongan tangan kekarnya, lalu membawanya masuk melintasi koridor menuju ke dalam gedung utama Mako.
Sebenarnya, sesaat setelah Victor tiba di ruang kerjanya dan bersiap untuk memeriksa beberapa tumpukan berkas operasi yang tertunda, Sertu Johan selaku ajudan telah masuk ke ruangan dengan sikap tegap. Johan memberikan laporan informasi non-formal yang diterimanya dari bintara jaga depan, laporan bahwa ada seorang anak kecil yang sudah tiga hari berturut-turut datang ke pos penjagaan depan Mako sambil terus-menerus bertanya dengan polos di mana keberadaan ayahnya.
Tentu saja, detik itu juga Victor langsung tahu dengan pasti siapa anak kecil yang dimaksud. Untungnya, suasana di sepanjang koridor gedung utama Mako sore hari ini terasa begitu sepi dan lengang. Sebagian besar personel sedang sibuk dan tenggelam dalam pekerjaan administrasi di ruangan masing-masing atau sedang berada di lapangan peninjauan barak, sehingga interaksi intim antara sang Danpusdikmil dengan anak kecil itu tidak menjadi tontonan massal.
Hingga waktu sore menjelang magrib tiba, barulah Bi Ningsih tampak panik setengah mati di taman perumahan dinas. Wanita itu mendadak menyadari bahwa Arkan tak kunjung menampakkan batang hidungnya sejak beberapa jam yang lalu. Ia berlari ke sana kemari dengan wajah pucat, menyadari bahwa inilah akibat fatal dari kelalaiannya yang terlalu meremehkan tanggung jawab mengasuh anak seorang perwira intelijen.
"Bi Ningsih... di mana Arkan?"
Pertanyaan bernada datar namun dingin itu seketika menghentikan kepanikan Bi Ningsih. Kapten Ayu baru saja tiba, melangkah dengan sisa-sisa rasa capek yang kentara di wajahnya setelah seharian penuh memimpin rapat analisis taktis di Satdik. Ayu berjalan mendekati sang pengasuh yang kini berdiri gemetaran di teras depan rumah dinasnya.
"Ma-maafkan Bibi ya, Bu Ayu... Arkan tadi... sudah sekitar satu jam ini Bibi gak lihat di lapangan plastik sebelah," bohong Bi Ningsih dengan suara bergetar. Padahal, jika dihitung berdasarkan perhitungan waktu militer yang akurat, Arkan sesungguhnya sudah berada di dalam ruangan kerja hangat milik Kolonel Victor selama lebih dari tiga jam lamanya.
Mendengar pengakuan itu, Ayu langsung didera rasa panik yang hebat yang sempat membuat dadanya mencelos. Apa-apaan ini? Bagaimana bisa seorang pengasuh menghilangkan anak di dalam ksatrian? Namun, sebagai seorang perwira Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) yang terlatih di bidang intelijen, Ayu tetap berusaha menjaga pembawaan dirinya agar terlihat tenang dan tegap. Ia bukan tipe wanita yang suka membuat huru-hara, menangis histeris, atau berteriak histeris di jalanan ksatrian agar semua orang mendengar kelemahannya.
Ayu memakai insting taktisnya, ia bergerak dengan senyap namun dua kali lebih cepat dari orang awam. Pertama-tama, ia melangkah cepat memeriksa beberapa sudut penjuru ksatrian yang dijaga ketat oleh prajurit piket di pos-pos perimeter. Ia memeriksa area sekitar lapangan hijau, namun tidak ada satu pun anggota yang melihat keberadaan anak kecil berjalan sendiri.
Hingga akhirnya, langkah kaki tegap Ayu tiba di depan Pos Provost yang berada di dekat gerbang depan. Ayu berpikir logis, tidak mungkin jika Arkan bisa keluar melintasi palang pintu utama ke arah jalan raya tanpa terdeteksi oleh provost yang berjaga 24 jam. Ayu pun menghampiri bintara provost yang sedang piket, lalu bertanya dengan nada formal apakah mereka melihat seorang anak kecil berusia empat tahun berjalan melintas, sembari menampilkan foto wajah Arkan yang bersih melalui layar ponselnya.
Tentu saja, bintara di pos provost yang terkenal memiliki ingatan visual yang kuat itu langsung tahu di mana keberadaan anak kecil tersebut.
"Siap, Ibu Pasi Intel! Izin melaporkan, sepertinya anak Ibu saat ini sedang berada di dalam gedung utama Mako," jawab prajurit provost tersebut dengan sikap hormat yang sempurna.
Mendengar kata 'gedung utama Mako' keluar dari mulut sang provost, perasaan di dalam dada Ayu seketika berubah menjadi sebuah pusaran emosi yang bercampur aduk antara rasa tegang, sesak, dan sedih yang mendalam. Apakah tebakannya benar? Kemarin siang, saat ia iseng berbincang dan bertanya pada Lettu Yunita mengenai siapa perwira bertubuh paling tinggi besar di dalam satuan markas Pusdikmil ini selain komandan mereka—Letkol Reyes—Yunita dengan cepat menjawab bahwa orang itu adalah komandan tertinggi mereka yang baru, Kolonel Victor.
Hati Ayu yang awalnya bersikeras ingin menepis spekulasi gila tersebut, kini dipaksa bungkam dan menerima kenyataan pahit setelah mendengar jawaban mutlak dari prajurit yang berjaga di pos provost. Sambil menahan gejolak batinnya, Ayu melangkah cepat menuju pelataran gedung utama Mako. Di dekat anak tangga depan, ia berpapasan dengan Sertu Johan yang baru saja hendak keluar.
"Siap! Ada yang bisa saya bantu, Ibu Pasi Intel?" tanya Johan dengan sikap hormat yang santun saat melihat kehadiran Ayu yang tampak tegang.
Ayu menatap mata ajudan itu dengan pandangan menyelidik yang tajam. "Katakan dengan jujur, Johan... apa Arkan ada di dalam? Di ruangan Komandan?"
Sertu Johan sempat tertegun selama beberapa detik, merasa terjebak di antara loyalitas kepada sang Kolonel dan rasa hormat pada perwira stafnya. Namun, melihat sorot mata seorang ibu yang cemas, Johan akhirnya mengangguk pelan.
"Siap, benar, Ibu. Arkan ada di dalam bersama Komandan."
"Apa perlu saya masuk ke dalam sekarang dan memberitahukan pada Komandan bahwa Anda sedang mencari Arkan?" tawar Johan sigap, bersiap memutar badannya.
"Ah, tidak... tidak perlu, Johan," potong Ayu dengan cepat, ada nada kepanikan yang tertahan di suaranya. "Tolong... saya minta tolong sampaikan saja padanya. Suruh Arkan segera pulang. Katakan bahwa saya selaku ibunya merasa sangat khawatir karena anak itu pergi tanpa bilang kalau dia akan ke sini."
"Baik, siap dimengerti, Ibu Pasi Intel," jawab Johan tegas, memberikan hormat terakhir sebelum Ayu berbalik arah dan melangkah kembali ke rumah dinasnya dengan perasaan yang hancur berkeping-keping.
Hari ini, andai saja putranya tidak berhasil ditemukan di tempat yang aman, sudah bisa dipastikan kepala Bi Ningsih bakal "dilubangi" alias dihujani kemarahan luar biasa oleh Ayu yang habis kesabaran. Namun, sore itu Ayu memilih untuk tetap berkepala dingin. Ia memutuskan memaafkan kesalahan fisik wanita itu, namun langsung memecat Bi Ningsih saat itu juga dari tugasnya sebagai pengasuh Arkan dan Alif.
Ayu lebih memilih untuk menutup rapat-rapat masalah sensitif ini dari konsumsi publik ksatrian; hanya Yunita yang ia beri tahu mengenai kejadian yang sebenarnya. Sementara untuk dr. Shaneen, Ayu merasa sepertinya sahabat karibnya itu tidak perlu diberi tahu sama sekali, karena ia sangat takut jika Shaneen tahu, dokter militer itu pasti akan langsung mengamuk dan memarahi kakak kandungnya sendiri, Kolonel Victor, karena dianggap ikut campur terlalu jauh dalam urusan domestik Ayu.
Waktu merayap hingga menunjukkan pukul tujuh malam. Di luar, suasana ksatrian tampak begitu senyap karena seluruh personel tengah sibuk di dalam rumah dinas masing-masing; entah itu para istri yang sedang menyiapkan makan malam untuk keluarga kecil mereka, atau para prajurit yang tengah sibuk melaksanakan ibadah malam.
Bagi Victor, ini adalah momentum waktu yang paling pas dan taktis untuk membawa Arkan pulang ke pelukan ibunya tanpa memicu kecurigaan atau pandangan miring dari anggota lain. Anak kecil itu kini tampak sudah tertidur dengan sangat pulas di dalam dekapan dada bidang Victor.
Saat menggendongnya menyusuri jalan setapak, Victor merasakan suhu tubuh Arkan agak hangat, sepertinya anak itu mulai kelelahan akibat terlalu lama bermain dan menahan rindu selama tiga hari ini. Bagaimanapun juga, sebagai pria yang meletakkan keselamatan Arkan di atas segalanya, Victor ingin memastikan anak itu pulang ke rumah dinas dengan selamat, sehingga ia memutuskan untuk mengantarkan sendiri Arkan langsung ke depan pintu rumah Ayu tanpa perantara ajudan.
Tok! Tok! Tok!
Begitu mendengar suara ketukan pintu depan rumah dinasnya, Ayu yang sejak tadi duduk gelisah di atas sajadah segera bangkit berdiri dan berlari kecil untuk membukanya. Di dalam benaknya, Ayu berpikir bahwa mungkin Sertu Johan yang dikirim untuk mengantarkan putranya pulang.
Dan taraaaaa! Begitu daun pintu kayu itu terbuka lebar, realitas di depan mata membuat napas Ayu tercekat. Setelah sekian lama terpisah oleh jurang takdir dan samudera luas, untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, mereka berdua saling menatap satu sama lain dalam jarak yang sangat dekat. Netra kelam Victor beradu dengan sepasang mata bulat milik Ayu. Hanya dalam hitungan detik, Ayu yang merasa tidak kuat menahan intensitas tatapan penuh kerinduan dari sang Kolonel, langsung menarik pandangan matanya ke bawah sambil tertunduk dalam.
Victor memanfaatkan momen singkat itu untuk memperhatikan penampilan Ayu dengan saksama. Wanita itu masih mengenakan mukena putih bersih beraroma lavender, menandakan ia baru saja menyelesaikan ibadah salat magribnya. Keanggunan religius itu membuat dada Victor berdesir perih.
Sambil membetulkan posisi gendongan Arkan yang masih tertidur pulas di bahunya, Victor memecah keheningan dengan suara baritonnya yang terdengar sangat dingin dan penuh penekanan otoriter khas seorang Danpusdikmil.
"Ibu Pasi Intel... tolong, saya minta jangan memarahinya setelah saya pergi. Kalau sampai besok saya mendengar laporan bahwa Anda memarahinya atau menghukumnya karena kejadian hari ini... saya bersumpah akan menyuruh Letkol Reyes selaku komandan langsung Anda untuk menambah daftar tugas dan jam dinas Anda di Satdik," ucap Victor dengan nada mengancam yang dibuat-buat, sengaja menggunakan topeng arogansi jabatan militer untuk menyembunyikan perhatiannya yang teramat besar.
Mendengar ancaman sewenang-wenang itu keluar dari mulut sang Kolonel, Ayu tentu saja langsung melotot kaget. Ia mendongakkan kepalanya, menatap tidak percaya pada kediktatoran pria di depannya. "Maaf, Komandan! Tapi ini urusan domestik anak saya, Anda tidak berhak—"
"Saya tidak meminta Anda untuk menjawab atau memberikan pembelaan, Ibu Pasi Intel," potong Victor cepat dengan nada datar yang mutlak, menatap lurus ke dalam bola mata Ayu. "Cukup terima dan laksanakan saja perintah saya."
Dasar pria menyalahgunakan jabatan! Menyebalkan! batin Ayu menjerit kesal, merutuki sifat kaku Victor yang sama sekali tidak berubah sejak dulu.
Dengan gerakan yang sedikit kasar karena dilandasi rasa jengkel, Ayu langsung melangkah maju dan mengambil alih tubuh hangat Arkan dari dalam dekapan lengan kekar Victor. Setelah tubuh putranya berpindah sepenuhnya ke dalam pelukannya, Ayu tanpa membuang waktu lagi langsung menarik gagang pintu dan menutup pintu rumah dinasnya dengan sangat tidak sopan, tepat di hadapan wajah sang Kolonel.
Ayu sengaja mengunci pintu itu dengan cepat tanpa mengucapkan kata terima kasih, ataupun memberikan ucapan penghormatan formal apa pun sebagai bawahan. Di balik pintu yang tertutup rapat, Ayu menyandarkan punggungnya dengan napas yang terengah-engah. Air matanya hampir saja tumpah. Ayu terlalu takut, ia sangat takut jika mereka terlibat dalam percakapan yang terlalu panjang atau sekadar melakukan pendekatan formal kedinasan, seluruh benteng pertahanan rasa yang telah ia bangun dengan air mata selama lima tahun ini akan roboh total dalam sekejap di depan pria yang sampai kapan pun tidak akan pernah bisa berhenti mencintainya itu.