Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.
Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.
Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
“D-Dylan?” tanya Moly dengan wajah pucat.
“Dylan, bukankah kau sedang berada di lokasi proyek? Kenapa kau ada di sini?” tanya Delvin.
Dylan menatap keduanya dengan tajam.
“Aku berada di rumahku sendiri. Apa aku perlu melapor kepada kalian?”
Delvin langsung terdiam.
"Bukankah informasi yang kudapat mengatakan dia sudah keluar? Bagaimana bisa dia masih berada di mansion?" batinnya.
Dylan melangkah menghampiri Viona.
“Datang membawa anak buah dan memaksa membawa pergi orangku. Sepertinya kalian lupa sedang berada di rumah siapa.”
Tatapannya beralih kepada Viona yang masih menggenggam pisau.
“Serahkan pisaunya.”
Viona melirik Delvin dan anak buahnya dengan ragu.
Saat itu juga pintu utama terbuka.
Jay masuk bersama beberapa pengawal.
“Tuan.”
“Jay, seret mereka keluar.”
“Baik, Tuan.”
Jay segera memberi isyarat kepada para pengawal. “Kalian semua, keluar!”
Beberapa pengawal langsung menarik anak buah Delvin.
“Ada aku di sini. Mereka tidak akan bisa membawamu pergi,” ucap Dylan sambil mengulurkan tangannya kepada Viona.
Viona menatap Dylan beberapa saat. Perlahan ia menurunkan pisaunya.
Dylan segera merebut pisau itu dari tangan Viona lalu melemparkannya ke lantai.
Clang!
“Dylan, kami datang hanya ingin mengantarkan makanan untukmu. Kami sama sekali tidak berniat jahat,” kata Moly dengan suara gemetar.
Dylan bahkan tidak menoleh ke arahnya.
“Ingin membawa orangku pergi secara paksa, lalu masih mengatakan tidak berniat jahat? Aku bisa langsung menuntut kalian atas percobaan penculikan.”
Setelah berkata demikian, Dylan membungkuk dan menggendong Viona.
“T-Tuan Muda...” ucap Viona yang terkejut.
Dylan membawa Viona ke sofa, lalu mendudukkannya dengan hati-hati. Setelah itu, ia ikut duduk di samping gadis itu.
“Ada aku di sini. Tidak ada yang boleh menyentuhmu tanpa izinku.”
“Bibi Ma, hubungi Dokter Fang,” perintah Dylan.
“Baik, Tuan.”
Dylan mengambil segelas air putih yang berada di atas meja ruang tamu, lalu menyodorkannya kepada Viona.
“Minum dulu.”
Viona menerima gelas itu dengan kedua tangan.
“Terima kasih, Tuan Muda.”
“Dylan, kami juga tidak berniat jahat. Kami hanya...” ucap Delvin, berusaha menjelaskan.
“Hanya ingin mengambil hatinya untuk putri kalian,” potong Dylan dengan tatapan sedingin es.
Ucapan itu langsung membuat Delvin dan Moly terkejut.
“D-Dylan...”
“Apa kalian mengira organ tubuh Viona adalah milik keluarga Jiang? Kalian mengambil satu ginjalnya belum cukup, sekarang kalian mengincar hatinya.”
Moly segera membela diri.
“Dylan, adikmu sedang sakit. Dokter mengatakan kalau kondisinya memburuk, transplantasi hati adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkannya.”
Dylan menatap Moly tanpa ekspresi.
“Lalu apa hubungannya dengan Viona? Sebelumnya kalian memaksanya menyerahkan ginjal untukku. Sekarang kalian ingin mengambil hatinya. Apa karena dia dibesarkan di keluarga Jiang, kalian menganggap nyawanya juga milik kalian?”
Delvin mengepalkan tangannya.
“Dylan, Sanny adalah adik kandungmu. Sedangkan Viona hanyalah orang luar. Memang dia pernah mendonorkan ginjalnya untukmu, tetapi itu juga sebagai balas budi kepada keluarga Jiang yang telah membesarkannya. Kami tidak pernah memaksanya.”
Tatapan Dylan berubah semakin dingin.
“TIDAK MEMAKSANYA?”
Dylan tiba-tiba mengambil gelas di atas meja.
Brak!
Gelas itu dilemparkannya ke lantai tepat di depan kaki Delvin hingga pecah berkeping-keping.
“Dylan, kau...” ucap Delvin dengan wajah berubah gelap.
“Diam!” bentak Dylan.
“Jangan katakan kalian tidak memaksanya. Dokter Xu sudah menceritakan semuanya kepadaku. Viona tidak pernah datang ke rumah sakit atas keinginannya sendiri. Dia diancam menggunakan adiknya. Bahkan setelah kehilangan satu ginjal, kalian masih memperlakukannya seperti budak. Sekarang kalian datang ke rumahku untuk mengambil organ berikutnya.”
Dylan bangkit dari sofa.
Tatapannya dipenuhi amarah yang selama ini ia tahan.
“Selama aku masih hidup... jangan pernah bermimpi menyentuh Viona lagi.”
“Dylan, walaupun kau membenciku, Sanny tetap adik kandungmu. Kalian sedarah dan semarga. Tidak mungkin kau tega membiarkannya begitu saja,” ujar Moly.
Dylan menatap Moly dengan dingin.
“Jangan menganggap dirimu ratu keluarga Jiang. Hidup atau matinya putrimu tidak ada hubungannya denganku. Dan tidak perlu datang ke rumahku hanya untuk membawa Viona pergi.Viona adalah pelayanku. Siapa pun tidak akan bisa merebutnya dari tanganku.”
Delvin mengepalkan tangannya.
“Dylan, jangan lupa. Viona dibesarkan olehku dan bibimu. Selama enam belas tahun, setiap butir nasi yang dia makan berasal dari keluarga Jiang.”
Dylan tersenyum tipis.
“Kalau memang itu yang kalian pikirkan....mari kita hitung semuanya hari ini.”
Delvin mengernyit.
“Apa maksudmu?”
Dylan menatap Jay.
“Jay.”
“Ya, Tuan.”
“Hitung seluruh biaya makan, pakaian, tempat tinggal, dan semua pengeluaran keluarga Jiang untuk Viona selama enam belas tahun.”
Jay langsung mengangguk.
“Baik, Tuan.”
Dylan kembali menatap Delvin.
“Sekarang aku ingin bertanya. Semua biaya yang kalian keluarkan untuk Viona selama enam belas tahun... berapa jumlahnya?”
Delvin terdiam.
Dylan melanjutkan dengan nada dingin.
“Berapa pun jumlahnya, aku akan membayarnya hari ini. Setelah uang itu lunas... jangan pernah lagi mengatakan Viona berutang apa pun kepada keluarga Jiang.”