NovelToon NovelToon
Kelopak Bunga Dan Duri Jiwa

Kelopak Bunga Dan Duri Jiwa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mafia / Transmigrasi
Popularitas:31
Nilai: 5
Nama Author: kawaichanopi

🌹 Kelopak Bunga dan Duri Jiwa

Shen Yue, dokter psikologi tegas berusia 25 tahun, berpindah jiwa ke tubuh Su Xinyi, gadis penjaga toko bunga yang hidup menderita di bawah kekejaman kerabatnya. Takdir mempertemukannya dengan Xiao Chen, penguasa mafia kejam yang menyimpan rahasia: ia mengidap gangguan kepribadian ganda—berubah dari sosok dingin mematikan menjadi pemuda ceria yang memuja bunga.

Di tengah bahaya, intrik musuh, dan tingkah laku Xiao Chen yang sering kali konyol, Shen Yue berusaha menyeimbangkan jiwa orang yang dicintainya. Di antara kelopak bunga indah dan duri tajam, tumbuhlah cinta gelap antara penyembuh jiwa dan pria yang terbelah hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulau Yang Terpisah Dan Lautan Yang Mengeluh

Setelah meninggalkan wilayah pegunungan yang kini penuh warna dan kehidupan itu, langkah Shen Yue dan Xiao Chen kini menuju ke arah timur jauh. Perjalanan kali ini berbeda dari sebelumnya; mereka harus menempuh jalan panjang menuruni bukit-bukit curam, melewati hutan-hutan raksasa yang lebat, hingga akhirnya sampai di bibir pantai yang luas, di mana lautan biru terbentang tak berujung hingga menyatu dengan langit.

Angin laut bertiup kencang, membawa aroma garam yang kuat. Ombak besar bergulung-gulung menghantam karang dengan suara gemuruh yang dahsyat, seolah sedang mengeluh dan marah. Di kejauhan, terlihat gugusan pulau-pulau kecil yang terpisah satu sama lain, tanahnya tampak kering, berwarna kecokelatan, dan tandus. Tidak ada warna hijau yang menyegarkan mata di sana, hanya bebatuan gundul dan tanah yang retak-retak.

"Ini wilayah Kepulauan Timur," ucap Xiao Chen pelan, matanya menatap tajam ke arah cakrawala. Ia berdiri di atas sebuah karang besar, angin mengibarkan ujung jubahnya yang bergaya kerajaan kuno, membuatnya tampak gagah dan berwibawa. "Dulu, ratusan tahun yang lalu, tempat ini sangat makmur. Konon nenek moyang kerajaan Tiongkok kuno pernah membangun peradaban indah di sini, dengan istana-istana berarsitektur megah, taman-taman bunga yang luas, dan pelabuhan yang ramai. Tapi perlahan-lahan, sumber air tawar menghilang, tanah menjadi kering, dan tanaman mati. Penduduk banyak yang pergi meninggalkan tempat ini, menyisakan sedikit orang yang bertahan hidup dengan susah payah."

Shen Yue berdiri di sampingnya, jubahnya yang berwarna putih bersih dengan sulaman benang emas dan hijau berkilauan ditiup angin laut. Wajahnya yang cantik dan anggun tampak serius, matanya menatap jauh ke pulau-pulau di seberang sana, dan tangannya perlahan menyentuh dadanya, tepat di tempat di mana Inti Akar Dunia bersinar lembut di dalam dirinya.

"Aku bisa merasakannya, Xiao Yi... keluhan itu datang dari dua tempat sekaligus," bisiknya lembut namun jelas. "Pertama, dari tanah pulau-pulau itu. Mereka kaya akan mineral dan zat hara, tapi mereka kering, haus, dan terpisah dari aliran energi utama bumi. Dan yang kedua... dari lautan ini sendiri. Airnya tidak kotor, tapi dia gelisah, tidak tenang. Ada sesuatu yang menyumbat aliran keseimbangan di dasar laut sana, membuat ombak selalu marah dan angin selalu kencang."

Ia menoleh menatap Xiao Chen, matanya yang bening bersinar penuh tekad, dihiasi riasan halus bergaya wanita bangsawan zaman dahulu yang membuatnya tampak semakin agung.

"Di sini tantangannya berbeda. Di gurun kita kekurangan air, di gunung kita kekurangan panas... tapi di sini air melimpah dan matahari bersinar terang. Masalahnya adalah koneksi dan keseimbangan. Kita harus menyambungkan kembali aliran energi yang terputus ribuan tahun lalu, sama seperti yang dilakukan leluhur kita saat membangun kerajaan di sini dulu."

Xiao Chen tersenyum, mengulurkan tangannya menggenggam jari-jari lentik gadis itu.

"Apapun yang kau butuhkan, aku siap. Bahkan jika harus berjalan di atas air atau menyelam ke dasar lautan, aku ikut. Ingat, kita adalah Penjaga dan Pelindung. Di mana pun ada kehidupan yang menderita, di sanalah tugas kita berada."

Karena tidak ada kapal yang cukup kuat untuk menembus ombak besar di perairan berbahaya itu, Shen Yue dan Xiao Chen memilih cara mereka sendiri. Dengan gabungan kekuatan energi kehidupan dan aura pelindung, mereka berjalan beriringan di atas permukaan air, seolah ada jalan tak terlihat yang terbentang di bawah kaki mereka. Angin laut yang tadinya ganas kini menjadi lembut, menuntun langkah mereka, dan ombak yang tadinya tinggi kini terbelah, memberi jalan hormat bagi dua sosok agung itu.

Pemandangan di sekitar mereka sungguh mempesona. Di balik nuansa alam yang liar, terlihat sisa-sisa kejayaan masa lalu: pilar-pilar batu berukir naga dan burung hong yang sebagian tenggelam, puing-puing dermaga kuno, dan tumpukan bata berwarna merah tua yang dulunya bagian dari tembok istana megah. Semuanya bernuansa kerajaan Tiongkok kuno yang kental, namun kini tertidur dalam kesunyian dan kerusakan.

Setelah beberapa jam berjalan, mereka tiba di pulau terbesar dan paling tengah, yang menjadi pusat dari seluruh gugusan pulau itu. Di sana, di tanah yang agak tinggi, terdapat sebuah desa kecil sederhana. Rumah-rumahnya dibangun dari kayu dan anyaman daun, namun tampak rapuh dan kurang terawat. Penduduknya—berkulit sawo matang, bertubuh kurus, dan berpakaian sederhana—keluar melihat kedatangan dua orang asing yang berjalan di atas air itu dengan rasa takjub dan sedikit waspada.

Seorang wanita tua yang berjalan tertatih-tatih menggunakan tongkat mendekat. Wajahnya penuh kerutan, mata sayunya menatap Shen Yue dan Xiao Chen dengan pandangan yang campur aduk antara harapan dan keputusasaan. Ia mengenakan pakaian sederhana dengan motif sulaman bunga yang sudah pudar, ciri khas warisan budaya mereka.

"Anak-anak muda... dari mana asal kalian? Dan bagaimana bisa sampai ke sini dengan selamat? Lautan ini terkenal kejam, memakan siapa saja yang berani mendekat," suaranya parau namun sopan.

Shen Yue tersenyum lembut, lalu membungkuk sedikit menandakan hormat, gaya sopan santun bangsawan kuno yang halus.

"Kami datang dari tanah seberang, Nenek. Kami mendengar kabar bahwa pulau-pulau ini sedang menderita, tanahnya kering dan airnya tidak bersahabat. Kami datang untuk melihat, dan jika mampu, membantu memperbaikinya."

Wanita tua itu menghela napas panjang, menatap hamparan tanah gersang di sekeliling desa itu.

"Kalau begitu, kalian datang untuk hal yang mustahil, Nak. Dulu, ribuan tahun lalu, leluhur kami membangun kerajaan indah di sini. Istana-istana beratap lengkung, taman bunga yang harum semerbak, kolam-kolam teratai yang jernih... semuanya ada. Tapi suatu hari, Gunung Air Suci yang ada di puncak pulau itu mengering. Sumber air tawar hilang masuk ke dalam tanah, dan laut menjadi marah karena kami dianggap telah melanggar aturan alam. Sejak saat itu, kami hidup dalam kekeringan abadi. Tanah di sini keras dan tandus, tidak ada yang bisa tumbuh kecuali rumput liar yang berduri. Kami hanya mengandalkan air hujan dan ikan hasil tangkapan yang makin sulit didapat."

Shen Yue mengangguk pelan, matanya kini tertuju pada puncak bukit tertinggi di pulau itu. Di sana, di antara bebatuan besar, terlihat sisa-sisa bangunan yang sangat indah namun hancur dan tertimbun debu: bekas istana kerajaan kuno, dengan atap melengkung khas Tiongkok, ukiran naga dan burung feniks yang rumit, dan halaman luas yang dulunya pasti penuh bunga mawar, teratai, dan peony.

"Aku tahu apa yang terjadi, Nenek," jawab Shen Yue lembut namun tegas. "Sumber air tidak hilang, dan laut tidak marah tanpa alasan. Di puncak sana, di bekas istana tua itu, ada titik pertemuan energi bumi dan langit yang tersumbat. Dulu leluhur kami yang membangun tempat ini tahu cara menjaga keseimbangan itu, tapi pengetahuan itu hilang seiring waktu, dan akhirnya jalurnya tertutup debu dan kegelapan. Kita harus ke sana, Xiao Yi. Di sanalah kuncinya."

Mereka pun berjalan menanjak ke atas, melewati bebatuan dan semak berduri. Semakin naik, semakin jelas terlihat kemegahan masa lalu yang kini rusak parah. Gerbang besar dengan ukiran rumit yang melambangkan kekuatan dan keabadian sudah retak, taman-taman yang dulunya penuh warna kini penuh tanah kering, dan kolam-kolam luas yang dulunya tempat bermain air dan bunga teratai kini kering kerontang.

Di halaman paling belakang, terdapat sebuah bangunan suci berbentuk menara kecil berwarna merah dan emas yang masih cukup utuh, di tengahnya terdapat sebuah sumur besar yang dalam dan gelap.

"Ini dia," ucap Shen Yue pelan, matanya berkaca-kaca mengenali bentuk bangunan itu, persis seperti yang ada dalam ingatan nenek moyangnya. "Ini Sumur Penghubung Langit dan Bumi. Di sinilah aliran energi dari dasar bumi naik, bertemu dengan energi matahari dan hujan dari langit, lalu menyebar ke seluruh pulau dan ke dalam laut. Tapi lihat... mulut sumur ini tertutup lapisan tanah keras dan energi mati yang sangat tebal, menumpuk selama berabad-abad."

Ia berbalik menghadap Xiao Chen, wajahnya serius dan penuh wibawa Ratu Kehidupan.

"Xiao Yi, kali ini prosesnya membutuhkan keseimbangan yang sangat presisi. Aku akan membuka kembali sumbatan ini, membiarkan energi murni naik ke atas dan turun ke bawah. Tapi begitu pintu ini terbuka, energi yang keluar akan sangat besar, bisa menggoncangkan seluruh pulau dan laut. Kau harus menstabilkan lingkungan sekitar, menahan tanah agar tidak longsor, dan menenangkan angin agar tidak menjadi badai. Bisakah kau melakukannya?"

Xiao Chen mengangguk mantap, tangannya memegang gagang pedang sucinya, aura putih bersih dan tenang mulai memancar kuat dari tubuhnya, mengisi seluruh halaman istana tua itu.

"Serahkan padaku, Yue. Aku akan menjadi pagar, menjadi penyangga, menjadi keseimbangan itu sendiri. Lakukan apa yang harus kau lakukan. Aku ada di sini."

Shen Yue mengangguk puas. Ia melangkah mendekati sumur tua itu, lalu duduk bersila dengan anggun di pinggirnya. Ia melepaskan jubah luarnya, membiarkan gaun dalamnya yang berwarna merah muda gelap dengan sulaman bunga indah terlihat jelas, berpadu serasi dengan nuansa bangunan kuno di sekelilingnya. Ia menutup matanya, kedua tangannya diletakkan di atas lutut, telapak menghadap ke atas dalam posisi menerima dan memberi.

Perlahan, cahaya berwarna merah muda gelap yang indah namun kuat mulai memancar dari tubuhnya, bercampur dengan cahaya hijau keemasan khas energi kehidupan. Cahaya itu berputar perlahan, membentuk pusaran angin kecil yang membawa debu-debu dan kotoran menjauh, membersihkan sekeliling tempat suci itu.

"Dengarlah wahai energi bumi... Dengarlah wahai air kehidupan... Aku Shen Yue, keturunan Penjaga, datang memanggilmu pulang..." suara Shen Yue bergema lembut namun kuat, terdengar sampai ke dasar sumur yang dalam.

Cahaya itu perlahan masuk ke dalam sumur, menembus lapisan demi lapisan tanah keras dan energi mati yang menyumbat jalur itu. Di luar sana, di seluruh pulau dan di tengah lautan, mulai terasa perubahan. Angin yang tadinya kencang kini berhembus ritmis dan lembut, membawa kabar kedatangan Penjaga. Ombak besar di kejauhan perlahan menjadi tenang, permukaannya menjadi halus dan berkilauan seperti kaca biru luas.

Xiao Chen berdiri diam, matanya tertutup, memusatkan seluruh kekuatannya. Aura pelindungnya menyebar luas, menutupi seluruh pulau, mengikat tanah dan bebatuan agar tetap kokoh, mengarahkan aliran energi yang baru mulai meledak itu agar tidak merusak apa pun. Di dalam dirinya, jiwa gabungan Xiao Lei dan Xiao Mo bekerja seirama: satu mengatur kekuatan dan ketahanan, satu lagi mengatur kebijaksanaan dan keseimbangan.

Tiba-tiba, dari dalam sumur tua itu terdengar suara gemuruh rendah yang makin lama makin keras, diikuti suara gemericik air yang deras dan jernih.

BRUK!

Sumbatan itu akhirnya pecah.

Dari dasar sumur, menyembur naik air murni yang sangat jernih, bersinar dengan cahaya keemasan, membawa serta energi kehidupan yang sangat pekat. Air itu tidak tumpah keluar, tapi naik ke atas, melayang di udara seperti air terjun terbalik, menyebar ke segala arah, membasahi setiap inci tanah pulau itu, menembus ke dalam akar, ke dalam bebatuan, dan mengalir jauh ke tengah lautan.

Di mana pun air energi itu jatuh, keajaiban pun terjadi.

Tanah yang kering dan keras perlahan menjadi lunak, lembap, dan subur. Dari retakan tanah itu, tumbuh jutaan tanaman indah: rumput hijau yang lembut, bunga-bunga berwarna cerah—merah, putih, kuning, ungu—termasuk bunga mawar dan peony yang menjadi ciri khas kerajaan kuno itu, bermekaran besar dan harum semerbak. Di halaman istana tua itu, kolam-kolam kering kembali terisi air jernih, dan di permukaannya, bunga teratai berwarna merah muda dan putih bermekaran indah seolah sedang menyambut kedatangan tuannya kembali.

Puing-puing bangunan yang rusak tertutup tanaman merambat berbunga indah, bukan lagi terlihat menyedihkan, tapi kini tampak romantis dan agung, seolah taman mawar abadi yang indah.

Dan di tengah lautan luas itu, air yang tadinya bergelombang ganas kini menjadi damai dan bersih. Terumbu karang yang mati kembali berwarna-warni, ikan-ikan berenang berkerumun gembira, dan arus laut yang tadinya liar kini menjadi aliran hangat yang membawa kesuburan ke seluruh pesisir.

Shen Yue perlahan membuka matanya, tersenyum lebar dan bahagia. Cahaya di sekelilingnya perlahan mereda, dan air di dalam sumur itu kini mengalir tenang dan jernih, siap memberi minum ke seluruh pulau selamanya. Ia bangkit berdiri, tubuhnya sedikit goyah karena kelelahan, tapi hatinya penuh kepuasan.

Xiao Chen segera mendekat, menopang tubuh kekasihnya, wajahnya penuh bangga dan kasih sayang. Ia menatap sekelilingnya, pada pemandangan indah yang kini persis seperti legenda kejayaan masa lalu: nuansa kerajaan Tiongkok kuno yang megah, dikelilingi hamparan bunga tak terhitung jumlahnya, udara yang wangi, dan pemandangan laut yang mempesona.

"Kau melakukannya lagi, Yue," bisik Xiao Chen lembut, menatap hamparan bunga indah yang kini menutupi seluruh bukit itu. "Tempat ini kembali menjadi surga seperti dulu. Istana ini kembali hidup, warisan leluhur kembali bersinar."

Penduduk desa yang dari tadi menonton dari kejauhan kini berlari naik ke atas, mata mereka terbelalak tak percaya, air mata bahagia mengalir deras. Mereka melihat tanah mereka berubah total, melihat air tawar mengalir di setiap selokan, melihat kebun-kebun buah tumbuh besar dalam sekejap mata, dan melihat istana nenek moyang mereka kembali dikelilingi keindahan yang ajaib.

Wanita tua yang tadi bertemu mereka berlutut di depan Shen Yue dan Xiao Chen, kepalanya menunduk rendah.

"Dewi... Pangeran... kalian telah mengembalikan kejayaan kami... Kalian telah menghidupkan kembali tanah leluhur... Terima kasih... terima kasih sebesar-besarnya..."

Shen Yue membangkitkannya dengan lembut, tersenyum manis.

"Jangan berterima kasih pada kami, Nenek. Berterima kasihlah pada tanah ini, pada air ini, dan pada warisan budaya indah yang kalian jaga sampai sekarang. Sekarang, pulau-pulau ini bukan lagi tempat yang terpisah dan menderita. Dia kembali menjadi bagian dari dunia yang hidup dan makmur. Rawatlah keindahan ini, seperti nenek moyang kalian dulu merawatnya."

Matahari mulai terbenam, melemparkan cahaya keemasan dan merah muda ke seluruh langit dan laut. Di taman istana kuno yang kini penuh bunga indah itu, Shen Yue dan Xiao Chen berbaring bersebelahan di atas hamparan rumput yang empuk dan bunga-bunga wangi. Nuansa gelap pink dari langit senja menyelimuti mereka, berpadu indah dengan siluet bangunan kuno di belakang mereka.

Mereka berbaring berdua, menatap langit yang indah, tangan mereka saling menggenggam erat, tubuh mereka beristirahat setelah perjalanan panjang menyembuhkan dunia.

"Gurun, gunung, dan kini pulau..." gumam Shen Yue pelan, kepalanya bersandar nyaman di lengan Xiao Chen. "Seluruh dunia kini sudah kembali hidup, Xiao Yi. Semua tempat yang mati sudah kita hidupkan kembali. Keseimbangan alam sudah pulih sepenuhnya."

Xiao Chen mencium kening gadis itu lembut, matanya penuh kedamaian dan cinta yang mendalam. Ia mengusap rambut hitam panjang kekasihnya yang tersebar indah di antara kelopak bunga.

"Ya, Yue. Misi kita selesai. Dunia sudah indah kembali. Dan sekarang, kita punya seluruh waktu di dunia ini untuk beristirahat, untuk menikmati keindahan yang kita ciptakan bersama, dan untuk hidup bahagia selamanya seperti ini... berdua saja, di tengah hamparan bunga, di kerajaan indah milik kita sendiri."

Di bawah langit senja berwarna pink gelap yang romantis itu, di tengah warisan kejayaan kerajaan Tiongkok kuno yang kembali bersinar, dua jiwa yang ditakdirkan bersatu itu akhirnya menemukan kedamaian sejati mereka. Kisah mereka yang penuh petualangan, keajaiban, dan cinta tulus kini menjadi legenda abadi yang akan diceritakan dari generasi ke generasi: kisah Penjaga Kehidupan dan Pelindung Abadi yang menyelamatkan dunia, dan menemukan cinta sejati di ujung perjalanan panjang mereka.

Dan di sana, di antara bunga-bunga indah dan angin laut yang lembut, mereka pun tertidur dalam damai, siap menyambut hari esok yang indah dan penuh warna.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!