NovelToon NovelToon
"Sistem Mengajar Mutlak Dan Wali Kelas Pilihan":

"Sistem Mengajar Mutlak Dan Wali Kelas Pilihan":

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Sistem
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: acep maulana

Arvand Pratama hanyalah seorang guru honorer santai yang menjunjung tinggi prinsip "kerja minimal, damai maksimal". Namun, hidupnya yang tenang mendadak hancur ketika ia dijebak untuk menjadi wali kelas 12 F—kelas buangan paling brutal, berisi sekumpulan murid bermasalah yang dicap sebagai parasit sekolah tanpa masa depan.
​Saat Arvand berniat melarikan diri dan mengundurkan diri, sebuah Sistem Mengajar Mutlak misterius mendadak aktif di kepalanya. Sistem ini memberinya pilihan ekstrem: terima misi menjinakkan kelas 12 F dengan imbalan uang melimpah dan kemampuan guru supranatural, atau menolak dan mati mendadak karena serangan jantung!
​Terjebak di antara ancaman kematian sistem, janji manis kepala sekolah untuk dinikahkan dengan guru matematika yang cantik, dan keliaran murid-murid 12 F yang siap menguji kewarasannya, petualangan Arvand pun dimulai. Mampukah guru honorer bermodal sistem ini mengubah kumpulan "produk gagal" menjadi barisan murid terbaik, atau justru ia yang akan mati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 ​Detik-Detik Terbukanya Gerbang Takdir Kencana

​Gema ketukan tiga kali yang teratur di atas permukaan kayu jati kuno berukir prada emas itu laksana sebuah lonceng gaib yang menghentikan seluruh sirkulasi udara di dalam "Ruang Privat VIP Singgasana Kencana 01". Di dalam ruangan berlantai marmer putih Italia tersebut, keluarga besar Drs. Hadi Wicaksana seolah-olah dipaksa oleh keadaan untuk menahan napas mereka secara serempak. Keheningan yang tercipta kini mboten lagi bersifat canggung, melainkan telah menjelma menjadi sebuah ruang tunggu sakral yang dipenuhi oleh rasa takzim, debaran jantung yang berirama kencang, serta rasa penasaran sosiologis yang sangat akut.

​Krieeettt...

​Suara gesekan halus dari engsel pintu kuno yang dirawat dengan standar internasional itu terdengar sangat lembut di telinga. Daun pintu kayu jati besar itu perlahan-lahan berayun terbuka ke arah dalam, menyingkapkan tabir misteri yang sejak tadi mengurung isi kepala empat manusia di dalam ruangan.

​Sosok pertama yang muncul membelah ambang pintu adalah Tuan Gunawan, manajer operasional sekaligus pemilik saham minoritas Restoran Nusantara Royale yang baru berusia dua puluh tujuh tahun. Pemuda yang beberapa menit lalu sempat didera kepanikan psikologis akibat candaan Arvand itu kini berjalan dengan postur tubuh yang sangat merunduk kaku, kedua belah tangannya merapat di depan pusar dengan gestur pelayanan kasta tertinggi industri bintang lima.

​Di dalam kedalaman batin Tuan Gunawan yang paling jujur, sebilah kekaguman spiritual yang sangat dahsyat sedang berkobar dengan hebatnya.

​‘Ya Allah... Gusti... Pemuda yang berjalan di belakang saya ini bener-bener sosok anak muda yang sangat baik hati, mulia, dan dipenuhi oleh keluhuran adab yang mboten ada tandingannya,’ bisik batin Tuan Gunawan penuh takzim sembari melangkah mundur perlahan memberikan jalan. ‘Dia memegang kendali atas ratusan triliun rupiah saham Titan Artha Group, dia sanggup meruntuhkan reputasi restoran ini dalam satu jentikan jari, tapi dia justru membela seorang pelayan kecil dari pemecatan dan sudi mendengarkan kisah sejarah cinta kami dengan penuh rasa hormat. Bumi ini bener-bener beruntung memiliki seorang penguasa seteduh Tuan Muda Arvand Pratama.’

​Begitu Tuan Gunawan bergeser ke sisi kiri, sosok Arvand Pratama akhirnya melangkah masuk menapakkan kaki di atas karpet beludru merah ruang privat tersebut. Gerakan tubuhnya begitu teratur, tegap, gagah, namun sama sekali mboten memamerkan keangkuhan tirani seorang borjuis baru. Setelan jas hitam formal buatan penjahit legendaris yang membalut tubuh tegapnya tampak jatuh dengan sangat sempurna, sementara kilau logam mulia dari arloji Rolex Daytona di pergelangan tangan kirinya memancarkan bias cahaya yang sangat eksklusif di bawah sorotan lampu kristal ruangan.

​Di dalam saku jas dalamnya, tersimpan 1 Unit Apple iPhone 16 Pro Max (1TB, Titanium Grey) yang menjadi pusat kendali informasi globalnya malam ini. Pembawaan diri Arvand bener-bener memancarkan kombinasi magis: ketegasan seorang pemilik tunggal Titan Artha Group yang sanggup mengguncang bursa saham, berpadu dengan kehangatan karisma seorang guru sosiologi tradisional yang penuh kasih sayang mendidik.

​Saat sepasang mata tajam namun teduh milik Arvand menyapu ke arah meja makan bundar bermaterial marmer hitam di hadapannya, pandangan matanya langsung tertuju pada empat sosok yang sudah sangat tidak asing lagi baginya. Ada Drs. Hadi Wicaksana sang Kepala Sekolah senior, Ibu Heny Novitasari wanita besi CMO Titan, Yasmin Adiba sang putri tercantik kampus pendidikan, serta Ifan Mahesa sang adik kecil berusia dua belas tahun.

​Melihat formasi lengkap keluarga tersebut, sebuah analisis sosiologis instan langsung berputar di dalam benak Arvand. Atribut kecerdasan emosional yang tertanam di dalam dirinya membuat Arvand mampu membaca mikro-ekspresi dan atmosfer psikologis yang sedang menyelimuti ruangan tersebut dalam hitungan detik.

​‘Hmm... Menarik sekali,’ batin Arvand sambil menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sangat menawan dan penuh wibawa misterius. ‘Meskipun Ibu Heny Novitasari pasti sudah menerima notifikasi perubahan database kantor pusat Titan Artha Group mengenai identitas asli saya sebagai pemilik baru korporasi... dan meskipun Pak Hadi serta Yasmin pasti sudah mendengar desas-desus gila tentang eksodus saya dari kontrakan kumuh... tapi batin mereka semua saat ini terlihat sangat tenang-tenang saja. Mboten ada kepanikan yang norak, mboten ada gestur menjilat yang berlebihan, dan mboten ada ketakutan yang membuat harga diri mereka jatuh. Mereka semua tetap mampu menjaga ketenangan mental, wibawa keluarga, serta adab kesopanan tradisional yang sangat kaku di depan saya. Ini adalah bukti nyata bahwa didikan moralitas di dalam keluarga kepala sekolah ini bener-bener berada di level yang sangat luhur dan berkualitas tinggi.’

​Arvand Pratama menghentikan langkah kakinya tepat dua meter di depan meja makan kayu marmer hitam tersebut. Alih-alih menunggu disapa terlebih dahulu karena statusnya sebagai bos tertinggi tempat Ibu Heny bekerja, Arvand justru mengambil inisiatif pertama untuk menunjukkan kerendahan hati seorang murid sosiologi yang tahu cara memuliakan guru seniornya.

​Arvand merapatkan kedua belah telapak tangannya di depan dada, lalu membungkukkan tubuh tegapnya sedalam tiga puluh derajat dengan gerakan yang sangat anggun, santun, dan dipenuhi oleh kelembutan tata krama tradisional Wonosobo yang luar biasa indah.

​"Selamat malam... Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap Arvand dengan nada suara yang sangat bariton, empuk, jernih, dan memancarkan vibrasi wibawa yang menyejukkan jiwa.

​"Bapak Drs. Hadi Wicaksana yang sangat saya hormati selaku orang tua dan Kepala Sekolah saya... Ibu Heny Novitasari yang malam ini tampil sangat anggun... Dek Yasmin Adiba... dan adik kecil Ifan Mahesa yang cerdas. Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika kedatangan saya malam ini sedikit terlambat beberapa menit dari waktu yang ditentukan, dikarenakan tadi ada sedikit urusan administrasi operasional di koridor depan yang mboten bisa saya tinggalkan. Semoga bapak dan keluarga mboten terlalu lama menunggu kehadiran saya yang fakir ilmu ini."

​Mendengar kalimat pembuka yang begitu santun, halus, dan penuh penata krama yang keluar dari mulut seorang penguasa tertinggi pemegang seratus persen saham Titan Artha Group, batin Ibu Heny Novitasari seketika bergetar hebat di balik penampilannya yang berusaha tetap tenang. Sebagai seorang CMO, ia tahu betul bahwa di dunia bisnis kasta atas, mboten ada seorang miliarder triliunan rupiah yang mau berbicara serendah hati itu di depan bawahannya sendiri. Karakter Arvand malam ini bener-bener meruntuhkan seluruh persepsi buruknya tentang orang kaya baru yang sombong.

​Drs. Hadi Wicaksana langsung berdiri dari kursi jatinya dengan gerakan yang sangat mantap dan penuh wibawa seorang ayah sejati. Senyuman hangat seorang pendidik senior terukir lebar di wajah tuanya, menepis seluruh rasa syok informasi yang sempat melanda dadanya beberapa menit yang lalu.

​"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Drs. Hadi Wicaksana dengan suara yang lantang namun penuh kehangatan kebapakan.

​"Mboten apa-apa, Nak Arvand. Silakan... silakan masuk dan langsung duduk di kursi yang sudah kami siapkan di tengah ini. Kami bener-bener baru saja sampai beberapa menit yang lalu, jadi sama sekali mboten ada yang namanya menunggu lama. Waktu jam sepuluh malam ini adalah waktu yang sangat sempurna untuk memulai sebuah perbincangan keluarga yang baik."

​Arvand melangkah mendekati meja makan, lalu menarik kursi kayu jati berbalut kain beludru emas yang berada tepat di hadapan posisi duduk Yasmin Adiba. Sebelum mendudukkan dirinya, Arvand memberikan sebuah anggukan kepala yang sangat sopan ke arah Ibu Heny Novitasari sebagai bentuk penghormatan seorang pemuda kepada seorang ibu. Ibu Heny membalas anggukan tersebut dengan sebuah senyuman anggun yang penuh rasa takzim yang sangat mendalam—sebuah senyuman yang memancarkan rasa bangga yang luar biasa menyadari bahwa bos besar tertinggi di tempat kerjanya ternyata memiliki adab setinggi langit.

​Di seberang meja, Yasmin Adiba perlahan-lahan mengangkat sedikit pandangan matanya yang sejak tadi menunduk santun. Sepasang bola mata jernih milik gadis tercantik di lingkungan kampus itu akhirnya beradu pandang secara langsung dengan sepasang mata tajam milik Arvand Pratama.

​Deg!

​Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, Yasmin merasakan sebuah getaran asmara yang sangat dahsyat, murni, dan menggetarkan seluruh syaraf kesadarannya. Wajah tampan Arvand yang malam ini dibalut oleh pakaian formal kasta sultan terlihat puluhan kali lipat lebih karismatik dibandingkan saat ia mengenakan seragam guru honorer kusam di sekolah kemarin siang. Keanggunan cara Arvand bergerak dan berbicara membuat Yasmin bener-bener mengagumi bagaimana seorang raksasa dunia keuangan mampu menyembunyikan kekuatannya di balik jubah kerendahan hati seorang pendidik sosiologi.

​Yasmin langsung menundukkan kembali pandangannya dengan pipi yang perlahan-lahan merona kemerahan, seulas senyuman manis yang sangat malu-malu terukir indah di bibir tipisnya.

​Ifan Mahesa, anak kecil berusia dua belas tahun yang sejak tadi batinnya paling tenang, tampak menatap Arvand dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan pandangan penuh rasa takjub anak sekolah. Sepasang matanya berbinar-binar melihat jam tangan Rolex Daytona yang melingkar di tangan calon kakak iparnya tersebut. Namun sesuai dengan didikan kaku sang ayah, Ifan tetap duduk dengan posisi tegak, menahan diri untuk mboten melontarkan candaan kecilnya agar mboten merusak kesakralan atmosfer pertemuan malam ini.

​Tuan Gunawan yang sejak tadi berdiri setia di dekat pilar pintu, melihat bahwa seluruh anggota keluarga agung tersebut sudah duduk dengan posisi yang sangat tertib dan tenang, langsung melangkah maju dua langkah dengan kepala yang merunduk khidmat menghadap ke arah meja makan.

​"Mohon maaf yang sebesar-besarnya... Bapak Drs. Hadi Wicaksana, Ibu Heny, dan Tuan Muda Arvand Pratama," tutur Tuan Gunawan dengan nada suara yang sangat diatur tingkat kesopanannya.

​"Berhubung seluruh anggota keluarga besar sudah berkumpul dengan lengkap di dalam Ruang Singgasana Kencana 01 ini, apakah hidangan utama berupa kolaborasi kuliner tradisional sup buntut kencana dan berbagai masakan mancanegara hasil garapan koki terbaik kami sudah bisa diantarkan masuk ke atas meja makan malam ini, Tuan Muda?"

*​**Arvand Pratama** mboten langsung menjawab secara sepihak. Ia mengalihkan pandangan matanya yang penuh rasa hormat ke arah Drs. Hadi Wicaksana selaku pemegang otoritas tertinggi acara malam ini. "Bagaimana, Bapak Hadi? Apakah hidangannya bisa kita keluarkan sekarang nggih? Agar perbincangan santai kita malam ini bisa ditemani oleh kehangatan masakan dari Nusantara Royale** ini*."

​Drs. Hadi Wicaksana mengangguk dengan senyuman yang sangat berwibawa. "Iya, silakan, Nak Arvand. Silakan dikeluarkan saja hidangannya, Tuan Gunawan. Terima kasih."

​"Baik, Bapak Hadi, siap dilaksanakan segera!" jawab Tuan Gunawan membungkuk sedalam sembilan puluh derajat, lalu melangkah mundur ke luar ruangan dengan hati yang sangat lega dan penuh kekaguman melihat bagaimana seorang pemilik Titan Artha Group tetap meminta persetujuan dari seorang Kepala Sekolah biasa sebelum mengambil keputusan di dalam restoran miliknya sendiri.

​Setelah pintu ruang privat ditutup kembali dengan rapat dari luar, menyisakan keheningan yang nyaman di antara lima manusia di dalam ruangan, Drs. Hadi Wicaksana perlahan memajukan posisi duduknya ke arah tepi meja marmer hitam. Suasana batinnya yang tenang-tenang saja kini mulai dipenuhi oleh keseriusan seorang kepala keluarga yang siap menguji dan membuka lembaran takdir masa depan putri sulungnya.

​"Nak Arvand..." panggil Drs. Hadi Wicaksana, intonasi suaranya meresap ke dalam sukma, memecah kesunyian malam dengan penuh wibawa.

​"Siang tadi, saat kita duduk di balik meja kerja kantor Kepala Sekolah, kita sudah menyepakati sebuah janji sakral untuk bertemu di tempat ini pada pukul sepuluh malam. Papah... izinkan saya malam ini memanggil dirimu dengan sebutan anak, karena niat kedatanganmu ke tempat ini adalah untuk sebuah urusan yang sangat suci. Di hadapan istri saya, Ibu Heny Novitasari, serta di depan putri saya, Yasmin Adiba yang sudah siap mendengarkan... Papah ingin mendengar secara langsung dari mulutmu sendiri. Apa sebenarnya niat, tujuan, dan visi sosiologis yang kamu bawa di dalam dadamu... hingga kamu memberanikan diri untuk datang melamar anak perempuan pertama saya di penghujung malam yang dingin ini?"

​Mendengar pertanyaan pembuka yang sangat berbobot, tegas, dan sarat akan nilai-nilai moralitas kehidupan dari sang calon mertua, Arvand Pratama mboten menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Ia justru menarik napas pendek dengan sangat tenang, membetulkan sedikit posisi duduk jas hitamnya, lalu menatap lurus ke arah sepasang mata Drs. Hadi Wicaksana dengan tatapan mata yang memancarkan kilau kecerdasan tirani yang mutlak, bersiap mengeluarkan bait-bait kalimat komitmen tingkat tinggi yang akan mengubah jalannya sejarah kehidupan keluarga kepala sekolah tersebut untuk selama-lamanya.

1
irena
lanjut thor..
Aisyah Suyuti
good
Mamat Stone
/Tongue/
acep maulana
Hehehe, kalau kalian punya ide gokil, teori liar, atau saran buat novel ini, tulis aja di komentar. 😆
Saya selalu baca komentar kalian, dan siapa tahu ada ide yang bisa menginspirasi jalan cerita ke depannya. Terima kasih sudah mendukung novel ini! 🙏🔥
Mamat Stone
/Chuckle/
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
/Gosh/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
/Proud/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
verto
novel terjemahan kah ini? dengan di modif dikit
acep maulana: Ehh iya, ada sedikit inspirasi dari drama China yang saya tonton, bahkan mungkin ada beberapa ide dari film juga di bab-bab yang akan datang. Tapi saya modifikasi dan kembangkan sesuai alur cerita novel ini. Hehehe 😆🙏 Terima kasih sudah membaca.
total 1 replies
verto
mirip sebuah komik sipnosisnya
acep maulana: Waduh, ketahuan gue deh 🤭 kebanyakan baca komik. 😂 Tapi semoga makin ke depan ceritanya punya warna sendiri dan tetap seru buat diikuti. 😁🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
crazy up Thor
Dewiendahsetiowati
kok banyak yang diulang2 ya paragrafnya
acep maulana: maaf ka hehe saya ngetik nya sambil ngantukk 🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!