NovelToon NovelToon
Jejak Kaki Di Kotaku

Jejak Kaki Di Kotaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: A.T. Setiawan

Menelusuri lorong kota itu setelah sekian lama meninggalkannya mengusik ingatanku.

Beberapa tempat yang tak berubah, mengingatkan sebagian kisah masa laluku yang menempaku menjadi seperti sekarang .... Laki-laki yang masih tetap menjadi dirinya sendiri.

Aku bisa selembut kapas dan berubah sekeras batu padas seiring kedewasaan hidupku yang dikelilingi kepalsuan dan intrik penumpang gelap di sekitarku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Latihan Pertama

Aku memeriksa bola yang diberikan Firman. "Masih terlalu keras Man. Kurangi sampai sekitar 12 psi .... Biar gak terlalu liar memantul," kataku.

Awal bulan Agustus yang juga puncak musim kemarau di penghujung tahun 90an tak pelak membuat lapangan sepak bola sekolah kami menjadi sangat keras dan bergelombang.

"Kita siram air dulu yuk pakai selang." Setelah berbagai macam ukuran tekanan bola tak memuaskan, Aku meminta pendapat untuk membasahi lapangan dulu.

"Masalah nya selangnya mana ?" celetuk Tato kiper kami. Dia juga merasa kesulitan dan kesakitan saat menjatuhkan badan ke atas lapangan ketika menangkap bola.

"Tenang, Erwin sedang pinjam selang ke kantor ayahnya." Aku teringat ayah Erwin yang bekerja di Perusahaan Air Minum. "Pasti kalau cuma selang dan paralon ada banyak di gudang kantor ayah Erwin," lanjut ku.

"Anaknya belum datang Pras," kata Firman.

"Paling bentar lagi nongol," balas ku.

Lapangan sepak bola kami tepat berada di depan pintu masuk sekolah. Selasar tinggi dan panjang di atas gedung kelas dan jalan lingkar yang membatasi dengan lapangan itu membuat nyaman siapa saja yang menontonnya dari sana.

Sambil menunggu pak Dimin pelatih kami datang. Kami mulai menjajagi kemampuan masing-masing dengan fun games.

Ada dua puluh tiga anggota tim yang terpilih di SMA kami. Campuran murid kelas dua dan kelas satu. Sebagian besar sih murid kelas satu yang baru saja masuk dan belum saling kenal.

Tidak seperti senior kami yang sudah saling mengenal dan paham permainan masing-masing, Aku dan murid kelas satu yang lain masih berusaha mengakrabkan diri supaya lebih nyaman saja di pertandingan kelak.

Saat kami asik melakukan fun games pak Dimin datang menghampiri kami. "Sepertinya semua sudah datang," katanya nya ke arah kami. "Baik kita bagi jadi dua tim seperti yang sudah bapak umumkan," perintahnya.

"Lapangan nya keras sekali pak. Apa tidak sebaiknya kita siram dulu dengan air biar sedikit empuk," usulku lagi.

"Iya sih, bapak sudah pikirkan itu. Tapi untuk sementara kalian coba pakai dulu .... Hati-hati jangan main keras," jawab pak Dimin.

Menuruti perintahnya, kami mulai membagi menjadi dua tim yang saling berhadapan. Aku kebetulan satu tim dengan Firman, dan Tato.

2 kali 15 menit untuk pertama kalinya menjadi ujian seleksi kami menghadapi turnamen. Siapapun berharap terpilih menjadi pemain inti.

***

"Atas Man !" Aku meminta Firman melambungkan bola umpan ke arahku.

Beberapa kali gagal mengumpan bola melalui umpan mendatar memutuskan Aku merubah cara mengumpan Firman. Rumput kering di lapangan yang bergelombang tak mudah mengalirkan operan cepat dari kaki ke kaki seperti yang dikehendaki pak Dimin.

"Gooool .... !"

Upaya ku berhasil setelah Firman merubah cara mengumpannya. Sundulan ku menembus gawang lawan.

Posisiku sebagai penyerang sayap dan Firman sebagai gelandang serang memang mengharuskan kami selalu berkomunikasi. Apalagi ini baru latihan pertama kami.

Silih berganti kami bertahan dan menyerang. Semakin lama permainan kami mulai keras. Lawan tandingku yang kebanyakan murid kelas dua tak mau dipermalukan oleh tim ku.

"Woiiiy .... Jangan main keras !" Untungnya pak Dimin selalu mengingatkan kami.

"Gooool ...!"

Upaya sundulan ku berbuah gol lagi. Firman mulai paham bola lambung kesukaanku.

Tinggi tubuhku yang hanya 175 senti sebenarnya tak terlalu bagus untuk menyambut umpan lambung. Tapi tinggi lompatanku merepotkan bek lawan.

"Priiiiit ....!"

15 menit pertama tak terasa berakhir dengan keunggulan dua gol tim ku.

"Siapa namamu ?" Pak Dimin bergegas menghampiri ku saat jeda istirahat.

"Pras pak," jawabku singkat.

"Main mu bagus, tapi siapa yang menyuruh kalian merubah gaya permainan ?" ujarnya sedikit gusar melihat tim ku merubah gaya permainan.

"Saya pak .... Maaf pak. Lapangan tak memungkinkan untuk selalu melakukan umpan datar," jawabku lagi.

"Hmmmm .... " Sepertinya pak Dimin membenarkan argumentasi ku. Dia hanya bergumam sebelum berpindah ke tim lawan kami.

"Gileee juga taktik mu Pras." Tato yang paham pembicaraanku dengan pak Dimin memuji keputusanku.

"Tuh si jabrik datang !" Firman menunjuk ke arah selasar.

Erwin sesuai janjinya datang dengan membawa gulungan besar selang bersama Juli. Sepertinya dia benar-benar ingin membuktikan kapasitasnya sebagai ketua suporter kami.

"Ijin siram lapangan coach !" teriaknya ke arah pak Dimin yang memperhatikan kami.

"Nah ini baru ide bagus .... Cepat kerjakan .... lima menit buat siram lapangan !" Balas pak Dimin kepada kami.

Bergegas mengulur selang, kami ramai-ramai menyiram lapangan dengan air. Terutama di sekitar gawang supaya kiper masing-masing tak ragu lagi terbang menangkap bola.

"Eh ntar lihat aja cheerleader ku bakalan merangsang otak kalian," celetuk Erwin. Tangannya masih sibuk menyemprotkan air ke seluruh lapangan sambil menyeringai ke arah kami. "Jika menang telak, pemain terbaik akan dapat sun loh," ujarnya lagi sambil terbahak.

"Halah .... Cuma game biasa ngapain pakai cheerleader," bantahku.

"Eh jangan ngeyel loh Pras. Apa dirimu gak pingin menyipok bibir Eliza ?" Bocoh sialan itu kini mulai mengolok ku.

"Lah katanya sudah kamu pecat si Eliza." Aku terkekeh mendengar penuturan ngawur-nya.

"Dia sudah ku ampuni. Jika bukan karena kawan kecilku belum tentu dia kupakai lagi. Banyak tuh gadis sexy kelas satu yang merayuku supaya dilibatkan sebagai tim cheerleader." Seperti yang sudah-sudah, si Jabrik mulai membual lagi.

"Praaaaas !" Teriakan dari dalam mobil yang terlihat masuk ke jalan lingkar sekolah mengalihkan percakapan kami.

"Wah si Arin, Sarah, dan Eliza kok bisa kompak datang bareng ?" gumam ku yang masih membantu Erwin menyiram lapangan.

"Siapa dulu ketuanya," pamer Erwin sambil melirik ke arahku.

Juli bergegas membantu menurunkan air minum dan buah-buahan dari mobil Arin.

"Kompak banget, bisa bareng," ujarku setelah ketiga bocah perempuan itu selesai membagikan semua bawaannya kepada semua pemain yang ada di pinggir lapangan.

"Pak Tarjo yang menyuruh kami. Nanti sebentar dia juga datang," balas Eliza.

"Loh bukannya Erwin yang menyuruh kalian ?" tanya ku dengan nada heran.

"Erwin ? .... Mana dia ?" potong Eliza.

Dari nada kesalnya sudah kuduga bakalan ada pertengkaran lagi dengan Erwin yang kulihat berpura-pura menggulung selang sambil bersiul tak jauh dari kami.

"Wiiiiin .... Sini kamu !" teriak Eliza ke arah Erwin.

"Sebentar sayang, aku bereskan ini dulu ....!" Balas Erwin yang terus terbahak mendekat ke arah pinggir lapangan. "Sini say, ngobrol di tempat adem sambil lihat taktik yang ku terapkan ke anak-anak," teriaknya lagi sambil membereskan selang yang dibawanya.

"Sudahlah, paling tidak si Erwin ada gunanya juga loh," kataku menengahi kejengkelan Eliza.

"Iya juga sih. Walau nyebelin tapi dia ada sedikit baik nya sih ... tapi ya cuma sedikit." Arin ikut nimbrung. Telunjuk dan ibu jarinya di satukan menyinggung Erwin.

"Ah kalian gak sekelas sih dengan si Tengik itu." Eliza masih terus menggerutu.

"Hihihi .... seperti itulah kelakuannya. Aku sih sudah kenyang tiga tahun satu kelas dengannya di SD dan tiga tahun di SMP .... Jika dia bisa anteng sebentar sebenarnya asik juga orangnya." Tak tahan mendengar gerutuan Eliza, kini Arin ikutan menyinggung Erwin.

"Eit ada yang mulai kesetrum .... " celetuk ku.

"Wah .... Amit amit jabang bangke !" Arin terkekeh mendengar godaanku. Tangannya di kepalkan di pukulkan ke kepalanya tiga kali.

"Weh lihat tuh si brengsek itu malah ngabisin buah Liz !" Tiba-tiba saja Sarah menyadari Erwin yang sudah nangkring di dalam mobil Arin sambil makan pisang dan menghabiskan apa saja yang ada di dalamnya.

"Waduh .... Wiiiiin ...!" Arin tergopoh lari ke mobilnya, "Itu buat pak Tarjooooo !" teriaknya lagi.

Tentu saja kami semakin terbahak melihat keonaran yang mulai terjadi di pinggir lapangan.

Beberapa kakak kelas laki-laki yang mulai datang menonton memandang dengan iri keakraban kami.

Apalagi setelah pak Tarjo datang. "Kowe bocah gak tahu sopan santun ya ... Itu pisang buat saya malah main serobot saja .... Push up sepuluh kali !" Dia pura-pura memarahi habis-habisan Erwin setelah Arin mengadu.

Untuk saat itu Arin merasa puas aduannya seperti berhasil, sebelum kelak dia tahu pak Tarjo itu om Erwin.

Pinggir lapangan menjadi semakin ramai saat Erwin yang selesai push up malah mencomot dua pisang yang ada di depan pak Tarjo lagi dengan santai ....

***

1
Dhatu Lukita
🌹 untukmu 🤭💪
Dhatu Lukita
kemekel aku bacanya 😄
Wawan: Tengs .... semoga jadi inspirasi buatmu Thor 🤭👍
total 2 replies
Dhatu Lukita
banjir rob itu apaan ya kak
Wawan: Banjir sebab amblasnya tanah dan naiknya permukaan air laut .... Semarang dan Jakarta jadi contoh terkini banjir rob parah ... tengs atensinya
total 1 replies
SANG
Iklan lagi untukmu thor 👍💪
SANG
Lanjut thor👍💪
SANG
Semangat ya thor 👍💪
ginevra
salam juga pras
Aya Ansyar
Semangat terus berkarya Author 👍🏻
SenandikaMaret
percaya diri itu emang harus 🤣
Wawan: Nah kan .... 🤭🤭🤭😍
total 1 replies
asepnya bikin korong jadi irenk🤣
waktu kecil sering gogoh ikan di sawah, dapet seplastik, tapi malah sering lupa dibawa pulang, kerna keasikan maen ... pas diliat lagi dah jadi bangke🤣
ikan melem itu yang kayak apa kak?
jadi inget pas masih angon wedus pas jelas 3 SD🤭
ini cerita authornya kah🤭
Wawan: Hahaha ....simpulkan 🤣
total 1 replies
bjir, raup tayi🤣
kena pecut ekornya
temannya kek nama kakakku bjir🤣
enak tuh daging biawak, kek ayam
kalo anjingku dulu pas SD namanya Bopi, terus pas jalan" ke pameran ada ibu yang manggil bayinya Bopi, kakakku langsung cekikikan🤭
biasanya abis cari ular🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!