Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang Canggung
Sinar matahari pagi yang cerah menerobos masuk melalui celah-celah gorden sutra yang tebal, memotong kegelapan kamar utama dan membawa kehangatan yang jauh berbeda dengan suasana hati penghuninya.
Burung-burung berkicau di sekitar perbukitan mansion Salvatore, menandakan dimulainya hari yang baru.
Namun bagi Alice, pagi ini adalah awal dari kenyataan baru yang teramat pahit.
Alice terbangun dengan rasa sakit yang mendera di sekujur tubuhnya.
Persendiannya terasa kaku, dan setiap gerakan kecil yang ia buat menimbulkan rasa perih yang mengingatkannya pada gairah semalam.
Ia menarik selimut tebal itu hingga menutupi seluruh tubuhnya, menyembunyikan wajahnya yang pucat di balik kain linen mewah tersebut.
Dalam keheningan kamar yang luas, Alice menangis diam-diam.
Air matanya mengalir tanpa suara, membasahi bantal sutra di bawah kepalanya.
Rasa hancur, malu, dan tidak berdaya bercampur menjadi satu di dalam dadanya.
Ia merasa harga dirinya telah direnggut sepenuhnya, dijadikan alat tukar atas dosa yang tidak pernah ia lakukan.
Di bawah selimut itu, Alice merasa begitu kotor dan asing dari dunia luar yang biasanya ia kenal.
Di sisi lain ranjang yang luas, Elvano membuka matanya perlahan.
Efek alkohol semalam telah sepenuhnya hilang, menyisakan kesadaran yang tajam.
Biasanya, setelah menghabiskan malam dengan wanita mana pun, Elvano akan langsung berdiri, mengenakan pakaiannya, dan pergi tanpa menoleh sedikit pun, meninggalkan sejumlah uang atau perhiasan sebagai bayaran tanpa pernah sudi mengingat wajah mereka.
Namun pagi ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada sesuatu yang membuat tubuh tegapnya enggan beranjak dari kasur empuk itu.
Elvano berbaring miring, menopang kepalanya dengan satu tangan, dan membiarkan sepasang mata cokelat gelapnya menatap lekat ke arah gundukan selimut di sampingnya.
Dari balik kain itu, ia bisa mendengar isak tangis kecil yang tertahan dan melihat bahu sempit Alice yang bergetar.
Bukannya merasa risih atau terganggu seperti biasanya, Elvano justru merasakan luapan emosi asing yang aneh di dalam dadanya, sebuah rasa kepemilikan yang teramat kuat, ego posesif menuntutnya untuk memastikan bahwa gadis bermata hazel ini sepenuhnya berada di bawah kendalinya.
Ia mengulurkan tangannya yang besar, perlahan menarik sedikit ujung selimut yang menutupi wajah Alice.
Gadis itu tersentak, mencoba berbalik membelakanginya, namun Elvano menahannya dengan cengkeraman lembut namun tegas pada bahunya.
"Kau tidak bisa bersembunyi dariku di rumahku sendiri, Alice," ucap Elvano, suaranya terdengar berat dan serak khas orang baru bangun tidur, namun tetap penuh akan perintah.
Alice terpaksa menatapnya dengan sepasang mata hazel yang bengkak dan merah.
Tatapannya dipenuhi oleh rasa takut sekaligus kebencian yang mendalam.
"T-Tuan... lepaskan saya... Anda sudah mendapatkan apa yang Anda inginkan semalam," bisik Alice dengan suara parau yang nyatanya tidak mampu menggetarkan dinding hati sang Bos Mafia.
Elvano tidak menyahut. Ia hanya menatap garis wajah tidur Alice yang tampak kacau namun tetap memikat, sebelum akhirnya berdiri dari ranjang dengan pesona seorang Elvano yang angkuh.
Pria itu mengambil jubah mandi sutra hitamnya, memakainya dengan santai, lalu melangkah keluar kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, meninggalkan Alice yang kembali tenggelam dalam tangisnya.
Suasana di lantai bawah mansion Salvatore terasa jauh lebih hidup, atau lebih tepatnya, dirusak oleh kehadiran satu-satunya manusia yang tidak memiliki rasa takut pada Elvano.
Ketika Elvano melangkah turun ke ruang makan mewah yang berlantai marmer putih, pemandangan di depannya langsung membuat alis tebalnya bertaut kencang.
Di ujung meja makan panjang yang terbuat dari kayu mahoni langka, Kaiven sudah duduk dengan santai.
Tangan kanannya memegang garpu, sementara tangan kirinya memegang ponsel, sibuk memeriksa laporan pelabuhan.
Yang membuat rahang Elvano mengeras adalah fakta bahwa Kaiven sedang dengan lahap memakan porsi sarapan miliknya.
Sepiring Wagyu Steak and Eggs dengan kematangan sempurna yang seharusnya disiapkan khusus untuk sang pemilik rumah.
"Kaiven," desis Elvano, suaranya rendah dan penuh ancaman berbahaya saat ia menarik kursi di seberang asisten urakannya itu.
"Apakah gajimu sebagai kepala eksekutor kurang sampai-sampai kau harus mencuri sarapan dari piringku?"
Kaiven menghentikan kunyahannya sejenak, mendongak dengan sepasang mata birunya yang jernih dan jenaka.
Ia sama sekali tidak terpengaruh oleh aura membunuh yang dipancarkan Elvano.
Pria blasteran itu justru menelan dagingnya dengan santai, lalu meminum jus jeruk milik Elvano hingga tandas separuh.
"Yo, Bos! Selamat pagi. Jangan pelit begitu, daging ini terlalu enak untuk dilewatkan. Lagipula, kulihat kau terlambat turun satu jam dari jadwal biasamu," sahut Kaiven dengan seringai nakal yang menghiasi wajah tampannya.
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menaruh kedua lengannya di atas meja dengan ekspresi yang sengaja dibuat misterius.
Kaiven mengendus udara di sekitarnya secara dramatis, lalu terkekeh konyol. "Wah, wah... aroma apa ini? Ruang makan ini mendadak tercium seperti... aroma gairah yang terbakar? Luar biasa. Sepertinya singa tua kita tidak hanya memeriksa barang jaminan semalam, tetapi benar-benar melakukan kerja lembur yang sangat intens."
Elvano menatap Kaiven dengan pandangan sedingin es, tangannya yang berada di atas meja perlahan mengepal.
"Jaga bicaramu, Kaiven, sebelum aku menyuruh pengawal memotong lidahmu."
"Aduh, menakutkan sekali," gurau Kaiven sembari berpura-pura gemetar ketakutan, lalu kembali memotong sisa telur mata sapi di piringnya.
"Tapi serius, El. Anak-anak buah di luar bilang kau mengunci kamar itu dari dalam dan tidak keluar sampai matahari terbit. Ini rekor baru untuk seorang Elvano Lucane Salvatore yang biasanya langsung membuang wanitanya setelah satu jam. Kau mulai kehilangan akal sehatmu hanya karena seorang pelayan bar yang polos, huh?"
"Dia barang jaminanku, Kaiven. Aku berhak melakukan apa saja padanya untuk memastikan investasiku aman," jawab Elvano dingin, mencoba membenarkan tindakan posesifnya yang tidak biasa pagi ini.
Kaiven mendengus geli, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyum sinis yang penuh ejekan.
"Investasi? Sejak kapan seorang bos mafia menginvestasikan malamnya pada gadis biasa yang tidak punya nilai atau bisnis? Mengaku sajalah, El. Kau terpesona pada mata hazelnya yang indah itu, kan? Ingat tekanan dari Kakek Domenico, Bos. Kau butuh seorang istri dari kalangan atas untuk memperkuat takhta klan, bukan menawan seorang kelinci kecil di sangkar emasmu."
Mendengar nama sang kakek disebut, kilatan frustrasi kembali melintas di mata cokelat gelap Elvano.
Aturan klan Salvatore tetap mengikatnya, dan fakta kemandulannya masih menjadi bayang-bayang hitam yang mengancam kekuasaannya.
Namun, tatapan mata hazel Alice yang penuh ketakutan dan kepasrahan semalam telah menanamkan perasaan baru yang tidak bisa ia jelaskan dengan logika.
"Urus saja urusanmu di pelabuhan, Kaiven," potong Elvano tajam, mengakhiri perdebatan mereka.
"Dan pastikan paman bajingan gadis itu benar-benar mengosongkan rumahnya hari ini."
"Siap, Tuan Besar! Aku pergi dulu sebelum kau melemparkan pisau steak ini ke wajahku," sahut Kaiven riang.
Ia berdiri, merapikan jas abu-abu mahalnya, lalu melangkah pergi sembari bersiul kecil, meninggalkan Elvano sendirian di ruang makan yang mendadak kembali sunyi.
Elvano bersandar pada kursinya, menatap cangkir kopi hitam yang baru saja diantarkan oleh pelayan.
Pikirannya kembali melayang ke lantai dua, ke arah kamar tempat Alice berada.
Rasa canggung yang aneh merayapi dirinya, sebuah perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Sang duda itu tahu, ia telah memulai sebuah permainan berbahaya yang melibatkan gairah dan perasaan yang tidak semestinya, tanpa menyadari bahwa takdir sedang menertawakan keangkuhannya.