Tiga tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Alya bertahan hanya karena menghormati wanita yang telah menyatukan mereka.
Namun, tepat setelah sang nenek meninggal dunia, suaminya menjatuhkan talak dan mengakhiri hubungan yang selama ini hanya dianggap sebagai kewajiban.
Dengan satu kaki palsu dan hati yang hancur, Alya meninggalkan rumah yang tak pernah benar-benar menerimanya. Ia tak menyadari bahwa di dalam rahimnya sedang tumbuh kehidupan baru.
Saat dunia seolah menutup semua pintu untuknya, Alya memilih bertahan demi seorang anak yang bahkan belum lahir. Anak itu ia beri nama Senja.
Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang berjuang melawan keterbatasan, kesepian, dan kerasnya kehidupan. Sebab bagi Alya, Senja bukan sekadar anak. Senja adalah alasan mengapa ia terus hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Asing Di hati Alya
Pagi itu langit tampak begitu cerah. Wajah Alya pun tak kalah cerah setelah beberapa menit melepas rindu lewat panggilan video bersama Emil dan Mbok Ina. Tawa mereka yang sederhana seakan mampu mengurangi jarak ribuan kilometer yang kini memisahkan Indonesia dan Negeri Singa.
"Pokoknya setelah ini Mbak Alya harus bahagia dan menata hidup baru, awas saja aku gak mau dengan Mbak Alya sedih lagi," ujar Emil sedikit mengancam.
"Insyaallah pastinya aku bahagia," sahut Alya cepat.
"Gitu dong Neng, di tempat baru tidak boleh sedih lagi," celetuk Mbok Ina.
"Iya-iya, doakan saja agar aku selalu kuat dan bahagia menjadi Ibu dari senja," pinta Alya.
Mereka berdua hanya mengangguk patuh hingga beberapa menit kemudian panggilan berakhir. Alya meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia lalu bangkit perlahan dan melangkah menuju jendela kamar. Begitu daun jendela dibuka, embusan angin pagi langsung menerpa wajahnya. Alya menghirup udara segar itu dalam-dalam sambil memejamkan mata sejenak. Entah mengapa, pagi ini dadanya terasa jauh lebih ringan dibanding hari-hari sebelumnya.
Usai menikmati udara pagi, Alya menutup kembali jendelanya lalu melangkah keluar dari kamar. Namun baru beberapa langkah berjalan, suara Dewa memanggilnya dari arah teras.
"Alya."
"Iya, Mas?"
"Ikut aku sebentar."
Alya mengernyit bingung. "Ke mana?"
Dewa hanya tersenyum tipis. "Lihat saja nanti."
Tanpa banyak bertanya lagi, Alya mengikuti langkah pria itu. Mereka tidak keluar dari halaman rumah. Dewa justru mengajaknya menuju bangunan kecil di bagian belakang rumah yang selama ini selalu tertutup.
Bangunan itu tampak seperti gudang tua. Pintunya terbuat dari kayu berwarna cokelat dengan sedikit cat yang mulai memudar.
Seketika Alya berhenti di depan pintu. "Mas... kita mau ngapain ke gudang?" tanyanya heran.
"Bukannya di sini tempat menyimpan barang-barang?"
Dewa hanya menggeleng kecil. "Buka saja."
Alya masih terlihat bingung, tetapi perlahan ia meraih gagang pintu.
Krek...
Pintu kayu itu terbuka perlahan dan ... kedua mata Alya langsung membulat. Ruangan yang semula ia kira gudang penyimpanan ternyata telah berubah menjadi sebuah studio bunga kecil yang begitu cantik.
Di sisi kanan berjajar rak-rak kayu berisi vas bening, pita warna-warni, gunting florist, kertas pembungkus bunga, hingga berbagai perlengkapan merangkai buket yang tertata begitu rapi.
Di bagian tengah ruangan terdapat meja kerja panjang dari kayu dengan tinggi yang nyaman. Sementara di sudut ruangan berdiri sebuah lemari pendingin khusus berisi bunga-bunga segar yang baru datang pagi itu.
Harum mawar, lili, baby's breath, dan eucalyptus langsung memenuhi udara.
Alya mematung beberapa detik lalu tangannya perlahan menutup mulutnya sendiri. Air mata yang sejak tadi ia tahan kembali memenuhi pelupuk mata.
"Mas..." Suaranya nyaris tidak terdengar.
Dewa berdiri beberapa langkah di belakangnya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Aku belum tahu apakah semuanya sudah lengkap."
"Kalau masih ada yang kurang... nanti kita beli lagi."
Alya masih belum mampu berkata apa-apa, pikirannya seolah belum siap mencerna semuanya. Perlahan ia melangkah mendekati meja kerja itu. Jemarinya mengusap permukaan kayu dengan sangat hati-hati. Lalu ia mengambil sebuah gunting florist yang tergeletak di atas meja. Tangannya bergetar.
Rasanya seperti bertemu kembali dengan bagian hidupnya yang sempat hilang.
"Mas..." bisiknya lagi.
"Ini semua... untuk aku?"
Dewa mengangguk pelan. "Katamu... setiap melihat bunga rasanya seperti melihat rumah.'"
"Aku ingin mulai hari ini... kamu punya rumah itu lagi."
Seketika air mata Alya jatuh tanpa mampu dibendung. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Indonesia, ia menangis bukan karena kehilangan.
Melainkan karena merasa dihargai. Karena seseorang percaya bahwa dirinya masih mampu berdiri. Dan di dalam studio bunga kecil itu... harapan baru Alya akhirnya mulai tumbuh, setangkai demi setangkai, seperti bunga-bunga yang siap ia rangkai untuk menyambut masa depan bersama Senja.
"Ya Allah... terima kasih telah menghadirkan orang-orang baik dalam hidupku."
Air mata Alya perlahan ia seka. Senyum tipis masih menggantung di sudut bibirnya ketika kembali memandangi ruangan kecil itu.
Tangannya menyentuh meja kerja yang masih baru. Jemarinya lalu beralih pada gulungan pita, gunting florist, hingga rak-rak bunga yang tersusun begitu rapi. Tak ada satu pun yang tampak dipilih secara asal.
Semuanya seolah dipersiapkan oleh seseorang yang benar-benar memperhatikan apa yang ia sukai. Perlahan Alya menoleh ke arah Dewa yang sejak tadi hanya berdiri di dekat pintu.
Pria itu tidak berkata apa-apa bahkan tidak meminta ucapan terima kasih. Tdak berusaha menunjukkan bahwa semua ini adalah hasil usahanya. Ia hanya memperhatikan wajah Alya dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.
Entah kenapa, dada Alya kembali terasa hangat. Selama hidupnya, ia selalu mengejar pengakuan. Namun semua usahanya seolah tidak pernah cukup di mata orang-orang yang pernah menjadi keluarganya.
Sedangkan laki-laki di hadapannya tidak pernah meminta apa pun. Ia diam-diam selalu memastikan dirinya baik-baik saja.
Alya menundukkan kepala. Perasaannya mulai terasa aneh. Saat Dewa terlambat pulang, ia tanpa sadar menunggu.
Saat pria itu sibuk bekerja, ia penasaran apakah Dewa sudah makan atau belum.
Dan sekarang. Saat melihat semua yang dipersiapkan untuknya, jantungnya justru berdegup lebih cepat dari biasanya.
"Ada apa denganku...?" gumamnya lirih, hampir tak terdengar.
Ia buru-buru mengalihkan pandangan ketika Dewa menatapnya. Tidak. Ia tidak boleh salah mengartikan semua kebaikan itu. Bukankah Dewa hanya sedang menolongnya? Namun semakin ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Semakin sulit pula ia mengabaikan debaran yang perlahan memenuhi dadanya.
Di sisi lain, Dewa sama sekali tidak menyadari pergolakan batin Alya.Yang ia lihat hanya satu. Senyum perempuan itu akhirnya kembali. Dan baginya itu sudah lebih dari cukup.
Bersambung ...
Selamat pagi maaf ya dikit dulu