Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24# Ipar Kecil Tukang Bela
Di sisi lain, Leo dan Valen baru saja kembali dari ruang kerja setelah membahas beberapa hal penting. Namun percakapan mereka menjadi terganggu dan hati terasa gelisah mendengar suara teriakan dan keributan yang berasal dari luar ruangan.
Ayla terus mengejar tanpa menyerah, sedangkan Gavin tetap berlari menjauh agar tidak tertangkap. Hingga akhirnya sebuah insiden tak terelakkan pun terjadi.
Karena sudah kelelahan, tiba-tiba kaki Ayla tersandung pinggiran meja. Valen yang berdiri tidak jauh dari sana bereaksi sangat cepat—ia langsung menarik lengan istrinya sehingga Ayla tidak jatuh ke lantai, melainkan tepat jatuh ke dalam pelukannya.
"Auh…" keluh Ayla pelan saat kepalanya menabrak dada bidang Valen yang kokoh.
"Tuan Muda Gavin, Anda kembali membuat keributan saat Tuan Besar sedang tidak ada di rumah," ucap Leo sambil menatap tajam ke arah pemuda itu dengan rasa kesal.
"Maaf…" jawab Gavin pelan, lalu berusaha menyembunyikan buku itu di belakang punggungnya.
"Tempat ini bukan arena bermain kejar-kejaran. Jika kalian benar-benar ingin bermain, aku boleh meminjamkan halaman belakang rumah yang luas. Tapi ingat, permainan itu baru boleh berhenti setelah tiga jam penuh," ucap Valen, posisinya masih belum berubah—ia masih memeluk Ayla yang belum sadar sepenuhnya akan apa yang terjadi.
"Maaf, Kak…" jawab Gavin dengan nada takut, ia tahu betapa berbahayanya jika Valen sudah mulai marah.
"Dan kau… sampai kapan akan tetap di posisi itu?" tanya Valen kepada Ayla.
Barulah gadis itu tersentak kaget dan segera bangkit berdiri dari pelukan suaminya. Wajahnya memerah padam persis seperti udang rebus, karena rasa malu yang luar biasa.
"Gavin, kembalikan barang miliknya. Dan kau dihukum: bersihkan seluruh halaman depan rumah sendirian, seperti aturan yang biasa berlaku," perintah Valen dengan nada tegas.
Ayla menatap Gavin dengan pandangan penuh rasa iba. Ia paham betapa sakit dan sepi rasanya jika dimarahi sendirian tanpa ada satu pun yang mau membela.
"Jangan… Ini juga salahku. Aku terlalu kikir dan pelit barang," ucap Ayla dengan tegas, kini ia berdiri tegak di hadapan Valen seolah sedang melindungi Gavin.
Ipar kecil ini… berani-beraninya membela aku? gumam Gavin dalam hati. Ini pertama kalinya ia dimarahi Valen namun ada orang lain yang berani maju membela dirinya. Biasanya, jika Valen sudah marah besar, bahkan Papa Hans pun tidak berani membela Gavin—namun kali ini, Ayla justru bertindak seberani itu.
Valen menatap tajam ke arah Ayla sambil sedikit mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak menyangka gadis yang bertubuh kecil dan terlihat begitu lemah ini berani mengambil sikap demikian. Padahal biasanya, hanya dengan berhadapan berdua saja di kamar pun Ayla sudah tampak sangat takut dan gugup.
"Astaga… Nona Muda justru melindungi Tuan Muda Gavin. Bukankah seharusnya dia merasa lega karena ia tidak ikut dihukum oleh Tuan Muda Valen?" batin Leo. Ia mengerutkan kening, masih tak percaya melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.
"Baiklah, Gavin. Kali ini kau beruntung lolos. Ayla, ikut aku ke rumah sakit," ucap Valen. Ia memilih tidak memperpanjang pembicaraan karena ada hal jauh lebih penting yang harus diselesaikan hari itu.
"Baik," jawab Ayla dengan patuh.
Sementara itu, Gavin masih berdiri diam terpaku. Ia takjub—ini pertama kalinya ia berhasil terhindar dari hukuman kakaknya.
Satu jam berlalu.
Kenapa tiba-tiba aku dibawa ke rumah sakit? batin Ayla sambil berjalan mengikuti langkah Leo yang mendorong kursi roda Valen.
Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di sebuah ruangan periksa. Di sana, dokter yang ditugaskan khusus menangani Ayla sudah menunggu kedatangan mereka.
Awalnya Ayla mengira dirinya hanya ikut serta untuk menemani Valen menjalani pemeriksaan kesehatan rutin. Namun siapa sangka, justru dialah yang akan diperiksa secara mendalam oleh dokter tersebut.
Satu jam kembali berlalu. Dokter memeriksa kondisi tubuh Ayla dengan sangat teliti, tidak melewatkan satu bagian pun—terutama kepalanya.
"Nona, sebelumnya apakah Anda pernah memeriksakan kesehatan ke dokter saraf atau psikiater?" tanya dokter itu dengan nada bingung. Ia menemukan banyak hal yang mengkhawatirkan pada tubuh gadis itu, terutama jejak-jejak bekas luka lama.
"Belum pernah," jawab Ayla singkat.
Di keluarga Gunawan, perhatian selalu tertuju penuh kepada Alena. Bagaimana mungkin Ayla pernah mendapatkan perawatan khusus? Bahkan saat ia hampir kehilangan nyawanya dulu, tidak ada satu pun anggota keluarga yang peduli sedikit pun.
"Baiklah, bolehkah Anda menunggu sebentar di luar? Ada hal yang ingin saya bicarakan berdua saja dengan Tuan Muda Valen," ucap dokter itu.
"Baik," jawab Ayla. Sebenarnya banyak pertanyaan berdesakan di dalam kepalanya, namun ia memilih menyimpannya sendiri dan berjalan keluar ruangan.
Setelah Ayla pergi, Valen langsung bertanya, "Apa yang sebenarnya Anda temukan, Dokter?"
"Tubuhnya sangat kurus, mengalami kekurangan gizi parah, dan terlihat banyak bekas luka di kaki, punggung, serta lengan. Ia juga membawa trauma berat akibat kejadian tertentu. Namun mengenai kondisi kepalanya, saya belum bisa memberikan kesimpulan pasti. Beri waktu satu minggu lagi, Tuan Muda. Saya akan segera menelepon begitu hasil lengkap pemeriksaan sudah keluar," jelas dokter itu dengan wajah serius dan tegang.
"Baiklah. Saya meminta bantuan penuh Anda untuk menangani Ayla sampai kondisinya benar-benar pulih kembali," ucap Valen penuh harap.
"Saya mengerti tugas saya," jawab dokter itu tegas.
Setelah semua urusan selesai, mereka pun beranjak meninggalkan rumah sakit. Valen sengaja belum menjelaskan apa pun kepada Ayla; ia khawatir hal itu justru akan membuat gadis itu semakin tertekan. Ia sudah paham betul: Ayla sama sekali tidak pernah memikirkan kesehatan dirinya sendiri, bahkan gadis itu sendiri tidak sadar bahwa tubuhnya menyimpan banyak masalah serius.
Di tempat lain, tepatnya di kediaman keluarga Gunawan…
Sudah tiga hari sejak pulang dari rumah sakit, Adnan hanya bisa bergerak terbatas di atas kursi roda. Ia merasa sangat bosan dan jenuh, namun tidak bisa berbuat banyak hal untuk mengalihkan waktu.
Kakaknya sibuk seharian mengurus urusan perusahaan, sedangkan Ibu dan Ayah juga sama sibuknya dengan urusan bisnis masing-masing.
"Alena, aku lapar. Bisakah kau buatkan aku bubur? Aku sangat ingin makan bubur," ucap Adnan memanggil adiknya.
"Apa? Kak Adnan minta aku memasak? Kak, apa Kakak sudah gila? Aku sama sekali tidak pernah menyentuh dapur," jawab Alena santai sambil tetap asyik memainkan ponselnya.
Deg…
Adnan seketika terdiam. Rasanya detak jantungnya berhenti berdetak sejenak mendengar jawaban itu.
bukan satu atau dua alur cerita begini jadi udah malas ma ceritanya