NovelToon NovelToon
Senja Yang Ku Perjuangkan

Senja Yang Ku Perjuangkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Penyesalan Suami
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Tiga tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Alya bertahan hanya karena menghormati wanita yang telah menyatukan mereka.

Namun, tepat setelah sang nenek meninggal dunia, suaminya menjatuhkan talak dan mengakhiri hubungan yang selama ini hanya dianggap sebagai kewajiban.

Dengan satu kaki palsu dan hati yang hancur, Alya meninggalkan rumah yang tak pernah benar-benar menerimanya. Ia tak menyadari bahwa di dalam rahimnya sedang tumbuh kehidupan baru.

Saat dunia seolah menutup semua pintu untuknya, Alya memilih bertahan demi seorang anak yang bahkan belum lahir. Anak itu ia beri nama Senja.

Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang berjuang melawan keterbatasan, kesepian, dan kerasnya kehidupan. Sebab bagi Alya, Senja bukan sekadar anak. Senja adalah alasan mengapa ia terus hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hitung Mundur Pemberangkatan

Tujuh hari kemudian.

Langit sore mulai berubah menjadi semburat jingga. Sinar matahari yang menembus jendela ruang kerja Dewa memantulkan cahaya hangat di atas meja kerjanya. Sejak pagi hingga menjelang sore, pria itu hampir tidak memiliki waktu untuk beristirahat.

Beberapa berkas penting memenuhi meja, dokumen perjalanan dan juga surat-surat yang harus segera diselesaikan. Dewa memeriksa semuanya satu per satu dengan sangat teliti. Ia tidak ingin ada satu kesalahan sekecil apa pun yang terjadi. Dan tak lama kemudian terdengar ketukan pelan di pintu.

"Masuk."

Seorang pria berjas hitam melangkah masuk sambil membawa sebuah map berwarna cokelat. "Selamat sore, Tuan."

"Bagaimana?"

"Semua dokumen sudah selesai."

Dewa langsung mengangkat wajahnya. "Sudah dipastikan?"

"Iya, Tuan."

Pria itu menyerahkan map tersebut.

"Paspor, visa, tiket, dan seluruh berkas pendukung sudah siap."

Dewa membukanya perlahan. Matanya menyapu setiap lembar dokumen. Beberapa detik kemudian ia mengangguk pelan.

"Bagus."

"Tidak ada yang mencurigai proses ini?"

"Tidak, Tuan."

"Informasi yang kita sebarkan mengenai Surabaya juga berhasil."

Dewa tersenyum lega, misinya tinggal selangkah lagi, dalam bayangannya tiba-tiba muncul wajah Alya yang penuh harap. Entah kenapa sudut bibirnya terangkat tipis. Bagaimana mungkin ia bisa peduli sejauh itu dengan seorang wanita yang baru saja di kenalnya. Bahkan demi keamanannya dia rela melakukan apapun.

"Bagaimana dengan orang-orang Arlan?"

"Mereka masih berada di Surabaya."

"Sejauh ini belum ada tanda-tanda mereka kembali."

Sudut bibir Dewa terangkat tipis. "Berarti umpan itu berhasil."

"Betul, Tuan."

Dewa kembali menutup map tersebut. "Besok pagi kita berangkat."

"Baik."

"Pastikan tidak ada satu pun orang luar yang mengetahui jadwal keberangkatan."

"Siap, Tuan."

Pria itu segera keluar dari ruangan setelah menyerahkan semua berkas-berkas penting itu. Kini Dewa tinggal seorang diri. Ia kembali menatap map di hadapannya cukup lama. Entah kenapa dadanya terasa berat. Keputusan ini bukan keputusan kecil. Ia sedang membawa seorang perempuan hamil pergi meninggalkan negeri kelahirannya. Namun? Ia tahu itu satu-satunya cara.

Sementara itu di rumah, Alya duduk sendirian di dekat jendela kamar. Tatapannya kosong menembus langit yang perlahan mulai gelap, perlahan ia mulai menghempaskan napas berat, rasanya tidak mudah baginya meninggalkan negeri ini, tempat kerja, juga sahabat baru yang begitu menyayanginya

Entah bagaimana Tuhan mengatur pertemuannya dengan Emil hal yang tak pernah diduga justru malah menjadi pelindung. Bahkan karena Emil juga ia mulai mengenal pria yang bernama Dewa.

"Semua ini atas kehendakNya," gumamnya dengan senyuman.

Tapi di sisi lain ia merasa sedih karena sebentar lagi akan meninggalkan negara ini meninggalkan Emil dan juga Cintami Carf yang baru saja memberinya kesempatan dua kali.

Semuanya akan ia tinggalkan begitu saja. Tanpa sadar air matanya kembali menetes, teringat beberapa hari lalu ia berjuang mencari tempat tinggal dan pekerjaan. Ia melihat antusias Emil dalam membantunya

"Maafkan aku Mil. Aku harus pergi."

Perlahan tangannya mengusap perutnya. "Nak..."

"Ibu cuma ingin kamu lahir dengan selamat, dan jika nanti kamu lahir, kamu harus ingat jika di dunia ini masih banyak manusia-manusia baik."

Setelah berbincang dengan janinnya. Tak lama kemudian terdengar suara pintu diketuk.

"Neng..." Suara Mbok Ina terdengar dari luar.

"Masuk saja, Mbok."

Wanita paruh baya itu masuk sambil membawa segelas susu hangat. "Neng belum makan lagi ya?"

Alya hanya tersenyum kecil. "Nanti."

Mbok Ina meletakkan gelas itu di atas meja. "Neng..."

"Iya?"

"Kalau boleh Mbok tanya..."

"Neng benar-benar siap pergi?"

Pertanyaan itu membuat Alya kembali terdiam, baru saja ia memikirkan hal itu, meskipun hatinya begitu berat meninggalkan Indonesia, tapi ia tahu jika semuanya yang ia lakukan demi kebaikannya.

"Cuma itu satu-satunya jalan."

"Neng takut."

"Sangat takut."

"Kalau tetap di sini... aku yakin Mas Arlan akan menemukan aku."

Mbok Ina mengangguk pelan. "Yang penting Neng selamat."

Alya tersenyum tipis. "Iya Mbok dan makasih banyak ya sudah baik sama aku dan juga janinku."

"Mbok di sini hanya menjalankan tugas, dan setelah tahu cerita Neng dari Nona Emil, Mbok semakin sayang dan terharu," ujar wanita paruh baya itu.

Tak lama kemudian setelah perbincangan itu terdengar suara mobil memasuki halaman, Alya langsung menoleh ke arah jendela, wanita itu langsung menghabiskan susunya.

"Itu Mas Dewa."

Mbok ina hanya mengangguk pelan. Entah sejak kapan, setiap suara mobil pria itu terdengar. Ia segera berjalan keluar kamar, seolah memang Dewa pria yang benar-benar menerima keadaannya .

Alya segera berjalan cepat sambil memegang paha kirinya. Sesampainya di ruang tamu Dewa baru saja masuk ke dalam rumah dan tatapan mereka bertemu.

"Mas..."

Dewa menghampiri. "Sudah menunggu lama?"

Alya menggeleng. "Belum juga."

"Itu Dokumennya?" tanya Alya.

Dewa menganggukkan kepala. "Semuanya selesai."

Mata Alya membulat seolah tidak percaya.

"Benarkah?"

"Iya."

"Besok pagi kita berangkat."

Kalimat itu membuat Alya terdiam, secepat itu bahkan dirinya belum melepas kangen dengan Emil Eyang Cintami juga Mbok Ina, perlahan jantungnya berdegup semakin kencang.

"Takut?" tanya Dewa pelan.

Alya mengangguk jujur. "Iya."

Namun di detik berikutnya ia seperti berpikir untuk benar-benar meyakinkan hatinya.

"Tapi..."

"Aku juga ingin segera pergi."

Dewa tersenyum tipis. "Kalau begitu malam ini istirahat."

"Besok perjalanan kita panjang."

Alya mengangguk dan sebelum Dewa kembali melangkah. Perempuan itu kembali memanggilnya.

"Mas..."

"Iya?"

"Terima kasih."

Dewa tersenyum kecil. "Tidak perlu."

"Aku hanya menjalankan apa yang seharusnya kulakukan."

☘️☘️☘️☘️☘️

Di waktu yang hampir bersamaan tepatnya di kota Surabaya, salah seorang anak buah Arlan menerima kabar tentang Alya lewat telepon genggamnya.

"Apa?"

"Waktu pemeriksaan rumah sakit itu tidak cocok?"

"Maksudnya."

"Kami sudah memastikan."

"Perempuan bernama Alya tidak pernah datang ke Surabaya."

Wajah pria itu langsung berubah drastis, ia tidak menyangka jika hampur satu Minggu berada di kota ini ternyata semuanya nihil.

"Kalau begitu...," ucapnya pelan. Kita selama ini mengejar alamat palsu?"

"Iya."

Tanpa membuang waktu lagi ia langsung mematikan telepon lalu mulai menghubungi nomor Arlan.

"Tuan!"

"Ada perkembangan."

Arlan yang baru saja tiba di rumah langsung menghentikan langkahnya, bahkan untuk membicarakan masalah ini ia harus berhati-hati takut jika orang rumah curiga.

"Ada apa?"

"Kita tertipu."

"Maksudmu?"

"Nyonya Alya tidak pernah berada di Surabaya."

"Informasi itu palsu."

Deg!

Rahang Arlan langsung mengeras.

Tatapannya berubah tajam. "Berarti, ada seseorang yang sengaja mengalihkan pencarian kita."

"Iya, Tuan."

Arlan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.

"Kalau begitu," katanya lirih. "Dia pasti belum jauh."

"Mungkin Tuan.

"Besok pagi. Cari seluruh penerbangan keluar negeri."

"Jangan sampai dia lolos."

Sementara itu. Di kediaman Dewa. Tak seorang pun mengetahui bahwa waktu mereka tinggal menghitung beberapa jam lagi sebelum semuanya berubah.

Bersambung ....

1
Oma Gavin
jgn sampai diketemukan arlan dulu kak biarkan alya pergi jauh menenangkan diri dan biarkan arlan menikah dgn amanda dan menikmati penyesalan nya
Nar Sih
kmu egois arlan ,semoga pencariaan gk berhasil🤣🤣
Rahayu Ayu
Bagus
tia
mimpi u ketinggian e ,,,qmu akan menyesal
Lisa
Arlan tdk akan dpt menemukan Alya
Sam sam
pagi juga Thor🙂
Lisa
Met malam Kak Ayu..makasih y utk updatenya
Anonim
BUNUH ALYA.. MASALAH SELESAI
Bundanya Pandu Pharamadina
Arlan pada saatnya pasti kamu akan menyesal telah melepaskan Alya
Bundanya Pandu Pharamadina
ijin lanjut di mari kak Author.
Ayumarhumah: iya kak Monggo
total 1 replies
Nar Sih
sebnr nya klau gk pergi jauh pun gk apa,,kan udah sah cerai ini tpi..demi keamanan dan ngk perlu repot ngsdepi arlan
Nar Sih
sore kak ayu..🥰
Ayumarhumah: selamat membaca ya kak ♥️♥️♥️
total 1 replies
Nar Sih
sebaik nya sblm pergi bersama alangkah baik nya bila dewa dan alya ada menikah dulu biar ada ikatan yg jls
Nar Sih: olah iya ya kak gk boleh yaa sblm ank nya lahir☺️
total 2 replies
Lisa
Makin seru nih..bagus Alya kamu harus ikut Dewa pindah ke tempat yg jauh.biarkan Arlan menyesal selamanya
Rohmi Yatun
lanjut Thor.. semakin seru ni🙏
Ayumarhumah
pokoknya tunggu besok ya♥️♥️♥️♥️♥️
Mul Yanto
kak author itu si Arlan jangan sampai ketemu Alya, biar tau rasa
Rohmi Yatun
cerita yang menarik 👍
Nar Sih
selamat malam juga kak ,satu bab lgi mau dong kam🙏☺️
Ayumarhumah: besok ya Kak. ♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Nar Sih
👍👍emil,biarkan arkan pusing nyari alya 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!