"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."
Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".
Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.
Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Hasrat yang Terputus dan Bayang-Bayang Purnama
Pagi hari di kantor PT Adiwangsa Logistik tidak membawa kesegaran bagi Adrian. Tubuhnya terasa kaku dan matanya diselimuti garis-garis merah akibat kurang tidur. Keinginan biologis yang tersiksa sepanjang malam di samping Aruna membuat konsentrasinya buyar. Namun, ketika pintu ruang kerja pribadinya terbuka dan Valerie melangkah masuk dengan gaun kerja berpotongan ketat yang menonjolkan lekuk pinggulnya, gairah yang sempat tertahan itu kembali meletup seketika.
Valerie mengunci pintu dari dalam, lalu berjalan mendekati meja kerja Adrian dengan langkah yang sengaja dibuat sensual. Ia meletakkan sebuah map kulit berisi draf pengalihan saham di atas meja.
"Mas... draf perjanjian mahar saham yang kita bicarakan semalam sudah siap," ucap Valerie, suaranya merayu, matanya menatap Adrian dengan penuh tuntutan manipulatif. "Tim legal sudah memeriksanya. Kamu tinggal tanda tangan sekarang, jadi setelah sidang ceraimu ketok palu, kita bisa langsung mendaftarkannya ke notaris resmi."
Meskipun otaknya sedang dipenuhi kabut gairah, insting kelicikan Adrian sebagai pengusaha tidak sepenuhnya mati. Ia menatap map tersebut, lalu bersandar pada kursi kerjanya sambil tersenyum tipis.
"Val, Sayang... jangan terburu-buru," ujar Adrian, mencoba bermain aman demi melindungi asetnya dari kecurigaan ibunya. "Aku pasti akan memberikan saham ini kepadamu. Tapi, aku akan menandatanganinya tepat ketika kita berdiri di depan penghulu saat ijab kabul nanti, ya? Sekarang, kita tunggu saja dulu sampai proses perceraianku dengan Aruna selesai sepenuhnya di pengadilan."
Mendengar penolakan halus itu, kilat kekecewaan sempat melintas di mata Valerie. Ia tahu Toni—suaminya—menuntut hasil cepat. Tanpa membuang waktu, Valerie langsung melancarkan aksi manipulasi fisik andalannya. Ia memutari meja kerja, mendekati Adrian, lalu memasang wajah cemberut yang manja.
"Kamu... kamu tidak percaya ya sama aku, Mas?" bisik Valerie lembut.
Sebelum Adrian sempat menjawab, Valerie langsung menaikkan tubuhnya dan duduk di atas pangkuan Adrian. Aroma parfum sensual yang melekat di leher Valerie langsung menusuk indra penciuman Adrian. Gesekan halus dari pinggul Valerie di atas pahanya seketika menaikkan libido Adrian ke tingkat tertinggi. Sesuatu yang tegang dan panas mendadak mengeras dengan sangat kuat di balik celana panjang Adrian.
"Tentu saja aku percaya, Val... tapi—"
"Kalau percaya, kenapa harus menunda?" potong Valerie, memotong kalimat Adrian dengan menyatukan bibir mereka.
Bibir mereka bertemu dalam sebuah cembuan yang langsung membakar udara di dalam ruangan. Adrian merengkuh pinggang Valerie dengan liar, meremasnya dengan kasar seolah ingin menuntaskan rasa frustrasinya semalam. Cumbuan mereka bergulir begitu panas dan menuntut. Valerie melenguh rendah, jemarinya meremas rambut Adrian, sementara tangan Adrian mulai merayap naik, menyusup ke balik rok kerja Valerie yang ketat, mengelus paha mulusnya yang terasa hangat.
Gairah yang sudah berada di ubun-ubun membuat akal sehat mereka menguap. Valerie yang tahu betul cara mengunci pikiran Adrian, segera menggeser posisinya. Tanpa membuka rok kerjanya, tangan Valerie menyusup ke dalam, menurunkan celana dalam tipisnya hingga lolos ke pergelangan kaki, lalu mencampakkannya begitu saja ke lantai.
Valerie kemudian membalikkan tubuhnya di atas meja kerja Adrian yang luas, mengambil posisi nungging yang teramat erotis dengan kedua tangan bertumpu pada tumpukan berkas. Rok kerjanya yang tersingkap ke atas menampilkan pemandangan pinggul dan bokongnya yang polos dan menantang.
Adrian yang sudah kehilangan kendali diri segera menurunkan ritsleting celananya, mengeluarkan kejantanannya yang sudah menegang maksimal, dan langsung merangsek masuk ke dalam kehangatan tubuh Valerie dari arah belakang.
"Ah... Mas...!" desah Valerie, mencengkeram tepi meja kerja saat Adrian mulai memacu gerakannya dengan ritme yang cepat, kasar, dan penuh tuntutan biologis yang meledak-ledak. Udara di ruangan itu dipenuhi oleh suara deru napas yang memburu dan penyatuan fisik yang sarat akan syahwat. Adrian berpacu dengan liar, mendekati puncak pelepasan yang sudah sangat ia dambakan.
Namun, tepat ketika Adrian berada di ambang klimaks—
Tok... Tok... Tok!
Suara ketukan pintu yang keras dan mendadak itu terdengar bagai petir di siang bolong, menghancurkan seluruh atmosfer panas di dalam ruangan.
Adrian tersentak hebat, gerakannya terhenti seketika dalam posisi yang sangat tidak nyaman. Rasa sakit menjalar di bagian bawah perutnya karena pelepasannya terputus secara paksa di tengah jalan.
"Pak Adrian! Ini darurat, Pak!" terdengar suara asisten pribadinya berteriak panik dari luar pintu.
"Sialan!" umpat Adrian dengan wajah memerah padam menahan frustrasi dan amarah.
Dengan terburu-buru dan napas yang tersengal-sengal, Adrian menarik dirinya keluar dari tubuh Valerie. Ia segera membenarkan celananya, menaikkan ritsleting, dan merapikan kemejanya yang berantakan dengan tangan yang gemetar. Sementara itu, Valerie dengan cepat menurunkan roknya, menyambar celana dalamnya di lantai, dan duduk di sofa dengan wajah yang tidak kalah kesal.
Setelah memastikan penampilannya kembali normal walau napasnya masih memburu, Adrian berjalan menuju meja dan berteriak, "Masuk!"
Pintu terbuka, dan sang asisten melangkah masuk dengan wajah pucat dan dahi yang dipenuhi keringat dingin. "Maaf, Pak Adrian... maaf saya lancang mengganggu. Tapi ini benar-benar gawat. Masalah tender besar kita yang kemarin baru saja diputuskan secara sepihak oleh pihak lawan."
Adrian menggebrak mejanya, meluapkan rasa frustrasi biologisnya yang belum tuntas. "Masalah apa lagi?! Bukankah semua dokumen kesepakatan sudah aman?!"
"Investor utama dari Wirata Group mendadak menarik seluruh dana modal mereka dari proyek kita, Pak," lapor asisten itu dengan suara bergetar. "Bukan hanya itu, mereka juga membatalkan kontrak kerja sama untuk jangka panjang."
Wajah Adrian seketika pias. "Apa?! Kenapa bisa begitu? Apa alasan mereka menarik dana secara mendadak? Itu ilegal!"
"Mereka bilang... mereka tidak punya pilihan, Pak. Wirata Group adalah salah satu kolega dan anak perusahaan fungsional di bawah naungan Purnama Group. Pihak pusat Purnama Group mengeluarkan maklumat senyap bahwa ada sanksi bisnis bagi siapa saja yang bekerja sama dengan Adiwangsa Logistik. Wirata Group tidak mau mengambil risiko mengkhianati raksasa seperti Purnama Group hanya demi kita."
Mendengar nama itu disebut, darah Adrian mendadak berdesir dingin. Rasa frustrasinya berganti menjadi paranoia yang mencekam. "Purnama Group lagi... Purnama Group lagi! Siapa sebenarnya mereka ini?! Kenapa belakangan ini mereka seperti sengaja memotong semua jalur pasokan dan investasi perusahaanku?!" bentak Adrian penuh emosi.
Sang asisten menelan ludah dengan gugup. "Purnama Group adalah konglomerat raksasa yang bergerak di gurita bisnis multinasional, Pak. Mereka bisa dibilang menguasai hajat hidup korporasi di nusantara. Namun... mengenai siapa pemilik atau CEO utama mereka yang baru sekarang, sampai saat ini identitasnya masih disembunyikan dengan sangat rapat dari publik atas alasan keamanan korporasi."
Adrian terdiam, tangannya mengepal di atas meja. Ingatannya mendadak melayang pada silsilah keluarga mendiang mertuanya, Pak Arif.
"Purnama Group..." gumam Adrian, suaranya mendadak melemah. "Dulu... seingatku, Adiwangsa Logistik ini berakar dari cabang kecil milik Purnama Group yang dikelola oleh kakeknya Aruna. Setelah kakeknya meninggal dan ayah Aruna juga tiada, perusahaan induk itu harusnya jatuh ke tangan Paman Aldo... Apa mungkin si Aldo serakah itu yang sedang mencoba menghancurkanku dari luar karena urusan perceraian ini?"
Adrian mondar-mandir di belakang mejanya dengan pikiran yang carut-marut. Jika benar Paman Aldo yang mengendalikan Purnama Group untuk menekanku, maka posisiku benar-benar dalam bahaya besar, batin Adrian, dilema dan ketakutan kini kembali menjerat otaknya.
"Baik... terima kasih informasinya. Keluar sekarang, dan cepat cari investor alternatif lain dari luar lingkaran Purnama Group! Jangan sampai operasional kita mandek!" perintah Adrian tegas.
"Baik, Pak!" Asisten itu membungkuk hormat, lalu bergegas keluar dari ruangan, menutup pintu rapat-rapat.
Suasana ruang kerja kembali sunyi, meninggalkan keheningan yang sarat akan intrik. Valerie yang sejak tadi mendengarkan dari sofa perlahan bangkit berdiri. Ia merapikan rambutnya yang agak kusut, lalu berjalan mendekati Adrian sambil membawa kembali map draf saham yang sempat terabaikan.
"Mas..." panggil Valerie, suaranya kembali manis namun sarat akan manipulasi yang mendesak. "Mendengar kondisi perusahaanmu yang mulai digoyang oleh Purnama Group, bukankah ini waktu yang tepat untuk menandatangani draf ini? Jika saham ini sudah dialihkan kepadaku, perusahaan Papa bisa langsung menyuntikkan dana darurat untuk menutupi modal yang ditarik oleh Wirata Group tadi. Bagaimana, Mas? Mau ditandatangani sekarang saja?"
Adrian menoleh, menatap map di tangan Valerie dengan pandangan mata yang mendadak dingin dan hambar. Gairah sensual yang beberapa menit lalu membakar tubuhnya kini telah sepenuhnya padam, digantikan oleh rasa lelah yang teramat sangat dan kepalanya yang terasa mau pecah akibat urusan korporasi.
"Kan akunya belum puas, Val..." jawab Adrian dengan nada ketus yang datar, melirik Valerie dengan tatapan malas.
Valerie yang menyadari perubahan mood Adrian segera mendekat, mencoba menyentuh dada pria itu lagi demi membangkitkan gairahnya. "Kita bisa lanjut yang tadi lagi, Mas Sayang... kali ini aku akan buat kamu puas sampai keluar, ya?" rayu Valerie, menatap Adrian penuh harap.
Adrian menepis tangan Valerie dari dadanya dengan gerakan pelan namun tegas. Ia berjalan melewati Valerie dan duduk kembali di kursi kerjanya dengan wajah yang kecut.
"Nanti saja, Val. Aku sekarang sudah benar-benar tidak mood untuk melanjutkan hal-hal seperti itu. Pikiranku sedang kacau karena masalah investor tadi," jawab Adrian dingin, langsung membuka laptopnya tanpa menatap Valerie lagi.
Valerie berdiri mematung di tengah ruangan, tangannya mengepal erat mencengkeram map kulit di pelukannya. Wajah cantiknya tampak sangat kecewa dan kesal karena rencananya untuk mengunci tanda tangan Adrian melalui jebakan syahwat hari ini gagal total akibat interupsi masalah tender.
Tanpa sepengetahuan mereka berdua, di luar gedung kantor, sebuah laporan berkas dari Wirata Group telah terkirim langsung ke ponsel pintar Aruna di rumah Adiwangsa. Langkah pertama untuk memutus urat nadi keuangan Adrian telah berhasil dilakukan secara senyap, dan Aruna siap melanjutkan bidak caturnya ke langkah berikutnya.