NovelToon NovelToon
Isi Ulang Hidup Ku

Isi Ulang Hidup Ku

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 34.Makan malam bersama.

Ciuman itu masih terasa hangat, jantung mereka berdua sama-sama berdegup kencang, seolah tak ingin berhenti. Namun kelembutan momen itu tiba-tiba terpecah saat suara mesin mobil yang melaju perlahan terdengar memasuki halaman rumah yang sepi. Suara roda yang bergesekan dengan kerikil terdengar jelas hingga ke lantai atas, membuat Ivy tersentak kaget seketika.

Mata Ivy terbuka lebar, napasnya tertahan. Mama datang! jeritnya dalam hati. Tanpa berpikir panjang, ia segera mendorong pelan dada bidang Rama, memutuskan ciuman mereka dengan tergesa-gesa. Wajahnya memerah padam menahan malu yang meluap-luap.

“Mama sudah sampai!” bisiknya cepat, lalu tanpa menoleh lagi ia berlari kecil keluar kamar meninggalkan Rama sendirian.

Rama hanya berdiri diam menatap punggung Ivy yang menghilang di ambang pintu. Ada rasa kecewa samar menyelinap di hatinya, merasa seolah ditinggalkan begitu saja di puncak kebahagiaan. Ia menghela napas panjang, perlahan merapikan letak kemejanya yang sedikit berantakan, menyisir rambutnya dengan jari agar kembali rapi. Wajahnya yang biasanya tenang masih menyimpan rona merah, namun ia berusaha menata kembali sikap tenang dan berwibawanya. Dengan langkah tenang namun menahan rasa kesal, ia berjalan menyusul Ivy ke bawah untuk menemui ibunya.

Di halaman depan, mobil mewah milik Nyonya Lusi berhenti tepat di depan pintu rumah. Nyonya Lusi turun dengan senyum lelah namun bahagia, tangan kanannya memegang sebuah kue tart cantik bertuliskan ucapan selamat kelulusan. Bibi Nora segera menyambutnya sambil masih mengenakan celemek masak yang sedikit berdebu tepung.

“Selamat datang, Nyonya,” sapa Bibi Nora ramah sambil menundukkan badan.

Nyonya Lusi tersenyum, lalu bertanya sambil menatap sekeliling, “Bi, apa Ivy belum pulang?”

“Sudah, Nyonya. Dia ada di atas, sedang menemani Tuan Rama,” jawab Bibi Nora sopan sambil menyambut kue dari tangan Nyonya Lusi.

“Rama?” gumam Nyonya Lusi pelan, matanya sedikit terbelalak kaget namun seketika berubah menjadi senyum penuh arti.

Setelah Bibi Nora membawa kue masuk ke dapur, Nyonya Lusi berjalan perlahan menaiki tangga sambil memanggil nama putri kesayangannya, “Ivy… Ivy sayang, Mama sudah pulang.”

Di dalam kamar, suara panggilan itu terdengar jelas di telinga Ivy. Ia segera melangkah cepat ke pintu dan menyambut ibunya yang baru sampai di depan pintu kamar. Ivy langsung memeluk lengan ibunya dengan penuh kemanjaan.

“Mama sudah datang…” ucapnya lembut sambil menempelkan pipinya ke lengan ibunya. “Aku kira Mama lupa dengan janji kita untuk merayakan kelulusanku.”

Nyonya Lusi tersenyum lembut, mengusap lembut kepala putrinya dengan penuh kasih sayang. “Bagaimana mungkin Mama lupa, sayang? Maafkan ya, tadi rapat di kantor berlangsung cukup lama, jadi Mama tidak bisa hadir di upacara kelulusanmu tadi siang. Mama janji, malam ini kita rayakan sebaik-baiknya.”

Saat itu Rama melangkah keluar dari kamar Ivy dan berjalan menghampiri mereka. Ia menyapa dengan sopan namun tetap hangat, “Selamat malam, Tante.”

Nyonya Lusi menoleh dan melihat Rama berdiri di sana. Matanya bersinar senang, ia tersenyum ramah menyambut pemuda itu. “Wah, Rama ada di sini juga. Kalau memang tidak ada kesibukan lain, mengapa tidak ikut makan malam bersama kami saja? Sekalian kita merayakan kebahagiaan Ivy malam ini.”

Belum sempat Rama membuka mulut untuk menjawab, Ivy yang sedikit panik dan malu segera menyahut cepat, “Ah, dia pasti harus segera pulang, Ma. Dia kan orang yang sangat sibuk, pasti banyak urusan penting yang menunggu.”

Namun Rama segera menatap Ivy sekilas dengan senyum tipis yang menahan tawa, lalu menjawab dengan tegas kepada ibunya, “Tidak usah khawatir, Tante. Hari ini waktu saya sudah saya kosongkan sepenuhnya. Saya sangat senang sekali diizinkan ikut merayakan bersama kalian.”

“Baguslah kalau begitu,” ucap Nyonya Lusi gembira. “Kalau begitu, Ivy, tolong antar Rama ke ruang makan dulu ya. Mama mau ke kamar sebentar untuk ganti pakaian dan membersihkan diri dulu.”

“Baik, Ma,” jawab Ivy pelan sambil menunduk.

Saat tinggal berdua saja di lorong menuju ruang makan, suasana terasa sangat canggung bagi Ivy. Ia teringat kejadian tadi di kamar, membuatnya tak berani menatap mata Rama terlalu lama. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri, lalu berjalan di samping Rama menuju ruangan yang dimaksud.

Melihat wajah Ivy yang menunduk malu, senyum tipis terukir di bibir Rama. Ia mengulurkan tangannya perlahan ke depan Ivy, suaranya terdengar lembut namun sedikit menggoda, “Kenapa diam saja? Tidak mau menambah energimu lagi?”

Ivy mendongak sedikit menatapnya dengan bingung, matanya berkedip-kedip polos.

Rama tersenyum semakin lebar, tatapannya penuh canda yang jarang sekali ditunjukkannya pada orang lain. “Kalau enggan menggandeng tanganku, bibirku juga masih siap kapan saja kau minta,” ucapnya pelan namun jelas, sebuah tawaran yang terdengar sangat menggoda dan sama sekali tidak seperti sifat Rama yang kaku dan tertutup selama ini.

Pipi Ivy terasa memanas mendengar ucapan itu. Ia tersenyum canggung namun akhirnya menyodorkan tangannya dan menggenggam tangan hangat itu erat. “Aku pilih pegang tangan saja dulu,” jawabnya pelan sambil tersenyum malu, lalu berjalan melangkah bersamanya menuju ruang makan.

Malam itu meja makan terasa begitu hangat dan akrab. Nyonya Lusi yang awalnya mengira Rama adalah pemuda yang kaku, dingin, dan penuh kesopanan kaku layaknya pejabat tinggi, kini tertegun melihat sikapnya. Di meja makan, Rama terlihat begitu lembut dan penuh perhatian pada Ivy. Ia perlahan mengupas udang goreng yang menjadi makanan kesukaan Ivy, lalu memindahkannya ke piring putri nya, juga mengambilkan sayur dan buah yang paling enak.

“Terima kasih,” ucap Ivy pelan setiap kali Rama menaruh makanan ke piringnya. Sesekali ia merasa canggung menerima perlakuan istimewa itu, namun di sisi lain hatinya terasa hangat dan nyaman menikmati setiap perhatian kecil yang diberikan Rama. Ia tak sadar bahwa senyum bahagia tak pernah lepas dari wajahnya sepanjang makan malam berlangsung.

“Rama, kamu benar-benar pria yang telaten ya,” puji Nyonya Lusi sambil tersenyum lebar melihat keakraban mereka. “Ivy beruntung sekali bertemu denganmu.”

“Memang tugas saya menjaganya dengan baik, Tante,” jawab Rama lembut sambil menatap Ivy yang menunduk malu.

Setelah makan malam selesai dan percakapan yang menyenangkan berakhir, Rama berpamitan dengan sopan. Ivy mengantarnya sampai ke halaman depan, menatap mobil mewah itu perlahan melaju menghilang di kegelapan malam sambil melambaikan tangan.

Sesampainya kembali ke kamarnya yang tenang, Ivy hendak merapikan tempat duduk tadi, namun matanya tertuju pada sebuah kotak kecil berwarna biru yang tergeletak rapi di atas meja belajarnya. Ia belum melihat kotak itu sebelumnya.

Apa ini? Apakah ini ditinggalkan Rama? batinnya penasaran. Ia segera mendekat dan membuka tutup kotak itu perlahan. Di dalamnya tergeletak sebuah kalung berlian yang sederhana namun berkilau indah, desainnya sangat cantik dan elegan serta pesan ucapan hadiah kelulusan.

Ivy tersenyum bahagia melihatnya. Ia segera mengambil ponselnya dan mengetik pesan singkat dengan jari yang sedikit bergetar senang: Terima kasih atas hadiahnya, Rama. Kalung ini sangat cantik, aku menyukainya sekali.

Tak lama pesan terkirim, senyum bahagia masih mengembang di bibirnya. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin, membayangkan kalung itu tergantung indah di lehernya. Pikirannya mulai melayang memikirkan sikap Rama yang berubah begitu lembut dan penuh perhatian padanya belakangan ini.

Jangan-jangan dia menyukaiku? tanyanya dalam hati, namun seketika ia menggeleng pelan menepis pikiran itu. Ah, mana mungkin! Hubungan kita hanyalah saling membutuhkan saja. Dia membantuku agar aku bisa memperpanjang umurku, dan aku membantunya agar ayahnya tidak terus menjodohkan dirinya. Itu saja. Kalau dia terus bersikap sebaik dan seperhatian ini, lama-lama hatiku bisa luluh dan jatuh cinta padanya sungguhan. Sudahlah, jangan pikirkan soal cinta-cintaan sekarang. Fokusku hanya satu: menambah sisa umurku dan hidup bahagia selagi masih bisa.

Di tempat lain, di dalam kabin mobil yang melaju mulus menembus kegelapan malam, Rama sedang menatap layar ponselnya yang baru saja berbunyi. Membaca pesan singkat dari Ivy, senyum lebar merekah di wajahnya—senyum yang begitu tulus dan bahagia. Ia perlahan menyentuh bibirnya sendiri, seolah masih bisa merasakan kelembutan sentuhan bibir Ivy tadi. Ia terus tersenyum sendiri menatap jendela kaca yang memantulkan bayangannya.

Larry yang duduk di kursi pengemudi sesekali melirik lewat kaca spion, geleng-geleng kepala melihat tingkah tuannya.Selama belasan tahun aku melayaninya, tak pernah kulihat dia tersenyum sebahagia ini. Padahal selama ini banyak wanita cantik, kaya, dan seksi yang mengejarnya, tapi tak satu pun yang mampu menyentuh hatinya. Kenapa malah gadis muda yang sederhana seperti Nona Ivy yang berhasil membuatnya jatuh cinta setengah mati? batin Larry heran sekaligus ikut bahagia.

Tiba-tiba Rama menegakkan duduknya, wajahnya kembali serius namun matanya tetap hangat. “Larry,” panggilnya pelan namun tegas.

“Iya, Tuan?” jawab Larry sigap.

“Besok siapkan perabot rumah tangga yang paling bagus dan berkualitas tinggi untuk melengkapi rumah Ivy. Hubungi juga arsitek dan dekorator interior terbaik, suruh mereka ke sana untuk membantu Nyonya Lusi memperbaiki dan memperindah rumah tua itu. Apapun yang mereka butuhkan, berikan tanpa menanyakan harganya. Jangan sampai mereka merasa kekurangan sesuatu,” perintah Rama dengan tegas.

“Baik, Tuan. Segera saya laksanakan,” jawab Larry sambil tersenyum kecil, sudah makin paham betapa besar rasa sayang tuannya pada gadis itu.

Mobil hitam mewah itu terus melaju perlahan, membelah kabut malam yang samar. Langit malam yang penuh bintang terlihat begitu indah dan menyejukkan mata Rama malam ini, karena ia tahu, ada seseorang yang kini mengisi hatinya dan membuat hidupnya terasa jauh lebih berwarna dari sebelumnya.

1
Musdalifa Ifa
sangat mengesankan
🦋⃞⃟𝓬🧸𝓩𝓮𝓵𝓵𝔂𝓷
lnjt
Musdalifa Ifa
semangat up Thor 💪, cerita nya ok
Alia Chans
lanjut, like + 🌹🤭😉



kalo berkenan mampir juga thor🤭😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!