NovelToon NovelToon
DI BALIK TOPENG KEBENARAN

DI BALIK TOPENG KEBENARAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Alina: "Kenapa kamu kembali, Arka? Untuk menghancurkanku?"

Arka: "Aku datang untuk menghancurkanmu... tapi malah jatuh cinta."

Farhan: "Kalau begitu pergilah. Karena aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya."

CINTA DAN DENDAM

Sepuluh tahun lalu, Alina menjadi korban pelecehan oleh kekasihnya sendiri, Raka. Tanpa ia sadari, semua perhatian dan cinta yang diberikan Raka hanyalah topeng. Di balik senyumnya, tersimpan rencana keji untuk menghancurkan hidup Alina dan ayahnya demi membalaskan dendam keluarganya.

Tepat sepuluh hari menjelang pernikahan Alina dengan Farhan, Raka dengan identitas baru sebagai Arka. Di balik topeng pria yang tampak baik, berwibawa, dan penuh pesona, tersimpan dendam yang siap menghancurkan kebahagiaan Alina.

Namun, semakin dekat dengan Alina, hati Arka justru goyah. Dendam yang ia pelihara selama sepuluh tahun perlahan berubah menjadi cinta dan obsesi untuk memiliki wanita itu, meski harus merebutnya dari pelukan Farhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: BAYANGAN YANG SELALU ADA

...BAB 3...

...BAYANGAN YANG SELALU ADA...

(ALUR PROGRESIF )

Suara Farhan di ujung telepon terdengar menekan.

“Sembilan puluh sembilan koma sembilan persen, Lin.”

Kalimat itu menghantam Alina seperti palu. Lututnya melemas seketika. Ia jatuh terduduk di tepi ranjang, kedua tangannya mencengkeram ponsel begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dadanya sesak. Napasnya tercekat di tenggorokan dan sulit turun.

Layar ponselnya berpendar. Satu pesan baru masuk. Tanpa nama.

Kau masih sama saja, Alina. Selalu saja percaya pada apa yang cuma ingin kau lihat...

Alina membeku. Darahnya serasa berhenti mengalir.

Kalimat itu. Nada dingin yang menyelinap di balik kata-katanya.

Delapan tahun yang lalu, di ujung jalan sepi yang diguyur hujan deras, Raka Haris mengucapkan kalimat persis itu sebelum menghilang tanpa jejak. Hanya ada mereka berdua di sana malam itu. Tidak ada orang ketiga. Tidak ada saksi. Tidak mungkin ada orang lain yang bisa menirukannya, sampai ke detail nada dan jeda.

“Farhan…” Suara Alina pecah menjadi bisikan. “Dia… dia benar-benar kembali.”

Yang membuatnya merinding bukan sosok Raka itu sendiri. Tapi kenyataan bahwa selama ini pria itu sudah berada di tengah-tengah mereka. Menggunakan wajah baru. Nama baru. Topeng kesempurnaan yang begitu meyakinkan. Sampai-sampai dirinya, yang pekerjaannya adalah mencari celah kebohongan, hampir saja tertipu sepenuhnya.

“Tahan di sana, Lin,” suara Farhan tegas, tapi ada cemas yang tidak bisa disembunyikan. “Aku ke sana sekarang. Jangan buka pintu untuk siapa pun. Siapa pun, selain aku. Paham?”

“Iya,” jawab Alina lirih.

Telepon terputus. Disusul suara mesin mobil yang meraung jauh di seberang sana.

---

Tiga puluh menit adalah waktu yang paling panjang dalam hidup Alina.

Begitu terdengar suara kunci diputar, ia langsung berdiri. Pintu terbuka, dan Farhan muncul dengan wajah pucat, tapi sorot matanya tajam dan siaga. Tanpa banyak bicara, ia masuk, mengunci pintu rangkap dua, memeriksa semua jendela, bahkan mematikan saklar lampu yang tidak diperlukan. Gerakannya cepat, terlatih. Naluri seorang mantan atlet karate yang tidak pernah benar-benar padam.

Ia meletakkan laptop di atas meja ruang tengah.

“Lihat,” kata Farhan, suaranya ditekan serendah mungkin.

Layar menyala. Menampilkan profil Arka Pradana. Lahir di Surabaya. Yatim piatu sejak kecil. Dibesarkan di panti asuhan. Lulus dengan beasiswa. Sukses merintis usaha di usia muda. Semuanya terlihat sempurna.

“Tapi lihat ini,” Farhan menggulir ke bawah. “Tidak ada foto ijazah SD. Tidak ada data SMP. Tidak ada satu orang guru pun yang bisa dihubungi sebelum dia berusia dua puluh satu. Semua dokumen, semua jejak, muncul serentak di tahun yang sama persis saat nama Raka Haris dihapus dari seluruh sistem kependudukan.”

Alina menutup mulutnya dengan tangan. “Dia membeli identitas baru.”

“Lebih dari itu,” Farhan menatapnya dalam. “Dia sudah merencanakan ini bertahun-tahun, Lin. Jauh sebelum kita sempat berpikir dia akan berani muncul lagi.”

Jari Farhan berhenti di satu foto. Foto Arka sedang menandatangani kontrak. Di pergelangan tangan kanannya, terlihat garis tipis berwarna pucat.

Alina menahan napas. Dunia di sekitarnya mendadak senyap.

“Itu…” bisiknya. “Itu luka dari kecelakaan motor waktu kelas dua belas. Aku yang menolongnya waktu itu. Luka itu dalam. Bekasnya tidak akan pernah hilang, tidak peduli seberapa pintar dia mengubah wajahnya.”

Semua kepingan itu jatuh ke tempatnya. Senyum Arka yang terlalu simetris. Cara ia memiringkan kepala sedikit ke kiri saat mendengarkan. Kebiasaan kecil mengetukkan jari di meja saat berpikir. Semuanya adalah Raka. Hanya saja versi ini lebih dingin, lebih sabar, dan seribu kali lebih berbahaya.

“Dan ini yang paling buruk,” kata Farhan. Ia membuka map cokelat tebal yang dikirim Arka untuk Alina. “Berkas kasus pencucian uang.”

Alina membalik halamannya satu per satu. Dan setiap halaman membuat perutnya mual.

Tanda tangan elektroniknya. Dipalsukan dengan sangat mirip.

Catatan log akses rekening bank. Tanggal dan jamnya cocok persis dengan jadwalnya saat itu.

Salinan email dan surat yang seolah-olah membuktikan dialah dalang di balik aliran uang haram itu.

Farhan duduk di hadapannya. Wajahnya tegang. “Dia tidak ingin menang di pengadilan, Lin.”

“Lalu?”

“Dia ingin kau menjadi pengacaranya,” jawab Farhan pelan. “Supaya saat semua bukti palsu ini dibuka di sidang, semua orang akan langsung menunjukmu. Pengacara yang menyalahgunakan kepercayaan klien. Pengacara yang korup. Namamu akan hancur. Lisensimu dicabut. Karirmu selesai. Tepat di hari-hari menjelang pernikahan kita.”

Keheningan memenuhi ruangan. Hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak terlalu keras.

Alina bangkit, berjalan ke dapur untuk minum. Tangannya gemetar saat menuang air. Dari sudut matanya, ia melihat kilatan cahaya kecil memantul dari balik tirai jendela samping.

Jantungnya langsung berdegup kencang.

Ponsel Farhan berbunyi. Satu pesan masuk.

Jangan terlalu banyak bicara soal masa lalu. Dinding punya telinga. Dan aku tahu betul apa saja yang kalian bahas sejak kalian meninggalkan gedungku tadi siang.

Alina berbalik cepat. “Farhan…”

Farhan sudah berdiri, wajahnya mengeras. Sebelum ia sempat menjawab, ponselnya bergetar lagi.

Gaun pengantin ivory, model A-line, fitting hari Rabu jam tiga sore bersama Bu Kirana. Kamu pulang kerja kemarin jam enam empat puluh lewat Jalan Diponegoro. Dan air mineral di atas mejamu sekarang merek Aqua botol 600ml.

Farhan mengumpat pelan. Ia melempar ponsel ke sofa. “Sialan.”

“Dia… dia tahu semuanya,” kata Alina, suaranya bergetar. “Berarti dia sudah mengawasi kita sejak lama.”

“Berbulan-bulan. Mungkin bertahun-tahun,” sahut Farhan. Ia berjalan ke jendela dan menarik tirai rapat-rapat. “Kita tidak bisa lapor polisi sekarang.”

“Kenapa tidak?”

“Karena bukti kita tidak cukup,” jawab Farhan tanpa menoleh. “Kemiripan luka dan suara tidak akan diterima. Dia sudah membersihkan semua jejaknya. Kalau kita melapor duluan, dia akan berbalik menuduh kita memfitnah pengusaha terhormat. Dan saat itu terjadi, nama baikmu yang akan hancur lebih dulu.”

Tepat saat kalimat terakhir itu keluar, terdengar suara.

Tok. Tok. Tok.

Tiga kali. Pelan. Teratur. Tepat jam dua lewat sepuluh malam.

Alina dan Farhan saling menatap. Napas mereka sama-sama tertahan.

“Tidak ada siapa-siapa,” kata Alina pelan.

“Aku tahu,” jawab Farhan. Ia mengambil sebatang besi kecil dari laci meja. Langkahnya hati-hati saat mendekati pintu utama. Ia mengintip dari celah kaca. Teras kosong. Gelap. Hanya ada sebuah amplop cokelat tebal tergeletak tepat di tengah.

Dengan hati-hati ia membuka pintu sedikit, meraih amplop itu, lalu segera menguncinya lagi.

Tangannya gemetar saat membuka amplop. Di dalamnya ada sepuluh lembar foto. Foto mereka.

Foto saat keluar dari gedung Arka sore tadi.

Foto saat mereka berdua di dalam mobil, membicarakan data.

Foto mereka sekarang. Di ruang tengah ini. Diambil dari sudut yang persis berada di balik jendela tempat Alina berdiri beberapa menit lalu.

Di belakang foto terakhir, ada tulisan tangan dengan tinta hitam. Tulisan yang dulu sering ia lihat di buku catatan Raka.

Kalian pikir baru malam ini aku mengawasi? Aku sudah ada di sini sejak lama sekali. Dan permainan, baru saja dimulai.

Angin malam bertiup kencang, mengguncang jendela hingga berderak.

Alina tanpa sadar mencengkeram lengan Farhan. Tubuhnya dingin. “Dia di sini, Farhan. Dia benar-benar sudah masuk ke dalam hidup kita.”

Farhan tidak menjawab. Ia hanya menarik Alina ke belakang tubuhnya. Matanya tidak lepas dari kegelapan di luar jendela.

Karena satu hal sudah pasti.

Raka Haris tidak hanya kembali untuk balas dendam.

Ia sudah berada di dalam rumah mereka. Menjadi bayangan yang tidak pernah bisa mereka singkirkan.

Bersambung...

Mohon dukungannya dengan like, komentar, gift dan bintangnya ya... Terimakasih banyak 🙏🥰

1
Kam1la
cepet amat kak, alurnya. kesehatan Alina sendiri bagaimana? semoga cepat pulih
Kayla Rane: iya k, nnti bakal ada konflik lagi setelah Fikri nikah sama Dila. dan disini bakal serunya 🤭 ujian Alina tambah berat lagi
total 1 replies
Kam1la
Sari tidak punya perasaan
Kam1la
pasti ada jalan keluarnya
Kam1la
malah sakit yang kerepotan sendiri , mama Sari kemana ?
Kam1la
ya Allah, ada apa dengan Alina...semoga tidak serius lukanya
Kam1la
keren.... akhirnya Mama Sari sadar juga...
Kam1la
untung saja, Nisa ketahuan kalau tidak bakal sembunyi terus🤭
Kam1la
kalau Alina bekerja lagi dan kaya. pasti Sari gk ngejek
Kam1la
kalau ditinggal beneran, baru tahu rasa Farhan...🤭
Kam1la
jangan2 akal -akalan Sari...
Kam1la
alhamdulillah...sudah lahir anak cewek. siapa nama bayinya ....
Kam1la
nah kan, Farhan bakal kena akibatnya
Kam1la
Alina yg kuat ya....mending di rumah sendiri saja, cari pembantu....🤭
Kam1la
syukurlah...hamil juga. selamat ya Alina...😍
Kam1la
semoga saja dikemudian waktu Laila bisa terbuka sama Fikri, biar Alina bisa tenang.
Kam1la
Laila punya banyak rencana, tapi Alina punya seribu cara untuk menangkisnya
Kam1la
nah ...kan, Farhan mulai bercanda nya kelewatan...jangan-jangan dia juga berencana poligami
Kam1la
greget sama Laila.... Farhan kira - kira bagaimana ya hatinya? kan dia begitu mengagumi Laila
Kam1la
rencana apa yang disusun Laila?
Kam1la
aku takut, jika setiap hal Farhan ingat Laila, justru jatuh cinta padanya...😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!