NovelToon NovelToon
Istri Bisu Pilihan Ibu

Istri Bisu Pilihan Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pembantu / Orang Disabilitas / Cinta setelah menikah / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

​Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.

​Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedekatan yang mulai tumbuh

Waktu berjalan dengan cepat. Langit sore yang semula cerah perlahan memudar, digantikan oleh hamparan malam di mana rembulan bersinar dengan terangnya. Suasana di dalam istana megah Amisha mendadak terasa jauh lebih lengang daripada biasanya. Sejak sore tadi, Darel, Windy, dan si kecil Keira sudah bertolak menuju rumah orang tua Windy untuk menginap di sana karena sang kakek dan nenek sangat merindukan cucu mereka. Sementara itu, Clara juga belum pulang karena harus mengikuti jadwal les piano yang cukup padat hingga malam.

Usai menyelesaikan ibadah salat magrib di kamarnya, Azizah langsung bergegas melangkah menuju area belakang. Di dapur utama yang bernuansa modern itu, ia mendapati rekan-rekan kerjanya sudah berkumpul lengkap. Karena seluruh urusan bersih-bersih rumah dan menyetrika pakaian sudah mereka selesaikan dengan kompak sejak siang hari, kini tugas terakhir mereka tinggal menyiapkan makan malam.

Mengingat penghuni rumah yang tersisa malam ini hanyalah Amisha seorang, porsi memasak pun tidak terlalu banyak. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Iyem untuk mengambil alih kendali penuh di depan kompor.

“Sudah, sudah! Kalian berlima duduk saja di meja pantri sana,” usir Iyem sambil mengibaskan sutilnya dengan jenaka saat melihat Azizah dan yang lain berniat membantu, “Malam ini biar aku saja yang memasak. Anggota keluarga yang makan hanya Nyonya besar, jadi tidak repot. Kalian yang muda-muda ini lebih baik istirahat dan mengobrol saja.”

Dewi, Diah, Gita, dan Lina langsung bersorak riang menerima titah sang senior. Mereka segera menarik kursi-kursi tinggi di meja bar pantri, mengajak Azizah untuk ikut bergabung melingkar di sana.

Suasana di sudut dapur itu pun seketika berubah menjadi sangat hidup dan penuh riuh tawa. Meskipun usia Azizah jauh paling muda di antara mereka semua, kehangatan yang diberikan oleh rekan-rekan kerjanya membuat wanita itu merasa seolah sedang berkumpul dengan kakak-kakak perempuannya sendiri.

Gita yang memang terkenal paling jenaka dan ceplas-ceplos, langsung menyenggol lengan Azizah dengan rona wajah menggoda.

“Zah, tahu tidak? Tadi siang waktu Nona Clara pulang sekolah, dia langsung memamerkan lukisan rumah terbang itu ke kita semua di belakang. Dia memujimu habis-habisan sampai langit ketujuh, katanya Mbak Azizah itu penyelamat hidupnya!”

Azizah yang mendengar hal itu langsung mengeluarkan buku catatan kecilnya. Dengan jemari yang bergerak cepat, ia menuliskan kalimat tanggapan seraya pipinya merona merah karena malu.

'Nona Clara berlebihan, Mbak. Aku hanya membuat sketsa dasarnya saja, sisanya kan Nona Clara sendiri yang mewarnai balonnya sampai tangannya belepotan cat.'

Tulisan itu dibaca bergantian oleh Diah dan Lina yang langsung memicu tawa renyah mereka.

“Halah, merendah terus kau ini, Zah,” sahut Diah gemas, “Tapi memang hebat, lho. Jarang-jarang ada anak baru yang langsung bisa akrab dan klop dengan Nona Clara di hari pertama kerja.”

Dewi yang duduk di sebelah Azizah menatap keponakannya dengan binar mata bangga. Ia mengusap punggung Azizah pelan, “Bibi merasa beruntung sekali karena membawamu ke rumah ini.”

Di tengah obrolan ria itu, Iyem yang sedang berkutat di depan kompor ikut menimpali, “Iya, untung ada Azizah. Coba kalau tadi pagi Nona Clara masih cemberut sampai sore, waduh... seisi rumah pasti ikut tegang. Apalagi tadi Nyonya besar sempat kelihatan murung setelah menelepon...” Iyem sengaja menggantung kalimatnya, bertukar tatap penuh arti dengan yang lain.

Mendengar arah pembicaraan yang mulai bergeser, Azizah terdiam sejenak. Ia meletakkan pulpennya, menyimak dengan saksama ekspresi wajah para seniornya. Rasa penasaran yang sempat mengendap di kepalanya sejak siang tadi tentang sosok misterius Ezra dan dinamika keluarga ini perlahan mulai terusik kembali di tengah kehangatan obrolan malam mereka.

Sedetik kemudian telinga mereka yang sudah terlatih mendengar ketukan langkah kaki di lantai mendadak menangkap suara langkah yang berjalan mendekat ke arah dapur.

Begitu menyadari bahwa sosok yang datang adalah Amisha, mereka pun terburu-buru turun dari kursi bar dan berdiri tegak sambil menundukkan kepala dengan sopan.

Namun di luar dugaan, Amisha justru mengulas senyum tulus yang tampak sedikit lelah. Ia mengibaskan tangannya pelan di udara.

“Eh, tidak apa-apa, sudah... ayo duduk saja yang nyaman lagi. Kenapa malah jadi tegang begitu?” ucapnya dengan nada suara yang lembut, berusaha tidak merusak kenyamanan para pekerjanya.

Amisha kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Iyem, “Mbak Iyem, tolong buatkan secangkir teh melati hangat, ya. Nanti kirimkan saja ke kamarku, sekalian tolong ambilkan beberapa potong pancake durian yang ada di dalam freezer.”

Iyem mematikan sumbu kompor, lalu menoleh dengan raut wajah khawatir, “Baik, Nyonya. Tapi... apa Nyonya tidak mau makan malam dengan sup ayam dan tumisan yang baru saja matang ini?”

Amisha menggelengkan kepalanya, “Tidak usah, Mbak. Aku sedang tidak nafsu makan malam ini. Daripada lauk dan supnya nanti mubazir dan terbuang sia-sia, kalian berenam saja yang habiskan untuk makan malam bersama,” lanjutnya, sebelum akhirnya berbalik badan dan melangkah pergi kembali menuju lantai atas.

Begitu bayangan Amisha benar-benar menghilang di balik koridor, seketika itu juga reaksi senang yang sejak tadi mereka tahan langsung meledak di area dapur. Mereka bahkan saling berbisik girang karena mendapat bonus menu makan malam yang lezat tanpa perlu repot memasak banyak.

Namun di tengah keriuhan kecil itu, hanya Azizah yang tidak ikut larut dalam kegembiraan. Dari pengamatannya sejak siang hingga melihat gurat wajah sang majikan barusan, ia tahu betul bahwa suasana hati Amisha sedang tidak baik-baik saja akibat penolakan dari Ezra di telepon tadi. Rasa iba kembali mengetuk pintu hati wanita itu.

Azizah segera meraih buku catatannya, lalu menuliskan beberapa kalimat dengan tergesa-gesa sebelum menunjukkannya kepada yang lain.

‘Biar aku saja yang melakukan perintah Nyonya.’

Membaca tulisan itu, Dewi langsung menyahut dengan raut wajah tidak enak “Eh, jangan, Zah. Biar Bibi saja.”

Namun Azizah justru bersikap kukuh. Ia menggelengkan kepalanya dengan mantap sambil menatap mata sang bibi dengan tatapan memelas sekaligus penuh keyakinan seolah mengatakan bahwa ia sangat ingin melakukan tugas ini.

Melihat keteguhan hati keponakannya yang tidak bisa diganggu gugat, Dewi akhirnya menghela napas panjang. Ia bertukar tatap dengan Iyem dan tiga pembantu lainnya yang kini ikut mengangguk pasrah, mengalah pada keinginan si bungsu yang berhati mulia itu.

Setelah selesai menyeduh teh melati yang harum dan menata beberapa potong pancake durian dingin di atas nampan kayu, Azizah bersiap untuk melangkah. Sebelum ia menuju tangga, teman-teman barunya termasuk Dewi, serempak memberikan kepalan tangan di udara untuk menyalurkan semangat.

Azizah mengangguk mantap, lalu melangkah yang diatur setenang mungkin agar air di dalam cangkir tidak tumpah. Ia pun menaiki anak tangga satu per satu. Begitu sampai di depan pintu kamar Amisha yang kini telah tertutup rapat, Azizah mengambil napas dalam-dalam. Ia menyangga nampan kayu itu dengan satu tangan kirinya, sementara tangan kanannya terangkat untuk mengetuk pintu itu secara perlahan.

Tok... Tok... Tok...

Setelah mendengar sahutan lembut yang memberikan izin masuk dari dalam, Azizah memutar kenop pintu dengan hati-hati lalu mendorongnya terbuka.

Di dalam kamar, Amisha terlihat sedang bersandar santai di kepala ranjang. Sebuah kacamata berbingkai hitam bertengger manis di hidungnya, mempertegas gurat kedewasaan selagi ia fokus membaca sebuah buku tebal di pangkuannya. Begitu menyadari Azizah yang masuk, Amisha langsung menutup bukunya dan melepas kacamatanya dengan raut wajah sedikit terkejut.

“Eh, Azizah? Kenapa justru kau yang mengantarkan ini?” tanya Amisha heran, namun suaranya terdengar sangat lembut.

Azizah melempar senyum sopan. Ia melangkah mendekati ranjang, lalu meletakkan nampan berisi teh melati dan pancake durian itu dengan perlahan ke atas nakas di samping tempat tidur Amisha. Setelah tugasnya meletakkan nampan selesai, ia berdiri tegak di sisi ranjang seraya merogoh kantung pakaiannya untuk mengeluarkan buku catatan beserta pulpennya. Dengan gerakan cepat, ia menggoreskan tinta di atas kertas.

‘Mbak Iyem dan yang lain baru saja mulai makan malam di belakang, Nyonya. Karena saya belum terlalu lelah, saya pikir tidak ada salahnya saya yang menggantikan mereka untuk mengantar ini ke kamar Nyonya.’

Membaca untaian kata yang begitu tulus itu, lengkungan senyum langsung terbit di bibir Amisha. Matanya berbinar hangat, merasa bahwa keponakan Dewi ini adalah sosok wanita muda yang sangat pengertian dan peka terhadap situasi di sekitarnya.

Amisha kemudian membetulkan posisi duduknya. Ia bergeser sedikit ke tengah ranjang, lalu tangan kanannya terangkat untuk menepuk-nepuk kasur empuk di samping tempat duduknya.

“Sini, Zah. Duduk di sini sebentar untuk menemaniku,” perintahnya hangat.

Mendapat tawaran tidak terduga itu, Azizah sontak menggelengkan kepalanya cepat-cepat dengan mata yang sedikit melebar. Kedua tangannya bergerak panik di udara, mengekspresikan penolakan halus karena merasa tindakan duduk di atas ranjang majikan adalah hal yang sangat tidak sopan bagi seorang asisten rumah tangga seperti dirinya.

Namun Amisha justru terkekeh pelan melihat kepanikan wanita itu, “Sudah, tidak apa-apa. Di sini tidak ada orang lain. Lagi pula aku yang menyuruhmu sendiri, jadi jangan membantahku,” ujar Amisha dengan nada perintah yang mutlak namun diselimuti keibuan.

Tidak memiliki pilihan lain karena sang majikan terus mendesaknya, Azizah akhirnya terpaksa melangkah maju. Dengan gerakan yang sangat berhati-hati, ia mendudukkan dirinya di tepi kasur. Meskipun pantatnya sudah menyentuh ranjang, posisi duduk Azizah terlihat sangat kaku dan canggung. Ia duduk tegak lurus dengan kedua tangan yang meremas buku catatan di pangkuannya, bersiap mendengarkan apa pun yang ingin disampaikan oleh wanita paruh baya di sampingnya itu.

Amisha menatap cangkir teh melati yang masih mengepulkan uap tipis itu, lalu mulai mengeluarkan unek-unek yang selama ini dipendamnya.

“Zah, sebenarnya... waktu pertama kali Dewi menghubungiku lewat telepon untuk merekrutmu bekerja di sini, aku sempat ragu,” jujur Amisha sembari menoleh menatap Azizah, “Mendengar kekurangan fisik yang disampaikan Dewi tentang kondisimu, jujur saja aku sempat bertanya-tanya di dalam hati, apa kau bisa bekerja dengan baik di rumah sebesar ini? Tapi waktu itu, Dewi terus meyakinkanku kalau kau adalah anak yang sangat rajin, cekatan, dan mandiri. Karena itulah, aku akhirnya menyanggupi untuk menerimamu.”

Amisha mengulas senyum lebar yang sangat tulus, “Dan ternyata, semua perkataan Dewi itu benar. Terbukti dengan apa yang terjadi sepanjang hari ini. Kau telah menyelamatkan tugas sekolah Clara, dan semua pekerjaan rumah tangga hari ini kau kerjakan dengan sangat baik. Ternyata, keputusanku untuk menerimamu bekerja di sini adalah keputusan yang sangat tepat.”

Mendengar pengakuan jujur yang begitu menyentuh hati, mata Azizah sedikit berkaca-kaca. Ia dengan cepat menggoreskan pulpen di atas buku catatannya, lalu menyodorkannya ke hadapan sang majikan.

‘Terima kasih banyak atas kesempatan dan sambutan yang sangat hangat dari Nyonya serta keluarga di sini. Saya sangat bersyukur.’

Amisha membaca tulisan itu lalu tersenyum teduh, “Kau tahu, Zah? Aku memiliki prinsip hidup yang kuat. Hidup kita di dunia ini hanya sekali, lalu untuk apa kita harus bersikap kasar dan angkuh pada orang lain? Aku lebih suka memanusiakan orang lain, terutama mereka yang bekerja di rumah ini. Karena tanpa bantuan kalian semua, tidak mungkin aku bisa mengurus rumah sebesar ini sendirian.”

Azizah tertegun mendengar penuturan bijak itu. Rasa kagumnya pada sosok Amisha semakin melambung tinggi. Ia kembali menuliskan apa yang ada di dalam benaknya.

‘Saya sangat kagum dengan kebaikan hati Nyonya. Padahal, sebelum saya datang ke kota ini, saya sering mendengar desas-desus dari orang-orang desa kalau orang-orang kaya di kota besar itu biasanya sombong dan sering semena-mena pada orang kecil seperti kami.’

Amisha membaca kalimat panjang itu dengan mata yang sedikit menyipit. Melihat perubahan ekspresi wajah sang majikan yang mendadak diam, Azizah seketika disergap rasa panik. Ia merasa kalimatnya barusan terlalu blak-blakan dan mungkin telah menyinggung perasaan Amisha. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Azizah buru-buru menulis kalimat baru di lembar berikutnya.

‘Maafkan saya, Nyonya. Saya tidak bermaksud untuk menyinggung atau menyamakan Nyonya dengan desas-desus itu.’

Namun di luar dugaan Azizah, Amisha justru meledakkan tawa renyahnya. Wanita paruh baya itu terlihat sangat terhibur melihat kepanikan dan reaksi spontan dari Azizah yang begitu polos. Tampaknya dengan duduk dan mengobrol santai bersama Azizah malam ini, perlahan-lahan beban pikiran dan suasana hatinya yang sempat memburuk sejak siang tadi mulai membaik.

Setelah tawanya mereda, Amisha menatap lekat sepasang mata bening Azizah, “Zah, kalau boleh aku tahu... kenapa kau bisa kehilangan kemampuan bicaramu? Apakah itu bawaan sejak lahir?” tanya Amisha dengan nada yang sangat berhati-hati, takut melukai perasaan wanita itu.

Azizah menarik napas pendek, lalu menggoreskan tintanya untuk menjawab pertanyaan yang sudah sangat sering ia terima.

‘Bukan sejak lahir, Nyonya. Saya kehilangan suara karena mengalami trauma masa kecil yang hebat, akibat kecelakaan lalu lintas parah yang merenggut nyawa kedua orang tua saya.’

Amisha seketika menutup mulutnya sendiri dengan satu tangannya. Sorot matanya langsung diliputi rasa bersalah dan tidak enak hati yang teramat dalam karena telah menanyakan hal traumatis seperti itu.

“Astaga... Maafkan aku ya, Zah. Aku tidak tahu kalau ceritanya sepedih itu,” sesalnya tulus, “Lalu... bagaimana dengan kehidupanmu setelah kejadian itu? Bagaimana kau menjalani hari-hari selama ini?”

Azizah tersenyum tipis, mencoba meyakinkan majikannya bahwa ia sudah berdamai dengan masa lalu. Ia kembali menulis di buku catatannya.

‘Semuanya berjalan dengan baik-baik saja, Nyonya. Di desa, saya memiliki seorang nenek yang sangat baik dan luar biasa dalam merawat serta membesarkan saya.’

Hati Amisha benar-benar tersentuh membaca ketabahan wanita muda di sampingnya itu. Tanpa sadar, ia mengulurkan tangannya lalu mengusap lembut puncak kepala Azizah yang terbungkus rapi oleh hijab pashmina.

“Kau anak yang hebat, Zah. Kau sudah bekerja keras dan berjuang dengan sangat baik selama ini,” puji Amisha dengan suara yang bergetar penuh haru, “Aku doakan, kelak kau akan menjadi orang yang sukses dan bisa menemukan kebahagiaan sejatimu di masa depan.”

Mendengar doa tulus yang mengalir dari bibir sang majikan, Azizah hanya bisa mengulas senyuman termanisnya seraya mengamini doa baik itu dengan sungguh-sungguh di dalam hatinya.

1
Maulidia Okta
ah.... Melow Ya Thor...
Maulidia Okta
jadi ikut mewek /Sob/
Lilik Juhariah
bismillah moga Ezra menerima pernikahan yg yg menyebut nama Allah dan disaksikan para Malaikat, lelaki sejati adalah lelaki yg tak pernah ingkar janji
falea sezi
bkin pergi aja dah males bgt di injak2 terus
falea sezi
buat si bisu di sukain cogan lain😒 biar dia cmburu
falea sezi
laki sialannn😕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!