Seorang murid sekte luar yang dihina karena akar spiritualnya yang cacat secara tidak sengaja membangkitkan sebuah pusaka kuno di lembah terlarang. Pusaka tersebut tidak memberinya kekuatan instan, melainkan sebuah metode kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap dan memurnikan Qi dari garis keturunan binatang buas mitologis. Untuk mencapai puncak, ia harus menempuh jalur yang penuh darah dan memburu eksistensi terkuat di langit dan bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Pukulan dan Harta Rampasan
Malam turun menyelimuti Sekte Pedang Langit, membawa serta hawa dingin yang menusuk tulang. Namun, di pelataran sekte luar, suasana masih terasa panas oleh gosip yang menjalar liar bak api di padang ilalang kering. Nama Lin Tian menjadi buah bibir di setiap sudut paviliun dan kantin. Seorang murid pelayan yang baru promosi telah menghancurkan Zhao Kuang, penguasa tingkat enam, hanya dengan satu pukulan.
Di dalam ruangan utama Pelataran 404, jauh dari hiruk-pikuk kekaguman dan ketakutan murid lain, Lin Tian duduk bersila dengan wajah pucat.
Ia membuka jubah atasnya, memperlihatkan bahu dan lengan kanannya yang kini membengkak merah keunguan. Uap panas mengepul perlahan dari pori-pori kulitnya. Jika orang lain melihatnya, mereka akan mengira lengannya direbus di dalam air mendidih.
"Kekuatan pemusnah dari Tinju Runtuh Sembilan Lapis memang tak masuk akal, tapi daya tolaknya benar-benar brutal," desis Lin Tian sambil menggertakkan gigi.
Ia mengalirkan Qi ungu keemasan yang lembut dari pusat meridiannya untuk membalut tulang dan otot lengan kanannya. Pukulan Lapis Pertama siang tadi memang menghancurkan Zhao Kuang, namun otot lengan Lin Tian sendiri mengalami robekan mikro di ratusan titik. Jika ia tidak memiliki fondasi Seni Pemurnian Tulang Naga Astral yang terus-menerus memperbaiki jaringannya, lengannya pasti sudah meledak bersamaan dengan hancurnya pedang Zhao Kuang.
Tok. Tok.
Terdengar ketukan ringan, disusul pintu kayu yang didorong terbuka. Lin Chen masuk membawa sebuah nampan berisi air hangat dan handuk bersih. Di pinggang remaja itu, kini tergantung sebuah pedang besi standar murid luar.
"Kakak Tian, Penatua Hukum mengirimkan seorang diaken ke gerbang kita sepuluh menit yang lalu," lapor Lin Chen. Ia meletakkan nampan itu, lalu merogoh ke dalam bajunya dan mengeluarkan sebuah kantong spasial kecil berwarna abu-abu. "Ini adalah kantong penyimpanan milik Zhao Kuang. Sesuai aturan Arena Hidup Mati, semua barang milik yang kalah menjadi hak pemenang."
Mata Lin Tian sedikit berbinar. Ia meraih kantong abu-abu tersebut. Tidak seperti kantong kain biasa, kantong spasial memiliki formasi ruang di dalamnya. Karena Zhao Kuang masih pingsan dan meridian utamanya hancur, segel spiritual pada kantong ini menjadi sangat rapuh.
Dengan sedikit dorongan Qi naga, Lin Tian menghancurkan segel itu dengan mudah dan memindai isinya.
Seketika, senyum tipis mengembang di wajah Lin Tian. Tirani Zhao Kuang di sekte luar rupanya membuahkan kekayaan yang tidak main-main.
Di dalam ruang penyimpanan selebar lemari itu, terdapat tumpukan pakaian ganti, beberapa gulungan peta, puluhan botol pil penyembuh luka, dan yang paling penting: sebuah kotak kayu cendana. Lin Tian mengeluarkan kotak itu dan membukanya.
Sebuah pendaran cahaya biru yang sangat pekat langsung menerangi ruangan temaram tersebut. Energi spiritual alam di dalam ruangan mendadak bergejolak ganas, tertarik oleh benda di dalam kotak itu.
Di atas kain sutra, tergeletak seratus keping Batu Roh tingkat rendah, dan tepat di tengah-tengahnya, terdapat satu keping batu yang ukurannya sedikit lebih besar, memancarkan cahaya biru murni tanpa sedikit pun kabut kotoran di dalamnya.
"B-Batu Roh Tingkat Menengah!" seru Lin Chen, matanya terbelalak nyaris melompat keluar.
Di Sekte Pedang Langit, seratus keping Batu Roh tingkat rendah secara teori bisa ditukar dengan satu keping tingkat menengah. Namun pada praktiknya, tidak ada yang mau menukarnya. Energi di dalam Batu Roh tingkat menengah jauh lebih murni, lebih mudah diserap, dan tidak meninggalkan ampas di meridian. Benda ini biasanya hanya beredar di kalangan murid inti atau tetua sekte.
"Zhao Kuang pasti menyimpan ini sebagai kartu trufnya untuk menerobos ke tingkat tujuh," gumam Lin Tian, menganalisis dengan cepat. "Tapi sekarang, ini akan menjadi bahan bakar untuk menyembuhkan lenganku."
"Chen'er, ambil lima puluh Batu Roh tingkat rendah ini dan semua pil penyembuh luka," perintah Lin Tian sambil membagi harta rampasan tersebut. "Kau baru menembus tingkat dua. Gunakan batu-batu ini untuk memadatkan fondasimu secepat mungkin. Sekte ini tidak akan membiarkan kita beristirahat lama."
Lin Chen mengangguk mantap. Melihat kekuatan absolut kakaknya hari ini telah menghancurkan semua ketakutannya. Ia mengambil bagiannya dan segera kembali ke kamarnya untuk berlatih semalaman suntuk.
Setelah sendirian, Lin Tian menjepit Batu Roh tingkat menengah itu di antara kedua telapak tangannya. Matanya terpejam.
Siluet naga hitam di dadanya seolah mengaum girang merasakan aura kemurnian yang tinggi. Begitu Lin Tian memutar tekniknya, aliran energi biru dari batu tersebut tersedot masuk layaknya air bah yang menjebol bendungan.
Wushhh!
Energi biru itu langsung diarahkan menuju lengan kanannya yang cedera. Berbeda dengan inti binatang buas yang liar dan menyakitkan, energi dari Batu Roh tingkat menengah ini terasa sangat dingin dan menenangkan. Otot-otot yang robek, kapiler darah yang pecah, dan tulang yang sedikit retak diselimuti oleh Qi murni tersebut.
Hanya dalam waktu dua jam, pembengkakan di lengan kanannya mengempis total. Kulitnya kembali normal, bahkan memancarkan kilau tembaga yang lebih kokoh dari sebelumnya. Setiap kali cedera akibat teknik Tinju Runtuh disembuhkan, batas toleransi tulangnya ternyata meningkat pesat!
Tidak berhenti di situ, sisa energi masif dari batu tersebut kini mengalir mengisi 'lautan' meridian Lin Tian.
Lapis demi lapis Qi ungu keemasan dipadatkan. Meridiannya yang seolah tak pernah penuh itu perlahan mulai mencapai batas akhirnya. Tubuh Lin Tian bergetar ringan seiring dengan kepadatan aura di sekitarnya yang terus menekan udara.
Menjelang fajar menyingsing, Batu Roh tingkat menengah di tangannya hancur menjadi serpihan debu tak berguna. Lin Tian membuka matanya.
"Puncak tingkat tiga," gumamnya, sedikit menghela napas.
Satu Batu Roh tingkat menengah dan lima puluh tingkat rendah ternyata tidak cukup untuk membuatnya menembus tingkat empat. Kebutuhan energinya benar-benar sebuah jurang tanpa dasar. Jika itu kultivator biasa, energi sebanyak itu sudah cukup untuk mendorong mereka dari tingkat tiga langsung ke tingkat lima!
Lin Tian mengepalkan tangannya perlahan. Meskipun tidak menerobos, meridiannya kini telah terisi penuh. Kekuatannya telah meningkat dua kali lipat dibandingkan saat ia melawan Zhao Kuang di arena. Jika ia menggunakan Tinju Runtuh Lapis Pertama sekarang, daya hancurnya akan setara dengan serangan kekuatan penuh kultivator tingkat tujuh, dan lengannya tidak akan terluka lagi.
Namun, Lin Tian sadar bahwa berdiam diri di pelataran tidak akan memberinya sumber daya.
Ia mengambil gulungan peta dari kantong spasial Zhao Kuang. Itu bukan peta sekte biasa, melainkan peta Pegunungan Darah Besi, wilayah perburuan tingkat menengah yang terletak ratusan mil di utara sekte. Di peta tersebut, terdapat sebuah titik yang ditandai dengan tinta merah tebal oleh Zhao Kuang, dengan tulisan kecil di bawahnya:
Bunga Teratai Api Berdarah—Mekar dalam dua minggu.
Mata Lin Tian menyipit. Bunga Teratai Api Berdarah adalah herbal tingkat menengah yang langka. Mengonsumsinya bukan hanya menjamin terobosan untuknya, tetapi energi api murninya sangat cocok untuk memperkuat daya ledak teknik Tinju Runtuh.
Tampaknya Zhao Kuang berencana menggunakan Batu Roh untuk naik ke tingkat tujuh, lalu pergi memetik herbal ini untuk mengukuhkan fondasinya.
"Kau menyiapkan rencana yang sangat matang, Zhao Kuang," seringai tipis muncul di wajah Lin Tian saat ia menyimpan peta itu ke dalam bajunya. "Terima kasih atas jalannya. Aku akan mengambil warisanmu dengan senang hati."