Dika Pratama ialah seseorang yang secara tak terduga kembali ke masa SMA ya ditahun 2010. dikarenakan ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus penyesalan terbesar nya yaitu ia tidak memanfaatkan bakatnya yaitu bermain sepakbola, lantas di kehidupan ini ia akan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan bakatnya untuk membawa Indonesia menjadi juara piala dunia.
yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Dika untuk menjadi seorang pesepakbola terbaik di dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naga Ruwet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Langit yang Tenang, Di Dunia Maya yang Bergemuruh
Lokasi: Pesawat Garuda Indonesia Penerbangan GA-888, Rute Jakarta – London Heathrow. Ketinggian 10.000 meter di atas permukaan laut.
Waktu: Siang hari, awal Mei 2012. Matahari bersinar sangat terang dan cerah di luar jendela pesawat, menyinari hamparan awan putih tebal yang membentang seluas mata memandang, seolah-olah mereka sedang terbang di atas lahan kapas raksasa yang tak berujung. Kabin kelas bisnis yang luas dan nyaman itu terasa hening, hanya terdengar suara dengung halus mesin pesawat dan desiran udara penyejuk ruangan.
Di kursi baris paling depan, duduklah dua sosok pemuda yang perawakannya sangat mencolok, membuat penumpang lain sesekali melirik dengan rasa kagum dan takjub.
Di sebelah kiri, duduk Dika Pratama. Tubuh tingginya yang 179 cm membuat kursi pesawat yang sebenarnya luas itu terasa sedikit pas baginya. Ia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru dongker yang disetrika rapi, membalut tubuh atletisnya yang padat dan berotot. Bahunya lebar, dadanya bidang, dan lengan kekarnya terlihat jelas meski tertutup kain, hasil dari ribuan jam latihan fisik yang tak pernah putus. Kulit sawo matangnya bersih dan sehat, wajahnya yang tegas dan tampan itu kini terlihat sangat tenang, damai, dan penuh percaya diri. Ia duduk dengan punggung tegap namun santai, satu tangan bersandar di sandaran kursi, tangan lainnya memegang sebuah buku tebal berjudul Taktik Sepak Bola Modern berbahasa Inggris. Matanya yang cokelat tua itu menatap lembaran buku itu dengan fokus, namun sesekali ia tersenyum tipis seolah sedang menikmati ketenangan momen ini.
Di sebelah kanannya, duduk Rio, sang benteng pertahanan. Dengan tinggi 183 cm dan berat 78 kg, Rio terlihat benar-benar raksasa di dalam kabin pesawat itu. Tubuhnya yang sangat besar, kekar, dan kokoh membuat sandaran kursi di sebelahnya harus ditarik sedikit ke belakang agar ia bisa duduk dengan nyaman. Ia mengenakan kemeja berwarna putih, namun kancing bagian atasnya terbuka sedikit karena dadanya yang terlalu bidang dan lebar. Kulitnya yang agak lebih gelap berkilau lembut, rahangnya yang keras tampak rileks, dan wajahnya yang biasanya serius di lapangan kini terlihat damai. Rio sedang memejamkan mata, bersandar santai sambil mendengarkan musik lewat headset besar yang melingkar di kepalanya, napasnya teratur dan tenang.
Bagi kedua sahabat ini, perjalanan panjang menuju benua Eropa ini terasa sangat damai. Semua urusan di tanah air sudah beres sepenuhnya.
Dika mengingat kembali kejadian beberapa jam yang lalu sebelum berangkat: ia telah mentransfer 10 Miliar Rupiah ke rekening Persida Sidoarjo dan menyerahkan sepenuhnya manajemen klub ke tangan Ayah Rudi, mantan tentara yang disiplin dan tegas itu. Ia juga sudah menyetorkan 5 Miliar Rupiah lainnya untuk dibelikan Bitcoin, menambah tumpukan aset digitalnya yang kini bernilai miliaran, menunggu waktu nilainya melesat ke angka puluhan ribu dolar. Dan tekadnya sudah bulat: nanti setiap mendapat gaji di Inggris, separuhnya akan langsung dikonversi menjadi Bitcoin, sebelum harga aset itu menyentuh puncak sejarahnya.
Keluarganya aman, masa depan terjamin, kampung halaman sudah dibantu, dan modalnya tak terbatas. Tidak ada lagi beban di pundak lebar Dika. Ia pergi dengan hati yang paling ringan dan tenang, persis seperti awan putih yang melayang-layang di bawah pesawat ini.
Namun, ketenangan Dika di ketinggian 10 ribu meter itu sangat bertolak belakang dengan apa yang sedang terjadi di bawah sana, di tanah air, dan bahkan di seluruh dunia maya. Ribuan kilometer di bawah mereka, di Indonesia, Malaysia, Singapura, hingga ke benua lain, nama satu sosok sedang menjadi perbincangan panas, topik utama, dan misteri terbesar yang dicari-cari oleh jutaan orang.
Di layar laptop kecil yang terpasang di depan kursi Dika, ia membuka sambungan internet berkecepatan tinggi pesawat, lalu masuk ke situs YouTube miliknya. Di layar itu terpampang nama akun yang sudah sangat terkenal, akun yang menjadi sumber kekayaan awalnya, akun yang telah mengubah hidup keluarganya selamanya: "Suara Hati Dika".
Dika tersenyum tipis, matanya menatap angka-angka yang berkedip-kedip itu.
- Jumlah Pelanggan: 18,7 Juta Orang
- Total Penonton: Lebih dari 1,2 Miliar Kali Tayang
- Status Akun: Terverifikasi Emas
Dan di beranda akun itu, terpampang satu foto profil sederhana: hanya sebuah gambar pemandangan senja di pinggir tambak, pemandangan khas Sidoarjo. Tidak ada foto wajah, tidak ada foto diri, tidak ada petunjuk fisik sedikit pun.
Itulah rahasia terbesar Dika selama ini. Selama dua tahun lebih ia mengunggah video, ratusan lagu yang ia nyanyikan sendiri, aransemen musik yang ia buat, puisi-puisi indah yang ia bacakan... tidak ada satu pun video yang memperlihatkan wajahnya. Semua videonya hanya berisi gambar latar pemandangan, lukisan, atau animasi sederhana, sementara yang terdengar hanyalah suara berat, merdu, mendayu-dayu, dan sangat indah milik Dika. Suara yang mampu membuat siapa saja yang mendengarnya terhanyut, menangis, tersenyum, atau terbawa semangat.
Dan saat ini, tepat di detik-detik Dika terbang menjauh dari Indonesia, dunia maya sedang bergemuruh hebat.
Dika membuka kolom komentar di video terakhirnya yang diunggah kemarin sore, berjudul "Perjalanan Panjang Menuju Mimpi". Video itu hanya berdurasi 3 menit, berisi suara Dika yang berbicara tenang tentang perpisahan, harapan, dan semangat, tanpa satu pun potongan wajah. Namun jumlah komentarnya sudah mencapai lebih dari 2,1 Juta komentar, dan jumlah itu terus bertambah setiap detiknya.
Dika mulai membaca beberapa komentar yang ada di urutan teratas:
"Ya Tuhan... suara ini! Suara yang sama yang menemani hari-hariku selama dua tahun ini. Tenang, tegas, tapi penuh kasih sayang. Tapi siapa dia?! Siapa sebenarnya pemilik suara ini? Kenapa dia tidak pernah mau menampakkan wajah sedikit pun?!" – Pengguna: Bunga_Matahari
"Ada kabar berhembus, 'Suara Hati Dika' ini orang penting! Ada yang bilang dia pengusaha muda, ada yang bilang dia artis, ada yang bilang dia atlet, ada yang bilang dia anak pejabat... tapi ada yang bilang dia anak biasa dari daerah. Siapa yang tahu kebenarannya? Tolong ada yang kasih petunjuk sedikit saja!" – Pengguna: PenasaranMati
"Sumpah, aku rela kasih apa saja cuma buat lihat wajahnya 5 detik saja. Suaranya ganteng banget, pasti wajahnya jauh lebih ganteng lagi. Dika... kalau kamu dengar, tolong kasih petunjuk! Di mana kamu tinggal? Apa pekerjaanmu? Kenapa kamu tertutup banget? Kami semua rindu sosokmu!" – Pengguna: Pecinta_Suara_Dika
"Kemarin aku dengar berita heboh di Sidoarjo. Katanya ada anak muda kaya raya beli klub Persida dan kasih modal 10 miliar. Namanya Dika juga... Apa ini orang yang sama? Apa pemilik akun 'Suara Hati Dika' itu orang yang sama yang beli klub? Kalau iya, gila... dia bukan cuma punya suara emas, tapi otak emas juga!" – Pengguna: Detektif_Cilik
"Dika kalau baca ini, tolong jawab sekali saja! Kamu di mana sekarang? Kenapa video terakhir ini nadanya seolah-olah kamu mau pergi jauh sekali? Apakah kamu mau meninggalkan kami? Jangan pergi, Kak Dika! Kami butuh suaramu!" – Pengguna: FanSetia_01
Dika tersenyum hangat membaca tulisan-tulisan itu. Hatinya terasa hangat dan bahagia. Ia tidak menyangka bahwa keputusannya untuk tidak menampakkan diri akan menciptakan rasa penasaran yang sebesar ini, bahkan membuat jutaan orang merasa seolah-olah mereka mengenalnya, mencintainya, dan menganggapnya saudara sendiri hanya lewat suara.
Rio yang ternyata sudah terbangun, menggeser kepalanya mendekat ke arah Dika, matanya yang besar melirik layar laptop itu sambil tersenyum geli. Suara beratnya terdengar pelan agar tidak mengganggu penumpang lain.
"Lihat itu, Dik... Aku bilang juga apa. Dunia maya lagi kacau balau semua gara-gara kamu. Jutaan orang heboh, ratusan media berita nulis judul besar: 'Siapa Sebenarnya Dika? Misteri di Balik Suara Emas Indonesia'. Ada yang bilang kamu pangeran, ada yang bilang kamu hantu, ada yang bilang kamu jenius, ada yang bilang kamu artis yang mau nyembunyiin diri. Padahal... cuma duduk di sebelahku ini, sosok besar, tinggi 179 cm, badan kekar, wajah ganteng, anak pensiunan tentara, punya uang 1,2 triliun, dan mau jadi pemain bola hebat. Hahaha... kalau mereka tahu, pasti pingsan semua!"
Dika tertawa pelan, suara merdunya rendah namun jelas. Ia menutup laptopnya perlahan, kembali bersandar santai di kursi, menatap awan putih di luar jendela.
"Biarkan saja mereka penasaran, Rio. Justru bagus begitu. Identitas 'Suara Hati Dika' itu akan tetap misterius untuk waktu yang lama. Aku tidak mau ketenaran suaraku mengganggu karir sepak bolaku nanti. Aku mau di Inggris nanti, mereka mengenalku pertama kali sebagai Dika Pratama, Pesepak Bola, bukan sebagai penyanyi atau selebriti internet. Aku mau mereka menghormatiku karena kemampuanku di lapangan, karena kakiku, karena otakku, bukan karena wajah atau suaraku."
Dika berhenti sejenak, menatap langit biru yang luas tak bertepi, matanya berbinar tajam.
"Nanti kalau aku sudah sukses besar, kalau aku sudah jadi bintang dunia, kalau aku sudah bawa nama Indonesia bersinar di piala dunia... baru nanti aku buka semuanya. Baru nanti aku katakan pada dunia: 'Halo, aku Dika. Aku yang selama ini kalian cari. Aku yang suaranya kalian dengarkan. Aku anak dari Rudi Pratama, anak dari Sidoarjo, yang tumbuh besar di tanah ini.' Itu akan jadi kejutan terbesar sepanjang masa, Rio. Dan saat itu tiba... dunia akan ternganga melihat siapa sosok sebenarnya di balik suara itu."
Rio mengangguk setuju, tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang putih dan rapi. Ia menepuk bahu sahabatnya yang keras dan bidang itu pelan.
"Asyik! Aku nggak sabar nunggu momen itu. Bayangin aja... saat itu nanti, semua media, semua orang, semua fans yang selama ini bingung, akan tahu bahwa sosok misterius yang mereka puja itu ternyata bukan cuma punya suara indah, tapi juga punya tubuh tegap, wajah ganteng, otak jenius, kekayaan triliunan, dan kemampuan main bola terbaik sedunia. Mereka bakal kaget sampai jatuh bangun, Dik. Dan aku... Rio si Tembok, akan ada di sana di sebelahmu, berdiri tegap sebagai saksi sejarah, sebagai bek tengah yang menjagamu sampai akhir."
Di dalam pesawat yang terus melaju kencang membelah awan itu, suasana tetap damai dan tenang. Dika dan Rio bersantai, tertawa pelan, membicarakan rencana mereka, membayangkan kehidupan baru di negeri Ratu Elizabeth. Di luar, matahari makin bersinar terang, menerangi jalan mereka menuju mimpi.
Sementara itu, ribuan kilometer di belakang mereka, di Indonesia, heboh itu belum mereda. Berita-berita di koran, televisi, portal berita daring, hingga obrolan di warung kopi semuanya membahas hal yang sama: Siapa Dika? Di mana Dika? Bagaimana rupa Dika?
Misteri akun YouTube "Suara Hati Dika" menjadi teka-teki paling populer. Banyak orang berspekulasi, banyak yang membuat dugaan, banyak yang mencoba menebak asal usulnya. Ada yang berpendapat pemilik suara itu pasti orang kaya, terpelajar, dan berhati mulia karena isi kata-katanya yang selalu bijak dan menyejukkan. Ada pula yang berpendapat pemilik suara itu pasti masih muda, penuh semangat, dan punya mimpi besar.
Tidak ada satu pun yang menyangka, bahwa sosok yang mereka cari-cari, yang mereka kagumi, yang mereka anggap misterius itu, saat ini sedang terbang santai menuju Eropa dengan penampilan seorang pemuda atletis yang gagah perkasa, membawa kekayaan triliunan, membawa misi memajukan klub kampung halaman, dan membawa bakat sepak bola yang akan segera mengguncang dunia.
Dika Pratama menikmati ketenangan itu. Ia suka berada di balik layar, bekerja diam-diam, bersiap diam-diam, sementara dunia di luar sana sibuk menebak-nebak siapa dirinya. Baginya, ketenaran suara hanyalah bonus. Tujuan utamanya tetap satu: menaklukkan lapangan hijau Eropa, menjadi legenda, dan membuktikan kehebatan anak Indonesia.
Pesawat terus melaju menuju barat, melintasi benua Asia, melintasi Eropa, mendekati tujuan akhir. Di dalamnya, dua pemuda raksasa itu tidur nyenyak, tenang dan bahagia. Di bawah sana, jutaan orang masih bertanya-tanya dengan penuh rasa penasaran.
Dan jawaban atas semua misteri itu... akan segera terungkap, namun pada saat yang paling tepat, pada saat yang paling gemilang.