Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.
Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.
Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.
Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Siuman
Keesokan paginya.
Kediaman Guan Yu, ruang rahasia.
Para penjaga anak buah dari Guan Yu tengah menginterogasi salah satu pelaku penyerangan terhadap rombongan nona Huang yang berhasil mereka tangkap.
"Terakhir kalinya aku peringatkan padamu, cepat katakan siapa yang telah memerintahkanmu melakukan penyerangan kepada rombongan nona perdana menteri?" ucap Qian salah satu anak buah Guan Yu menyelidiki salah seorang pria pelaku penyerangan
Namun sudah sampai semalaman, mereka belum juga mendapatkan jawaban yang diinginkan.
"Bagaimana Qian, mereka sama sekali tidak mau bicara apalagi menjawab pertanyaan kita," ucap Wu San.
"Apa boleh buat, kita harus menyiksa mereka agar mau bicara." Qian dan Wu San yang diperintahkan untuk menginterogasi pun mengubah cara penyelidikan mereka dengan cara penyiksaan.
Tak berselang lama kemudian, Guan Yu didampingi oleh Xin masuk ke dalam ruang rahasia itu.
"Bagaimana? Apa sudah mendapat jawaban?" tanya Guan Yu lalu duduk di depan jeruji besi sambil menatapi kedua orang pria yang sedang mereka tawan.
"Belum Tuan muda, mereka tidak mau mengaku. Bahkan mereka tidak berbicara sepatah kata pun sejak ditangkap," jawab Wu San dan Qian membenarkan hal itu.
"Pakai cara yang biasanya," perintah Guan Yu kemudian.
"Baik Tuan," patuh Wu San dan Qian bersamaan. Mereka lalu mengencangkan tali rantai yang ada di kedua pergelangan tangan para perampok itu dan membuatnya agar berdiri tegak.
Lalu, Wu San dan Qian memanaskan besi panas. Sesekali berkata. "Jawablah pertanyaan tuan muda kami, atau besi panas ini akan menempel diwajah kalian!"
Para perampok itu mulai gelisah, jika hukuman cambuk sebelumnya mereka sanggup hadapi. Namun kali ini hukuman stempel bertuliskan kata "BUDAK" diwajah mereka itu artinya lebih baik mati daripada hidup dengan menyandang status seperti itu.
"Tolong jangan lakukan itu pada kami. Baiklah kami akan beritahu kalian!" sahut salah satu dari perampok itu menyerah ketika besi panas hampir menyentuh wajahnya.
"Katakan," sahut Guan Yu dingin.
"K-kami diperintahkan seseorang dari istana," ucap salah satu perampok itu ragu-ragu.
"Siapa?" tanya Guan Yu.
Kedua perampok suruhan itu seketika terdiam dan tidak berani menjawab pertanyaan tersebut mengingat janji mereka pada sang majikan.
Mungkin dalam pikiran mereka saat ini adalah, menjawab atau tidak, hasilnya akan sama yaitu kematian.
"Tuan, mereka diam kembali." Qian menunggu aba-aba selanjutnya.
"Tempel besi panas itu," titah Guan Yu tidak memberi ampun.
"Baik Tuan!" patuh Wu San dan Qian serempak.
Namun belum sempat besi panas menempel di wajah mereka, kedua perampok suruhan itu mengerangg kesakitan, lalu sedetik kemudian darah hitam keluar dari mulut dan kedua rongga mata serta telinga hingga akhirnya mereka tewas seketika.
Melihat kejadian tersebut, Guan Yu segera berdiri dan bergegas mengecek keadaan para tawanannya itu dan ia menyadari satu hal. "Mereka telah diracuni," ucapnya kemudian.
"Apa maksudnya Tuan?" tanya Xin ikut melihat.
"Mereka telah diracuni sebelum melakukan serangan kemarin, dan mereka tewas karena tidak kembali kepada tuannya tepat waktu sehingga mereka tidak mendapatkan penawarnya," jelas Guan Yu.
"Bersihkan mayat mereka dan kuburkan dengan layak," ucap Guan Yu kemudian pada Wu Sang dan Qian.
"Baik Tuan," sahut Wu San dan Qian bersamaan.
"Tuan, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Xin mengikuti kemana langkah kaki Guan Yu berjalan.
"Kasus racun berbahaya ilegal yang sering muncul kali ini harus segera ditangani, jadi aku minta padamu untuk mengumpulkan semua anggota dan menyiapkan diri untuk menerobos masuk ke dalam kota bawah tanah," ucap Guan Yu tidak ada pilihan.
"Baik Tuan," patuh Xin mengerti.
Langkah Guan Yu akhirnya terhenti didepan pintu kamar dimana Qiuye masih terbaring tidak sadarkan diri didalamnya, pria itu kemudian masuk lalu duduk disisi ranjang.
Menunggu tabib Min dengan sabar membawakan obat untuk diberikan pada Qiuye.
"Tuan muda," ucap tabib Min yang baru saja tiba membawakan semangkuk obat pahit.
"Kapan dia siuman?" tanya Guan Yu tanpa menoleh dan terus memandangi wajah Qiuye yang sudah tidak terlihat pucat seperti sebelumnya.
Tabib Min memeriksa nadi Qiuye terlebih dahulu. "Hamba benar-benar tidak mengerti, racun dalam dirinya sudah berkurang cukup banyak. Energi dalam tubuhnya juga sudah stabil dan terarah dengan baik. Jika Nona Qiuye sudah meminum ramuan yang hamba berikan kemarin malam itu, seharusnya pagi ini nona Qiuye sudah bisa siuman," jawabnya lalu menatap Guan Yu dalam-dalam.
"Tuan muda, apakah anda kemarin membantu nona Qiuye meminum obatnya hingga habis?" tanya tabib Min kemudian.
Guan Yu seketika teringat kembali kejadian kemarin malam, dimana ia membantu Qiuye meminum ramuan obatnya hingga habis melalui indera pengecapnya. "Tentu saja aku sudah membantunya meminum ramuan pahit ini hingga habis," jawabnya jujur sambil membuang wajah kesembarang arah.
"Oh baik lah baik ... Hamba tidak akan membahasnya lagi, tapi mohon maaf Tuan. Karena nona Qiuye belum sadar dan belum bisa meminum obatnya secara mandiri, maka kali ini anda harus membantunya kembali," ucap Tabib Min meletakan mangkuk berisi rambuan obat diatas nakas. "Hamba mohon undur diri," sambungnya lalu pergi.
Guan Yu menghela nafasnya panjang, lalu mengambil mangkuk obat dari atas nakas. Kemudian berdecih dalam hati. "Bangunlah putri tidur," ucapnya lalu menyalurkan ramuan obat itu melalui indera pengecapnya.
Selama proses penyaluran itu terjadi, Guan Yu menahan dagu Qiuye agar tidak menunduk, sesekali menekan kedua rahang pipi Qiuye agar mulutnya terbuka sehingga memudahkannya dalam menyalurkan obat tersebut melalui mulutnya.
"Pahit sekali," umpat Guan Yu merasa tidak tahan. Namun ia harus terus melakukan hal itu sampai ramuannya benar-benar habis.
Dan disaat penyaluran tegukan terakhir, Qiuye perlahan membuka kedua matanya saat merasakan ada rasa hangat pada bibirnya dan juga obat pahit mengalir kedalam tenggorokannya.
...***...
Kedua mataku membola saat tersadar sepenuhnya, lalu mendorong raga pria yang telah merampas ciuman pertamaku agar menjauh dariku.
"Dasar pria badjingan! Siapa kau?"Aku mengelap bibirku yang masih basah dan hendak memukul pria itu. Namun sedetik kemudian aku mengaduh kesakitan.
"Aduh bahuku ..." lirihku sambil memegangi bahu kananku yang terluka akibat sayatan pedang.
Sedangkan pria itu lantas berdiri dan mengibaskan kain bajunya yang terkena sedikit cairan obat.
"Siapa kau? Kenapa kau melakukan ini padaku? Dan ada dimana ini?" ucapku masih terasa lemah sambil memandangi ruangan sekitar yang terasa asing bagiku.
"Nona Huang," ucapku kemudian teringat kejadian sebelumnya.
Aku berusaha bangkit dari kasur, namun rasa sakit pada perut membuatku terjatuh kembali.
"Jangan bergerak," ucap pria itu mengingatkan dan membantuku agar kembali berbaring.
"Minggir! Jangan sentuh aku!" ucapku tidak sudi.
Tak berapa lama kemudian seorang pria masuk ke dalam kamar, membuatku kembali bertanya-tanya. "Siapa kau?" tanyaku waspada.
"Syukurlah nona anda sudah sadar," ucap pria paruh baya menghampiriku dengan raut wajah lega.
"Nona, perkenalkan hamba adalah tabib Min. Anda mengalami luka parah saat penyerangan kemarin, dan ini adalah tuan muda Guan Yu yang membawa anda ke kediamannya ini dan telah merawat anda semalaman," ucap tabib Min memberitahuku.
"Tuan Guan Yu ... " ucapku mengingat-ingat seperti pernah melihat dan mendengar namanya. Dan kemudian aku ingat pria itu.
"Jadi kau adalah jenderal muda Guan Yu yang menumpahkan anggur pada saat pesta ulang tahun putri Xu dan kau juga yang telah menyelamatku?" tanyaku kemudian mengingat kejadian saat aku dibawa pergi oleh seorang pria dengan menaiki kuda.
Ku mohon bertahanlah ..
"Tapi kenapa kau menyelamatkanku?" ucapku padanya yang hanya diam berdiri membelakangi semua orang.
...Bersambung....